
Episode #9
" Kita harus melakukan tugas dengan benar! Setelah sampai di hutan bambu, kalian habisi dia dan buang mayatnya ke jurang, pastikan dia benar-benar sudah mati, perempuan itu sudah berulang kali selamat dari gerbang kematian!" perintah laki laki di samping kemudi.
Walaupun tidak bersuara, Asyifa bisa merasakan kedua laki laki di sampingnya mengangguk.
Pembicaraan tersebut, telah terhubung ke Tim yang di bentuk Amar dan pihak kepolisian, tanpa para penculik itu ketahui, Asyifa membawa ponselnya di saku celananya, dan sudah melakukan panggilan, sejak kedua laki laki itu masuk ke dalam kamarnya.
" Pantau terus mobil itu, Jangan sampai kita kehilangan jejaknya!" seorang komandan polisi memerintahkan supirnya.
Suara pun terdengar lagi dari sambungan telepon Asyifa.
Tim Amar dan pihak kepolisian mendengarkan dengan seksama.
" Bos, bagaimana kalau kita habisi saja perempuan ini di dalm mobil, daripada di hutan bambu?"
" Iya bos, hutan bambu kan serem, belum lagi tadi hujan, pasti becek, susah angkatnya!"
" Bodoh! kalau di dalam mobil artinya meninggalkan jejak, kita di suruh menghabisi tanpa meninggalkan jejak!"
"Terserah bos saja deh, kita mah ikut saja, asalkan bayarannya full, tak bolong bolong! He he he!"
" Semuanya itu tergantung, beres tidaknya pekerjaan kalian!"
Pihak kepolisian dan Tim nya Amar bernafas lega, jika sampai Asyifa di habisi di tempat, semua rencana bisa gagal.
Lima belas menit kemudian, mobil penculik itu tiba di hutan bambu, sementara itu mobil Tim Amar dan kepolisian mematikan lampu mobil dan berhenti sekitar tiga ratus meter dari tempat mereka berhenti.
Gabungan tim Amar dan pihak kepolisian diam diam turun dari mobil.
__ADS_1
" Tes, tes, tes,!" suara air hujan menetes menyamarkan langkah mereka, katak pun mulai menguak sahut menyahut.
" Hujan lagi bos!" keluh laki laki di samping kiri Asyifa.
" Ayo turun! kita selesaikan tugas ini!" setelah mengucapkan itu, bos membuka pintu mobil.
Melihat bosnya turun, anak buahnya ikut membuka pintu mobil, tubuh Asyifa segera di keluarkan, air hujan segera menyambut Semuanya.
Keempat laki laki itu membopong tubuh Asyifa, supir menyandang sebuah tas yang berisi belati dan beberapa senjata api.
Mendekati lokasi, seorang polisi langsung muncul dari kegelapan, dan langsung mengacungkan pistolnya di pelipis seorang dari mereka.
" Bos,..." panggil laki laki yang sedang di acungkan pistol.
Supir dan laki laki yang di panggil bos, segera mengacungkan pistolnya ke Asyifa.
" Berani macam-macam, perempuan ini akan mati!" moncong pistol tepat di pelipis Asyifa.
" Lempar semua senjata kalian ke tanah! Cepat!" perintah si bos.
Polisi pun melemparkan pistolnya ke tanah becek.
Darah Asyifa berdesir, ini antara hidup dan mati.
" Ji, ambil semua senjata!" perintah si bos tersebut kepada salah satu anak buahnya.
Si ji, yang tak lain adalah supir tersebut, segera memungut senjata polisi tadi.
Tanpa aba aba, perempuan yang menjadi pelayan tadi, melayangkan sebuah kerikil, dan menjentikkan nya, sehingga terkena tangan si bos, pistol itu pun segera terlepas.
__ADS_1
BAM!" suara tendangan salah satu tim Amar langsung menendang si bos penculik.
" Gedebug!" si bos jatuh ke tanah.
Asyifa segera di tarik oleh tim Amar.
Si bos meraung marah," Kurang ajar!" umpatnya, seraya mengeluarkan sebuah belati tajam dari sakunya, dia segera menghujamkan nya kearah wanita pelayan tersebut.
Bret, Bret!" suara kain terobek.
Si pelayan bisa menghindari tikaman, tapi bajunya robek panjang.
Setelah salah satu tim Amar mengamankan Asyifa, gabungan tim Amar dan kepolisian, bertarung dengan para penculik.
Empat penculik melawan empat penyelamat Asyifa.
Semuanya bertarung mengenakan tangan kosong, pihak kepolisian tadi sudah merampas tas yang berisi, senjata api dan senjata tajam, dan melemparkannya jauh jauh.
Pertaruhan selama lima belas menit, berlangsung di pinggiran hutan bambu dengan guyuran air hujan, gemeretuk gigi terdengar dengan jelas, karena menahan rasa dingin.
"DUAR!" petir pun ikut meramaikan.
Suara tinju dan tendangan begitu terdengar jelas, stamina para penculik pun semakin lama semakin menurun, mereka bukanlah tandingannya Tim penyelamat Asyifa.
Bam! Bam! Bam!" tinju dan tendangan menghempaskan para penculik. mereka tersungkur di atas tanah becek, wajah mereka sudah babak belur, dan nyaris tak bisa di kenali, akibat campuran luka lukanya dan lumpur.
Guyuran air hujan semakin deras, para polisi membekuk para penculik dan membawanya ke kantor polisi.
Asyifa ikut serta, sebagai korban.
__ADS_1
" Sementara itu di tempat lain, Baskara menatap ponselnya, dia menunggu laporan.
***