
Episode #120
Malam semakin larut, pesta pun telah lama usai, Angga terus berjalan , semua pegawai yang berpapasan dengannya menunduk hormat, Angga hanya mengangguk dan mengabaikan mereka.
Angga sampai di depan pintu kamar yang dia tuju, tanpa ragu dia mengetuk pintu.
"Tok! Tok! Tok!" Suara ketukan terdengar nyaring.
Seseorang yang berada di dalam kamar sedang mengoleskan krim ke wajahnya, dia mendengar tapi mengabaikan suara ketukan itu.
"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan semakin nyaring dan kuat.
" Siapa sih, larut malam begini masih ketuk ketuk pintu!" Cebik penghuni kamar itu, Diapun memilih mengabaikannya dan merebahkan diri di ranjang.
"Tok! Tok!Tok!" Kali ini bukan suara ketukan lagi, tetapi suara gedoran pintu.
Beberapa tamu yang sedang beristirahat penasaran dan melihat, akan tetapi mereka kembali menutup pintu setelah tau yang mengetuk pintu adalah tuan muda Angga Kusuma, sebagai orang yang waras mereka lebih memilih untuk mengabaikannya dan menutup kembali pintu mereka.
Mendengar suara gedoran yang keras, penghuni kamar itu turun dari ranjang dan segera memakai sendal lalu berjalan menghampiri, " Siapa sih, tengah malam begini masih saja mengganggu orang, gak tau apa orang kepengen istirahat, Ganggu aja, Nyebelin!" cebiknya kesal.
"Tok! Tok! Tok!" suaranya semakin keras.
Penghuni kamar itu semakin jengkel.
Dia segera membukakan pintu, begitu pintu di buka, ribuan kata kata yang ingin dia lontarkan seketika hilang, dia membeku setelah melihat siapa yang datang mengganggunya, seseorang yang tak ingin dia temui, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
" Ang,... Angga,. ini sudah malam, ada perlu apa? Apa ada hal mendesak yang bisa aku bantu?" ucapnya selembut mungkin, saat dia berbicara dengan pewaris dari keluarga Kusuma, wajahnya kalem, dan tetap sopan, menunjukkan karakter lembut dan polos.
Angga segera masuk tanpa di persilahkan, dia segera duduk, menyampirkan selimut dan duduk di atas ranjang, ekspresinya cuek.
__ADS_1
" Tamara,. " panggil Angga dingin.
Tamara mendongakkan wajahnya, berbagai pertanyaan begitu nampak di wajahnya," Ya,.." Cicitnya pelan.
" Tutup pintunya!" perintah Angga.
Tanpa menunggu lama, Tamara langsung menutup pintu.
Angga merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya dan memainkan sebentar, lalu terdengar bunyi, " Ting!" disertai getaran ponsel Tamara yang di letakkan diatas nakas.
" Buka ponselmu," Angga mengambil ponsel Tamara dan melemparkannya ke arah Tamara.
Dalam keadaan dag dig dug dia membuka ponselnya, keringat mulai terlihat di pelipisnya, padahal ruangan tersebut cukup dingin dengan pendingin udara.
Tanpa menunggu lama, Tamara segera memutar sebuah video yang berisi pengakuan seorang anak buah kapal yang Tamara suap sebesar lima juta kepada anak buah kapal tersebut.
Wajah Tamara seketika menjadi pias, " Ini,..Ini,.." dia tidak bisa mengatakan apa apa.
" Sekarang apalagi alasanmu?" Angga menatap tajam perempuan itu.
" Aku,..Aku,.." Tamara tidak bisa berkata-kata, dia langsung berlutut, dia menundukkan wajahnya, air mata sudah menghiasi pipi perempuan itu, mengikis krim malam yang sudah dia oleskan.
__ADS_1
' Aku,.. Aku, bersalah" ucapnya dengan suara bergetar.
" Ha ha ha !" Suara tawa Angga menggelegar seisi ruangan, tawanya terdengar seperti dewa Yama, dewa kematian.
