
Episode #149
Nona May, Prameswari group : Ferdinand, pantau terus rekaman antara Ardi dan Camilla, jika sudah mendapatkan pengakuan keduanya, tentang upaya mereka melenyapkan ibu Asyifa, segera berikan kepada pak Hamdan Hutapea di kilau hukum, semua bukti sudah terkumpul, untuk menjerat keduanya, ketika rekaman pengakuan dan semua bukti terkumpul, bu Asyifa akan muncul ke publik.
Itu bunyi pesan Asyifa kepada Ferdinand, isi pesan itu sangat jelas, dia mencoba menghubungi Humaira melalui telepon, sayangnya sudah tidak terhubung.
Setelah mengirimkan pesan, Asyifa langsung mematikan ponselnya, Dia dan Amar sudah lepas landas ke pulau Bali.
Di pulau Bali, Asyifa akan menenangkan dirinya sejenak, bahkan Amar sudah mengganti nomor telepon Asyifa, semua atas persetujuan Asyifa, urusan kantor telah di berikan kepada Bastian, dan urusan Ardi dan Camilla sudah dia serahkan kepada pak Hamdan Hutapea, selaku walinya sekaligus pengacara keluarganya.
Sekarang waktunya untuk menenangkan hati dan pikiran.
Di Bali, Asyifa menyewa sebuah apartemen mewah di daerah Canggu, dia tidak tahu sampai berapa lama tinggal di sana.
" Cantik, Apa kegiatanmu selama di sini?" tanya Amar seraya membereskan barang Asyifa.
" Aku berencana akan ikut kegiatan NGO disini, aku akan ikut bergabung menjadi relawan!" jawab Asyifa santai, dia sudah membuat daftar beberapa kegiatan apa yang akan dia lakukan, mungkin berbuat baik dan membantu sesama, akan mengajarkan dia banyak hal.
" Aku setuju sekali, Hal terpenting adalah, kamu harus tetap terus menjaga kesehatan, Oke?" pandangan Amar semakin Lamat menatap Asyifa.
Asyifa semakin gugup, " Kamu, kenapa liat aku seperti itu?"
Amar hanya tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa.
Asyifa pun mengabaikannya.
Sementara itu, Ferdinand segera kembali ke rumahnya, pekerjaan yang Ardi berikan Sebelumnya, semuanya sudah dia kerjakan.
Dalam waktu empat puluh lima menit, Ferdinand sudah sampai di rumahnya, segera dia berlari ke lantai dua untuk memeriksa file nya.
"Eh, kok sudah pulang jam segini?" ibunya Ferdinand berteriak dari dapur.
" Ada dokumen ketinggalan ma!" teriak Ferdinand.
Ferdinand segera duduk di depan komputer, dia langsung ke aplikasi yang sudah dia atur sebelumnya.
__ADS_1
Banyak video bermunculan, Dan ada satu video yang sedang merekam.
Di sana Camilla dan Ardi Sedang perang mulut, kamarnya berantakan, semua skincare yang ada di meja rias sudah berjatuhan.
Ferdinand segera memasang headset dan mendengarkan pertengkaran mereka.
" Kamu itu ngomong apa sih? Aku tidak selingkuhan! aku kerja!" Camilla menolak dada Ardi keras.
" iya, kamu memang kerja! kamu tidak selingkuhan, ha ha ha!" Ardi tertawa, " Kamu bekerja menjajakan tubuhmu, iya kan? mana ada kerja di dalam kamar hotel!"sinis Ardi.
" Aku itu benar benar kerja!" Camilla tetap ngotot.
" Iya, aku tahu kamu kerja, kerja jual diri!"Ardi semakin memandang rendah Camilla.
" Aaargh!" Camilla berteriak frustasi, dia mengambil ponselnya, dan melemparkannya ke Ardi, " Lihat, itu pesan dari bosku!"
Ardi membaca pesan tersebut, dan melengkungkan sebelah bibirnya dan mencibir " Trik lama! bisa saja nama pelanggan atau nama mucikari kau ganti dengan nama bosmu, ini sudah lagu lama!" Ardi melemparkan ponsel Camilla ke atas ranjang.
" Aku akan segera mengurus perceraian kita, Aku tak suka di khianati!" Ardi mengambil beberapa dokumen, untuk di bawa ke pengadilan agama.
Ardi memicingkan matanya.
