
Episode #86
Dari anak buah yang di utus Ardi melihat keadaan Camilla, mereka mengetahui, bahwa Camilla menderita luka yang cukup serius, luka bekas cakaran monyet di wajahnya, bisa di bilang serius, Melinda sampai histeris, melihat foto yang di kirimkan oleh informan Ardi di sana, terlihat, air mata Melinda mulai menganak sungai, menandakan bahwa dia sedang terpukul dengan apa yang terjadi pada Camilla.
Dengan suara terisak isak dia bergumam sendiri, "Apa yang terjadi sebenarnya mil! kemaren kamu masih sehat banget, seolah tidak terjadi apa-apa! seharusnya aku gak ikut acara makan bersama kemarin malam, seharusnya aku menemani kamu, seandainya aku tau kejadiannya seperti ini, ..Hiks,..Hiks,..Hiks,.. Camilla!" Melinda menepuk nepuk dadanya, untuk mengurangi rasa sakit dan sesak, Setelah mengetahui, keadaan Camilla yang sebenarnya.
Ardi yang melihat bagaimana perasaan Melinda saat ini, sedikit terenyuh, Dia tidak menyangka kalau Camilla akhirnya memiliki sahabat yang tulus, mengetahui pikirannya seperti itu, Ardi hanya mencibir dalam hati, " Memang semua sahabatnya tulus, Camillanya saja yang suka memanfaatkan orang lain, demi kepentingan sendiri! sebagai pengagum Camilla, sejak jaman putih abu-abu, tentu saja Ardi mengetahui bagaimana sifat aslinya Camilla, sayangnya Camilla tak menaruh minat pada Ardi waktu itu, karena bukan levelnya, Ardi pun tahu diri dan tak pernah mengusik keberadaan wanita itu, tidak di sangka, dia malah menjadi sahabat baik istrinya, cinta pertama memang sulit untuk di lupakan!"
Melinda masih terus terisak, menyalahkan dirinya sendiri, sesekali dia memicingkan matanya, melihat reaksi Ardi, dia sedikit bahagia, melihat Ardi terenyuh dengan aktingnya Barusan, "Ha, ha, ha,! sedih melihat keadaan Camilla seperti itu? Tidak la yah,. malahan aku sangat bahagia, rasanya ingin membuat pesta atau sukuran!" Cibirnya dalam hati.
" Baiklah!" Melinda mulai menenangkan dirinya, dia mengusap air mata yang tersisa di wajahnya, " Makasih pak,..eh Ardi, atas bantuannya, aku akan segera berangkat sekarang, ke klinik tempat Camilla di rawat, dia pasti ketakutan dan butuh teman,"
Melinda berdiri dan hendak beranjak meninggalkan ruangan, ketika dia sudah dekat dengan pintu, tiba tiba Ardi berlari menghampirinya dan berkata, " Nona Melinda, tidak baik kalau nona sendirian menyetir kesana, apalagi ini sudah mendekati malam, dan sebentar lagi akan gelap, saya akan ikut bersama Nona"
Melinda mengeryit heran, tidak mungkin dia pergi berdua dengan Ardi, apalagi perjalanannya bisa di bilang cukup jauh, mengingat kesan pertama bertemu dengan Ardi dulu, seketika Melinda jadi bergidik, Tidak,.Tidak,.. ini tidak bisa di biarkan, bisa bahaya kalau jalan berdua sama buaya rawa satu ini, bisa habis aku"
Seakan mengetahui keresahan Melinda, Ardi tersenyum dan berkata, " Nona Melinda jangan khawatir, kita tidak pergi berdua, kita bawa supir kesana, agar tidak lelah dalam perjalanan, Bagaimana Nona?"
Melinda menganggukkan kepalanya, " Baiklah, kalau kita perginya tidak berdua, bagaimanapun juga saya akan menjaga perasaan sahabat saya sendiri, saya tidak ingin dia semakin bersedih, mengingat keadaan dia sekarang" cicit Melinda, dalam hatinya dia ingin sekali muntah, saat mengatakan kalau ulat bulu itu adalah sahabatnya..
__ADS_1
Ardi tersenyum senang, dia langsung beralih ke Ferdinand, " Saya harus mengurus Camilla sebentar, saya titip kantor yah, jika ada yang mendesak dan tidak bisa kamu tangani, jangan sungkan untuk menelpon saya," pesan Ardi sebelum meninggalkan ruangannya, dia begitu percaya dan puas atas kinerja dari asisten pribadinya, ini terbukti, ketika dia tidak datang seminggu ke kantor untuk menenangkan diri, setelah mengetahui kehamilan dari Asyifa, mengingat itu, rasa sesak tiba tiba datang berkunjung, segera dia menepis perasaan itu dan fokus berjalan, menuju parkiran, dimana supir telah menunggu, langsung datang, Setelah di telpon atasannya.
