Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Ferdinand


__ADS_3

Episode #68


Setelah selesai melakukan syuting di studio kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, Asyifa bergegas kembali untuk pulang, badannya terasa letih sekali dan dia sudah sangat merindukan empuknya tempat tidur.



Berjalan keluar dari koridor menuju lift, dia merasa kembali ke masa-masa awal dia menjadi sebagai manejer di sini, dan akhirnya sampai dia menjadi CEO, seharusnya sedari awal dia menyembunyikan identitasnya sebagai bagian dari Prameswari group, sehingga dia tidak terjerat Dengan ikatan cinta palsu dari seorang ARDIANSYAH. " Semua hanya tinggal kenangan syif, semuanya telah berlalu, jangan di sesali lagi" gumamnya, dia mencoba menghibur hatinya yang pernah mencintai begitu dalam.



Di kejauhan dia melihat sosok bayangan yang sedang tergesa-gesa, keluar dari lift, sosok yang sangat familiar, sosok yang menemani tidurnya selama tiga tahun, sosok yang pernah memberikan manisnya cinta sesendok dan empedu Sebelanga, Di lihat dari gelagatnya yang begitu tergesa-gesa, Asyifa sudah menduga, pasti ada kaitannya dengan adiknya yang kini berada di balik jeruji besi, sebab hanya urusan keluarganya dan Camilla saja, yang bisa memecahkan fokus laki laki itu, Asyifa sudah hafal sekali dengan karakternya.



" Pak,..Pak Ardi tunggu, kunci mobilnya ketinggalan," pekik Ferdinand, yang keluar dari lift, lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu, berlari menyusul, menghampiri CEO tersebut.



Mendengar suara yang sangat familiar, Ardi berhenti, menunggu Ferdinand.


" Ini, ..ini kunci mobilnya pak!" Ferdinand menyerahkan kunci mobil kepada Ardi, lututnya sedikit di bengkokkan, nafasnya terengah-engah.


Tanpa menunggu lama, Ardi mengambil kunci itu, dan segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih.


Ferdinand membalikkan badannya, dan ingin melangkah kembali ke ruangannya, sebelum satu suara menghentikan langkahnya.


" Sepertinya anda begitu sibuk akhir akhir ini pak Ferdinand, sehingga kurang berolahraga," suara Humaira begitu jernih terdengar di telinganya.


" Nona May!" ucapnya, dia tidak begitu terkejut dengan keberadaan Arsyad di kantor, semua orang di kantor ini tau, kalau Dewi Yunani ini ada proyek syuting di studio kantornya.



" Bolehkah saya meminta tolong pak Ferdinand?" pinta Humaira, dengan sorot mata yang begitu memohon.


Ferdinand terkesiap, sorot mata itu, sorot mata Bu Boss kalau setiap meminta kopi racikannya.


" Kalau saya bisa membantu, dengan senang hati, Nona May, jangan sungkan," Ferdinand tersenyum.



" Setelah syuting tadi, badan saya rasanya sangat letih, bolehkah saya meminta kopi racikan anda?"


Untuk sepersekian detik Ferdinand terbengong.


" Baiklah Kalau memang,.."


Belum sempat Asyifa menyelesaikan ucapannya, Ferdinand sudah menyela, " Baiklah Nona May, saya akan segera ke pantry dulu, Nona menunggu dimana? saya akan membawa kopinya kesana!"


" Jangan terlalu merepotkan diri pak, saya jadi tidak enak, saya ikut saja ke pantry, sekalian berkeliling kantor ini" ucap Asyifa dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan, sesekali mereka bertegur sapa dengan sesama staff, Ferdinand lebih banyak menjelaskan ruangan yang mereka lewati sepanjang perjalanan, Asyifa hanya tersenyum saja, tentu saja dia sudah hafal dengan denah kantor ini, walaupun begitu, dia tetap menanggapi Ferdinand dengan antusias.


Tak lama berselang, mereka sudah sampai di pantry kantor, di jam seperti ini, kebanyakan para office girl dan office boy masih bekerja, membersihkan area perkantoran, jadi di sana tidak ada orang.



" Silahkan duduk Nona May, saya buatkan kopi dulu," ucap Ferdinand sambil menarik kursi untuk di duduki oleh Asyifa.


