
"Do---dokter Adam," beo Mama Rina. Adam menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis yang ia perlihatkan.
Mata berbinar itu tak bisa lagi Mama Rina sembunyikan, dan dengan mendekati Adam, ia bersuara, "Dokter Adam yakin mau membiayai Orla sampai sembuh?"
Lagi-lagi Adam menganggukkan kepalanya.
Dimana hal tersebut membuat air mata Mama Rina kembali menetes dan dengan meluruhkan tubuhnya tepat di depan tubuh Adam, ia berucap, "Terimakasih dokter. Terimakasih banyak. Saya tidak tau harus bagaimana jika tidak ada dokter yang membantu biaya kesembuhan Orla. Terimakasih Dok, terimakasih."
Adam yang merasa tak enak ada orang yang lebih tua darinya bersimpuh di hadapan. Apalagi saat ini banyak pasang mata yang menatap kejadian ini. Sehingga Adam kini menjongkokkan tubuhnya, kemudian ia membantu Mama Rina untuk berdiri.
"Nyonya tidak perlu seperti ini dengan saya. Jadi berdiri lah. Lagian sebenarnya yang mengurus semua biaya rumah sakit adalah Erland bukan saya. Ya walaupun saya memberikan sumbangan hanya sedikit tapi yang lebih banyak adalah Erland. Bahkan Erland saat ini menyuruh saya dan para suster untuk memindahkan Orla ke ruang VIP karena kondisi Orla sudah semakin membaik, dia juga sudah berhasil melewati masa kritisnya," ucap Adam sekaligus menjelaskan kondisi Orla saat ini. Pancar bahagia terlihat jelas di mata Mama Rina.
"Tapi ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan ke nyonya Rina dan---" Adam menolehkan kepalanya kearah Papa Jaya yang sedari tadi hanya diam membisu di tempatnya. "Tuan Jaya."
"Katakan hal apa yang perlu kita ketahui," ucap Mama Rina.
__ADS_1
"Erland berpesan kepada saya untuk menyampaikan, jika kalian jangan lagi mengganggu dirinya apalagi sampai mengganggu dan berniat menghancurkan rumah tangga dia dengan istrinya. Ini mungkin sebuah syarat yang harus kalian lakukan karena Erland tadi juga bilang jika sampai kalian atau Orla ataupun orang suruhan kalian menyentuh kulitnya ataupun seujung rambut istrinya, maka kalian akan mendapatkan konsekuensi. Mungkin Erland akan bertindak untuk menyakiti kalian karena tidak mungkin dia menghancurkan perusahaan kalian karena perusahaan kalian sudah hancur," ujar Adam.
Dengan mantap dan tanpa berpikir panjang Mama Rina menganggukkan kepalanya setuju. Toh ia tak ingin berurusan kembali dengan keluarga Abhivandya. Entah mungkin ini hanya perasaannya saja, ia yakin kehancuran perusahaan sang suami ada campur tangan dari keluarga Abhivandya dan mungkin juga ada sangkut pautnya dengan masalah kemarin yang mereka melamar Erland bahkan sampai membuat keributan di dalam rumah mewah itu.
"Saya tidak akan menganggu Erland lagi. Saya berjanji dan saya akan menjaga Orla dengan sebisa mungkin menjauhkan dia dari Erland," ujar Mama Rina yang diangguki oleh Adam sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah Papa Jaya kembali.
"Lalu, bagaimana dengan anda, tuan Jaya?" tanya Adam.
Papa Jaya masih terdiam di tempatnya dengan tatapan kosong, terlihat seperti tengah melamun.
Mama Rina kini mendekati sang suami, lalu ia menepuk pundak Papa Jaya yang berhasil membuat Papa Jaya tersadar dari keterdiamannya tadi.
Mama Rina tampak menghela nafas. Ia yakin suaminya itu saat ini sangat terpuruk dengan apa yang tengah ia alami. Dan dengan mengelus punggung Papa Jaya, ia menjawab, "Itu dokter Adam tadi bilang. Kita harus memenuhi syarat dari Erland yaitu kita tidak boleh mengusik hidup dia dan kehidupan istrinya maupun rumah tangganya karena dia sudah mau membantu kita untuk membiayai perawatan Orla selama disini dan dia juga menyuruh dokter Adam untuk memindahkan Orla ke kamar VIP. Jadi gimana, Pa? Kamu mau kan memenuhi syarat dari Erland ini?"
