Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Molly Jones


__ADS_3

Episode #44


  Sementara itu di mansion kediaman keluarga Stewart.


  Elysa sedang menemani suaminya, Gatot Syaputra, duduk di ruang keluarga, bersantai menonton televisi.


Amar datang bergabung, dia juga duduk di sana, seorang pelayan datang dan segera menghidangkan aneka biskuit dan teh.


" Ada undangan dari keluarga Jhonson, Edmund Jhonson mengundang keluarga kita, untuk menghadiri jamuan atas cucunya yang kembali," Elysa memperlihatkan undangan yang di kirim Alice.


Amar sedikit terkejut," Ini benar ma?"


Elysa mengangguk" Benar, itu ada logo keluarga Jhonson, menurut mama, semua cucu perempuan tuan Edmund akan datang, tadi mama sudah menelpon Selena, mantan istrinya Darren, dia berkata, nanti dia akan membujuk Moana dan Raya untuk datang ke sana, semoga dengan cara ini, kau lebih dekat dengan mereka, dan membatalkan perjodohan, jika memang anak Selena yang di jodohkan denganmu!"


Senyumpun terlukis di wajah Amar.


" Aku hanya bisa membantu sejauh ini, Mar, selebihnya adalah usahamu sendiri!"


Amar langsung bangkit dan berdiri memeluk Elysa," Mama memang, mama terbaik di dunia, dan satu satunya!" Kemudian dia mengecup pipi kanan dan kiri Elysa bergantian.


" Ekhem!" Gatot berdehem, " Aku cemburu loh, jika istriku di peluk dan di cium pria lain!"


Elysa tertawa, Dia kemudian mencium pipi suaminya," Dasar, Masa Sama anak sendiri cemburu!"


***


Sementara itu di mansion keluarga Jhonson.


"Buat penyambutan yang meriah, edhena, undang semua keluarga berpengaruh dan bangsawan ke hotel bintang lima milik keluarga Jhonson, namun, jangan ada media yang meliput, kau tahu sendiri, kalau keluarga bangsawan tidak suka dengan drama, biarlah keluarga kerajaan saja yang menjadi pusat perhatian, kita tak boleh!" Edmund kepala keluarga Jhonson memberikan perintah.


" Kau tenang saja Edmund, semua sudah beres, Alice sudah mengirimkan beberapa undangan kepada anggota kerajaan, kaum bangsawan dan keluarga yang berpengaruh di kota ini, oh ya, Alice juga sudah mengirimkan gaun dan beberapa aksesorisnya ke Cottesmore Gardens, kediaman Selena," Edhena memberikan laporan.


Edmund tampak menghela nafas panjangnya, dia menyesap kembali teh yang sudah mulai dingin," Hingga sejati, sungguh aku tak mengetahui, mengapa Moana dan Raya terkesan begitu menjauh dari aku!"

__ADS_1


Edhena menatap Edmund dengan pandangan yang berbeda.


" Semua bukan salahmu, Mereka hanya menghindari Darren, ayah mereka, Kita sendiri tahu, Bagaimana Darren mencampakkan Mereka dan lebih memilih Nora, istrinya yang sekarang!"


" Aku sudah berusaha membantu mereka, tapi mereka enggan menerima bantuan ku, Apa Mereka tidak menganggap ku sebagai kakeknya?" Edmund memandang keluar jendela, melihat pohon yang sedang meranggas, menggugurkan daunnya.


" Kau jangan berpikir terlalu banyak, Edmund, seharusnya kau bangga pada keduanya, Bukankah Mereka benar benar meneladani sifat dari leticia, nenek mereka sendiri? Bukankah mereka juga meneladani Lady, bibi mereka sendiri, kedua perempuan itu bahkan tak pernah menggunakan nama kebangsawanan Mereka, Mereka tidak ingin berlindung di balik nama besar orang lain, keduanya sedang membangun nama besar mereka sendiri, kita sebagai seorang senior, seharusnya bangga pada mereka yang memiliki prinsip yang kuat!" edhena kembali menuangkan teh ke dalam gelas Edmund.


Edmund merasa lega luar biasa, semua yang di katakan Edhena adalah sebuah kebenaran, dia beruntung sekali memiliki istri dan anak perempuan yang tidak silau dengan harta dan kedudukan, hanya Rebecca saja yang sangat berbeda sifatnya dengan nenek dan bibinya tersebut, mungkin karena pengaruh ibunya.


Sementara itu di kamar Molly.


Molly mencoba semua gaun, Perhiasan dan semua yang di belikan oleh Alice dan Edhena.


