Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Berangkat ke London


__ADS_3

Episode #36


  Sementara itu, Asyifa sudah keluar dari kedutaan bersama Ferdinand.


  " Semua berkas sudah siap Ferdinand, kita akan secepatnya berangkat ke London, persiapkan dirimu, jangan lupa berkemas!" Asyifa menepuk pundak Ferdinand.


  Di bandara Soekarno Hatta.


   Sebelum check in, Hamdan Hutapea menepuk pundak Asyifa hangat, " Jaga diri baik baik ya Syifa, kalau ada masalah dan tidak kerasan di sana, kembalilah ke negara kita, om dan bibimu selalu menyambutmu dengan tangan terbuka, urusan Wijaya Kusuma serahkan saja semuanya pada om," Hamdan Hutapea tak dapat menyembunyikan kesedihannya, matanya sedikit basah.


     "Sayang, selalu beri kabar ya, ingat, jaga kesehatan dan jangan makan sembarangan!" peluk bibi Arimbi, istri Hamdan Hutapea.


    Tia pun memeluk Asyifa," Aku pasti merindukan mbak Syifa, jaga diri di sana ya Mbak!" tangis Tia pecah, sesekali terdengar suara isakan.


  Sekarang giliran Bastian," Nona Boss, jangan khawatir masalah pekerjaan di sini saya akan menangani semuanya, tetapi, berkabar ya Nona Boss, kita disini semuanya menunggu kabar terbaik dari Nona Boss!"


  " Thanks Tian!" Asyifa mengusap matanya yang mulai banjir, inilah sosok orang orang yang sangat perduli dengannya.


    Selain mereka, ada juga Song Chai Mi, tetapi dia tidak bisa mengantar ke bandara, kondisinya yang sedang berbadan dua membuat Arif sangat protektif terhadap istrinya tersebut, sementara itu Melinda sedang di pingit, dia tidak boleh keluar rumah sampai dua Minggu, pernikahannya yang sempat tertunda dengan Arsyad akan di gelar, Asyifa bahkan sudah memberikan kado dan ucapan kepada keduanya.


    Du sisi lain, Ferdinand tak henti hentinya di nasehati ibunya.


    " Ingat ye, lu kagak boleh pulang sebelum bawa bini, atau Calon bini!"


  " Lu juga jangan nyusahin neng Asyifa terus!" enyak menasehati berkali-kali, " Ingat pesan Enyak?"


  " Iye Enyak, aye udah inget semua yang Enyak pesankan, ini, aye udah buat daftarnya di hape aye!" Ferdinand menunjukkan daftar pesan yang Enyak katakan di catatan ponselnya, pesan Enyak ratu tercinta.


    Enyak mengangguk anggukan kepalanya dengan puas.


    Asyifa melambaikan tangannya, menyuruh Ferdinand untuk segera check in.


  "Enyak, di panggil Bu Boss tuh, waktunya check in," Ferdinand menggandeng ibunya menghampiri Asyifa.


  " Neng, kalau si ferdi nakal di sono, geplak aja kepalanye ya Neng, Aye Ridho!" Enyak memberikan ijin.

__ADS_1


  " Beres, Nyak, kami pamit dulu ya nyak, mohon doa restunya Nyak," Asyifa memeluk Enyak, bergantian dengan Ferdinand.


  Asyifa dan Ferdinand pun melangkah untuk check in, Enyak dan yang lainnya melambaikan tangannya, Mereka semua mengucek mata mereka yang tiba tiba menjadi basah.


  Enyak segera berlari menuju toilet Terdekat, dia tidak tahan menumpahkan air matanya, ini pertama kalinya dia berpisah dengan Ferdinand selama dan sejauh ini, walaupun begitu, demi masa depan Ferdinand dia sungguh ikhlas, beginilah cinta seorang ibu, berusaha tegar melepaskan anaknya, dan kemudian terisak menangis di kesendiriannya.


    Hamdan Hutapea dan Arimbi memahami perasaan seperti ini, hal yang sama juga di rasakan kebanyakan orang tua di luaran sana.


    Saat ini Asyifa dan Ferdinand sedang check in, Mereka tinggal menunggu panggilan untuk penerbangan Mereka.


  Asyifa membuka ponselnya, dan sebuah pesan masuk dari Angga.


  Angga: Safe flight ya syifa, jangan lupa, berkabar kalau sudah sampai, Titip salam dengan sungai Thames, maaf Aku tak bisa mengantar, Aku sedang menjaga kakek di rumah sakit.


  Asyifa hanya menjawab dengan ucapan terima kasih, kemudian dia menutup ponselnya.


  " Jantungku berdebar Bu Boss, Percaya atau tidak, ini penerbangan pertamaku!" Ferdinand mengusap usap kedua tangannya, untuk meredakan ketegangan yang ia rasa.


    " Ha ha! Aku tidak menyangka bahwa penerbangan pertamamu akan memakan waktu tujuh belas jam, dan langsung ke benua biru," Asyifa mencoba meredakan ketegangan yang di rasakan Ferdinand.


