
Episode #110
Tiga hari berlalu dalam sekejap mata.
" Barusan Arsyad menelpon, katanya Erik sudah tertangkap, ketika ingin melarikan diri lewat pelabuhan, Melinda dan kamu di minta datang ke kantor polisi, untuk di minta keterangan," Amar berkata sambil melihat Asyifa yang sibuk menata barang dalam koper.
" Kapan ke kantor polisinya?" tanya Asyifa tanpa menatap Amar, dia sedang mengecek barang bawaannya, dengan daftar di tangannya, kemudian dia akan menandakan jika barang tersebut sudah di masukan ke dalam koper.
" Terserah sih, yang paling penting Melinda, karena dia sebagai korban, Sedang kamu hanya karena lagi sial aja," Amar mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain game.
" Untuk tiga hari kedepan aku tidak bisa, Aku Sudah janji, mau datang ke pesta ulang tahun nyonya Arum Kusuma, neneknya Angga," Asyifa berkata seperti itu, sambil memasukkan satu set perhiasan, hadiah pertemuan dengan tuan Wijaya Kusuma, kemudian dia menandai di daftar bawaannya.
" Siapa saja yang di undang kesana?" Amar Sudah merebahkan diri di ranjang Asyifa, dia mengambil sebuah guling untuk menyanggah kepalanya.
" Aku tidak tahu, Angga hanya mengatakan, bahwa pesta itu hanya di hadiri keluarga inti saja, berarti hanya, Anak, menantu, cucu cucu, cucu menantu, ataupun calon cucu menantu!" terang Asyifa sambil menutup kopernya, setelah itu menguncinya dengan berbagai kode, " Beres deh!" ucapnya.
" Sepertinya nyonya Arum menyukaimu?" Amar bertanya dengan acuh tak acuh.
"Benar!" Asyifa tidak membantah, " Tapi sayangnya, kepala keluarganya tidak menginginkanku, dan malah ingin menumbalkan Angga untuk mempertahankan kekuasaannya, Kasian anak itu!"
" Cie, yang sudah mulai peduli!" Amar meledek Asyifa dengan menaik turunkan alisnya, sedangkan matanya tetap fokus pada game di hapenya.
Di balik kata Cie, ada cemburu yang tersirat.
" Bagaimana pun dia teman masa kecilku, aku tetap ada kepedulian, sebenarnya dia tidak bersalah, kasian dia, hanya di jadikan pion oleh orang tua itu!" setelah mengatakan itu Asyifa menurunkan koper dari atas ranjang ke lantai.
" Baiklah, karena kamu peduli padanya dan demi pertemanan masa kecil kalian, aku akan membantunya sedikit, dia orang yang pintar, pasti mengerti kode yang aku berikan!" ada senyum misterius tercipta, ketika Amar mengatakan itu.
" Yah, terserahlah!" Aku tau kamu, Apa yang bisa kamu lakukan," Asyifa menatap Amar dengan raut wajah penuh penasaran, " Apa yang sedang di rencanakan anak ini sebenarnya?"
Tak lama kemudian ponsel Asyifa berdering, tak banyak kata dia menjawab, hanya dengan kata" Baiklah saya segera turun!"
" Supirnya nelpon ya?" Amar bertanya, dan segera duduk dari posisi berbaring.
" Iya, dia sudah menunggu di lobi," Setelah mengatakan itu Asyifa bergegas meraih kopernya.
" Eh, ada yang ketinggalan!" Amar berseru.
Asyifa berhenti, dia menyisiri kamar dengan pandangannya, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke catatan daftar barang di tangannya, " Tidak ada yang ketinggalan?"
" Ada!" Amar bersikeras memaksa.
" Apa yang ketinggalan? Aku sudah cek, semuanya sudah masuk koper," Asyifa menggoyang goyangkan catatannya di hadapan Amar.
__ADS_1
"Ada, Aku kesayanganmu!" Amar terkekeh.
Asyifa terdiam, dia kehabisan kata-kata.
Asyifa langsung pergi dengan menyeret kopernya, tanpa mengucapkan kata pamit sepatah katapun, jantungnya tiba tiba memompa darahnya dua kali lebih cepat, dan pipinya merona, seperti memakai perias pipi, dia tidak ingin Amar mengetahui, jika dia tersipu.
Amar tetap tertawa, sampai punggung Asyifa menghilang dari pandangannya, dia tidak mengantarkan wanita itu ke lobi, karena tidak ingin membuat pihak Angga curiga.
" Tunggu kejutan dariku sayang?" ucap amar sambil melihat wallpaper WhatsApp nya, yang tidak lain adalah foto Asyifa yang tertidur, dengan pose yang tidak elegan sama sekali.
****
Di Bandara Soekarno Hatta, di gate keberangkatan.