" Terima kasih" ujar Asyifa tulus, sikap Ferdinand memang tidak pernah berubah, dia selalu baik pada wanita, dan melakukan hal-hal kecil seperti ini, tidak heran banyak para karyawati banyak yang terbawa perasaan, alias Baper.


Lima menit kemudian, dua gelas kopi sudah terhidang, sesuai dengan keinginan Asyifa.


Ferdinand pun duduk dan menikmati kopi tersebut,


perlahan lahan dia menyesap kopinya, dia menutup matanya sejenak, kenangan dengan ibu boss syifa, seketika datang, dulu dia selalu di minta ibu boss untuk meminum kopi di pantry, persis seperti sekarang, tetapi dengan orang yang berbeda, Ferdinand menghembuskan nafas perlahan.


Asyifa tahu, dengan apa yang Ferdinand rasakan sebenarnya, saat ini juga dia ingin sekali berteriak kalau dia adalah Asyifa, Bu Boss nya, tetapi dia masih bisa menahan diri.


" Kamu kenapa? sepertinya tidak begitu baik?" pancing Asyifa.



" Bukan seperti itu nona May, Saya hanya teringat dengan ibu boss saya, dia juga suka dengan kopi'racikan saya, entah kenapa seleranya sama dengan Nona, kita juga dulu sering ngopi di pantry, sebelum masuk keruangan kerja," Ferdinand menerawang jauh.



" Ibu Boss? Sepertinya dia sangat berkesan sekali yah,. dalam kehidupan anda!" ucap Asyifa, setelah menyesap kopinya.



Mendengar itu, hati Asyifa terasa teriris, dia begitu tahu, betapa tulusnya seorang Ferdinand.


" Sepertinya beliau sangat berkesan yah, untuk anda" Asyifa berusaha bersikap wajar, walaupun hatinya tidak karuan.


Tiba-tiba t


Ferdinand tersenyum manis sekali, Auranya berubah, dari sendu menjadi ceria, " Dia adalah kakak peri saya"


Asyifa mengerutkan alisnya, tanda dia tak mengerti.


" Di awal saya masuk kantor, ibu saya terkena serangan jantung, kata Dokter harus di pasangkan Ring, saat itu saya tidak punya apa-apa yang berharga untuk dijual, saya berusaha mencari pinjaman ke kantor, akan tetapi, karena posisi saya masih karyawan baru, kantor tidak menyetujui pinjaman dalam jumlah besar tersebut, sayapun akhirnya ke pantry, duduk lesu, dan tanpa sadar meneteskan air mata, kondisi saya yang kacau tersebut tertangkap oleh Bu Boss, tetapi Bu Boss pura pura tidak tahu, agar saya tidak rendah diri, untuk menghindari kecanggungan, saya membuatkan dua gelas kopi, saya berpura pura jadi anak magang, jadi harus menghormati karyawan tetap, Bu Boss pun tidak menolak, dari situlah Bu Boss menyukai kopi racikan saya, dan bertanya, berapa komposisi yang di gunakan, singkat cerita, ketika saya kembali ke rumah sakit, ternyata ibu saya sedang di operasi, pemasangan Ring jantungnya sudah selesai dan lancar, ketika saya meminta data pembayaran ke bagian administrasi, ternyata pembayarannya sudah di bayar lunas, beserta dengan biaya rumah sakit lainnya, karena penasaran, akhirnya saya mendesak pihak rumah sakit, untuk memberitahukan tentang siapa donaturnya, pihak rumah sakit pun hsnya mengeluarkan secarik kertas dengan tulisan, " Terima kasih untuk kopinya" saat itulah saya berusaha menjadi yang terbaik, agar bisa menjadi asisten beliau," kenang Ferdinand, matanya berkaca-kaca dia selalu melankolis, setiap mengenang bagian hidupnya ini.


Asyifa tersenyum, tentu saja dia ingat cerita itu, dia yang meminta sopirnya untuk mengikuti kemana Ferdinand pergi, karena khawatir, ternyata dia mendapat laporan, bahwa ibu pemuda itu sedang di rumah sakit, bagaimanapun hati Asyifa terketuk, dia sudah tidak punya ibu lagi, jadi dia tau rasanya kehilangan.


" Maaf! Saya sedikit melankolis!" ucap Ferdinand malu.


" Tidak apa-apa, itu hal yang sangat wajar, trus, apa yang anda ketahui, tentang kehidupan pribadi ibu Boss Syifa?" pancing Asyifa kembali.