   Tak lama, panggilan kepada penumpang sudah berkumandang, Asyifa dan Ferdinand langsung ke garbarata setelah pemeriksaan tiket, mereka akan transit selama satu jam di Dubai, sebelum melanjutkan penerbangan ke London.


***


   Sementara itu di mansion keluarga Jhonson di London.


  " Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Edmond, kau yang dulu mengusir Lady, dari mansion ini, dan sekarang kau mencarinya? " Ha ha ha! Kau sangat pintar membuat lelucon!" Edhena, sang kepala pelayan menceramahi Edmond Jhonson, kepala keluarga Jhonson, yang sekarang memiliki gelar, kebangsaan Marquez, yang tingkatannya di bawah Duke.


    Edhena adalah kepala pelayan yang sekaligus sahabat istrinya Edmond, Leticia dari Meksiko.


  Saat ini keduanya sedang berada di sebuah taman, peninggalan leticia, hanya Edmond dan Edhena yang memiliki akses ke sana, anggota keluarga yang lain dilarang masuk.


    " Edhena,..." Edmond Jhonson menggelengkan kepalanya," Kau tahu kejadian waktu itu, para ular itu memfitnahnya, dan aku tak tahu harus berbuat apa!" Edmond terlihat sangat sedih.


  " Setidaknya sebagai seorang ayah, kau tahu bagaimana bersikap, dengan menanyakan terlebih dahulu, tapi sudahlah, semuanya telah terjadi, dan tak akan bisa di kembalikan lagi!" Edhena mendesah kecewa, dia masih menyayangkan sikap Edmond kala itu.

__ADS_1


  " Baiklah, sekarang aku akan menceritakan kejadian sebenarnya padamu Edmond, ini semua atas nama sahabatku, leticia, semoga dia beristirahat tenang di surga!" Edhena menarik nafas panjang.


  Edmond mendengarkan dengan seksama, matanya berbinar, dengan ucapan terima kasih.


  " Tunggu di sini, Aku akan mengambil sesuatu dari kamarku!" Edhena kemudian meninggalkan Edmond di taman.


  Tak berapa lama, Edhena kembali dengan membawa sebuah foto, dan menyerahkannya pada Edmond.


  Mata Edmond berkabut, dia mengusap foto itu berkali-kali, kerinduan itu tak bisa di pertahankan, pertahanannya akhirnya runtuh.


  " Ya, seperti yang kau duga, gadis kecil itu adalah Cucumu satu satunya, putri dari Lady," Edhena berbicara ketus.


  " Di mana,.. Dimana mereka sekarang tinggal? Aku akan menjemputnya pulang!" Edmond sudah tak bisa menahan dirinya.


    " Selama ini, Lady menikah dengan seorang yang sangat mencintai dia, lady mengganti namanya menjadi Flora, sayangnya, foto itu di ambil, saat terakhir dia berlibur ke London, Dia mengajakku bertemu, dan menanyakan tentang keadaanmu, Lady,..Lady sangat mencintaimu!" Edhena menghentikan ucapannya sejenak, sebelum dia melanjutkan," Dia,..!" Edhena tidak kuat menahan tangisnya, " Lady sudah tidak ada Edmond, dia mengalami kecelakaan tragis di negara suaminya, baik dia maupun suaminya sama sama tidak tertolong, Aku mengetahui hal itu, karena ada seseorang yang mengirimkan email kepadaku, sahabatnya lady, Helena!"


DUAR!"


Dunia Edmond seakan runtuh, tubuhnya membeku, untuk beberapa saat, jiwanya seakan tercabut, dan di hempaskan kembali ke badannya, rasa sakit kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya, rasa sakit yang sama ketika leticia meninggalkannya untuk selamanya.


" Tak pernah ada kontak lagi setelah itu, Edmond, jika di hitung, usia anak Lady sekarang sudah memasuki di akhir dua puluhan, Aku ingin sekali bertemu dengannya, sayangnya, Aku lupa siapa nama aslinya, karena Lady selalu memanggilnya dengan panggilan "Love" edhena mendesah pelan, seakan dia menyesal, kenapa waktu itu dia tidak menanyakan nama asli cucu dari sahabatnya tersebut.


" Aku ingin sendiri dulu Edhena!" pinta Edmond.


Edhena mengerti, Dia meninggalkan Edmond di sana dengan segudang rasa penyesalan yang tak berkesudahan, foto Edhena, Lady dan cucunya di peluknya begitu dalam.


" Lady, maafkan Daddy, Semua karena keegoisan Daddy!" Air mata Edmond mengalir menganak sungai.


Sayangnya, tidak ada obat penyesalan di dunia ini.


***


Sementara itu, Asyifa yang sedang berada di dalam pesawat, merasakan perasaan yang tidak mengenakkan.


****

__ADS_1


.


__ADS_2