
Episode 5
Sebulan kemudian,...
Berita tentang hilangnya Asyifa sudah tidak terlalu muncul di permukaan, dan publik sudah mulai melupakannya, polisi sudah tidak bisa menemukan keberadaan Asyifa dan sudah menganggap nya tiada sehingga akta Kematian sudah di keluarkan oleh pihak terkait.
Orang yang paling senang menerima bukti tersebut adalah Ardi , lelaki itu berencana untuk mendatangi kantor kuasa hukum keluarga Asyifa , untuk mendapatkan harta dan aset atas nama wanita tersebut.
Dengan berbekal akta Kematian, foto copy KTP Asyifa, kartu keluarga dan buku nikah , Ardi dengan percaya diri melangkahkan kakinya ke silau hukum Association, sebuah lembaga hukum yang menangani masalah tentang aset dan segala yang berbau dengan hukum keluarga PRAMESWARI group. keluarga Asyifa.
Seorang pengacara paruh baya, menemui Ardi dan mengarahkan keruangan nya setelah mengungkapkan maksud kedatangannya di meja resepsionis.
Pengacara yang bernama Hamdan tersebut kemudian mempersilahkan Ardi untuk duduk.
" Ini pak,. tolong di lihat data yang saya bawa," Ardi menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi berkas yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Sang pengacara segera membuka dan memeriksa berkas tersebut, lelaki itu pun mengangguk dan mengerti maksud dan tujuan kedatangan Ardi kemari.
" Karena datanya sudah lengkap dan akta Kematian juga sudah keluar, saya akan mengecek aset apa saja yang di tinggalkan oleh ibu Asyifa Prameswari.
Saya akan membuka dan membaca surat wasiat yang di tinggalkan oleh orang tua beliau kepada bapak sekeluarga, berhubung tidak ada lagi ahli waris yang di tinggalkan , kira kira di mana saya akan membacakan surat tersebut,?" pengacara seolah tahu jalan pikiran Ardi , walaupun dia merasa aneh dengan sikap pemuda tersebut yang terkesan terburu-buru dan tidak memiliki simpati pada istri, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Ini kartu nama saya pak, dan ini alamat kediaman orang tua saya, ketika semuanya selesai bapak bisa menghubungi saya dan membacakan surat wasiat peninggalan almarhum istri saya tersebut di kediaman orang tua saya, " ucap Ardi tegas dan begitu antusias.
" Mendengar kata Almarhum yang terlontar tanpa beban begitu lancar dari kedua bibir pemuda itu, pengacara itu sudah kehilangan rasa respect atau rasa hormat,.
Akta Kematian yang dia terima belum bisa membuktikan apapun bahwa Asyifa memang telah wafat , tidak ada bukti fisik tentang hal itu karena jasad atau keberadaan Asyifa masih merupakan misteri.
Diam diam sang pengacara menilai bahwa hilangnya Asyifa ada campur tangan dari pemuda ini, segera dia akan menelusuri fakta yang sebenarnya.
" Baiklah bapak ARDIANSYAH terima kasih atas kedatangannya, segera saya akan mempersiapkan segalanya,!" pengacara Hamdan menanggapi dengan sopan permintaan Ardi.
" Terima kasih bapak atas kerjasama nya, Baiklah,.. saya undur diri!" pamit Ardi seraya bangkit dari tempat duduknya dan menjabat tangan Hamdan dan segera berlalu dari ruangan itu.
Setelah mengantarkan Ardi keluar ruangan Hamdan segera meraih ponselnya dan melihat beberapa kontak, setelah mendapat kontak yang di cari , dia langsung melakukan panggilan.
"Tut,...Tut..Tut,.." bunyi panggilan tersambung.
__ADS_1
" Hallo boss," suara panggilan dari sebrang.
" Tolong selidiki tentang kecelakaan dan menghilang nya ibu Asyifa Prameswari selidiki juga tentang kehidupan suami dan keluarga suaminya,!" perintahnya.
" Baik boss, perintah di terima,!" suara dari sebrang sudah menyanggupi.
" Segera laporkan secepatnya apa yang kalian ketahui,!" perintahnya lagi dan memutuskan panggilannya.
Ponselnya segera di letakkan di atas mejanya kembali, segera dia menyesap kopi hitam di atas mejanya, " Tidak ada yang bisa bermain-main dengan keluarga PRAMESWARI," gumamnya lirih.
****
Keadaan Asyifa sudah semakin membaik sebulan belakangan ini, tidak ada luka memar yang menggerogoti badannya, , hanya bekas luka di wajah nya yang tidak bisa di hilangkan, berat badannya juga sudah mulai menyusut, sepuluh kilogram dari seratus kilogram berkat latihan fisik dan diet yang dia terapkan.
" Selamat ya,. pencapaian mu sungguh luar biasa, dapat menurunkan sepuluh kilogram dalam sebulan," Amar menyemangati Asyifa yang sedang istirahat setelah olahraga di salah satu pusat kebugaran.
" Thanks Amar, semua ini berkat kamu, makasih banget sudah bantuin gue sejauh ini,!" ungkap Asyifa tulus seraya mengusap dahinya .
