Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Hukuman untuk Tamara


__ADS_3

Episode #121


     Keesokan harinya.


   Debur ombak di waktu fajar, sungguh memecah keheningan, Asyifa terbangun dari mimpi buruknya, dan menyadari tubuhnya terasa berat, dia kaget setelah melihat pemandangan indah di depan matanya, Amar Sedang terlelap memeluknya, wajah letih pria itu tak bisa di sembunyikan, lama Asyifa menatapnya, dan perasaan hangat menjalar di hatinya, ketika dia mengingat pria itu bagaimana menyampaikan isi hatinya, " my Tedy bear ini memang kaku, tidak ada romantis romantisnya, mengungkapkan perasaannya seperti itu," pikirnya, semakin dia mengingat semakin dia tersenyum. Asyifa pun balas memeluknya, dia mulai memejamkan matanya kembali.


   Beberapa jam kemudian.


  Amar Sudah bangun, seketika tercengang melihat posisi Asyifa yang sudah berubah, sekarang bukan dia yang memeluk Asyifa, melainkan Asyifa yang memeluk dia, sudut bibirnya melengkung.


  Dengan hati hati, Amar melepaskan pelukan wanita itu, dia takut jika tiba-tiba Asyifa terbangun, dan melihat dia sedang memeluknya, entah apa yang akan terjadi, " Bisa saja tulang belulang ku bergeser," pikirnya, sambil bergidik ngeri.


    Amar berhasil melepaskan pelukannya, dia turun dari ranjang dengan berhati hati, kakinya berjinjit keluar, dia takut membangunkan Asyifa, Langkahnya begitu pelan, Dia kembali ke kamarnya sendiri, untuk membersihkan diri, dan sekalian ingin membawakan sarapan untuk calon istri tercinta, Amar tersenyum, setiap membayangkan bangun tidur di samping Asyifa.


   Asyifa yang pura pura tidur menyipitkan matanya, Dia melihat semua tingkah Amar, dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan, sekarang badannya sudah mulai terasa segar, jadi dia memutuskan untuk mandi, dan segera menemui nyonya Arum, untuk memberikan hadiah yang sudah jauh jauh hari dia persiapkan.


    Ketika Amar kembali ke kamar Asyifa, dia melihat wanita itu sedang menyisir rambutnya di depan meja rias, terlihat jelas jika Asyifa baru saja selesai mandi.


  Amar segera menaruh kotak makan, dan menyeret sebuah kursi mendekati meja rias.


  " Bagaimana keadaan mu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Amar dengan nada yang khawatir.


  " Aku baik baik saja, tidak perlu khawatir," Setelah itu Asyifa kembali menyisir rambut panjangnya.


    "Iya,.. Aku Sudah tidak khawatir kok,..tuan putri,.." Amar menunjukkan senyumnya, " Nah, sekarang makan dulu ya, Aku suapin!" Amar segera membawa kotak makan dan membukanya, dengan telaten dia menyendokkan makanan tersebut kepada Asyifa.


  " Buka mulutnya,..Aaaam!" perintah Amar, setelah mengayun ayunkan sendok seperti pesawat, dia terlihat seperti sedang menyuapi seorang bayi.


  " Biar aku sendiri saja!" Asyifa berusaha merebut sendok dari tangan Amar.


  " Ssshh!" Amar mendesis, " Tuan putri tinggal duduk manis saja ya, biar pangeran ini yang menyuapi tuan putri, Ayo, mulutnya di buka lagi!" Amar masih menyuapi sosok yang di klaim sebagai wanitanya.


Baiklah pangeran kodok yang baik hati," Asyifa pasrah, dan membiarkan Amar menyuapinya.


   Mendengar Asyifa memanggilnya pangeran kodok, raut wajah masam segera muncul di wajah Amar," Masak ganteng gini di samakan dengan pangeran kodok? Jauhlah bedanya!" Amar terlihat tidak terima.


  " Bagiku tetap sama sama pangeran!" Asyifa bersikukuh dengan pernyataannya.


    " Hmmp" terserah tuan putri aja!" setelah itu Amar diam, tidak meneruskan perdebatannya.

__ADS_1


  Tidak ada obrolan penting lagi setelah itu, Asyifa pun dengan cepat menghabiskan makanannya, karena memang dia sudah kelaparan.


    Setelah selesai semuanya, Amar menemani Asyifa ke kamar nyonya Arum dan tuan Wijaya Kusuma ke kamarnya, dengan membawa sebuah kotak hadiah, yang memang sudah dia persiapkan untuk hadiah ulang tahun nyonya Arum Kusuma, tetapi tidak sempat di berikan pada saat pesta ulang tahun tadi malam.


     Tuan Wijaya Sedang membaca koran di balkon kamarnya, dan nyonya Arum Sedang memakai riasan di wajahnya, ketika seorang asisten masuk dan membisikan sesuatu di telinga tuan Wijaya.


   " Biarkan mereka masuk!" tuan Wijaya Kusuma memberikan perintah.


   Segera tuan Wijaya Kusuma berdiri dan masuk kedalam, dia menemui tamu pagi ini, setelah selesai merias diri, nyonya Arum pun mengikutinya.


   Disana Amar dan Asyifa sudah datang, nyonya Arum segera menghampiri Asyifa,dan memapahnya untuk duduk di sofa.


   " Lho, kamu kan masih gak enak badan, gak usah kesini, nenek baru saja mau ketempat mu untuk melihat keadaan mu!" nyonya Arum berkata seperti itu seraya menggenggam tangan Asyifa.


