
Episode #32
Keesokan harinya, Asyifa menuju rumah sakit yang telah di tunjuk oleh pihak imigrasi, untuk melakukan medical check up, atau biasa yang di sebut MCU.
Asyifa menghabiskan waktu beberapa jam, untuk pemeriksaan secara holistik atau menyeluruh, Dokter juga mengatakan, hasilnya akan keluar beberapa jam lagi, jadi Asyifa memutuskan untuk menunggu sajla hasilnya, di bandingkan dia bulak balik rumah sakit untuk mengambilnya.
Ferdinand juga memiliki jadwal medical check up, Hanya saja berbeda rumah sakit.
Setelah pemeriksaan, Asyifa merasa perutnya keroncongan," Kruuk!"
Suara bunyi perut itu membuat Asyifa sedikit malu,, karena semua pengunjung melihat ke arahnya, dia Hanya melewatinya sambil tersenyum.
" Pantas, udah jam segini!" Asyifa melihat jam di pergelangan tangannya," Hasilnya keluar masih lama! Sebaiknya aku ke kantin saja, untuk mengganjal perut!" Asyifa pun berjalan menuju kantin Terdekat.
Setelah mengantri beberapa waktu, Asyifa mendapatkan makanannya, Dia menoleh ke sana ke mari untuk mencari meja kosong, " Akh, Ada meja kosong juga!" Asyifa langsung menuju kesana.
Dengan lahap dia memakan pesanan makanannya, dia sudah tak memperdulikan keadaan sekitarnya.
Selang sepuluh menit kemudian, Asyifa merasa kenyang, dia segera meneguk segelas teh manis pesanannya hingga tandas," Seger banget!" ucapnya," walaupun tidak boleh meminum teh sehabis makan, tak apa apalah, sekali kali, he he!"
Ketika Asyifa hendak melangkahkan kakinya meninggalkan kantin, tiba tiba pandangannya tertuju pada sosok pria berusia lima puluh tahunan, yang sedang mengantri makan, siluet tubuh itu sangat familiar dengan Asyifa.
" Itu, bukannya papa Andreas, ya?" gumam Asyifa, sambil memperhatikan lebih dekat lagi.
Asyifa pun melangkah mendekati laki laki itu.
" Papa! Papa sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" tegur Asyifa.
" Syifa!"Andreas sedikit terkejut, dia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan menantunya di sini.
" Sedang apa kamu di sini, syifa?"
" Aku baru selesai medical check up, papa sendirian kesini?" tanyanya, sambil celingak-celinguk mencari seseorang yang mungkin dia kenal.
" Kita bicara sambil duduk saja ya?" Andreas kemudian membawa pesanan makanannya ke meja kosong, yang di pojokan, tempat Asyifa tadi duduk.
" Siapa yang sakit pa?" tanya Asyifa,"Apa papa menemani mama kontrol bulanan?"
Andreas menggeleng gelengkan kepalanya, " Bukan, mama ada di rumah bersama ART, " Andreas kemudian menyesap minumannya," Papa kesini mengantarkan mamanya Camilla, menjenguk Camilla!"
Asyifa terperanjat," Camilla? Apa dia sakit parah, hingga harus di rawat di rumah sakit di luar rutan seperti ini?"
__ADS_1
Andreas mengangguk, " Iya, kepala rutan juga sudah menyetujuinya, dan dokter di sana memberikan surat rujukan di rumah sakit ini!"
Asyifa nampak berfikir," Memangnya Camilla kenapa?"
Andreas menghela nafas panjang," Dia baru saja di operasi tadi malam, Operasi kuretase, dia keguguran, ternyata selama ini dia sedang hamil empat bulan,"
" Kuretase? Hamil?" Asyifa terbelalak, dia sangat terkejut," Jadi, sejak awal masuk jeruji besi dia sedang mengandung?"
Andreas mengangguk, " Iya, benar! kata Dokter di sana, Camilla bahkan tak menyadari jika dia sedang berbadan dua, awalnya dia mengira, tidak lancarnya haid di karenakan faktor stress, Dia tidak menduga, jika dia sedang mengandung, kemudian dia bertengkar dengan sesama penghuni lapas, sehingga menyebabkan janinnya tidak bisa bertahan," Suara Andreas nampak lemah ketika menceritakan hal ini, bagaimanapun juga, janin yang di kandung Camilla adalah anaknya ARDIANSYAH, Andreas terlihat terpukul karena kehilangan calon cucunya untuk yang kedua kalinya.
Hati Asyifa bergetar, dia tidak dapat membohongi hatinya sendiri, jika sebagai seorang wanita dia juga merasakan kesedihan, apalagi dia pernah ada di posisi Camilla, kehilangan janin, dan terpaksa menjalani kuretase, butuh waktu lama untuk bisa bangkit lagi, hingga sekarang pun dia masih terus mengenang anaknya tersebut, dia sering berandai andai jika anaknya masih hidup, mungkin sekarang sudah memasuki usia empat tahun.
Asyifa hanya menepuk pundak Andreas pelan, seraya memberi kekuatan.