Amar hanya tersenyum tulus.
" Lie belum jawab, bagaimana elo bisa ada di lokasi kejadian setelah incident kecelakaan itu," desak Asyifa.
Gadis itu sudah beberapa kali menanyakan hal yang sama, tetapi pemuda itu tidak pernah menanggapi pertanyaannya.
Amar menghela nafas sejenak sebelum dia menjawab pertanyaan gadis itu, pemuda itu berfikir bahwa ini saat yang tepat untuk memberitahu gadis itu, lagipula dia sudah bosan di desak terus.
" Baiklah aku akan ceritakan " katanya akhirnya.
Asyifa yang mendengar kesanggupannya untuk menceritakan detail nya segera memasang telinganya lebar lebar.
"Aku sudah di Indonesia tepatnya sebulan sebelum aku menemukanmu di malam itu.
" Satu bulan,?" kok ga ada kabar kabarnya,!" sela Syifa cepat.
" Ini mau di ceritain apa nggak sih,.." protes Amar.
" Maap,.. Maap... silahkan di lanjutkan," balas Syifa dengan wajah menggemaskan.
__ADS_1
Ingin sekali Amar mencubit pipi yang menggemaskan itu, namun di urungkan dan diapun hanya mengusap kepala gadis itu lembut.
" Aku sengaja gak cari tahu tentang kamu, aku ingin kasih kejutan, eeh,. malah aku yang terkejut," Amar menghembuskan nafas sesaat dan melanjutkan ceritanya lagi.
" Selama tiga tahun kita berpisah, aku fokus dengan kegiatan aku, gak tertarik dengan sosial media dan apapun yang berbau virtual, aku lebih suka alam nyata, jadi aku samasekali gak mencari tahu tentang apapun dari internet, jadi, aku pun gak tau tentang kamu yang berubah secara fisik , seperti sekarang,.. maksudnya berat'badan kamu yang sekarang sangat berlebihan,!" jelasnya.
Raut wajah Asyifa agak berubah ketika mendengar kata terakhir dari Amar namun dia masih diam untuk mendengarkan,.
Amar menyadari perubahan pada warna wajah Asyifa tetapi dia mencoba untuk mengacuhkannya.
" Beberapa hari belakangan aku ingin bertemu denganmu secara langsung, tetapi kesibukanmu sebagai CEO begitu padat, kamu bahkan tidak punya me time sendiri, jadi,.. aku memutuskan untuk menemui kamu di lokasi tempat kamu meninjau untuk keperluan acara kantor, aku akan berpura pura kita bertemu di sana tanpa di sengaja,"
Amar memperhatikan gadis itu lagi, ingin melihat reaksinya, gadis itu sempat menaikan alisnya atas penjelasan pemuda tersebut.
lalu Amar melanjutkan,.
" Malam ketika kamu kecelakaan, aku sedang menuju tempat di mana kamu sedang survei lokasi , tapi aku tidak lewat jalan tol, aku mencari jalan alternatif lain, jadi,.. ketika aku sedang beristirahat di warung dekat sungai tiba tiba terdengar sesuatu dari atas bukit, ternyata sebuah mobil menabrak jalur pembatas dan jatuh ke jurang, para warga dan pemilik warung seketika keluar, mereka menyaksikan incident itu, termasuk aku, tak lama kemudian ada suara menggelinding ke arah sungai, kami, pengunjung dan para warga menyusuri sungai dan menemukan seorang wanita sedang mengambang dalam keadaan tak sadarkan diri, dengan wajah yang hancur tak dapat di kenali, lalu kami mengangkat korban ke arah sungai, ketika sampai di daratan sekilas aku melihat tato yang ada di tengkuk lehermu, setelah memastikan bahwa tato itu adalah tato yang kita buat setelah lulus sekolah , tato yang kita desain bersama, aku baru yakni kalau itu kamu, secepatnya aku meminta mereka memasukan kamu kedalam mobilku lalu aku membawa mu dari sana untuk mencari rumah sakit terdekat, setelah hampir satu jam akhirnya aku menemukan rumah sakit terdekat, di lobi rumah sakit aku mendengarkan berita dan aku langsung mengganti namamu menjadi HUMAIRA PRAMESTI sebagai nama pasien, agar kamu dapat pulih dengan tenang tanpa di usik oleh media,"
Mendengar semua itu Asyifa tidak bisa menahan buliran bening yang keluar dari bola matanya, seketika dia langsung memegang tengkuk lehernya menyentuh tatonya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa tato itu yang telah menjadi penyelamat nya .
" Apa ada lagi yang ingin kamu tahu,?" tanya Amar.
Amar berusaha menahan diri agar tidak mengusap air mata dari pipi Asyifa .
" Sekarang dengan nama Humaira apa yang telah kamu rencanakan,?" tanya Asyifa dengan menghapus air matanya sendiri.
Amar tersenyum dan membisikkan rencananya kepada gadis itu.
*****
"Kira kira apa ya rencana Amar,..?
baca terus ya,.. kelanjutannya,..!
terima kasih untuk dukungannya!
__ADS_1