Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Korea Selatan


__ADS_3

Episode #10


Sinar matahari pagi di kediaman AMAR yang di tempati Asyifa benar benar menghangatkan dirinya yang sedang berjemur, setelah tiga puluh menit di bawah sinar mentari pagi, Asyifa menyudahi aktifitas nya dan bergegas menuju ayunan di taman untuk berteduh, tak lupa dia membawa ponsel terbarunya turut serta.


Iseng, Asyifa membuka berita tentang kecelakaan dirinya dan tanggapan netizen tentang kecelakaan itu, membaca ratusan hingga ribuan komentar sangat menghibur hatinya, terlebih ketika melihat postingan Camilla yang mengucapkan bela sungkawa di feed instagramnya.


" Ting," .. suara motivasi muncul di layarnya.


Hanya E- Mail yang masih di aktifkan oleh Syifa, tentu saja itu E- Mail pribadi yang berbeda dengan pekerjaan.


Segera Asyifa membuka Email dan membuka ada rekaman video dari kamera tersembunyi yang di tanamnya di jam tangan milik Ardi, ya,.. jam tangan tersebut memiliki fitur camera dan GPS yang terhubung dengan Email pribadi Asyifa, makanya dia bisa menemukan di mana hilangnya jam tangan tersebut, setelah hampir setengah tahun sekarang sudah nampak hasilnya.


Rekaman video yang masuk ke E- Mail nya berupa video panas tadi malam antara Ardi dan Camilla, ada gurat senyum menghiasi wajahnya, jika di tanya, apakah wanita itu masih cinta pada suaminya , jelas sudah tidak ada, ketika dia mengetahui bahwa sosok yang selama ini dia puja malah ingin melenyapkannya.


" Nonton apa May, serius sekali" sapa Amar tiba tiba datang dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.


"May?" Asyifa bingung dengan nama panggilannya.


" Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan identitas barumu " HUMAIRA PRAMESTI" serunya seraya menyodorkan satu amplop coklat.


" Asyifa membuka amplop coklat tersebut dan meletakkan ponselnya di meja, Amar mencoba mengintip video yang tadi di tonton oleh Asyifa dan sontak terkejut.


" Gila,.. seru banget nonton video panas sang suami dan sang sahabat yang ternyata pelakor," Amar terbelalak dan menggelengkan kepalanya.


"Asyifa segera meraih ponsel dan mematikan video tersebut, entah kenapa pipinya merona walaupun masih tertutup dengan bekas luka.


" Yang lajang di larang nonton!" serunya menyembunyikan rasa malunya.


" Hebat banget,.. darimana dapet video begituan!" Amar penasaran.


Asyifa menyesap jus jeruk yang ada di depannya sebelum menjawab, pertanyaan Amar.


" Aku udah feeling kalau si do'i punya selingkuhan, jadi pas do'i ulang tahun aku kasih jam tangan mahal edisi terbaru dengan fitur kamera tersembunyi dan di lengkapi GPS, sialnya si do'i lupa naro di mana jam tangan tersebut, terpaksa deh aku datangi ketempat perempuan itu dengan berpura pura curhat dan nemu jam tangan itu di kamar mandi" ungkapnya polos tanpa menunjukkan raut wajah sedih ataupun kecewa.


" Kamu sudah semakin pintar akting sekarang may, aku nyaris tidak melihat raut wajah sedih atau kecewa sewaktu kamu mengungkapkannya!" puji Amar tulus.

__ADS_1


" Stop,.. jangan bicarakan hal yang udah -udah itu sangat tidak penting untuk di bahas,..


   "by the way , ini apaan?" rogoh Asyifa pada amplop coklat yang di sodorkan oleh Amar tadi.


" Check saja!" ucap Amar sambil mencomot sekeping biskuit.


Dengan cepat tangan Asyifa mengeluarkan isi amplop tersebut.


Semuanya terdiri dari , paspor, rujukan dari rumah sakit, kartu tanda penduduk dan beberapa kartu keanggotaan lainnya, dengan identitas yang baru yaitu "HUMAIRA PRAMESTI"


"Ini, kapan ngurusnya?" Asyifa tidak percaya dengan apa yang dia pegang.


"Hahahaha, itu hanya a piece of cake for me!" kelakar Amar


"Hahahaha, yakin deh sama Amar, semuanya serba bisa, cuma satu hal yang ga bisa, utarain perasaan ke cewek yang di suka," ejek Asyifa


Mendengar ejekan Asyifa, Amar mendengus dingin, dia tak ingin menanggapi, pasti akan kalah juga.


