
Episode #41
Asyifa bertemu dengan seorang auditor PRAMESWARI group, seorang perempuan yang sangat handal, Fany namanya, namanya cukup terkenal di kalangan auditor.
"Fany, kenalkan ini Humaira Pramesti, dia yang akan menemanimu ke PT GARUDA TV NUSANTARA, hari ini," tunjuk pak HAMDAN, kearah wanita di depannya.
Fany langsung menoleh ke arah Asyifa alias Humaira, perempuan yang di tunjuk oleh pak HAMDAN, dia terkesan dengan penampilan Humaira untuk pertama kali, wanita itu begitu anggun dan elegan, kecantikan yang di milikinya begitu unik, kecantikan sang Dewi Yunani, Dewi Athena.
Fany menjulurkan tangannya ke arah Humaira untuk memperkenalkan diri,. " Fany lestari! panggil saja Fany,!"
Asyifa membalas uluran tangan Fany, sehingga mereka berjabat tangan sebentar, sebelum dia berkata, " Panggil saja saya May,"
Pengacara Hamdan kemudian mengungkapkan semua kecurigaannya, tentang laporan palsu yang di berikan oleh pihak PT GARUDA TV NUSANTARA, pak HAMDAN juga memberikan data kepada Fany untuk di audit, dan meminta pihak PT GARUDA TV NUSANTARA untuk melakukan audit ulang.
Setelah paham dengan maksud dan tujuan yang di jelaskan oleh pak HAMDAN, keduanya langsung berangkat menuju kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, kantor Asyifa dulu.
Didalam perjalanan tidak banyak yang mereka perbincangkan, mereka hanya berbasa-basi sejenak, untuk menghilangkan rasa kecanggungan di antara mereka.
Dari basa basi tersebut, Asyifa mengetahui bahwa Fany sebelumnya adalah auditor lepas, yang tak terikat dengan perusahaan manapun, akan tetapi keluarganya menginginkan dia bekerja di sebuah perusahaan dan wanita itu memilih jadi salah satu auditor di Prameswari group.
" Kita sudah hampir sampai,"Ucap Asyifa, ketika melirik ke arah luar jendela, Fany hanya mengangguk.
Mobil mereka segera menuju parkiran, setelah di periksa satpam terlebih dahulu, ingin sekali Asyifa menyapa satpam yang selalu mengecek keadaan nya jika dia sedang bekerja lembur malam hari, namun tidak mungkin dia lakukan, dan akhirnya dia hanya mendesis lirih, " Pak Turismo"
Fany mendengar apa yang may desis kan, tetapi dia mengabaikannya, dia berfikir bahwa Asyifa sedang membaca nama satpam itu.
Dari parkiran, Fany dan Asyifa melangkah ke pintu depan, mereka terus melangkah tanpa berhenti untuk bertanya pada siapapun, Fany cukup heran, karena Asyifa terlihat cukup familiar dengan tempat ini, padahal untuk pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di sini.
Mereka sudah memasuki pintu depan, dengan percaya diri, Asyifa yang sekarang menjadi Humaira, langsung bergegas menuju ruangan CEO, ruang kerjanya dulu.
Para karyawan yang lain seketika menghentikan kegiatan mereka, ketika Asyifa dan Fany melewati mereka, bukan hanya paras Humaira yang begitu memanjakan mata, tetapi juga aroma parfum yang di tinggalkannya, mereka seperti Dejavu mencium aroma parfum Hermes 24 Faubourg, yang selalu di gunakan oleh CEO sebelumnya, ASYIFA PRAMESWARI, aroma parfum yang berasal dari beberapa kombinasi tumbuhan alami seperti, Cendana, yiang yiang, Nilam, Ambergris, bunga melati, bunga jeruk, tiare dan vanili, itu sangat sulit di lupakan, dan hanya seorang ibu Asyifa yang mampu memakai parfum seharga 20 juta tersebut.
Asyifa memang sengaja memakai parfum tersebut, dan sesuai dengan apa yang dia bayangkan, para karyawan seketika teringat tentang dirinya, dia cukup puas dengan hal itu, tidak bisa di sembunyikan, seutas garis lurus di bibirnya berubah melengkung untuk sepersekian detik.