" Kamu gak sadar apa, kalau kamu itu seorang pengkhianat? Bagiku kamu itu laki laki yang tolol sedunia! Sudah punya istri cantik, kaya, karirnya bagus, malah masih kegoda sama aku! Udah gitu, demi dapetin hartanya, kamu malah nyuruh Ami adikmu, untuk melenyapkan dia, benar benar suami idaman! Setelah semuanya, Apa yang kamu dapatkan? Nol besar! Mobil dan rumah di tarik, harta warisan tak dapat, harta gono-gini tak ada, aduh kasihan sekali!"
Ardi menampar Camilla.
"Plak!"
" Semua itu gara gara tingkahmu ya, kamu merayuku dan mempengaruhiku, Aku juga tahu, kamu menaruh Obat penggemuk ke dalam makanan Asyifa, kamu juga yang menghasut aku untuk menyingkirkan Asyifa, kamu memang iblis wanita," umpat Ardi.
" Kalau sampai kakimu melangkah untuk mengurus perceraian, Aku akan membongkar di media tentang perselingkuhan kita di belakang Syifa, Aku juga berani mendatangi polisi dan mengakui semuanya, kau ingin membuatku hancur, Aku akan menyeret mu, kita hancur bersama!"Camilla berucap dingin.
Mata Ardi menatap Camilla dengan penuh kebencian, ingin sekali dia menguliti istrinya itu hidup hidup!"
Ardi pun keluar dari apartemen mereka, wajahnya sudah hitam, sehitam arang.
__ADS_1
Ferdinand langsung mengunduh rekaman video tersebut,dia segera bergegas ke kantor Hamdan Hutapea, untuk menyerahkan bukti, sebelumnya dia sudah menyimpannya ke dalam akun Email pribadinya.
Selama dua jam perjalanan, akhirnya Ferdinand sampai di kantor kilau hukum, tak memakan waktu lama, dia diantarkan resepsionis ke depan ruangan pak Hamdan Hutapea.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan pak Hamdan Hutapea, Ferdinand menyerahkan sebuah flashdisk, hasil rekaman pertengkaran Camilla dan Ardi yang mengungkap semuanya.
" Saya di tugaskan oleh nona May, untuk menyerahkan bukti pengakuan dari pihak yang melakukan pembunuhan kepada Bu Boss Asyifa," Ferdinand langsung pada intinya.
Pak Hamdan Hutapea segera mengambil flashdisk itu dan segera memasangnya di komputernya, keduanya pun melihat video itu kembali.
Walaupun pak Hamdan sudah menduga siapa dalang di balik ini semua, tetap saja dia sedikit terkejut, mengetahui Ardi dan Camilla, sebagai suami dan sahabat dekatnya sendiri tega menghabisinya, Dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
" Dengan adanya rekaman ini, bukti semakin kuat, besok saya akan langsung melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian, terima kasih atas kerjasamanya, saudara!" Pak Hamdan menjabat tangan Ferdinand, dia sangat berterima kasih pada sosok di hadapannya ini.
Ferdinand pun tersenyum dan pamit undur diri, wajah Big Bos Asyifa terbayang dalam benaknya, sungguh dia sangat merindukan sosok itu.
Sesampainya di rumah dia langsung mencari mamanya.
" Ma,..Ma,..Mama dimana?" serunya,, bergegas mencari ke seisi rumah, Maaa!" teriaknya lagi.
Mamanya Ferdinand pun langsung masuk dari pintu depan, " Apaan, dah lu! Ribut banget lu! suara lu kaya kaleng rombeng, sampe kedengaran ke ujung gang! Gua lagi ngerumpi di suruh pulang ama ibu ibu yang Laen! Nyebelin banget dah ah, lu!"mamanya Ferdinand mengomel dengan logat Betawinya yang kental.
" Mama,..Enyak, aye yang paling cakepnya seantero gang, Buruan gih, dandan yang cantik, pake lipen, jangan lupa, Aye tunggu di depan, kite mau jalan ke mol!" Setelah itu dia menyerahkan bingkisan, berisi baju gamis baru, dan kemudian dia duduk di teras, menunggu ibunya berdandan.
Tak lama, mamanya keluar, dengan dandanan yang begitu cantik, dia memakai baju gamis baru yang di belikan anaknya tersebut.
" Wuih! Enyak aye, makin lama makin cakep aje!" puji Ferdinand tulus.
" Percuma nyak makin cakep, kalo kagak punya mantu, sekali kali, ajak calon bini jalan, jangan ama nyak terus!" mamanya mengomel lagi," Emangnya dalam rangka ape, kite pergi?"tanyanya lagi.
" Untuk pertama kali aye bangga jadi hacker, ma!"Ferdinand menjawab bangga.
" Hacker apaan Dah? itu yang jaga warnet bukan?"tanya si Enyak.
Ferdinand diam, dia kehilangan kata-kata.
__ADS_1
****