Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Pameran lukisan


__ADS_3

Episode #137


Asyifa berjalan kearah pameran, dia menunjukkan kartu undangannya kepada panitia, segera panitia mengkonfirmasi kehadiran dan memberikan nomor undian kepada Asyifa, setelah mengucapkan rasa terima kasihnya, Asyifa memasuki area pameran.


Di sana dia melihat banyak orang yang sering tampil di televisi, ada beberapa pejabat juga yang datang, selain itu ada juga beberapa selebritis, salah satunya adalah lawan main Asyifa di sitkom drama di PT GARUDA TV NUSANTARA, Boris Mahendra.


Boris yang melihatnya segera melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri Asyifa.


" Lama sekali tidak berjumpa dengan anda Nona May, tanpa anda suasana syuting tidak seperti biasanya!" Boris langsung menjulurkan tangannya kepada Asyifa.


Asyifa menyambut uluran tangan tersebut, " Kamu terlalu berlebihan, Boris, bagaimana, masih bersih di sana?"


Boris memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya kanan kiri, " Aku tak punya pilihan lain!" setelah beberapa detik kemudian, lelaki itu melanjutkan,"Untuk sementara Aku bertahan di dunia hiburan, semata mata hanya untuk mengumpulkan modal, kamu tahu sendiri, tidak ada jaminan untuk selalu bersinar, oh ya, sekarang aku sedang merintis sebuah kafe kecil kecilan, kapan kapan kamu mampir lah, aku traktir!" Boris mengeluarkan kartu nama kafenya, "Books cafe,"


Namanya unik, Apa konsepnya tentang buku dan perpustakaan?" Asyifa menunjukkan ketertarikannya setelah melihatnya.


" Benar, jadi buku adalah konsepnya, banyak di sediakan buku buku dalam berbagai tema seperti, politik, sejarah, novel, motivasi, pengembangan diri, dan lain sebagainya, jadi pengunjung bisa menambah wawasannya!" Boris menjelaskan, seraya memperlihatkan Instagram kafenya dan mulai mengikuti Aku Humaira Pramesti.


" Datanglah, sekalian promosi, penggemarmu kan banyak, he he,..!" Boris terkekeh.


" Aku pasti akan datang, dan menyumbang beberapa buku," Asyifa setuju, dan mengerlingkan sebelah matanya.



Keduanya berjalan, seraya melihat lukisan Rio Kusuma, walaupun Asyifa tidak tahu sedikitpun tentang lukisan, tetapi Boris dengan senang hati menjelaskannya, dengan Boris di sampingnya, Asyifa merasa sedang Study Tour.



Tak berapa lama, seorang panitia menginterupsi keduanya, " Maaf mengganggu Mas dan Mbaknya, Saya di utus oleh Bos Rio, untuk menjemput Nona Humaira menemui beliau," Seorang gadis berusia awal dua puluhan memakai seragam batik panitia, menghampiri keduanya yang sedang asik berbincang.



" Baiklah kalau begitu May, jika kamu pusing dengan pekerjaanmu di kantor, singgah lah di kafe ku, biar pusingmu bertambah, ha ha,. !" Boris pun mengucapkan kalimat perpisahan.



Gadis itu berjalan di depan Asyifa, mereka melewati beberapa orang yang sedang asik mengamati lukisan Rio Kusuma.


Di sebuah ruangan, gadis berpakaian batik tersebut membukakan pintu, mempersilahkan Asyifa masuk," Silahkan Nona May, Bos Rio sudah menunggu Anda,"


" Terima kasih!" Hanya kata itu yang Asyifa ucapkan, dan melangkah masuk.

__ADS_1


Pintu pun segera tertutup.


Di ujung ruangan, Rio nampak sedang menyeruput kopi panasnya, nampak uap menguap dari gelasnya.


' Om!" sapa Asyifa, bagaimanapun sebagai orang yang lebih muda dia wajib menyapa terlebih dahulu.



Mendengar sapaan itu, Rio tersentak, dan kemudian membalikkan badannya, " Kamu sudah datang!" ucap Rio seraya menaruh kopinya di atas meja.



Asyifa sempat membatin, tentang apa yang sedang di lamunkan om Rio nya.


" Tante tidak ikut Om?" Asyifa berusaha mencoba mencairkan suasana.


" Dia lebih memilih ngumpul bareng temannya, ketimbang di bawa kesini, katanya di sini ngebosenin!" Rio menjawab Sebenarnya, Helena sang istri, tak mengerti sedikitpun tentang seni lukis.


, " Saya menyuruhmu kesini, ingin menunjukkan sebuah lukisan yang sudah lama terbengkalai, Bukalah tirai itu!" Rio tidak berbasa-basi, dan menunjukkan sebuah lukisan yang di tutup oleh selembar kain putih polos.


