
Episode #53
Acara ulang tahun Jasmine berjalan lancar, Hanya ada tiga hati yang tidak menikmati pesta itu, Asyifa, Amar dan Moana.
Moana selalu melirik ke arah prof Wilson dan Asyifa, Dia seperti melihat Rose di dalam diri Asyifa, dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa cemburunya.
Sepanjang pesta Jasmine tak pernah lepas dari Asyifa, bahkan dia memanggil Asyifa dengan panggilan mommy.
" Mommy, mommy jangan pulang ya? Mommy di sini saja temani Jasmine ya?" ucap Jasmine sambil mengerjapkan matanya tiga kali.
Mommy, bosan kalau sama Daddy terus, Daddy orangnya gak asik mom, Aku gak boleh baca novel lagi!" bibir Jasmine mengerucut.
" Jasmine!" Panggil prof Wilson lembut.
" Jangan panggil mommy lagi ya? Jasmine harus panggil dia bibi Asyifa, bibi syifa harus pulang sayang, kalau tidak pulang, nanti paman yang ada di rumah bibi Asyifa bisa marah, Jasmine mau, bibi Asyifa di marahi?"
Jasmine menggelengkan kepalanya.
Asyifa mengerutkan dahinya," Paman di rumahku? Apa prof Wilson salah sangka dengan Ferdinand?"
Jasmine mendesah pelan, " Ya udah deh, Tapi, aku tetap panggil mommy ya? Aku gak mau panggil bibi!" Jasmine bersikeras.
Prof Wilson memandang Asyifa dengan perasaan yang Susah untuk di jelaskan, namun tatapan matanya menyiratkan permintaan maaf.
" Tak masalah Jasmine, kalau Jasmine lebih senang panggil mommy, panggil saja!" Asyifa menekuk lututnya sehingga tinggi badannya setara dengan Jasmine.
Jasmine langsung menghambur ke pelukan Asyifa," Mommy yang terhebat dan yang terbaik!"
" Jasmine juga yang terhebat dan terbaik!" Asyifa melepaskan pelukannya.
Di sisi lain, Amar hanya bisa melihat kekompakan keluarga kecil itu, ingin sekali dia kesana dan menarik tangan Asyifa , namun dia harus berpikir panjang.
Sementara di sisinya ada Rebecca dan juga Molly, yang sama sama ingin mencari perhatiannya.
" Amar, Apa kau ingin menonton konserku bulan depan? Aku sudah membeli tiket VVIP untukmu!" Rebecca menggelayutkan dirinya kembali di lengan Amar.
Amar menggeleng," Sepertinya tidak bisa, Nona Rebecca, aku ada beberapa proyek yang harus aku selesaikan, kalau tidak, kakek akan memarahiku jika itu gagal dan terbengkalai!"
__ADS_1
Rebecca mengerucutkan bibirnya, dia melepaskan tangannya dari lengan Amar, dan menghentakkan kakinya, kemudian berjalan ke parkiran , dia pergi tanpa mengucapkan kata pamit.
Molly kemudian mendekat, " Tuan Amar!"
Molly terkesan lebih lembut di bandingkan dengan Rebecca.
Amar menoleh," Oh ya, Nona Molly, tolong panggil saya nama saja, jangan di tambah embel tuan, kesannya saya sudah begitu tua!"
Molly terkekeh, " He he! Sepertinya anda memiliki selera humor yang bagus Amar, Baiklah, Aku tak akan mengulanginya lagi!" Molly kemudian menatap Amar sekilas, " Oh ya Amar, Apa kau yang menangani proyek di London timur?"
Amar mengangguk," Benar'sekali Nona! Ada apa, apa ada yang bisa saya bantu?"
" Ya, saya ingin meminta bantuan anda, untuk memilihkan satu unit di sana, seperti yang anda ketahui, setelah ibu saya meninggal, ada sepasang suami istri yang mengangkat saya menjadi anak, saya ingin memberikan berupa satu unit untuk mereka di sana!"Sebelumnya Molly sudah mencari tahu semua kegiatan Amar beserta kegiatannya, Daripada mengajak Amar menonton konser atau film, perempuan itu lebih memilih alasan ini untuk menghabiskan waktunya dengan Amar.
Dalam hatinya, Molly mencibir Rebecca, " Penampilan berkelas tetapi penampilannya sungguh memelas,"
Kalau begitu, untuk mendapatkan unit yang cocok menurut Nona Molly, saya akan menemani Nona ketika berkunjung ke sana, Nona hanya perlu mengatur waktunya saja!"tawar Amar.
" Wah, terima kasih banyak Amar, kau sungguh baik hati!" ucap Molly malu malu.
" Anda terlalu sungkan Nona!" Amar mengangguk dan segera berpamitan," Mari Nona, saya duluan, saya harus membereskan semua kekacauan ini!"
