
Episode #39
Jam sepuluh pagi, Asyifa mendatangi apartemen Ferdinand, Dia langsung masuk saja, karena dia punya kunci apartemen laki laki itu.
Ferdinand terlihat sedang tiduran di sofa, dia terlihat begitu lelah.
" Kamu kenapa?" tanya Asyifa melihat Ferdinand begitu lemas.
" Badanku lemas sekali Bu Boss, kalau malam saya tidak bisa tidur, tapi kalau siang bawaannya ngantuk terus,. Hoaam!" Ferdinand menguap lebar,. buru buru dia menutup mulutnya.
" Hi hi!" Asyifa terkikik," itu namanya jet lag, jam biologis kita sedang menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu disini, kamu tenang saja, tiga sampai lima hari kedepan, itu akan hilang!"
" Gara gara lupa ada perbedaan waktu, saya sampai lupa menelpon Enyak jam delapan malam, eh, Saya di marahi karena menelpon jam dua dini hari di sana," Ferdinand menarik nafas," Untung aja jauh jaraknya, kalau tidak, saya sudah di jadikan sambel terasi sama Enyak!"
Asyifa terkekeh," Sebaiknya kamu buat pengaturan jam di sini dan jam di Jakarta, jadi setiap mau nelpon kamu tahu jam berapa di sana!" Asyifa memberikan solusi.
" Sepertinya begitu!" Ferdinand langsung mengambil ponselnya dan membuat pengaturan jam, Dia tidak ingin di omelin oleh Enyak, karena menelpon tengah malam, karena Enyak paling marah kalau tidurnya terusik.
" Nah, sekarang, Ayo kita berbelanja, kebutuhan dapur tidak bisa di tunda, mumpung Jan segini, tak banyak orang berkeliaran, nanti keburu jam makan siang!"
Asyifa keluar diikuti Ferdinand, sesekali Ferdinand menguap sambil menutupi mulutnya, Asyifa hanya terkekeh melihatnya.
" Sepertinya, kamu masih sangat mengantuk!" Asyifa berjalan lurus kedepan.
" Benar Bu Boss!" Ferdinand menjawab, dia berjalan di belakang Asyifa.
" Mulai sekarang, selama di sini, panggil saya dengan nama syifa saja ya? jangan panggil Bu Boss!" pinta Asyifa.
" Oke, Bu Boss,..eh syifa!" Ferdinand langsung meralat ucapannya. Dia merasa sedikit canggung dengan panggilan barunya.
Asyifa dan Ferdinand menyusuri lingkungan apartemen di sana, mereka berniat menyewa sepeda, untuk berbelanja ke supermarket terdekat, tacos.
Tak lama kemudian, Asyifa dan Ferdinand sudah sampai di supermarket, kemudian Asyifa memberikan daftar list belanjaan pada Ferdinand, " Kamu cari barang ini, dan aku cari barang yang lainnya, lebih cepat kalau kita berbagi tugas!"
" Baiklah syifa!" Ferdinand mencoba memanggil sesuai dengan yang Asyifa inginkan, walaupun sebenarnya dia sedikit canggung.
Keduanya berjalan mengambil troli masing masing, keduanya menuju arah yang berbeda, Asyifa di display makanan segar, sedangkan Ferdinand di display makanan ringan dan sembako.
Ferdinand sudah mengisi trolinya dengan, beras, minyak dan gula, sesuai dengan list di tangannya.
__ADS_1
Ketika Ferdinand sedang asik dengan list belanjaannya, Dia tidak sadar, trolinya di tabrak oleh seorang gadis kecil yang sibuk berlarian.
" Hua! Hua,.." tangisan gadis kecil itu mengagetkan Ferdinand.
" Eh!" Ferdinand langsung duduk, dan menggendong gadis kecil tersebut.
Dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih, Ferdinand mengusap air mata gadis cilik tersebut," Jangan menangis, Jangan menangis!.. ssshh! ssshh!" Ferdinand pun memberikan sebuah coklat batang pada gadis berwajah Asia tersebut.
Senyuman sumringah langsung terbit di wajah gadis itu, " Terima kasih om!" Dia langsung memeluk leher Ferdinand.
" Keumala, kau darimana saja? ibu mencarimu kesana kemari!" seorang wanita berhijab menghampiri Ferdinand dan gadis kecil itu.
" Ibu!" Gadis kecil itu langsung meminta turun dari gendongan Ferdinand, dan langsung berlari memeluk ibunya.
Perempuan itu memeluk gadis itu dengan erat," Jangan main terlalu jauh, ibu muter muter mencarimu!" perempuan itu berbicara sambil mencoel hidup Keumala dua kali.
