Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Tinggal di rumah mertua


__ADS_3

Episode #127


   Kamu sudah siap cantik?" Amar membawakan sarapan dan meletakkannya di atas meja.


  Asyifa hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan kembali menyisir rambutnya.


  " Kok Aku di cuekin? Apa ada yang salah?" Amar merebut sisir yang ada di tangan Asyifa, setelah itu mulai menyisiri rambut wanita dengan lembut.


  " Aku merasa geli dengan panggilanmu, berasa jadi sugar baby yang sedang berkencan dengan om om mesum, dengan panggilanmu itu!" bibir Asyifa mengerucut.


    " Ha ha ha," Amar tidak bisa menahan tawanya, " Apa menurutmu aku sudah cocok memperagakan om mesum?" dia mengerlingkan sebelah matanya ke Asyifa.


    Asyifa dapat melihat melalui cermin di depannya, dia menjadi salah tingkah, pipinya bersemu merah.


   Amar kemudian mengambil sepiring English breakfast, yang terdiri dari, telur, roti bakar, dan kacang panggang, setelah itu dia menyuapkan ke Asyifa.


   " Bagaimana kado pernikahan mu pada pengantin baru itu?" Amar bertanya.


    Asyifa tertawa," kadonya begitu mengejutkan mereka, kamu harus melihat videonya!" Asyifa menyodorkan ponselnya kepada Amar.


    Amar pun segera menonton drama nyata tersebut, di sana nampak Camilla yang jatuh pingsan karena mengetahui kebenaran tentang fakta sebenarnya.


   " Sekarang apa rencanamu?" Amar bertanya sambil mengambil minuman Asyifa, ponselnya di letakkan di atas meja rias.


  " Aku belum tahu langkah selanjutnya!" seraya mengambil air minum itu dan meminumnya hingga tandas," Aku berniat menjual rumah dan mobil itu, semua aku serahkan pada kamu untuk menjualnya, aku tak ingin lagi berhubungan apapun yang pernah lelaki itu sentuh!" pinta Asyifa.


    " Tidak masalah, semua bisa di atur, apa lagi rencanamu selanjutnya?"Amar menyuapkan roti bakar ke mulut Asyifa.


  Asyifa menerima suapan dari Amar, " Aku belum memiliki rencana pasti, Aku hanya ingin laki laki itu menerima balasan dari setiap perbuatannya, pertama, Aku ingin merusak rumah tangganya yang sekarang, dia harus merasakan pedihnya di khianati, setelah itu, Aku akan mengembalikannya ke tempat semula ia berasal, dan kemudian, dia akan menghabiskan sisa waktunya di jeruji besi, untuk seumur hidupnya!" kilat marah begitu nyata terpancar di wajah Asyifa.


    " Baiklah, Aku akan membantu sebisaku, apa yang bisa Aku Lakukan?" tanya Amar, seraya melap bibir Asyifa dengan tisu.


     " Apa kamu punya teman, atau bawahan yang bisa menggaet Camilla? kurang lebih tampangnya seperti Arsyad lah!" tanya Asyifa.


  Kalau untuk tampang, aku punya banyak stok bawahan, akan tetapi, jika tidak menarik perhatian Camilla bagaimana? perempuan itu lebih memilih kantong di bandingkan wajah, Amar memberikan pertimbangan.


    "Hmmp, benar juga, dia memiliki tipe pria seperti Angga, dia sempat memendam perasaan pada tuan muda Kusuma itu. semasa bangku kuliah, apa menurutmu ada orang yang seperti Angga tidak?" Asyifa bertanya serius.


  "Ada dong!" balas Amar cepat.

__ADS_1


" Siapa?" tanya Asyifa tak sabaran.


  Amar menunjuk dirinya sendiri," Aku!"


  "Hufft!" Asyifa mengerucutkan bibirnya tidak terima.


     "Ha ha ha!" Amar tertawa geli mengerjai Asyifa, " Sudah jangan cemburu gitu, Aku tak mungkin memberikan hatiku pada Camilla, semuanya sudah aku kasih ke kamu, jadi tak ada yang tersisa!" Amar mencolek dagu Asyifa.


     " Dasar om genit! Sekarang sudah pandai merayu, siapa yang ngajarin?" Asyifa menghempaskan tangan Amar dari dagunya.


  Amar kembali ke mode serius, " Aku punya teman, Namanya Glenn Yaw, kamu pasti pernah dengar nama belakangnya. keluarganya pemilik bank di Singapura, ayahnya campuran Tiongkok dan Melayu, sedangkan ibunya orang Perancis, dia bisa di bilang seorang playboy, dia bisa jadi kandidat untuk menggaet Camilla.


