
Episode #48
Asyifa pun sudah memikirkan ini jauh hari, Dia memang bertujuan untuk mencari Amar kesana, sebuah kebetulan, " Baiklah Wilson, Sebaiknya kita berangkat saja bertiga dengan Jasmine, itu pasti seru!" Asyifa menyerahkan alamat apartemennya.
" Baiklah Asyifa, terima kasih sebelumnya!" prof Wilson berkata tulus.
Asyifa mengangguk, " Kalau Begitu, saya permisi dulu!" kemudian Asyifa bangkit, dan berjalan menuju pintu.
Prof Wilson memandangi punggung Asyifa hingga menghilang di balik pintu, kemudian dia membuka laci kerjanya dan mengambil bingkai foto dia dan istrinya.
Prof Wilson menghela nafas panjang, dia mengusap foto itu beberapa kali," Wanita itu sungguh mirip denganmu honey, Walaupun begitu, Aku tahu jika dia bukanlah kau!"
Sementara itu, Asyifa kembali ke bangku taman tersebut, " Aku lapar sekali, untung Aku membawa bekal burrito,"
Asyifa kemudian membuka bekalnya.
Belum sempat dia menyuapkan burrito tersebut ke mulutnya, seseorang menghampirinya." Nona muda, Bolehkah saya duduk?"
Asyifa menoleh, Seorang laki laki tua menghampirinya.
" Silahkan kek! Silahkan duduk!" Asyifa mempersilahkan, kakek tersebut untuk duduk.
Asyifa memperhatikan kakek itu lebih dalam, entah kenapa dia merasa familiar dengan wajahnya," Mungkin dia petugas kebersihan di sini, makanya wajahnya tidak asing!" pikir Asyifa.
" Kakek mau burrito?" Asyifa menawarkan burrito yang sudah dia kemas dalam wadah.
Kakek itu menoleh, Dia seperti meminta kepastian pada Asyifa.
" Ini buatan saya sendiri kek!" jawab Asyifa.
Belum sempat si kakek tersebut mengiyakan, alarm Asyifa berbunyi, kemudian dia teringat, jika dia sudah berjanji dengan salah satu pengurus apartemen.
Kemudian Asyifa membereskan bawaannya," Kakek, ini buat kakek saja ya, Saya terburu-buru, maaf kek!"Asyifa langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Si kakek hanya bisa tertegun saja," Anak muda sekarang, semakin sibuk saja," pikirnya.
Si kakek kemudian menggerutu," Si kakak beradik, Moana dan Raya ini, kemana sih? Katanya mau ikut ke bandara, menjemput Walt! Dasar perempuan!"
Walt memang di jadwalkan pulang, dia mendapatkan hari libur, biasanya kakek dan dua adik perempuannya akan menjemputnya di bandara.
Tanpa sadar si kakek mengambil burrito yang di tinggalkan Asyifa untungnya tersebut, dan memakannya.
__ADS_1
Di gigitan ke tiga si kakek tertegun,
matanya langsung basah, " Bagaimana bisa, burrito ini rasanya sama seperti yang di buat oleh Leticia? Hanya ada satu orang di dunia ini, yang dapat membuat burrito dengan rasa yang sama, yaitu Lady! Tunggu dulu, tadi, bukannya gadis itu mengatakan jika dia yang memasaknya sendiri, siapa gadis itu sebenarnya? Apakah, dia,..?"
" Kakek!" Moana berteriak, dia melambaikan tangan dan berlari ke arah kakeknya, Edmund.
Teriakkan itu menyadarkan Edmund, dia langsung memasukkan sisa burrito itu kedalam tasnya, dia akan menunjukkannya kepada Edhena, entah bagaimana reaksi Edhena ketika mencicipinya.
" Moana, Dimana Raya sekarang? Sebentar lagi pesawat Walt akan mendarat, kita harus segera bergegas untuk menjemputnya!" Edmund beberapa kali melihat arloji di pergelangan tangannya.
Moana langsung duduk di bangku taman tersebut," Tenanglah kek, walaupun pesawat walt akan mendarat, dia harus mengantri di bagasinya juga, apalagi dia dari luar negeri, dia harus berurusan dengan bea cukai terlebih dahulu, Sudahlah kek!"
Edmund mendengus," Coba hubungi Raya, tolong bilang sama dia, kalau kita menunggunya di sini!"
" Baiklah!" Moana langsung mengeluarkan telpon genggamnya, dia mencari kontak dengan nama, little sist, dan kemudian menelpon Raya, mau tidak mau Moana harus melakukannya, untuk menenangkan kakeknya, Dia tahu benar, Sifat kakeknya yang sangat disiplin, dan sangat menghargai waktu, hal itu tak lepas dari fakta bahwa, orang tua itu adalah seorang mantan tentara.
" Kau dimana? Aku dan kakek sudah menunggumu dari tadi, Kakek sudah mengomel sedari tadi!" Moana bertanya.
" Iya, sebentar lagi Aku kesana, Aku baru selesai konsultasi dengan Professor pembimbing Aku, kau kan tahu sendiri, Aku baru mulai ikut program magister, sudah ya, aku akan bersiap siap kesana!" Raya langsung mematikan ponselnya.
" Kakek dengar sendiri kan, Kita tunggu saja ya kek?" Moana membujuk kakeknya.