Asyifa berpikir, dan tiba tiba ingatannya teringat pada lukisan kedua orang tuanya yang belum selesai, " Apakah Om Rio sudah menyelesaikan lukisan itu, dan sudah mengetahui identitas ku yang sebenarnya?" benak Asyifa.




Asyifa maju beberapa langkah, dan berhenti di depan lukisan, dengan tangan gemetar, dia menarik kain putih yang menutupi lukisan itu.


" Sret! kain putih itupun segera meluncur ke bawah.


" I,..ini,.!" Asyifa menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dia terhenyak, walaupun sudah menebak, tapi aslinya tetap membuat dia terkejut, untuk beberapa saat, Asyifa mematung, dan kehilangan kata kata.


" Setelah sekian lama, akhirnya om bisa menyelesaikan lukisan itu, Akhirnya Om bisa mengingat wajahmu dengan jelas, Syifa!"


" Deg!"


Dua pukulan telak menghantam Asyifa, belum reda keterkejutannya melihat lukisan yang sama persis, dengan mimpinya sehabis tenggelam di labuan Bajo, sekarang om Rio malah memanggil namanya dengan panggilan akrabnya, syifa!"


Asyifa kehilangan kata-kata, lidahnya kelu, tak mampu mengeluarkan suara.


Di lihatnya lagi lukisan itu, bahkan lukisan ini lebih hidup, di banding ketika terakhir kali dia lihat di galeri mansion kediaman keluarga Kusuma, air matanya kemudian menetes, dia menyentuh wajah papa dan mamanya, terlihat Asyifa sangat merindukan kedua orang tuanya.

__ADS_1



Rio pun merasakan hal yang sama, entah mengapa, ia merasa sepasang suami istri dalam lukisan itu, sedang hadir di antara mereka.



" Sebenarnya Om tau, kalau sosok dari Humaira Pramesti adalah identitas dari Asyifa Prameswari, dari dirimu sendiri!" Rio mulai menceritakan semuanya.



" Saya tidak mengerti maksud om! jelas jelas saya adalah Humaira Pramesti, bukan Asyifa Prameswari!" Asyifa masih menutupi semuanya.


Rio mengambil nafas panjang, dia mengambil kembali gelas kopinya, dan menyeruputnya, kopinya sudah mulai dingin, tetapi citra rasanya tidak berubah.


Rio pun mengeluarkan sesuatu dari lipatan dokumen, yang sengaja ia letakkan, dia menunjukkan selembar foto lama kepada Asyifa, di foto tersebut, ada dua orang laki-laki dewasa dan seorang bayi, laki laki dewasa itu adalah Andreas, mantan mertua Asyifa sekaligus ayahnya Ardi dan Rio, pria di hadapannya.


" Bayi itu adalah kamu!" Lagi lagi ucapan Rio menghantam kesadaran Asyifa.


" Waktu itu, saya dan Andreas membawa mu ke suatu tempat, bukan membawamu, lebih tepatnya menculikmu, karena tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada orang tuamu!" Rio merasa kembali ke jaman itu.


Andreas menunggu di luar, sedangkan aku dan dirimu masuk kedalam, kau tahu apa yang aku lakukan padamu di dalam ruangan? Aku membuat tato transparan di tengkukmu dengan tinta biosensor, tato tersebut akan nampak jika terkena air laut, tato itu akan berwarna hijau setelah terkena air laut, yang mengandung garam," Rio menjelaskan dengan menatap lukisan kedua orang tua Asyifa.


Penjelasan tersebut sukses membuat Asyifa tercengang.



" Di labuan Bajo kamu jatuh ke laut, dan di selamatkan oleh Amar, ketika kamu di angkat ke atas kapal, tidak sengaja, saya melihat tato kupu-kupu berwarna hijau di tengkukmu, di situlah saya tersadar, bahwa kau adalah Asyifa Prameswari dengan identitas baru Humaira Pramesti," Rio memaparkan kecurigaannya.



" Setelah mengetahui identitas ku, apakah om akan menghalangi langkahku untuk mencari bukti dan mencari keadilan," Gigi Asyifa gemeretuk, terdengar jelas di telinga Rio.



" Saya tak akan pernah menghalangi langkahmu, saya tahu, syifa pasti sudah menemukan beberapa kebenaran, saya hanya minta satu hal, untuk menyelamatkan Angga, dari cengkraman kakeknya,Hanya itu!" Rio buru buru memastikan sikap.


Asyifa bernafas lega


" Karena ingin mengatakan ini padamu, saya terpaksa mengadakan pameran lukisan!" ucap Rio.


Asyifa hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2