Melinda mengekor dari belakang, perempuan itu masih terisak sesekali.
Ardi dan Melinda kemudian berangkat ke tempat dimana Camilla di rawat.
****
Di lain tempat, di sebuah kafe, yang menggabungkan tema klasik dan alam, Ferdinand sudah menunggu kedatangan Asyifa, lebih kurang tiga puluh menit, dan terlihat santai dengan kaos oblong dan celana jeans, sangat berbeda dengan outfit ketika di kantor, yang harus mengenakan kemeja.
Saat ini, Ferdinand sedang santai, menikmati live music, sembari menyeruput kopi hitam kesukaannya, sebuah tepukan hangat di bahunya segera menyadarkan dia.
Ferdinand hanya mengangguk menyetujui alasan Asyifa, ini memang jam pulangnya karyawan.
Sembari menunggu pesanan, Asyifa bertanya langsung ke intinya, " Apa yang kamu temukan! Eh, sebelumnya, terima kasih, Sudah memanas manasi Camilla dan buat mood dia berantakan, kalau tidak rencana kita tidak akan berhasil, menggiring dia ketempat sepi"
Ya, Ferdinand adalah sosok yang mengirimkan pesan ke Asyifa, ketika wanita itu mentraktir kru dan artis sebagai permintaan maaf,atas kesalahan-kesalahan yang dia lakukan selama syuting berlangsung, Ferdinand mengatakan, bahwa misinya sudah selesai, dan camilan sudah meninggalkan kantor, Setelah itu, komplotan suruhan Amar mengikuti mobil yang Camilla kendarai.
" Itu sudah kewajiban saya sebagai salah satu cara untuk membalaskan dendam ibu bos saya, apapun akan saya lakukan, jika itu terkait dengan ibu bos! apalagi sudah sejak lama saya ingin mencelakai perempuan itu, seharusnya saya yang berterima kasih, karena telah melibatkan saya!" Ferdinand berucap dengan begitu emosional, bagaimanapun Asyifa adalah Dewi penolongnya, dan hingga saat ini dia belum bisa membalaskan sedikitpun dari apa yang Asyifa lakukan.
__ADS_1
Asyifa yang sekarang berperan sebagai Humaira pun begitu terharu melihat bagaimana setianya Ferdinand, ingin sekali dia mengaku jika dia sebenarnya Asyifa, si bu boss, tapi pikiran itu langsung di tepis jauh jauh, dia tidak ingin melibatkan pemuda itu, karena musuhnya sekarang bukan orang sembarangan dan tidak bisa di sentuh.
" Akhir akhir ini, pak ARDIANSYAH sering melakukan rapat rahasia dengan salah satu klien, yang identitasnya susah di ungkap, tidak ada jejak samasekali, pak Ardi akan menonaktifkan, ponselnya jika sedang meeting dengan orang itu!" Ferdinand menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, " Akan tetapi, kemarin ada yang datang kekantor, sepertinya itu bawahan si klien penting, Setelah mencari beberapa sumber, pria paruh baya itu adalah, Suseno Prasetya, CEO dari PT Global Pratama, perusahaan tersebut sudah di kuasai oleh Kusuma group, lima tahun yang lalu, sekarang kepemilikan saham Kusuma group sudah mencapai tujuh puluh lima persen!"
Asyifa sangat kaget dengan pernyataan itu, dia tidak menyangka bahwa mantan suaminya, dekat dengan orang-orang dari Kusuma group, berbagai spekulasi di pikirannya pun bermunculan.
Asyifa ingin bertanya lebih lanjut, tetapi pelayan sudah datang mengantarkan pesanannya, yaitu nasi goreng seafood dan jus alpukat ( kesenangan author, he he)
Setelah mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan, Asyifa melanjutkan percakapannya kembali dengan Ferdinand, " Bukankah PT Cakra buana, selaku pemegang saham terbesar di PT GARUDA TV NUSANTARA, adalah salah satu perusahaan di bawah naungan Kusuma group?"
Ferdinand menyesap kembali kopinya yang sudah dingin, kemudian mengangguk, " Benar sekali Bu, melihat kedekatan pak Ardi dengan orang dari Kusuma group, saya jadi berpikiran aneh aneh, apakah pak Ardi terpilih jadi CEO murni karena kemampuannya sendiri, atau ada dukungan yang kuat di belakangnya, secara, kandidat CEO, dulu adalah mereka yang memiliki saham di sana, hanya pak Ardi yang tidak, apa mungkin karena pihak PRAMESWARI group? tapi setelah melihat kasus kemarin sepertinya tidak mungkin!"
Asyifa terkesiap mendengar celetukan Ferdinand, " Apakah Ardi adalah orang dari Angga Wijaya?"
*****
,
__ADS_1