    Asyifa menarik nafasnya sebelum dia berkata," Kenapa dia harus melakukannya? Apa dia mau?" Asyifa ragu.


      Dia pasti bersedia, Aku pernah menyelamatkan nyawanya, ketika hampir tenggelam di sungai Seine, ketika kuliah dulu, jadi dia pasti tidak akan menolak, kebetulan bulan depan dia akan tinggal lama di Jakarta, dia ada proyek di sini, dia meminta tolong padaku, mencarikan apartemen untuknya!" Amar menjelaskan.


   Asyifa mengangguk mengerti.


  " Aku akan mengenalkan mereka di pesta pernikahan Melinda dan Arsyad, kamu tenang saja, semuanya biar aku yang mengatur, sudah lama aku ingin jadi sutradara!" Amar begitu antusias.


    Asyifa hanya tersenyum menanggapi Amar, hatinya terasa menghangat.


  Di waktu yang sama, di kediaman orang tua Ardi.


  "Arrgh!" Mira teriak, melihat di luar kamar Ardi penuh dengan barang barang tak terpakai.


  Mendengar suara teriakkan, Ani keluar dari kamar dan segera menghampiri arah sumbernya teriakkan.


    " Mira, Kamu kenapa teriak pagi pagi begini?" Ani juga berteriak tak kalah kencang.


" Ini bu, kenapa semua barangnya ada di sini?" Mira bertanya heran. dia datang di pagi buta dan pulang menjelang magrib, jadi dia tak tahu perihal kedatangan Ardi dan Camilla, walaupun dia sedikit heran, melihat ada mobil terparkir di halaman.


" Udah, gak usah lebay, nanti kamu susun semua itu ke gudang, sekarang kamu masak dulu!" Ani pun meninggalkan Mira yang sedang cemberut, pekerjaannya bertambah.


Mira adalah asisten rumah tangga orang tua ardi, dia tidak menginap.


Mendengar suara ribut-ribut Ardi dan Camilla pun terbangun.


" Apa sih ribut ribut di depan, ganggu orang tidur aja!" rutuk Camilla sembari membalikan bantal dan lanjut tidur lagi.

__ADS_1


Ardi yang mendengar keributan segera terbangun, dia tak memperdulikan Omelan Camilla, segera dia mandi karena dan bersiap siap ke kantor.


Satu jam berlalu, Mira sudah menyiapkan sarapan di meja makan, di atas meja makan tersedia, nasi goreng, telur mata sapi, ayam goreng dan sayur sop, Mira Hanya tinggal memasaknya saja, karena sebelumnya bahannya sudah dia persiapkan di dalam kulkas.


Di meja makan, Andreas, Ani, dan Tia sudah berkumpul, kemudian Ardi muncul di meja makan, Tia mengerutkan keningnya, dia cukup terkejut melihat keberadaan Ardi.



" Ada angin apa pak CEO sarapan di sini?" Tia mengajak Ardi bercanda.


" Angin ****** beliung!" Ardi menjawab ketus.


" Mana istrimu, ajak dia sarapan, jangan bilang dia masih tidur jam segini!" ucap Ani seraya mengambilkan nasi ayam goreng untuk suaminya, Andreas.


" Istri? Maksudnya?" Tia mengeryit heran.


" Istri barunya, Camilla!" ketus Ani.


" Ha ha ha ha!" Tia terbahak, " Selamat! Selamat! Selamat!" akhirnya abangku yang ganteng ini, sudah tidak menjabat sebagai duren atau duda keren lagi," Tia mengerlingkan matanya.



" Ardi, segera urus dokumen, dan segera daftarkan pernikahan mu ke KUA," Andreas mengingatkan.


" Baik pah!" balas Ardi.


" Ini istrimu kemana sih! jam segini masih molor! bukannya ngurus suami pagi pagi, malah lanjut tidur!" Omel Ani, setelah itu dia beranjak ke kamar Ardi.


Ardi ingin menghentikan mamanya, tetapi terlambat, mamanya sudah di depan pintu kamar Ardi.


" Camilla! bangun! bangun! Sarapan!" teriak Ani menggedor-gedor pintu kamar.


Camilla pun keluar, lingkaran matanya terlihat jelas.


" Sarapan!" ketus Ani.


Camilla mengikuti langkah kaki sang ibu mertua, entah akan seperti apa kehidupannya selanjutnya.


,. ****

__ADS_1


__ADS_2