
Tepat pada pukul 12 siang, Erland membangunkan Maura yang betah sekali menutup matanya. Dan dengan elusan lembut tepat di pipi Maura, Erland berkata, "Assalamualaikum sayang, bangun yuk, makan siang dulu."
Ucapan penuh kelembutan itu tentunya membuat Maura terusik dari tidurnya.
"Enghhhhh, 5 menit lagi," ujar Maura lalu setelahnya perempuan itu merubah posisi berbaringnya menjadi membelakangi Erland yang tengah tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Namun Erland tidak menyerah, ia kembali membangunkan Maura, masih dengan cara yang sama.
"Ini udah jam 12 lebih sayang. Tidak ada lima menit lagi, bangun sekarang juga dan segera makan siang. Ingat sayang, di dalam perutmu ini adalah baby yang membutuhkan nutrisi darimu. Jadi makan dulu yuk, tidurnya di sambung nanti lagi ya," tutur Erland.
Maura yang mendengar jelas perkataan dari Erland tadi yang mengingatkan dirinya jika tengah mengandung membuat Maura langsung membuka matanya lebar. Bahkan Maura langsung mendudukkan tubuhnya.
"Astaga aku lupa kalau aku sekarang lagi hamil. Ya udah kalau gitu tunggu apa lagi, ayo kamu temani aku makan siang." Maura beranjak dari atas ranjang, menarik salah satu tangan Erland agar ikut turun dari atas ranjang mereka. Lalu setelahnya, Maura membawa Erland untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Namun saat tiba di depan pintu Maura menghentikan langkah kakinya yang otomatis membuat Erland juga menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," ucap Maura sembari memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Erland.
Erland yang bingung karena Maura menatap dirinya dengan tatapan intens pun ia mengangkat sebelah alisnya yang mungkin bisa mewakili dirinya untuk bertanya kenapa kepada Maura.
"Kamu sudah makan siang belum?" tanya Maura yang entah dia paham dengan kode yang Erland tadi berikan, atau memang pertanyaan itu sudah berada di otaknya sedari tadi yang akhirnya bisa ia layangkan? Entahlah.
Sedangkan Erland yang tadi sempat bingung, ia kini tersenyum. Dan sembari mengacak rambut Maura dengan gemas, ia menjawab, "Aku belum makan siang sayang karena aku mau makan siang bareng kamu."
Maura tersenyum malu mendengar perkataan dari Erland itu. Perlu di ketahui saja satu bulan belakangan ini selain ia selalu mager dan rasanya ingin tidur terus menerus, ia ternyata juga mudah baper, tidak hanya ke Erland saja melainkan ke semua orang yang sekiranya membuat hatinya tersentuh. Awalnya Maura juga bingung akan perubahan dirinya ini, tapi setelah tadi ia mengetahui jika tengah hamil, Maura bisa menyimpulkan jika perubahannya ini di karenakan bawaan bayi yang tengah ia kandung.
"Ya Allah gak kuat. Gak bisa ini gak bisa di biarkan! Pipinya, hidungnya, bibirnya ahh pengen aku cium. Tapi takut! Aku takut kalau aku cium tuh bibir menggemaskan Maura, aku kalap, aku gak bisa menahan nafsuku dan berakhir nanti adegan 18+. Kalau Maura sedang tidak hamil sih tidak masalah, tapi dia sedang hamil sekarang, usianya baru 1 bulan pula yang kata dokter Leli tadi saat hamil muda rentan akan keguguran dan dokter Leli tadi juga menyarankan untuk libur dulu melakukan hubungan. Arkhhhh! Tapi wajah Maura sekarang sangat menggemaskan! Arkkhhhhhhh ya Allah kuatkan iman hambamu yang hanya setipis tisu dibagi dua ini," batin Erland menjerit tak kuasa menahan dirinya sendiri untuk tidak melahap Maura saat ini juga.
__ADS_1
Erland menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memukul kepalanya, "Ayo Erland, kamu harus bisa menahan napsumu sendiri. Ayo ayo semangat! Jangan egois, kasihan baby jika sampai dia kenapa-napa nantinya. Toh puasanya hanya sebentar saja kok, hanya 9 bulan saja. Yok bisa yok."
Erland terus menguatkan imannya sendiri sampai ia tak menyadari jika dirinya saat ini tengah di tatap dengan penuh tanda tanya oleh Maura. Perempuan itu penasaran sekaligus bingung dengan suaminya yang tadi tiba-tiba menggelengkan kepalanya lalu memukul kepalanya lumayan keras dan sekarang melamun. Maura juga sudah memanggil Erland, namun laki-laki itu seakan tuli sampai tak mendengar panggilan dia saat ini.
Maura yang sudah lelah karena sedari tadi memanggil-manggil nama Erland, akhirnya terpaksa ia memukul lengan Erland dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya, suaminya itu tersadar dari lamunannya ditandai dia yang meringis kesakitan.
"Sayang, sakit tau," ujar Erland dengan mengelus lengannya yang memang terasa sedikit sakit.
"Lagian kamu bengong dari tadi. Dipanggil gak nyaut sama sekali. Kamu ini lagu mikirin apa sih sebenarnya, sampai geleng-geleng kepala dan pukul kepala kamu sebelum berakhir kamu melamun tadi. Kamu sedang ada masalah apa sih? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Muara.
Erland menggelengkan kepalanya, "Ya maaf sayang, aku kelepasan melamun tadi. Dan kamu jangan cemas, kamu tenang saja ya karena aku tidak sedang memiliki masalah apapun dan dengan siapapun itu."
__ADS_1
"Beneran? Kamu sedang tidak memiliki masalah seperti yang kamu katakan tadi?" Erland mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau kamu memang tidak memiliki masalah apapun. Ya sudah kalau begitu kita kebawah sekstsng. Let's go kasih makan ke baby," ujar Maura antusias tak lupa ia kembali menarik lengan Erland sampai keluar dari dalam kamar tersebut. Erland yang sudah pasrah dengan tarikan yang diberikan oleh istrinya itu, ia hanya mengikuti langkah kaki Maura dengan sesekali tersenyum kala melihat tingkah istrinya yang kelewat normal itu.