Papa Jaya menganggukkan kepalanya. Karena dengan ia menerima bantuan Erland maka ia tak perlu lagi pusing-pusing harus memikirkan masalah biaya Orla yang entah kapan anak itu akan tersadar dari komanya.
__ADS_1
"Baiklah jika nyonya dan tuan setuju dengan syarat yang telah Erland ajukan. Saya harap kalian bisa melakukan syarat itu entah saat ini ataupun nanti. Saya permisi dulu, mari tuan dan nyonya," ucap Adam sembari berpamitan kepada kedua orangtua Orla. Dimana saat ia memutar tubuhnya menuju ke ruang dimana nantinya Orla akan tempati, dari dalam ruang ICU keluarlah beberapa suster yang mendorong brankar yang diatasnya terdapat Orla yang masih setia menekankan matanya.
Dan saat brankar itu di dorong menuju ruang VIP otomatis membuat kedua orangtuanya mengikuti kemana perginya Orla.
Disisi lain, Erland dan Maura saat ini sudah berada didalam perjalanan. Dimana perjalanan mereka kali ini sangat sepi pasalnya Maura sudah tertidur pulas. Mungkin perempuan itu sudah menjelajahi mimpinya saat baru 5 menit masuk kedalam mobil tersebut. Dan hal itu membuat Erland terheran. Pasalnya istrinya itu akan selalu cerewet apalagi ia ajak pergi seperti ini. Bahkan sampai Erland minta Maura untuk tidur saja, istrinya itu sempat bilang, "Kalau aku tidur artinya aku kehilangan waktu-waktu indah bersamamu. Jadi aku tidak mau tidur!"
Tapi lihatnya saat ini, dia justru dengan nyenyaknya menyelami alam mimpi. Namun Erland cukup memaklumi, karena Erland anggap mungkin istrinya masih mengantuk karena tadi ia bangunkan ketika tertidur. Jadi biarkan saja Maura tidur sampai nanti mereka sampai.
Erland terus menjalankan mobilnya penuh dengan kehati-hatian agar tak mengganggu Maura. Hingga akhirnya mobil yang ia kendarai telah sampai di tempat tujuannya yang kebetulan keingin Maura sangat mudah mereka temukan.
Erland melepas seat beltnya sebelum dirinya mendekati Maura dan kemudian ia menciumi pipi istrinya itu. Dimana hal itu adalah cara dia membangunkan Maura. Dan lihatlah caranya itu sangat ampuh, Maura saat ini mengerjabkan matanya dengan mendorong pelan wajah Erland yang saat ini malah terkekeh akan respon yang diberikan oleh Maura.
Maura perlahan membuka matanya. Dimana saat matanya itu sudah terbuka lebar dan nyawanya sudah terkumpul semua, ia melebarkan kelopak matanya sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Erland yang masih setia duduk di belakang kemudi.
"Ini tempat yang ingin kamu tunjukkan ke aku?" tanya Maura yang diangguki oleh Erland.
__ADS_1
"Gimana? Apa kamu suka aku bawa kamu kesini?" tanya Erland.
"Tentu saja. Karena aku sangat suka dengan pantai. Sekaligus disini kita bisa menemukan apa yang aku mau tadi. Jadi let's go kita cari makanan yang aku mau sekarang juga," ujar Maura penuh semangat. Dan setelah menyatakan hal tersebut ia segera melepaskan seat beltnya sebelum keluar dari dalam mobil, meninggalkan Erland yang melongo dibuatnya. Ia kira Maura akan main-main di pinggir pantai terlebih dahulu tapi ternyata istrinya itu memilih untuk mengisi perutnya. Padahal tadi ia sudah memantau Maura lewat rekaman CCTV jika Maura sudah makan mungkin 1 jam lebih sedikit sebelum dia pulang ke rumah tadi. Tapi sekarang lihatlah istrinya itu ingin makan lagi. Sumpah demi apapun, Erland merasa jika yang berada di tubuh Maura saat ini bukan istrinya yang asli karena jika Maura yang asli dia akan sangat-sangat menjaga pola makannya dengan hanya makan 2 kali sehari. Tapi hari ini belum juga ada satu hati, istrinya itu sudah makan berat sebanyak 3 kali, ditambah saat ini ia ingin makan lagi dan belum juga cemilan yang kemarin sempat dibelikan oleh Mama Dian dan Vivian, ia juga memakannya. Disitulah Erland curiga, jika Maura saat ini bukanlah Maura istrinya.