" Aku dengar do'i sudah mengunjungi silau hukum dan menunjukkan beberapa persyaratan untuk pengalihan aset!" Amar mengalihkan pembicaraan.


Amar menaikkan sebelah alisnya.


" Cukup kita tonton pertunjukan selanjutnya, paman HAMDAN bukan sosok yang mudah di hadapi, dia akan mempermainkan keluarga itu dulu!" seringai licik keluar dari sudut bibir wanita obesitas tersebut.


Amar melihatnya sedikit gemetar.


" Mereka salah pilih musuh kali ini" gumamnya dalam hati.


"Dan satu lagi,. TARA,... !" Amar mengeluarkan tiket pesawat perjalanan ke Seoul, ibukota Korea Selatan.


Asyifa begitu terkejut dan langsung menyambar tiket yang ada di tangan Amar, dia begitu senang, dia senang bukan karena pergi ke Korea Selatan, kapanpun dia bisa kesana sekehendak hatinya, tetapi karena dia melihat ada ketulusan pada mata Amar, seketika matanya berkaca-kaca wanita itu terharu.


" Loh,.. kok tiketnya cuma satu, kamu gak ikut?" desahnya kecewa.


" Itu berangkatnya lusa, aku gak bisa nemenin, aku ada meeting dengan klien dari ausie di bali pada hari itu!" jawab Amar.

__ADS_1


" Yaaaaaah,!" Asyifa berseru sedih.


" Nanti pulangnya aku jemput ya, hanya sekitar enam bulan lah di sana!, tidak lama juga kan? pokoknya selama di sana harus disiplin, ingat tujuan awal! peringat Amar keras.


" Yes I know !" ucap Asyifa akhirnya.


Sementara itu di apartemen mewah kediaman Camilla.


Ardi terbangun, seluruh persendiannya lemas, tangannya merayap di atas nakas ingin meraih ponselnya , begitu membuka ponsel dia terbelalak melihat jam sudah mendekati jam delapan.


" Camilla bangun!" Aku terlambat" siapin aku sarapan ya, apa saja!" perintahnya pada Camilla yang masih bergelung di bawah selimut.


Ardi langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi secepat kilat yang dia bisa, lelaki itu begitu tergesa gesa pagi ini.


"Camilla,.. ayok, bangun!" Ardi menarik selimut kasar.


"Hmmmm," gumam CAMILLA masih mengantuk dan melanjutkan tidurnya.


" Haaaisshh" rutuk Ardi.


Pria itu langsung menuju dapur dan membuka lemari es, dia berharap ada sesuatu yang bisa di makan, entah itu Roti, buah, mie instan atau apapun, namun lelaki itu harus menelan kekecewaan, tidak ada apa apa di sana hanya berisi air dingin.


Dengan berat hati dia meninggalkan apartemen itu menuju parkiran, wajahnya terlihat kusut tanpa sarapan, apalagi kali ini meeting penting dan bisa di pastikan akan berlangsung beberapa jam, ingin singgah sekedar membeli untuk pengganjal perut juga sudah tidak bisa, lelaki itu sungguh sudah terlambat.


Memikirkan hal ini Ardi teringat dengan Asyifa, sesibuk apapun wanita itu dia selalu mengurus dirinya dengan benar, tidak pernah dia berada dalam kondisi kelaparan, walaupun terkadang dia tidak makan masakan Asyifa, wanita itu selalu menyimpan buah buahan komplit dalam kulkas, dan sudah dalam keadaan terkupas dan terpotong potong, jadi dia tinggal memakannya, ada juga aneka cake dan puding yang selalu ada di sana, di sadarinya atau tidak ada sedikit rasa rindu merajai hatinya.


       " Sarapan dulu nanti asam lambung mu naik!" sapa seorang wanita over size yang sudah rapi dengan dandanan ke kantor.


   Pemuda itu melirik ke meja makan, ada sepiring nasi goreng dan roti bakar plus segelas kopi atau teh, dia tidak berkata apa-apa dan pergi berlalu meninggalkan wanita tersebut yang tak lain adalah Asyifa , wanita itu menghabiskan makanannya sendiri.


     Ada kristal bening di mata wanita tersebut setiap kali pria tersebut memperlakukannya begitu.


   " Tiiin,!" Suara klakson mengagetkan Ardi dari lamunannya.


   Segera dia melajukan mobilnya setelah sempat berhenti di lampu merah menuju ke kantor, di dalam hati yang paling dalam ada sedikit rasa bersalah memperlakukan wanita yang tiga tahun bersamanya semena mena.

__ADS_1


    *****


__ADS_2