Fany dari tadi memperhatikan Humaira yang tiba tiba tersenyum, dia ingin bertanya, tetapi dia cukup tau keadaan dan menahan dirinya dari rasa ingin tahu yang terlalu besar atau nama lainnya KEPO ( knowing every Partycular Object ) lagi pula mereka tidak terlalu akrab, belum lebih tepatnya.
Didepan ruangan CEO Fany mengetuk pintu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menjinjing tas kerja yang berisi dokumen.
Ardi yang berada di ruangan sedang fokus memeriksa berkas, ketika Ferdinand asisten pribadinya menerobos masuk dan mengatakan, bahwa di depan sedang ada pihak dari PRAMESWARI group.
Mendengar kata "PRAMESWARI group" Hati Ardi seketika panas dingin, dia mengkhawatirkan jika group dari mantan istrinya tersebut akan meminta ia mengembalikan kunci mobil sport nya dan kunci rumah, Jujur dia belum sanggup untuk kehilangan itu sekarang, akan tetapi dia mulai berpikir jernih, " Jika itu berhubungan dengan aset yang sekarang aku pakai, pasti itu berhubungan dengan pengacara kondang pak HAMDAN dan bukan langsung pihak PRAMESWARI group, pasti ini berhubungan dengan pekerjaan, mungkin aku yang berpikir terlalu jauh," Setelah menimbang beberapa saat Ardi mengatakan pada Ferdinand, " Persilahkan mereka masuk!"
Ferdinand keluar dari ruangan Ardi dan segera menghampiri Humaira dan Fany, merasa ada aroma parfum familiar, seketika ekspresi wajahnya berubah, Asyifa bisa melihat ada kerinduan di mata lelaki tersebut, bagaimanapun Ferdinand sebelumnya adalah asistennya, dan mereka cukup akrab dikatakan sebagai teman, di bandingkan sebagai atasan dan bawahan.
" Silahkan mbak, pak Ardi sudah menunggu,! ucapnya sopan kepada kedua wanita cantik itu.
Asyifa di ikuti oleh Fany, memasuki ruangan yang dulu adalah ruangannya, tak banyak perubahan berarti, hanya foto dirinya di atas meja saja sudah tak ada lagi, nampak sekali sang mantan suami tidak ada kepedulian sedikitpun, dia memang tidak bisa memungkiri perasaannya, ada sedikit kesedihan di hatinya, mau menyesal, marah, sudah tidak ada gunanya, yang ada sekarang adalah perasaan jijik, pada lelaki yang pernah memberikan neraka selama beberapa tahun belakangan ini.
Ardi terkejut, bahwa Prameswari group mengirimkan Humaira sebagai utusan, dia memperhatikan Humaira sesaat, gaya berpakaiannya begitu anggun, sangat pas ketika kekantor, dia juga membandingkan penampilan Humaira di pesta tadi malam, pesta ulang tahun tuan Wijaya Kusuma, seiring mengagumi kecantikan Humaira yang bsk Dewi Yunani dari Athena, hidungnya merasakan sebuah aroma yang sangat familiar, aroma dari Asyifa sang mantan istri, tiba tiba Ardi merasa kurang antusias.
__ADS_1
" Pak Ardi,!" Asyifa menegaskan ardi yang nampak terbengong.
Ardi gelagapan dan segera bisa menguasai dirinya, dia mempersilakan dua wanita itu duduk di ruang tamu yang ada di ruangan tersebut, ketiga nya segera melangkah ke sana, biar bisa berbicara dengan nyaman.
Setelah mereka bertiga duduk, Ardi memanggil Ferdinand agar segera ke ruangannya.
Ferdinand pun tiba tak lama kemudian, dengan sopan lelaki itu bertanya," Ada perlu apa pak?"
" Buatkan tamu kita minum, Bu May dan Bu,.." Ardi menggantungkan kalimatnya, dia belum tahu nama wanita yang bersama Humaira.
" Fany" ucap Fany secara tidak langsung memperkenalkan diri.
Ardi mengangguk dan menoleh ke arah Ferdinand, " Buatkan minuman untuk Bu Fany dan Bu may, oh ya, mau minum apa? tanya Ardi ramah, bagaimanapun mereka adalah utusan PRAMESWARI group, salah satu pemegang saham terbesar di PT GARUDA TV NUSANTARA ini.
" Saya apa saja mas, terserah!" jawab Fany cuek.
