
Edrea yang menyadari keterkejutan dari Kakak iparnya itu, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum dirinya berkata, "Maaf Kak, udah biasa seperti itu. Kakak jangan kaget ya. Ahhhh kita ke mertua Edrea dulu yuk."
Masih dengan tangannya yang melingkar di lengan Maura, Edrea berjalan mendekati sumber suara yang tadi sempat mereka dengar. Dimana sumber suara itu berasal dari ruang keluarga. Dan benar saja saat dua perempuan itu telah sampai di dalam ruang keluarga, mereka berdua bisa melihat sepasang suami-istri yang sudah sangat berumur tengah duduk menghadap kearah televisi dan membelakangi keduanya.
"Ehemmm," deheman keluar dari bibir Edrea.
"Batuk neng, minum baygon," timpal Mommy Della tanpa menolehkan kepalanya kearah belakang.
Dimana ucapan dari Mommy Della tadi membuat mata Edrea terbelalak sempurna. Sedangkan Maura, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mom!" erang Edrea tak terima.
"Ck, apa sih Ed---rea," ucap Mommy Della yang sempat terputus kala ia menolehkan kepalanya dan mendapati ada satu perempuan lainnya disamping sang putri. Ia tau siapa perempuan itu jika bukan sang menantu, Maura.
"Ehhh ada tamu," ucap Mommy Della sembari memukul-mukul lengan sang suami agar Daddy Aiden yang sedari tadi anteng menonton siaran televisi yang tengah memperlihatkan kartun anak-anak itu menolehkan kepalanya kearah belakang.
"Ck, apaan sih sayang? Ini acaranya lagi bagus lho. Jangan ganggu ih," ucap Daddy Aiden yang benar-benar tak ingin diganggu saat ini.
"Astaga. Ada tamu ini lho. Mata kamu lihat dulu kebelakang. Kalau tidak, aku lempar televisi itu pakai vas bunga itu," ancam Mommy Della kepada sang suami. Dimana yang mendapat ancaman berdecak sebal, namun tak urung ia menolehkan kepalanya seperti yang diperintahkan oleh sang istri tadi.
Saat ia sudah melihat kebelakang, reaksinya tak berbeda dengan Mommy Della yang tadi sempat terkejut.
__ADS_1
"Lho eh ada Maura. Duduk nak," ucap Daddy Aiden sembari berdiri dari duduknya untuk mempersilahkan sang menantu untuk bergabung dengan mereka.
Maura yang mendengar Daddy Aiden memanggil namanya, ia kini mengerutkan keningnya, penasaran darimana laki-laki paruh baya tersebut tau namanya?
Sedangkan Mommy Della dan Edrea langsung mendelik kearah Daddy Aiden. Bahkan Mommy Della juga mencubit lengan sang suami, "Daddy!" erang Mommy Della tertahan.
Daddy Aiden mendesis kesakitan, "Ishhh sakit sayang. Kamu apa-apaan sih."
Mommy Della yang masih mempertahankan pelototan matanya, ia memberikan kode kepada Daddy Aiden yang membuat sang suami memincingkan alisnya, belum paham maksud dari sang istri.
Mommy Della yang sudah cukup kesal pun ia mengencangkan cubitannya tadi sebelum ia lepaskan.
"Maaf sudah membuatmu bingung, Maura. Kita tau nama kamu dari Erland. Dia sering bercerita tentang kamu ke kita berdua," ucap Mommy Della mencoba memberikan alasan agar Maura tak curiga dengan ucapan sang suami tadi.
"Benar Maura. Erland sering bercerita ke kita berdua tentang kamu. Jadi kamu tidak perlu bingung oke. Ahhhh dan lebih baik kamu duduk dulu sini," ucap Daddy Aiden yang membuat Maura menolehkan kepalanya kearah Edrea seakan-akan ia meminta persetujuan kepada adik iparnya tersebut.
Edrea menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Duduk sana gih Kak. Aku ke atas dulu ya, mau ketemu dua bocilku," ujar Edrea.
"Ehhhh kok---"
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, mertuaku baik kok tenang saja. Dan untuk bang Erland, aku akan coba hubungi dia. Karena kalau kita cari di sekitar rumah ini tidak akan ketemu Kak malah kita akan capek sendiri jadinya nanti. Tau sendiri kan rumah ini besarnya kayak apa. Jadi aku coba hubungi dia saja agar dia yang menemui Kakak disini," ucap Edrea yang hanya bisa diangguki oleh Maura.