" Wah, ini bagus sekali!" Seru Molly, dia sibuk mencocokkan sepatu, tas, dan aksesorisnya, hingga menjadi outfit yang elegan.


Saking sibuknya, dia tidak tahu jika ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah konyolnya di depan pintu.


" Rebecca!" Seru Molly, dia cukup terkejut melihat Rebecca yang berdiri angkuh di pintu kamarnya.


Rebecca melangkah dengan lambat, kedua tangannya dilipat di depan dadanya, dia menatap Molly dari atas ke bawah dan ke atas lagi, setengah lengkungan tercipta di bibir pianis terkenal itu.


" Selamat datang di keluarga Jhonson, Nona Molly,. " Ada sedikit jeda sebelum dia melanjutkan," Maaf, Aku tidak tahu nama belakangmu,"


molly buru buru mengeluarkan tangannya," Halo Rebecca, perkenalkan, namaku Molly jones,"


Rebecca tidak membalas uluran tangan Molly, akhirnya molly menarik kembali tangannya.


Rebecca masih menatap sinis ke Molly," Aku menyarankan padamu, Ms Jones, agar tidak terlalu bermimpi menjadi putri di kediaman Jhonson!"


" Oh ya?" Molly melengkungkan alisnya.


Rebecca menatap Molly jengah, " Kau tidak cocok sedikitpun menjadi keluarga bangsawan, lihatlah dirimu! Bahkan aku rasa cerminpun malu untuk mengakui hal itu!"

__ADS_1


molly merasa Rebecca datang untuk mengintimidasi dirinya, nenek Meghan Sebelumnya sudah memperingatkan hal ini.


" Jadi, Apakah putri manja sepertimu yang cocok jadi Putri bangsawan? Kau lupa, darimana asalmu? Apa kau lupa, bahwa aku adalah perebut sesungguhnya?" molly melipat tangannya dan berjalan memutari Rebecca.


" Apa maksudmu?" Rebecca mendelikan matanya, berharap Molly akan takut padanya.


" Ha ha ha!"Molly tertawa" Kau benar benar polos atau sebenarnya bodoh?" molly mengangkat sebelah alisnya" Bukankah semua orang tahu, jika putri Jhonson adalah Moana dan Raya? Kemudian kau datang, dan merebut posisi mereka begitu saja? Semuanya tahu akan hal itu,"


Rebecca diam, semua yang di katakan Molly adalah sebuah kebenaran, mamanya Nora, sudah menjalin hubungan diam diam bersama Darren, ayahnya, yang pada saat itu masih berstatus sebagai suami Selena.


" Aku juga tahu, kau tinggal di mansion ini ketika berusia lima tahun, ibumu datang menemui kakek dan menangis tersedu sedu, mengadukan kelakuan ayahmu yang mengabaikan kalian selama beberapa bulan, bukankah waktu itu ayahmu berselingkuh dari ibumu?"


Rebecca mengepalkan tangannya, dia tidak menyangka jika Molly tahu aib terbesar dalam hidupnya.


Keadaan sudah terbalik, Awalnya Rebecca datang untuk mengintimidasi Molly, dia tidak menyangka jika dialah yang terintimidasi.


" Jaga ucapan mu!" Rebecca melayangkan tangannya ke arah Molly.


" Ouwh! Apakah ini yang di maksud dengan keanggunan putri bangsawan? Menampar orang dengan sesuka hatinya?" Molly langsung menangkap tangan Rebecca, sebelum tangan itu menyentuh kulitnya.


" Oh, sungguh kasihan sekali kakek Edmund, yang semasa muda berjuang di tengah perang, Dia mati matian mempertahankan gelar Markuis, agar anak keturunannya bisa mendapatkan hidup yang layak, namun lihatlah kelakuan cucunya yang sedari kecil sudah tinggal di mansion, Sangat bar bar, tidak menunjukkan aura kebangsawanan sama sekali!"Molly menggeleng gelengkan kepalanya" Sangat menyedihkan!" lanjutnya.


Rebecca tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia menghentakkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu, wajahnya sangat memerah karena amarah.


" Terima kasih sudah berkunjung, sepupuku yang cantik!" teriak Molly.


Beberapa pelayan yang mendengar itu, sontak berpandangan, mereka seolah bertanya satu sama lain, " Sejak kapan Nona Rebecca memperlakukan orang lain dengan baik?"


" Arrgh!" Rebecca berteriak di dalam kamarnya, untungnya kamarnya kedap suara, sehingga tidak menarik perhatian para penghuni mansion.


Barang yang ada di kamar Rebecca pun menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.


***

__ADS_1


__ADS_2