Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Gagalnya niat licik Ardi


__ADS_3

Episode #130


Ardi berjalan menuju restoran Jepang, yang di rintis oleh penyanyi terkenal, yang masih mempunyai darah Jepang, ketika membuka pintu, seorang pelayan sudah menyambutnya dan menanyakan dimana dia akan duduk.


  " Saya memilih ruang tatami!" ucapnya kemudian.


  pelayanpun mengangguk, dan membawa Ardi ke ruang tatami, sebelum sampai di sana, dia melewati ruang makan umum.


  , Silahkan!" dengan hangat pelayan itu mempersilahkan Ardi memasuki ruangan tersebut.


    Ruang tatami adalah ruang yang berbentuk lesehan, tanpa ada kursi, ruangan itu menggunakan tatami, sejenis tikar yang terbuat dari Alang Alang.


    Ardi masuk ke ruangan itu, seperti bangunan Jepang pada umumnya, ruangan itu sangat minimalis dengan banyak pemandangan alam, selain itu pencahayaannya juga bagus, cahaya matahari tetap masuk dan dengan di dukung lampu gantung berbentuk lampion, suasana negeri sakura semakin terasa.


    Ketika Ardi hendak duduk, Ferdinand tiba dengan Wisesa di sampingnya, keduanya mengobrol dengan cukup hangat, di belakang keduanya, Bima asisten Wisesa, berjalan dengan menenteng tas dokumen.


  Ardi mengeryitkan dahinya, " Bukankah ini orang yang tadi di parkiran? kenapa Ferdinand membawanya ke sini?"pikirnya.


  Ferdinand adalah orang yang cerdas, keryingan di dahi Ardi, menandakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu tentang identitas tamunya ini.


   " Silahkan duduk pak Wisesa!" Ferdinand mempersilahkan.


  Pada dasarnya, Ardi adalah orang yang cerdas, dia segera paham, bahwa sosok yang di bawa Ferdinand adalah kliennya.


    " Silahkan duduk pak Wisesa!" Ardi mengulurkan tangannya lebih dulu.


  Dengan alasan kesopanan, Wisesa membalas uluran tangan tersebut.


    keduanya pun duduk dan memesan makanan.


  Ardi memesan Shabu Shabu, sedang Wisesa memesan sashimi, makanan penutupnya ada, mochi, kohi zeri, miju yokan dan purin, sementara untuk minumnya mereka memesan, aojiru dan uroncha.


  Bima dan Ferdinand, asisten keduanya, memilih makan di ruang makan umum, rasanya tidak pantas jika mereka makan semeja dengan bosnya.


  " Eh, kamu pesan apa?" tanya Bima kepada Ferdinand, terlihat sekali jika Bima tak familiar dengan makanan ini.


  Ferdinand menggelengkan kepalanya dengan cepat, " Aku tak makan, lidahku tak bisa beradaptasi dengan makanan ini, lidahku lebih cocok makan nasi uduk, aku mau pesan dessert saja, alias makanan penutup!"


   Keduanya pun sama sama melihat menu.

__ADS_1


    " Dari semua menu hanya satu yang aku tahu!" Bima mengutarakan pendapatnya.


   "Apa?" tanya Ferdinand, "jangan bilang kalau itu sake!" sambungnya kemudian.


    " Ha ha ha!" Bima tertawa, " tidak salah lagi, itupun Aku tahu dari film kartun Minggu pagi!"


  Keduanya langsung merasa akrab, merekapun akhirnya memesan makanan Padang, dari aplikasi ojol, di restoran itu keduanya hanya memesan makanan penutup saja.


    Sementara itu di ruangan tatami, Ardi memperlihatkan keramah tamahan pada Wisesa, melihat tingkah Ardi, Wisesa hanya tersenyum, itu sangat berbanding dengan sikapnya ketika ada di parkiran tadi.


    Keduanya mengobrol Hangat, tapi di hati keduanya, mereka tidak bisa mudah akrab dengan orang asing.


    Empat puluh lima menit sudah berlalu, pelayan sudah menyingkirkan peralatan makan di meja, saat ini, Bima dan Ferdinand sudah kembali ke ruang tatami, saatnya rapat di mulai.


    Ardi begitu bersemangat, menjelaskan keuntungan, jika es krim love kembali memasang iklan di stasiun televisinya.


  Seperti yang pak Wisesa ketahui, akhir akhir ini, Rating setiap acara yang ada di stasiun televisi kami sedang melejit, hal ini akan berpengaruh pada durasi iklan, yang akan di tayangkan, selain itu, kami akan menyisipkan iklan anda, di setiap adegan acara kami," Ardi memaparkan dengan sangat jelas dan detail.


     Kemampuan Ardi dalam bernegosiasi memang tidak di ragukan lagi, dia memiliki public speaking yang bagus, dengan keahlian tersebut, kemungkinan besar dia dapat memenangkan satu kursi anggota DPR RI.