Edmund mengambil satu lagi, makanan khas Meksiko itu, dia langsung memakannya, rasa kerinduan pada leticia dan lady seketika hilang, Dia merasakan sebuah kehangatan, dan dia mengingat ketika istrinya mengajari Lady, untuk membuatnya, Edmund berimajinasi sedang berada diantara keduanya.
Mendengar tidak ada suara apapun dari kakeknya, Moana merasa heran, biasanya kakeknya akan mengoceh panjang kali lebar, jika salah satu diantara keduanya tidak dapat menghargai waktu, namun kali ini kakeknya terdiam,"Aneh!" akhirnya Moana mengalihkan pandangannya ke arah kakeknya, dan melihat sang Marquez itu larut dalam lamunannya, Badan kakeknya disini, tapi jiwa kakeknya entah berada di mana.
Moana memperhatikan jika di tangan kakeknya, ada sebuah kotak bekal berisi burrito berada di pangkuan sang kakek, "Sejak kapan kakek makan burrito lagi? bukankah sejak nenek meninggal, dia sudah memutuskan untuk tidak makan burrito lagi, karena dia menganggap, tidak ada burrito yang rasanya sama seperti milik istrinya, leticia!"
Diam diam Moana penasaran dan segera menjangkau kotak makan tersebut, dia mengambil satu burrito, dan tanpa sepengetahuan Edmund dia menggigitnya.
Gigitan pertama,.. Gigitan kedua,.. dan Gigitan ketiga, Aarg!" Moana berteriak.
Edmund langsung tersadar, dia melihat cucunya tersebut, Melihat ada burrito di tangan Moana, dia bisa menebak, kenapa cucunya berteriak seperti itu.
" Kakek,. ini,...!" Moana tidak dapat melanjutkan perkataannya, dia memakan lagi burrito yang tersisa di tangannya hingga tak bersisa, dia bahkan tak ingin mempercayai Indra pengecap nya.
Tangan Moana terjulur, dia ingin makan satu lagi.
Plak!" tangannya langsung di pukul oleh Edmund, " Ini milikku!" ucapnya ketus, sambil menutup kotak makan itu dan menyembunyikannya.
" Kakek, Aku mau lagi, minta ya! Ini seperti burrito buatan nenek!"Moana merengek, wajahnya begitu memelas kedua tangannya menempel di dada dan membentuk segitiga," Boleh ya kek, pleeease!" mohon Moana begitu menghiba.
__ADS_1
Edmund hanya bisa menghela nafasnya, Dia menyerah, " Boleh, tapi ada syaratnya!" tegas Edmund.
" Baiklah kek, katakan saja apa syaratnya! asalkan tidak menyuruhku menikah dengan sembarang orang, aku pasti akan lakukan apapun untuk kakek, Aku janji!"Moana mengangkat tangannya dan menunjukkan jari kelingkingnya, " Jari kelingking!"
Edmund hanya tertawa saja, Diapun membiarkan Moana menyentuh kotak bekal itu, " Makanlah, setelah itu berjanjilah padaku, untuk menemukan pemilik kotak bekal ini!"
Moana terkejut," Mencari pemilik kotak bekal ini? Bagaimana mungkin kek? Kampus sebesar ini, tak mudah untuk mencari pemilik kotak bekal makanan yang sangat pasaran, aku bukan detektif atau polisi, yang bisa memeriksa sidik jari, dan memasukannya kedalam komputer, kemudian datanya muncul, Terlebih lagi, tidak ada kamera pengawas di sini, kakek ternyata sudah mulai pandai bercanda sekarang,Ha ha ha!" Moana terkekeh.
Sementara itu, Setelah selesai konsultasi dengan profesor pembimbingnya, Raya, berlari begitu terburu-buru, melewati lorong bangunan, " Aduh, Mampus deh aku kali ini, pasti kakek marah besar!"
Raya terus berlari dengan beberapa dokumen di tangannya, melihat dia yang sangat terburu-buru, orang lainpun memberikan jalan.
" Permisi! Permisi!" ucap Raya ketika berusaha menembus kerumunan orang.
" Gedebug!" Suara buku dan dokumen beradu, keduanya terjatuh kelantai, Raya menabrak seorang laki-laki,
" Maaf,. Maaf sekali, Aku terburu-buru!"Raya sudah membereskan bukunya.
Sama dengan lelaki itu, yang segera membereskan dokumen miliknya, yang juga terjatuh.
" Iya, tidak apa apa, Aku juga kurang waspada, jadi tidak melihat Nona!" jawab lelaki tersebut.
Kemudian, ketika mereka ingin bangkit berdiri, kepala keduanya berbenturan.
" Aakh!" Teriak keduanya.
Keduanya pun langsung mengangkat wajahnya masing-masing.
Keduanya terdiam, dan seperti tersihir, keduanya saling bertatapan, Raya lebih dulu tersadar, dia kemudian bangkit" Maaf untuk sekali lagi sir,"
laki laki itu menggeleng, jangan panggil aku dengan panggilan sir!" rasanya terlalu formal, panggil saja aku Ferdinand!" Ferdinand menjulurkan tangannya.
Raya seolah terhipnotis dengan penampilan cool Ferdinand, selama ini dia memang menyukai pria berkulit sawo matang, jadi, menurutnya, Ferdinand sangat masuk dalam kriterianya.
" Nona!" panggil Ferdinand lagi.
Raya seakan baru tersadar," Oh ya!" Dia membalas uluran tangan tersebut.
Tolong jangan panggil aku nona, panggil Raya saja!" entah kenapa pipi Raya bersemu merah.
****
__ADS_1