Asyifa hanya tersenyum melihat respon dari Fany, kemudian dia menoleh kearah Ferdinand , dia mengucapkan pesanannya," Saya black coffe ya mas, airnya harus mendidih sebanyak 25 ml, 2sendok kopi bubuk, 2 sendok gula pasir, udah gitu aja!"
Mendengarkan pesanan itu bibir Fany berkedut, dia tidak habis pikir dengan permintaan dari Humaira, " Dipikirnya ini cafe? bisa bisanya pesan begitu!
Ardi yang mendengar hanya tersenyum," Perempuan ini cukup unik" pikirnya.
Ferdinand kaget mendengar pesanan dari Humaira, itu persis kompisisi kopi yang di inginkan ibu Asyifa, jika dia menawarkan membuatkan kopi kepada atasannya, matanya sudah mulai basah, jika mengingat ibu boss nya itu, sebelum semua menyadari ada yang salah di matanya, lekas dia berkata, " Baiklah" dan segera ke pantry.
Asyifa langsung menatap Ardi, perasaan yang campur aduk menguasai hatinya, ingin sekali dia mencakar cakar wajah yang tampan itu, tapi itu hanya gejolak dalam hatinya saja, di permukaan dia nampak tenang seolah tidak terjadi apapun.
" Maaf, kami datang tanpa pemberitahuan apapun, kami datang kesini ingin meluruskan sesuatu!" Humaira langsung pada topiknya, dia tidak ingin berbasa-basi.
" Sebelumnya saya ingin bertanya pada pak Ardi, sebagai CEO baru di perusahaan ini," Humaira menatap tajam pada Ardi.
Ardi merasakan tatapan Humaira begitu menusuk, entah mengapa pandangan itu begitu familiar untuknya, beberapa waktu sebelum Asyifa kecelakaan, pandangan ketika Asyifa mulai bersikap dingin padanya, " Eh, kenapa aku malah teringat syifa,? mungkin karena wangi parfumnya yang sama,!" pikirnya, setelah menguasai diri, ardi akhirnya berucap," Silahkan nona!"
" Apakah anda tahu, berapa presentasi kepemilikan saham PT GARUDA TV NUSANTARA ini, di tangan PRAMESWARI group?" Asyifa alias Humaira, sebelumnya mengajukan pertanyaan lebih dulu sebelum maju ke topik yang lebih dalam.
" PRAMESWARI group, termasuk pemegang saham terbesar di perusahaan ini, dengan kepemilikan sekitar dua puluh lima persen, pembagian Deviden berlangsung dua kali setahun, setahu saya, pembayaran telah selesai di lakukan sekitar sebulan yang lalu untuk tahun ini, !" Ardi menjelaskan, kemudian dengan nada heran dia bertanya lagi," Apakah ada masalah?"
Asyifa mengangguk setuju atas perkataan Ardi, walaupun lelaki di hadapannya ini sangat buruk secara moral di matanya, tetapi dia cukup profesional dalam dunia kerja, tidak heran jika dia terpilih sebagai CEO walaupun tanpa kepemilikan saham sekalipun.
" Green," Asyifa berdehem sebelum dia melanjutkan," Sebagai salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini, apakah kami bisa melakukan audit di kantor ini dengan tim kami sendiri?"
Ardi mengeryitkan dahinya, baru kali ini dia menemukan kasus, pihak pemilik saham melakukan audit sendiri.
Melihat ekspresi Ardi yang meragu, alis Asyifa melengkung tajam, dengan nada dingin dia kembali bertanya," Apakah anda keberatan pak Ardi?"
Ardi mendesah, dia merasa ada yang tidak beres saat ini, kami selalu transparan pada saat pembagian Dividen, kami juga selalu mengirim detail laporan beserta bukti transfer pengiriman ke rekening pemilik saham, jadi tidak ada masalah jika di lakukan Audit kapanpun, kami siap!" Ardi menjawab dengan yakin.
Ardi sebenarnya dilema, dia belum tahu titik permasalahan sebenarnya, akan tetapi, jika dia menolak, dia takut pihak PRAMESWARI group akan menarik sahamnya, dan tentu akan merugikan pihak perusahaan, Dia tidak punya pilihan selain menyetujui.
Asyifa mengangguk puas, dengan tanggapan Ardi.