Maaf ya, jadwalnya di percepat!" Angga merasa tidak enak, karena sudah memajukan jadwal keberangkatan lebih cepat, " Salah satu rekan bisnis di sana mengadakan acara, jadi mengundang semua anggota keluarga,"
"Tidak ada masalah sama sekali, Jangan terlalu sungkan, aku juga ingin sekalian berlibur," Asyifa tersenyum, wajah cantiknya semakin bertambah manis ketika mengatakan hal itu.
Perbincangan pun mengalir seperti air sungai yang berubah warna menjadi coklat akibat erosi di hulu.
Akhirnya mereka tiba di tujuan, Charlie sepupu Angga menjemput di bandara, laki laki itu pun sudah lama menanti kedatangan keduanya.
" Ayo berangkat, acaranya sudah akan di mulai,' Charlie cepat mengangkat koper Asyifa dan Angga kedalam bagasi.
" Terima kasih sudah menjemput," Asyifa tersenyum ramah, dan langsung naik ke dalam mobil.
Angga tidak mengucapkan apa apa, dia menyipitkan matanya, tak biasanya Charlie bersikap seperti ini, "apa yang sedang anak ini rencanakan? aku harus waspada!" pikirnya, dan langsung duduk di kursi penumpang sebelah Asyifa.
Charlie terlihat seperti supir pribadi, lelaki itu hanya tersenyum canggung, dia mengepalkan tangannya, kalau bukan karena menarik simpati Asyifa, dia tidak akan menjemput keduanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di hotel.
Charlie segera keluar dari mobil, untuk menurunkan koper Angga dan Asyifa.
" Ayo aku antar ke kamar, Charlie menarik koper Asyifa dan membiarkan Angga menarik kopernya sendiri, tentu saja Asyifa senang.
Sesampai di depan kamar, Charlie berkata " Nona May, istirahat saja dulu, satu jam lagi saya akan menjemput anda dan Angga," Setelah mengucapkan itu, Charlie mengeluarkan kartu sebagai kunci kamar tersebut.
" Terima kasih, Charlie!" Asyifa segera menempelkannya kartu itu di pintu, pintu pun segera terbuka, " Aku istirahat dulu!" pamitnya pada dua pria tampan itu.
" Selamat istirahat Nona May!" Charlie berucap, dan akhirnya pindah ke sebelah kamar may, yang merupakan kamar Angga.
Hal yang sama dia lakukan pada Angga, namun dia tak mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
Angga tak perduli dan segera masuk.
***
Satu jam berlalu tanpa terasa.
Pintu kamar Asyifa di ketuk, segera dia keluar, dia sudah siap untuk makan malam.
Sebelumnya Charlie mengatakan, bahwa dia di undang pada acara pernikahan, jadi Asyifa sudah berdandan dengan tema kondangan.
Tentu saja dia memilih dengan riasan sederhana, dia tak ingin menjadi perhatian daripada pengantin.
Angga sudah berdiri di depan pintu, melihat penampilan Asyifa yang selalu tampil sempurna, dia pun menikmatinya. munafik jika dia tidak tertarik kepada Asyifa, tetapi di hatinya hanya ada satu wanita yaitu Carrey Ramos.
Merekapun berjalan menuju lobi, di sana sudah ada Charlie yang menunggu mereka, laki laki itu tampil Gagah seperti lelaki yang menggandengnya.
Sejenak dia mengagumi kedua laki laki tampan di hadapannya, produk Wijaya Kusuma memang top markotop.
Charlie berjalan sebagai penunjuk jalan ke sebuah pantai, disana pernikahan outdoor di selenggarakan, ini hanya resepsi, akad nikah sudah di laksanakan tadi pagi.
"Konsep pernikahan di tepi pantai di malam hari, cukup bagus!" puji Asyifa yang kagum dengan kerja keras event organizer yang bekerja keras membuatnya.
" Benar sekali!" Angga menyetujui. " Ayo, kita kesana, itu di sana ada kakek dan nenek," Angga mengajak Asyifa menemui tuan Wijaya Kusuma beserta istrinya, nyonya Arum Kusuma, di sana mereka sedang berbincang dengan pria paruh baya berkulit putih.
" Kakek,. Nenek,..!" sapa Angga dengan ramah.
Asyifa hanya tersenyum dengan keduanya.
" Wah, kalian sudah datang!" sapa tuan Wijaya Kusuma terlihat senang, kemudian dia beralih ke pria bule di sebelahnya, " Pak Edward, kenalkan ini Angga Kusuma, dia adalah pewaris dari Kusuma group.
Angga dan Edward saling bersalaman.
Asyik tertegun, " Pria bule ini bukannya papanya Camilla?"
Sontak Asyifa menoleh ke arah pelaminan, benar, yang menikah adalah Ardi dan Camilla, senyumnya terbit.
Tak sengaja Ardi melihat ke arah Asyifa, senyum di wajah Ardi pun memudar, wajahnya berubah menjadi hitam, seperti pantat panci,
wkwkwkwkw
***
__ADS_1