" Sepupuku sayang! Seandainya aku tidak menyelidiki ini dan mendapati kebenarannya, apa Kamu merasa bersalah? Tadi di pesta kau begitu menikmati setiap detiknya, jika kau merasa bersalah, pasti kegelisahan menguasai dirimu, Benarkan?" Angga mengatakannya setelah menunduk dan mencengkram dagu Tamara, sehingga mata tamara dapat melihat kemerahan yang terpampang jelas di mata Angga.
Tamara mendesis kesakitan, Angga segera melepaskan cengkramannya, lalu mencuci tangan di wastafel, setelah itu dia mengelap tangannya dengan tisu, dan melemparkannya ke wajah Tamara.
Tamara tidak bisa berbuat apa-apa, dia mengepalkan tangannya, matanya menyiratkan kebencian.
" Aku tidak bisa berbohong pada Nona May dan Amar, setelah ini aku akan menyerahkan bukti ini padanya, keputusan ada di tangan mereka, Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, membawa ke jalur hukum atau tidak," Angga mendesah pelan, seolah olah dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Jangan,.. Jangan beritahu mereka,.. Aku tidak ingin di penjara, Hiks,..Hiks,..Hiks,.." Suara isak tangis menggema di ruangan itu.
" Maaf, Aku tak bisa membantumu saat ini, walaupun Aku menyembunyikan kebenarannya, apakah Amar tidak akan menyelidikinya?" Angga bersikap seolah pasrah.
" Aku sarankan kamu, untuk mengaku kepada Nona May, di hadapan kakek dan nenek, Dengan mengaku di depan kakek dan nenek, setidaknya Nona May, bisa memaafkan mu dan tidak akan membawamu ke polisi, karena memandang keduanya, itu hanya saranku!" Setelah mengatakan itu Angga pergi meninggalkan Tamara yang masih berlutut di lantai, lelaki itu bahkan tidak menoleh sedikitpun.
Setelah Angga pergi, Tamara langsung membanting pintu dengan keras, dia menyugar rambutnya dengan frustasi, " Semua ini gara gara Charlie, Brengsek!" Tamara melemparkan semua yang ada di meja rias, untuk melampiaskan kemarahannya, dia kemudian terduduk dan menangis pilu untuk waktu yang lama.
Di sisi lain, Angga hanya tersenyum saja menuju kamarnya, dia tidak perduli sedikitpun pada Tamara, malam ini dia sangat berbahagia, karena mendapat keuntungan dua kali lipat, Dengan adanya insiden ini, Angga bisa membuat Tamara bisa membenci Charlie dan para kroninya, dia membayangkan, bagaimana kemarahan sang kakek akan menghancurkan gadis itu, sehingga membuat hubungan para sepupunya retak dan saling menjatuhkan, Keuntungan kedua yang membuat dia tersenyum adalah, besok dia akan menemani Carrey, ke pulau komodo dan pulau Rinca, kesempatan ini tak akan dia lewatkan begitu saja, Amar memintanya untuk menggantikan dia ke dua pulau tersebut, membayangkan momen kebersamaan besok, Angga Sudah tidak bisa menahan diri, untuk melihat sinar mentari besok.
Angga pun kembali ke kamarnya dengan bersiul siul gembira, para anak buah Angga yang melihat hanya bisa saling melirik dan mengeryitkan dahinya, " Sejak kapan bosnya bisa bersiul, dan memperlihatkan wajah bodoh seperti itu?"
Angga segera masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya sebelum beranjak tidur, ketika berbaring, dia mengambil ponselnya dan memandang foto Carrey ketika jaman kuliah dulu, diapun mencium ponselnya dan tersenyum sebelum tidur, hatinya sangat bahagia.
Di sisi lain, Charlie mendapat info, jika Angga menggedor pintu kamarTamara, dia sudah menduga, bahwa Angga tidak akan tinggal diam, dan akan mencari bukti kebenarannya.
" Dasar Tamara bodoh! Untung aku bisa menahan diri," pikirnya dalam hati, Charlie sedikit penasaran, hal apa yang akan menimpa gadis itu esok hari.
****
__ADS_1