" Tadi papa bilang papa mengantarkan tante Yuni kesini? Sejak kapan dia pulang dari Paris?"Asyifa mengeryitkan dahinya.
Yuni, nama ibu kandung Camilla, setelah bercerai dengan Edward, ayahnya Camilla yang berkebangsaan Amerika serikat, dia menikah lagi dengan pria berkewarganegaraan Prancis, Dia memutuskan tinggal di sana bersama suaminya, sementara itu Camilla tinggal di ibukota, Yuni dan Asyifa di masa lalu pernah bertemu beberapa kali.
" Tadi malam, dia menelpon Camilla, minta di jemput di bandara Soekarno Hatta, sebelumnya Camilla memang sudah memberitahunya jika dia akan menikah dengan Ardi, jadi tidak heran jika dia menghubungi ke rumah, karena baik Camilla maupun Ardi susah di hubungi!"
"Awalnya dia memang datang untuk memberi kejutan, eh, malah dia yang terkejut!" Andreas menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
" Apa papa memberitahu, apa yang terjadi pada anak dan menantunya?"Asyifa penasaran.
" Jadi, selama di dalam mobil, tidak ada pembicaraan apapun pada kami, tidak lama keluar dari bandara Soekarno Hatta, telepon dari kepolisian masuk, dan mengatakan bahwa Camilla pendarahan dan di bawa ke rumah sakit luar rutan, untuk di operasi kuretase, " Andreas menjelaskan lebih jauh.
" Jadi, oleh karena itu, Tante Yuni menemani Camilla sekarang di sana?" Asyifa penasaran.
' Benar!" Andreas menyesap kembali es teh, yang sudah tinggal setengah gelas, " Selain dia ada juga seorang wanita dari pihak kepolisian, biar bagaimanapun Camilla adalah seorang tahanan yang perlu di awasi!"
Asyifa mengangguk tanda mengerti, memang seperti itu prosedur perawatan di rumah sakit luar rutan, cabang rutan atau lembaga pemasyarakatan sekalipun.
" Apa Ardi sudah tahu perihal kehamilan Camilla?"Asyifa seketika mengungkit anak Andreas, mantan suaminya.
" Kalau soal itu,.. papa tidak tahu, bisa juga sudah tahu bisa juga belum tahu!" Andreas menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mengerti.
" Apa Kamu ingin menjenguk Camilla?" tiba tiba Andreas bertanya.
__ADS_1
Asyifa sedikit terkejut, entah bagaimana Andreas bisa tahu apa yang ada di pikirannya.
Asyifa pun mengangguk," Bagaimana, menurut papa?"
" Jenguk lah, jika memang kamu berniat seperti itu, lagipula itu niat baik, papa juga tahu, bahwa kamu pernah ada di posisi Camilla, bukan? papa juga tahu jika kamu pernah kehilangan cucu papa, karena anak tak tahu diri itu!" jawab Andreas.
Anak tak tahu diri yang di maksud adalah, anak lelaki satu satunya Andreas, yaitu ARDIANSYAH.
" Siapa tau Camilla sadar, setelah kehilangan anaknya, Camilla berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bagaimanapun Hidayat dapat menyapa seseorang dengan berbagai cara, bukan?" Andreas melanjutkan.
Asyifa paham apa yang di maksud Andreas, semua orang memang layak mendapatkan kesempatan kedua.
Kalau memang begitu, lebih baik kamu ikut papa keruangan Camilla!" Andreas menawari.
Asyifa mengangguk, setelah Andreas menghabiskan makanannya, keduanya berjalan menuju ruangan rawat Camilla.
Hanya berjalan sekitar lima belas menit, keduanya sudah sampai di persimpangan ruangan Camilla di rawat.
" Camilla di rawat di dalam ruangan yang ada polisi wanitanya itu, kamu sendirian saja yang kesana, papa mau pulang dulu, untuk ganti baju, selain itu takutnya mama Ani khawatir, karena semalaman papa belum pulang samasekali, , padahal papa cuma bilang jemput mamanya Camilla ke Cengkareng," ujar Andreas, yang memberikan dua alasan sekaligus.
" Iya, papa pulang saja, wajah papa juga sangat terlihat lelah, papa butuh istirahat, terlebih lagi ada tante Yuni yang menjaga Camilla, jadi, papa tidak perlu khawatir samasekali!" Asyifa tersenyum pada Andreas.
Andreas mengangguk, dia memandang wajah Asyifa lekat, walaupun sekarang fisik Asyifa telah berubah, tetapi kepribadian Asyifa tetaplah sama." Bodoh sekali anak itu, menyia nyiakan perempuan sehebat Asyifa,"sesalnya dalam hati.
Mereka pun berpisah di persimpangan lorong rumah sakit.
Asyifa memantapkan langkahnya menuju ruangan Camilla, sedangkan Andreas mengendarai mobilnya ke salah satu rutan yang ada di ibukota, rutan dimana anak sulungnya mendekam di penjara.
"Waktunya masih ada untuk berkunjung!" Andreas melirik arloji di tangannya, dan langsung menerobos jalanan ibukota.
****
__ADS_1
,