Kemudian Amar mengalihkan pandangannya, dia berusaha mencari keberadaan Asyifa, Dia melihat kesana Kemari tetapi tidak menemukan keberadaan wanita itu, dia berjalan ke arah parkiran, dan sesuai dengan perkiraannya, prof Wilson sudah mengantarkan perempuannya itu pulang.
Amar mengepalkan tangannya, segera dia menyusul keduanya, dia segera menyusul ke apartemen Asyifa yang selama ini hanya dia pantau dari luar, saat itu dia tidak mempunyai keberanian untuk sekedar bertamu kesana.
Selama perjalanan, tidak ada perbincangan masalah pribadi antara prof Wilson dan Asyifa, Mereka hanya membicarakan masalah kampus, kegiatan di kampus dan beberapa sistem penilaian di sana, prof Wilson juga menyarankan kepada Asyifa, untuk mengikuti beberapa kegiatan yang di lakukan oleh beberapa komunitas di sana.
Amar bisa menyusul mobil prof Wilson, sekarang jarak mereka hanya beberapa ratus meter.
Setelah perjalanan yang di tempuh selama satu jam, akhirnya Asyifa Sampai di apartemennya, prof Wilson kemudian turun, dan membukakan pintu mobil untuk Asyifa, setelah itu prof Wilson pamit dan ingin kembali ke mansion Stewart untuk menjemput Jasmine," Terima kasih untuk hari ini Syif!"
Asyifa hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
Amar mengepalkan tangannya melihat adegan itu, wajahnya memerah, dia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Asyifa pun masuk kedalam bangunan apartemen, tanpa dia sadari, Amar mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Asyifa kemudian membuka pintu, dan masuk kedalam unitnya, setelah menutup pintu, bunyi bel berdering.
Asyifa mengeryitkan dahinya," Siapa yang bertamu, apa Ferdinand sudah kembali? Tumben anak itu membunyikan bel!" pikir Asyifa.
Asyifa langsung memutar badannya, dan membuka pintu, dia belum melihat wajah tamunya, tetapi sosok itu langsung memeluknya dan membawanya masuk.
Asyifa gelagapan, sontak dia ingin berteriak, tetapi tidak jadi, karena mendengar suara yang begitu familiar, " Jangan berontak, biarkan aku memelukmu! Aku,.. Aku sangat merindukanmu, Aku sudah menunggu kedatanganmu di sini, tetapi aku terlalu pengecut, untuk tidak menemuimu, namun percayalah, setiap pagi aku selalu menunggu di depan apartemenmu, untuk sekedar menghilangkan rindu!"
Asyifa membeku beberapa saat, untuk sepersekian detik dia kehilangan kesadarannya.
" Amar!" panggil Asyifa lirih, " Aku sesak!"
Amar kemudian tersadar, dia terkekeh," Maaf, Aku memelukmu terlalu erat!"kemudian Amar melepaskan pelukannya, sekarang dia menangkupkan kedua tangannya di wajah Asyifa," Aku,...Aku sangat merindukanmu!"
Asyifa terenyuh, tetapi ketika mengingat momen dimana ketika Amar bersama si ulat bulu itu, bernama Rebecca itu menggelayut di tangan Amar, seketika dia melepaskan tangan Amar.
Amar heran" Kenapa?"
" Kau cuci tangan dulu sana! Tanganmu banyak kumannya karena di gelayutin sama monyet!"Asyifa langsung masuk kedalam, dia membuatkan minuman dan juga sedikit cemilan untuk Amar.
Amar terkekeh, dia segera menuju wastafel dan mencuci tangannya.
" Apartemen mu lumayan bagus, pilihanmu memang tak pernah salah!" Amar Sudah selesai mencuci tangannya.
" Kau berhutang banyak penjelasan Amar, Berhenti berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa antara kita," Asyifa menatap Amar dengan tatapan tajam.
Amar menghela nafas," Baru saja bertemu, sudah di hadiahkan tatapan tajam, tolong, aku takut sekali!" Amar berpura-pura menggigil ketakutan.
" Aku serius Amar, stop berpura-pura, aku yakin kau punya rencanamu sendiri!" Asyifa menuangkan teh yang sudah dia persiapkan.
" Satu hal yang selalu Aku syukuri syif, Kau selalu berpikir positif!" Amar mencubit pipi Asyifa lembut.
Ketika adegan itu berlangsung, Ferdinand tiba tiba masuk dan berseru," Bu Boss!"
Asyifa dan Amar langsung salah tingkah.
Ferdinand merasa bersalah, dia melihat Amar meraih wajah Asyifa untuk di cium, seketika wajahnya memerah, " Maaf mengganggu Bu Boss, Aku keluar dulu!" Ferdinand langsung kabur.
__ADS_1
****