" Lihat Bu!" Keumala kemudian menunjukkan coklat batangan yang di berikan Ferdinand kepada ibunya, " Om itu kasih aku coklat!" Dia menunjuk kearah Ferdinand yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya.
Perempuan itu melihat kearah yang di tunjuk putrinya, dia berdiri dan hendak mengucapkan maaf dan terima kasih.
Pandangan Ferdinand dan perempuan itu bertemu, keduanya tiba tiba terdiam.
Keumala kemudian berjalan menghampiri Ferdinand, tangan gadis kecil itu meraih tangan orang yang telah memberinya coklat itu, kemudian menarik tangan Ferdinand agar lebih mendekati ke ibunya, Keumala merasa ada yang aneh terhadap Om baik hati dengan ibunya, Diapun menggoyang goyangkan tangan keduanya secara bersamaan.
Jika di lihat dari jauh, ketiganya seperti keluarga kecil yang bahagia.
" Bu,..Om!" Keumala menggoyangkan kedua tangan orang dewasa tersebut, Dia bahkan mendongak dan melihat kearah keduanya secara bergantian.
Baik perempuan berhijab maupun Ferdinand akhirnya bisa menguasai diri sendiri.
Keduanya pun terkesiap.
__ADS_1
" Ini, Bang Ferdi kan? wakil ketua BEM di kampus dulu?"
" Dek, Nong!" Ferdinand tiba tiba menampar mulutnya." Maksudku Cut Sari!"
Cut Sari tertawa," Abang masih ingat saja dengan panggilan itu!"
Sepersekian detik Ferdinand terpana dengan sosok yang berdiri di hadapannya ini, Semuanya masih sama di ingatannya, Senyumnya, suara tawanya, bahkan fisiknya, Ferdinand tak bisa membohongi, getaran yang dahulu sempat padam, menimbulkan percikan lagi.
" Ibu! .Ibu kenal dengan om ini?" Keumala menatap dua orang dewasa di hadapannya ini, dengan rasa penasaran yang tinggi.
Cut Sari mengangguk, masih dengan senyuman di wajahnya, kemudian dia menggendong Keumala, sehingga posisi mereka sejajar.
" Kenal dong sayang? Om ini namanya Ferdinand, biasanya di panggil Ferdi, Om dan ibu dulunya satu kuliah, tapi ibu adik kelasnya!" Cut Sari mencium pipi Keumala.
Keumala mengangguk, Gadis kecil itu mengulurkan tangannya," Namaku Keumala om, panggil Mala aja ya, Panggil princess juga tak apa apa!" Keumala kemudian terkikik.
Ferdinand menggenggam tangan kecil itu dengan penuh kasih, " Baiklah, mulai sekarang, Om akan memanggilmu dengan sebutan princess, kamu mau di panggil Cantik,? Yasmin, Wulan, snow white , Cinderella atau Belle?"
" Aku mau di panggil Elsa Om!" jawab Keumala cepat.
" Kalau Elsa bukan princess, dia adalah Ratu queen!" jawab Ferdinand sambil mengelus ubun ubun Keumala.
" Kalau begitu, panggil aku queen!" Senyum Keumala mengembang, lesung pipi di kedua pipinya membuat orang yang melihatnya semakin gemas.
" Baiklah, Ratuku!" Ferdinand memberikan hormat dengan cara menundukkan kepala dengan menekuk leher kedepan, ini adalah cara menyapa anggota kerajaan, Asyifa sudah mengajarkannya Terlebih dahulu sebelum berangkat ke London.
Tawa Keumala lepas, terlihat dia begitu senang.
Cut Sari melihat semua adegan ini dengan perasaan yang Susah di jelaskan, Dia cukup terkejut dengan kedekatan keduanya yang terjadi begitu cepat, Dia tak menyangka, jika seniornya ini begitu mudah dekat dengan anak kecil.
Ferdinand merasa Keumala sangat lucu, sesekali dia mencuri pandang ke Cut Sari, atau yang selama ini dia panggil dengan sebutan Dek Nong! Dalam hatinya sempat terbersit sebuah pengandaian, " Andai Dek Nong adalah istrinya,"
Ferdinand membuang pikiran itu jauh jauh, hubungan keduanya sudah kandas enam tahun lalu, walaupun hingga sekarang, Ferdinand belum bisa beralih kepada perempuan lain, inilah, kenapa Ferdinand masih jomblo hingga sekarang.
" Bagaimana belanjaannya, sudah dapat semua?" Asyifa tiba tiba datang dengan troli yang penuh dengan, Daging, Buah, Dan Sayuran serta bumbu dapur.
Cut Sari melihat Asyifa dengan tatapan yang sulit di artikan, hatinya sedikit tercubit.
****
__ADS_1