  "Karena perusahaan anda sudah langganan, saya memberikan slot premium, jadi, iklan anda akan muncul pertama kali, ketika acara di jeda, saya juga memastikan, iklan anda akan muncul di prime time, saya membuka harga satu koma lima puluh dua triliun rupiah pertahun, Bagaimana?"


Semua sudah di sepakati, namun tiba-tiba Wisesa menyadari, ada yang salah dengan penjabaran yang di katakan Ardi.


Wisesa melirik kembali bahan meeting yang di cetak oleh Bima, jelas jelas di sana harga tidak berubah, harga tetap satu koma empat puluh lima triliun rupiah, masih sama dengan harga CEO sebelumnya Asyifa Prameswari.


Wisesa menyipitkan pandangannya, Bagaimana mungkin harga yang sudah di sepakati lebih awal, bisa meningkat mencapai tujuh puluh miliar rupiah? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres!" Dia berpikir keras.


Ardi masih terus meyakinkan Wisesa, agar memperpanjang kontraknya.



Ferdinand yang di sana mengikuti jalannya meeting sedikit heran, bagaimana bisa tiba-tiba ada peningkatan tujuh puluh miliar rupiah? bukankah di dokumen sudah di jelaskan, bahwa tidak ada kenaikan harga, kenapa pak Ardi menaikkan harga sesuka hatinya, dia baca gak sih, dokumennya?"Ferdinand sangat gemas dengan bosnya satu ini.



Gerakan yang di tunjukkan Ferdinand, tidak luput dari penglihatan Wisesa, Diapun mulai memahami sesuatu.


" Hmmp!" Wisesa berdehem.

__ADS_1


Seketika Ardi pun terdiam beberapa detik, sebelum dia melanjutkan, " Bagaimana pak! Anda pasti tertarik bukan?" Senyum sumringah selalu menghiasi wajah Ardi.



" Anda mengatakan harga satu koma lima puluh dua triliun pertahun, kami akan mendapatkan slot premium, prime time, dan akan di iklankan juga setengah acara?" Wisesa merangkum semua penjelasan Ardi.



Ardi mengangguk," Benar sekali pak Wisesa,"


" Saya akan langsung ke intinya saja pak," Wisesa menarik nafas sebentar, sebelum dia mengemukakan pendapatnya, " Saya tidak bisa melanjutkan kontrak".


" Jleb!" pernyataan itu menusuk jantung Ardi, senyum yang tadinya kaku sekarang membeku.


" Saya percaya pada perusahaan Anda, tetapi saya tidak percaya Anda, seperti yang sudah di sepakati di awal, harga pertahun tetap di angka satu koma empat puluh lima triliun rupiah pertahun, itu sudah tercantum dalam dokumen ini," Wisesa menunjukkan dokumen yang ada di atas meja.


Saya tidak tahu, kenapa tiba-tiba ada kenaikan harga tanpa konfirmasi terlebih dahulu, apa tujuh puluh miliar itu akan anda gunakan sendiri, saya tidak tahu, tapi yang saya tahu, anda baru saja kehilangan rumah dan mobil, bahkan sekarang anda tinggal menumpang dengan orang tua Anda".



Wajah Ardi berubah warna, Auranya menghitam, sehitam arang.


Bukannya saya mengusik kehidupan pribadi anda, saya paling benci, di manfaatkan siapapun, di sini, anda mencoba menipu saya!" Wisesa makin memojokkan Ardi.


" Terlepas dari itu, saya tidak mungkin menjalankan kontrak dengan perusahaan yang plin plan, di atas kertas mengatakan A di lisan mengatakan B, Bagaimana nanti jadinya, jadi sebelum melanjutkan penandatangan ini saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak!" Wisesa melanjutkan.


Ferdinand terdiam, dia tidak bisa berkomentar apa-apa, tujuh puluh miliar bukan jumlah sedikit.


" Baiklah pak Ardi, saya permisi dulu, terima kasih sudah menemani saya makan siang, saya berharap, hubungan pribadi kita tetap hangat layaknya saudara, permisi," Wisesa berdiri dan mengajak Bima keluar, sebelum itu mereka membayar tagihan restoran, hitung hitung mengurangi kesedihan Ardi.



Ardi mematung, Ferdinand tak berkomentar apapun.


Sementara itu, Asyifa dan Melinda menghabiskan waktu di mall bersama, mereka berbelanja, pakaian, kosmetik, menonton film, bahkan mampir ke salon, merek benar benar menikmati hidup.


Ketika mereka memutuskan untuk makan di salah satu food court, Asyifa tanpa sadar melihat Camilla di gerai lainnya, dia bersama seseorang yang tidak asing, dia seperti pernah melihat laki laki yang bersama Camilla.


****

__ADS_1


__ADS_2