   " Amar silahkan duduk!" tuan Wijaya mempersilahkan Amar.


   Tak lama kemudian, asisten yang melayani di kamar tersebut, membawa empat gelas teh Da Hong Pao, sejenis teh termahal di dunia.


  Tuan Wijaya pun mempersilahkan tamunya untuk minum.


   " Maafin saya ya nek" saya tidak bisa datang di acara ulang tahun nenek, ini, Saya sudah menyiapkan hadiah sebelumnya, semoga nenek suka," Asyifa meminta maaf, dan mengambil kotak dari genggaman tangan Amar.


    Ketika kotak terbuka, sepasang gelang giok es, asli, dan antik ada di sana, mata nyonya Arum terbelalak, segera dia mengambil dan memeriksanya," Ini,..Ini,. Seperti gelang peninggalan kerajaan! Indah sekali," ucapnya kagum.


  " Lihat lah!" nyonya Arum memberikan satu gelang tersebut kepada tuan Wijaya Kusuma, suaminya.


  Tuan Wijaya Kusuma segera meraihnya, dan mengamatinya dengan jelas, Sontak wajahnya sedikit terkejut, ketika melihat tanda yang ada di sana, dahinya mengeryit, dan menatap Asyifa dan gelang itu bergantian.


  " Saya tahu dari Angga, kalau nenek suka mengoleksi barang antik, kebetulan saya nemu gelang itu di toko barang antik, ada juga sertifikatnya, kalau gelang giok es tersebut asli, peninggalan dari kerajaan dinasti Ming," Asyifa menjelaskannya dengan lancar, dan sesekali menoleh ke tuan Wijaya Kusuma.


  " Hadiah dari nona May adalah yang terbaik, terima kasih banyak ya, nenek senang sekali!" setelah mengucapkan itu, nyonya Arum memasukan kembali gelang giok es tersebut dan memeluk Asyifa.


Asyifa tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa membalas pelukan nyonya Arum.


Tuan Wijaya, melihat keduanya berpelukan seperti sepasang nenek dan cucu yang sangat akur.



Setelah berbasa-basi sejenak dan ingin berpamitan pulang, seorang perempuan di seret masuk oleh sang pewaris, Angga Kusuma.

__ADS_1



Raut wajah tuan Wijaya seketika berubah, " Angga, kamu perlu menjelaskan, kenapa kamu menyeret sepupumu seperti seorang penjahat?"


Nyonya Arum kebingungan, Asyifa juga.


" Menyeret seorang penjahat dengan cara seperti ini, itu sudah terlalu lembut kek," Angga menghempaskan tangannya, dan merogoh ponselnya lalu mengirimkan video ke semua orang yang ada di kamar tersebut, termasuk Amar dan Asyifa.


Semuanya pun bergegas memeriksa ponsel masing-masing, tidak butuh waktu lama, hingga video pengakuan anak buah kapal yang di suruh Tamara untuk mencelakai Asyifa pun mereka tonton.


Semua yang ada di ruangan tersebut, terkejut terlebih Amar, dia sudah hampir melayangkan tinjunya kepada Tamara, namun di cegah oleh Asyifa.


" PLAK!" satu tamparan mendarat di pipi Tamara, tamparan dari nyonya Arum, dia tak pernah menyangka, jika salah satu keturunannya adalah seorang pembunuh.


Tamparan itu membuat Tamara terhuyung, walaupun nyonya Arum sudah bisa di katakan memasuki usia senja, tetapi kebugaran dan kekuatannya tidak kalah dengan yang masih muda, karena keuletannya dalam berolahraga dan menjaga pola makan dan tidur.


" Aku,


.Aku bersalah, Nona May, maafkan aku!" Tamara terisak, berlutut di hadapan Asyifa.


" Nona May, saya serahkan cucu durhaka ini kepadamu, kamu bebas menghukumnya dengan caramu sendir," tuan Wijaya menyerahkan semua keputusan kepada Asyifa.


Asyifa menyunggingkan senyum, Tamara melihat senyum Asyifa seperti senyuman iblis neraka yang menjemputnya.


" Nona May!" Tamara mencicit minta pengampunan.


Asyifa hanya mendesah pelan," Dia sudah meminta maaf kepada saya, kek, selanjutnya saya serahkan kepada kebijaksanaan kakek Bagaimana cara menghukumnya agar menjadi manusia yang lebih baik lagi," Asyifa berpikir, percuma mengangkat kasus ini ke jalur hukum, tuan Wijaya Kusuma akan bisa menutup kasus hukum ini dengan kuasanya.



Nyonya Arum semakin salut, dengan keputusan yang Asyifa buat.


" Baiklah, Mulai saat ini dan satu tahun kedepan, semua fasilitas mu akan di cabut, kamu akan bekerja di salah satu cabang perusahaan di bawah naungan Kusuma group, sebagai office girl atau tukang bersih-bersih, kamu akan pindah ke kosan sesuai budget gajimu, tidak ada seorangpun dari keluarga Kusuma yang akan menolongmu, kalau tidak, mereka akan sama denganmu!" tuan Wijaya Kusuma memberikan hukuman pada Tamara.


Mendengar itu, pandangan Tamara menjadi gelap, dan kemudian dia pingsan.


Sementara itu, di kamar lain, Ardi dan Camilla Sedang bersiap siap berkemas, untuk ke bandara komodo, menuju ibukota.


Camilla sudah tidak sabar ingin kembali, tapi Ardi begitu enggan.

__ADS_1


****


__ADS_2