Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Ardi Kembali ke laptop


__ADS_3

Episode #125


      Pukul sembilan malam kurang lima menit, akhirnya Camilla tersadar dari pingsannya, jari tangannya bergerak, Ardi yang mengetahui itu, segera menghampirinya.


  " Kamu sudah sadar sayang? kamu membuat aku khawatir!" Ardi mengusap lembut kepala Camilla.


  Camilla membuka matanya, dia mengerjap beberapa kali, sebelum melihat dengan jelas, dia melihat sekeliling, ada beberapa ranjang di sampingnya, di sana juga ada beberapa pasien dan keluarganya yang sedang menunggu, dia melihat tangannya di pasang infus.


     " Aku,..Aku di mana?" Camilla belum sepenuhnya menyadari keadaannya.


   " Kamu di klinik sayang, tadi kamu pingsan ketika kita berada di rumah Asyifa, Kata Dokter kamu pingsan karena tidak ada asupan makanan seharian!" Ardi menjelaskan dengan menggenggam tangan Camilla, matanya memandang Camilla dengan tatapan penuh rasa sayang.


     Mendengar nama Asyifa di sebut, kesadaran Camilla seketika pulih, dia mengingat dengan jelas, setiap detail kejadian di rumah itu, bagaimana si laki laki sangar itu menjelaskan dengan begitu mudah, jika semua aset Asyifa atas nama bapaknya, tiada aset atas nama perempuan Babon itu, bahkan Ardi pun tidak mendapat secuil harta gono-gini, jika begini keadaannya, buat apa dia menikah dengan Ardi? Buat apa dia memeras otak untuk menyingkirkan perempuan yang setengah kebutuhan hidupnya di penuhi oleh perempuan g@bl@k itu?" mengingat semuanya, Camilla jadi sakit kepala.


     Dengan suara tenang, datar dan dingin, Camilla bertanya pada Ardi," Sejak kapan kamu tahu, bahwa semua harta Asyifa tidak jatuh ke tangannya sebelum usia tiga puluh lima tahun? Sejak kapan?"


  Ardi pun hanya bisa menghela nafas, setelah itu dia menggenggam tangan Camilla semakin erat, " Sejak sebulan setelah Aku mengajukan kepada kilau hukum tentang harta gono-gini, pak Hamdan Hutapea pengacara Prameswari group, mengumpulksn seluruh keluargaku, dan membacakan surat warisan, intinya, aku dan keluargaku tidak mendapatkan apa-apa, karena tidak ada penghubung seperti ahli waris, alias anak,," Ardi berusaha untuk tidak menyembunyikan apapun.


    " Aku,..Aku, hanya di ijinkan memakai fasilitas seperti rumah dan mobil, selama aku masih belum menikah, sekarang kita sudah menikah, walaupun belum tercatat di negara, kita sudah sah di hadapan agama, lambat laun, pihak Prameswari group dan juga pak Hamba Hutapea juga pasti akan tau, jadi kita memang harus pergi dari rumah itu, cepat atau lambat!" Ardi menambahkan.


    Camilla membuang mukanya, dia enggan menatap suaminya, dia benar benar kecewa dan putus asa, apa yang selama ini di perjuangkan tidak menghasilkan apa-apa, kecuali sebuah penyesalan, ya, penyesalan.


     Camilla menyesal, menyingkirkan orang selembut Asyifa, jika Asyifa masih hidup, kemungkinan dia masih bisa mempertahankan gaya hidupnya, Asyifa selalu membelanjainya dengan barang barang branded, bahkan membelikannya sebuah mobil sebagai hadiah ulang tahunnya.


  " Mil, kamu kenapa diam? Apa kamu menyesal menikah dengan aku? bukannya kamu sendiri yang mengatakan, bahwa kamu mencintaiku dengan tulus, dan menerimaku apa adanya? bahkan perkataan mu masih begitu hangat, di ingatanku, sewaktu kita transit di bandara Juanda Surabaya," Ardi menyadari arti diamnya Camilla.


   Ardi melepaskan genggamannya, "Ingat! kehilangan Asyifa membuatku kehilangan segalanya, apalagi kamu yang memaksaku untuk menikah, yang membuatku kehilangan fasilitas rumah dan mobil, jadi Aku tak akan melepaskan mu dengan mudah, Besok aku akan mengurus surat nikah kita di KUA, istirahatlah! Aku akan menemui dokter dulu! jika keadaan mu Sudah pulih, kita akan segera pulang, besok Aku ada meeting dengan para pemegang saham, tak mungkin aku menunggumu terus di sini!" setelah mengatakan itu Ardi pun keluar untuk menemui dokter.