Dimana setelah Edrea melihat anggukan kepala dari Maura pun ia lagi-lagi tersenyum sebelum dirinya beranjak dari ruang keluarga itu. Dan saat ia sudah berjalan, tangannya sibuk menghubungi Erland yang tak kunjung membalas pesannya tadi. Ia sangat khawatir jika Abangnya itu memang tidak lagi di rumah ini maka laki-laki itu tengah di kantor sekarang dan Edrea akan memberitahu Erland untuk pulang secepatnya ke rumah ini agar Maura tak semakin curiga dengan tidak adanya dia di rumah ini.
Kepergian dari Edrea tadi membuat Maura hanya diam di tempatnya tadi. Walaupun dirinya sudah di persilahkan untuk duduk dan bergabung dengan sepasang suami-istri itu, ia cukup canggung melakukannya.
Mommy Della yang gemas sendiri dengan sang menantu pun ia dengan cepat melangkahkan kakinya, mendekati Edrea berada. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia menggandeng tangan Maura yang lagi-lagi aksi dari Mommy Della ini membuat Maura terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Ayo duduk. Berdiri terus seperti ini apa kakimu tidak pegal?" ujar Mommy Della kemudian ia mulai menggiring tubuh Maura menuju ke salah satu sofa di ruang tamu tersebut.
Dimana saat mereka telah duduk disatu sofa yang sama, Mommy Della baru menyadari jika ada sesuatu yang aneh dengan menantunya itu. Mata sang menantu tampak membengkak yang ia yakini jika bengkaknya mata tersebut karena Maura menangis. Tapi untuk memastikan dugaannya itu, Mommy Della memilih untuk bertanya saja.
"Apa kamu habis menangis Maura?" tanya Mommy Della yang berhasil membuat Maura gelagapan. Dan dengan menundukkan kepalanya, Maura menjawab, "Ti---tidak nyonya. Saya tidak habis menangis."
"Benarkah? Tapi mata kamu terlihat bengkak seperti ini. Kalau tidak habis menangis terus kenapa?" tanya Mommy Della sembari memegang dagu Maura agar perempuan itu kembali menegakkan kepalanya lagi. Rasa khawatir pun kini telah menguasai diri Mommy Della.
"Anu itu, saya tengah terkena alergi," ujar Maura dengan berbohong. Sumpah demi apapun ia tak ingin semua orang tau masalah didalam rumah tangganya. Dan karena hal itulah Maura harus berbohong saat ini.
Sedangkan Mommy Della, ia mengerutkan keningnya. Ia tak percaya dengan ucapan dari menantunya itu. Pasti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Maura.
Tapi baru saja Mommy Della ingin berucap, suara Daddy Aiden lebih dulu terdengar, "Kamu tidak perlu berbohong ke kita Maura. Anggap saja kita berdua seperti orangtuamu sendiri. Toh kita berdua juga tidak bisa kamu bohongi. Jadi katakan saja sejujurnya tidak apa, siapa tau kalau kamu mau jujur dan cerita apa yang tengah kamu alami saat ini, kita berdua bisa membantu menemukan solusinya. Dan kamu tidak perlu memanggil kita dengan sebutan tuan atau nyonya. Panggil saja dengan sebutan Mommy dan Daddy. Jangan menolak permintaan kita ini, karena kamu istri Erland yang mana dia sudah kita anggap seperti anak sendiri. Dia juga memanggil kita dengan sebutan itu. Jadi kamu tidak perlu sungkan lagi kepada kita berdua. Oh ya kamu kesini ada tujuan lain kan? Atau hanya kebetulan saja tadi ikut main kesini dengan Edrea?" tanya Daddy Aiden penasaran.
__ADS_1
Namun ucapan Daddy Aiden tadi membuat Maura kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang tengah berkaca-kaca, sewaktu-waktu air matanya bisa keluar kapan saja. Mommy Della yang melihat hal tersebut pun ia hanya menghela nafas sebelum dirinya kini bergerak untuk memeluk tubuh Maura. Dimana pelukan tersebut justru membuat air mata Maura yang sedari tadi ia tahan keluar juga yang semakin membuat Mommy Della dan Daddy Aiden penasaran. Apa yang tengah terjadi dengan menantunya itu?