" Ibu SYIFA, benar benar berhati bersih, dia tidak pernah mengumbar masalah pribadinya, di lingkungan kerjanya, tetapi semua orang tau tentang skandal paj Ardi dengan sahabatnya Camilla, tak pernah terpikirkan di khianati oleh orang terdekat! Ferdinand geram sekali, tangannya mengepal, " Seandainya saja aku bisa membalas budinya, ingin sekali aku menghancurkan pasangan laknat itu!" lanjutnya.

__ADS_1



" Apakah anda benar benar ingin membalas Budi? ingin menghancurkan pasangan itu? tanya Asyifa sambil menyesap kopinya.


Ferdinand terpaku sesaat " Apa maksud anda?" tanyanya, dahinya mengernyit, seolah minta penjelasan lebih.


' Apakah anda tidak merasa heran, dengan hilangnya ibu Boss syifa? sebagai pewaris dan satu satunya dari Prameswari group, apakah mereka tidak mencari dirinya dan kebenaran yang terjadi? apakah mereka hanya tinggal diam saja?" tanya Asyifa dengan tersenyum, jari tangannya beriringan mengetuk meja.



" Maksud Nona, apakah kemungkinan ibu Boss masih ada? kilat mata berbinar Sanga terlihat jelas, dari bola mata Ferdinand, mata memang tidak bisa berbohong.



" Saya tidak mengatakan seperti itu, akan tetapi, semuanya bisa saja terjadi, yang pasti pihak Prameswari group tidak akan tinggal diam bukan? mereka akan menyelidiki hingga akarnya, dan sedikitnya mereka sudah bergerak kemarin, pergerakan yang begitu pelan tapi mematikan," nada bicara Asyifa membuat bulu kuduk Ferdinand merinding, dingin dan begitu menusuk.


" Menurut Nona,.." Ferdinand tidak melanjutkan ucapannya.


" Kasus kemarin adalah langkah awal, masih ada langkah selanjutnya, bukankah semua orang harus bertanggung jawab dengan sesuatu yang mereka buat?" Asyifa tersenyum, senyumnya begitu indah,, tetapi memancarkan rasa sakit tersendiri.



" Apakah anda bersedia membantu menyelesaikan permasalahan ibu Boss? apakah anda bersedia, membantu Bu Boss untuk mencari keadilan?" Asyifa bertanya lagi.


Ferdinand menganggukkan kepalanya dua kali, dia selalu berharap bu Boss nya masih ada, hanya itu harapannya.


" Baiklah kalau seperti itu, bekerjasama lah dengan pihak PRAMESWARI group!" Asyifa menyesap kembali kopinya.


" Nona, maaf jika saya lancang,... Apakah bu Boss masih ada? ucapnya terbata bata.


" Anda bisa menebaknya sendiri, kalau tidak, Bagaimana saya bisa memakai parfum dan meminta kopi racikan anda dengan komposisi tersebut dan meminta anda mengobrol di sini? kira kira darimana saya bisa tahu semua itu?" senyum Asyifa, dia tidak mengatakan bahwa itu adalah dirinya.



"Jadi!,.."


Belum sempat Ferdinand menyelesaikan ucapannya, Asyifa sudah menyela, " Kopinya sudah habis pak Ferdinand, saya pamit undur diri dulu, terima kasih,"


Setelah mengatakan itu, Asyifa pun bangkit dan segera beranjak keluar, sikapnya sama seperti sebelumnya, kemudian beberapa office boy dan office girl pun kembali ke pantry.


" Eh, pak Ferdinand, tumben ngopi di sini" sapa seorang office boy yang baru saja masuk.



" He he he, iya pak, sekali kali cari suasana baru" setelah mengatakan itu, Ferdinand bangkit dan menuju ruangannya.


Di dalam perjalanan menuju ruangannya, kenangan akan Bu Boss nya terukir dengan jelas, dia sudah bertekad untuk bekerjasama dengan Prameswari group di bandingkan dengan PT GARUDA TV NUSANTARA ini, jelas Prameswari group masih jauh di atas, mengingat ibu boss kemungkinan masih ada, beban di dalam hatinya seolah sirna, Doanya seolah sudah memberikan jawaban.


" Pak ARDIANSYAH,... " Gumamnya.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2