    Camilla hanya melihat punggung Ardi yang keluar dari ruangan, dia mengepalkan tangannya, rasanya dia ingin berteriak.


  Satu jam sudah berlalu tanpa terasa, Camilla hanya bisa memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya.


Ardi pun datang bersama seorang perawat, dan perawat itu melepas impusan Camilla, setelah itu memberikan tablet vitamin penguat tubuh.

__ADS_1


Ardi berjalan ke arah mobil kantor, yang sekarang menjadi fasilitas nya, di dalam mobil terdapat berbagai macam kardus dan koper tersusun, semuanya adalah barang barang milik mereka berdua.



Camilla kesal, karena sikap lembut Ardi menghilang, dia tidak memapah Camilla ke mobil, bahwa tidak membukakan pintu mobil samasekali, Camilla berjalan di belakang ardi dengan menghentakkan kakinya , wajah cantiknya di penuhi rasa masam, semasam belimbing wuluh.



Dengan Ogah-ogahan Ardi mengendarai mobil, mereka masih terlihat perang dingin, Camilla tidak tahu mau di bawa kemana dia dengan suaminya, dia fokus melihat keluar, sementara Ardi mengemudi mobilnya.


Sekitar satu setengah jam mereka sampai, Camilla tertidur di mobil.


" Bangun, bangun, sudah sampai" sambil menepuk nepuk tangan Camilla, setelah itu dia melepaskan seat belt nya, kemudian dia turun dari mobil dan menuju pintu.


Ardi membunyikan bel berkali kali.


Sementara itu, Camilla mengerjap beberapa kali, sebelum dia membuka matanya, dia memperhatikan sekitar, lingkungan ini terasa tidak asing, setelah berpikir beberapa menit dia menyadari, jika Ardi membawanya ke rumah orang tuanya.


Ardi masih membunyikan bel.


Andreas, papanya Ardi pun akhirnya terbangun juga, dia terbangun bukan karena bunyi bel berkali kali, melainkan suara Omelan istrinya yang seperti kaleng rombeng.


Andreas menguap dan berkata," Yuk, kita lihat di luar!" Andreas beranjak, diikuti oleh sang istri.


Sekarang Ardi dan Camilla Sudah berdiri di depan pintu, menunggu Seseorang terbangun dan menyuruh mereka masuk, beberapa ekor nyamuk suka menempel pada Camilla, dan itu membuat dia semakin kesal.


" Nyamuk sialan!" hardiknya, sambil menepuk kedua tangannya.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.


Ani ingin sekali mengomel, namun ketika melihat putra sulungnya berdiri di depan pintu, dia segera memeluk anak laki lakinya tersebut.


Setelah persekian detik barulah dia menyadari, bahwa anaknya tidak datang seorang diri, ada Camilla bersamanya, Sontak Ani melepaskan pelukannya, dahinya berkerut seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


Ekspresi yang sama pun di tunjukkan Andreas, dia juga bingung.



" Mah, pah, kita bicara dulu ya, di dalam!" Ardi segera masuk diikuti oleh Camilla, keduanya langsung duduk di kursi ruang tamu.


Andreas dan Ani saling melirik, mereka memiliki pertanyaan yang sama.


" Mah, pah, kita duduk dulu," Ani segera duduk, sementara Andreas mengunci pintu terlebih dahulu sebelum Duduk.



Ardi pun mulai menceritakan semuanya, "jadi begini,.."


Kurang lebih sepuluh menit Ardi menjelaskan semuanya.


Mendengar itu, Ani sontak berdiri, dan menghempaskan tangannya ke wajah anak sulungnya tersebut.


" PLAK! PLAK!"


Dua buah tamparan mendarat di pipi Ardi, pipinya terasa nyeri dan memerah, tetapi Ardi mengurungkan niatnya untuk mengelus pipinya.


" Anak kurang ajar! Nikah gak bilang bilang, apa kamu pikir kamu sudah tidak punya orang tua?, dan ketika kamu di usir dari rumah mewah itu, baru kamu ingat punya orang tua?" Hardik Ani, sambil menunjuk nunjuk Ardi dan Camilla.


" Sudahlah mah, lebih baik biarkan mereka istirahat dulu, besok di lanjut lagi marah marahnya," Andreas mengusap punggung istrinya lembut.



" Sana, istirahat di kamarmu,, Dengus Ani dingin, dan kembali ke kamarnya untuk istirahat.



Sepanjang jalan, dia hanya mengomel dan bersungut-sungut hingga ke kamarnya, Andreas hanya mengikuti dari belakang, dia tidak berkomentar apapun.

__ADS_1


****


__ADS_2