__ADS_1
Asyifa menatap Fany, dan wanita itu mengerti, dia segera mengeluarkan dokumen dari tas kerjanya, dan meletakkannya di atas meja.
" Kami menghargai dan transparansi dari perusahaan anda," Asyifa menjeda sejenak ucapnya, sebenarnya dia ingin sekali meralat kata kata itu, jelas jelas kalau pengiriman detail itu untuk transparansi adalah kebijakan waktu jadi CEO, segera ia melanjutkan,"Akan tetapi, kami menemukan kejanggalan, di laporan yang di kirimkan, dan jumlah Dividen yang di kirimkan, sebagai menu kita ketahui, bahwa perusahaan yang anda pimpinan sekarang, lebih maju dan bersinar dibandingkan pada beberapa tahun yang lalu, tetapi kenapa jumlah Dividen, yang kami terima itu, lebih sedikit dibandingkan sebelumnya, Setelah kami telusuri, sepertinya ada penggelapan dana, yang hanya di tujukan kepada group kami, jadi kami minta kerjasama untuk membongkar hal tersebut, Bagaimana pak Ardi?"
Ardi sudah tidak ada pilihan lagi selain bekerjasama, apalagi ini tentang jumlah Dividen yang jadi hak pemilik saham, Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham, berdasarkan banyaknya jumlah saham yang di miliki, jadi pihak PRAMESWARI group berhak, untuk mengaudit.
" Baiklah saya setuju, saya akan beritahukan kebagian Audit kantor" ucap Ardi.
Pembicaraan mereka terpaksa terganggu sejenak, Ferdinand datang dengan membawa tiga gelas kopi beserta cemilannya, kemudian dia pamit undur diri.
Pembicaraan pun di lanjutkan.
" Kami ingin memakai tim audit kami sendiri, bukannya saya tidak percaya dengan tim anda, tetapi kami ingin mengungkap pihak yang menggelapkan dana, untuk group kami!" Asyifa memperingati maksudnya.
" Baiklah, saya akan memerintahkan direktur keuangan dan timnya, untuk sementara, menangguhkan uang masuk dan keluar, selama audit berlangsung
!" setelah mengucapkan itu, Ardi beranjak berdiri, dia ingin ke meja kerjanya, untuk menelpon, bagian keuangan segera datang ke ruangannya.
Ketika dia hendak melangkah pergi, Asyifa menghentikannya.
" Tidak perlu pak Ardi, kami mengaudit tentang keuangan enam bulan kebelakang, jadi tidak usah di tangguhkan, sekarang saya hanya ingin, pak Ardi menghubungi dari pihak, IT , untuk menutup akses masuk ke data keuangan enam bulan kebelakang, sehingga tim kami bisa mengaudit nya sendiri!" Asyifa menjelaskan.
Ardi pun tetap beranjak ke mejanya, untuk menghubungi bagian IT untuk datang ke ruangannya.
Segera pihak IT langsung datang ke ruangan CEO, dan mereka langsung bekerja, menutup akses data keuangan enam bulan kebelakang, sesuai yang di perintahkan Asyifa sendiri.
" Baiklah pak Ardi, Fany akan memimpin tim audit kami di sini, kira kira kami membutuhkan waktu seminggu, untuk mengaudit, besok tim kami akan mulai bekerja!" kata Humaira, lalu mengambil gelas kopi dan menyeruputnya, rasanya pas, sepertinya Ferdinand masih lihat meracik kopi.
Setelah itu, mereka berbincang sejenak sebelum pulang.
Ardi sempat mengundang kedua wanita itu untuk makan siang bersama, tetapi dengan tegas, ditolak dengan Asyifa.
Kemudian Asyifa dan Fany pamit undur diri, ketika membuka pintu, ada Ferdinand di sana sedang duduk di belakang meja kerjanya, segera Asyifa menghampiri dan mengatakan, " Kopinya pas" dengan membentuk tanda OK, sambil mengedipkan sebelah mata, kemudian dia pergi tanpa mengatakan apapun.
Ferdinand masih termangu di tempatnya, bukan karena dia melihat kecantikan sang Dewi Yunani tersebut, tetapi, pada gesturnya, Bu boss nya Asyifa Prameswari, selalu melakukan itu, ketika dia selesai meminum kopi racikannya.
Sepanjang koridor kantor, Asyifa hanya tersenyum, dia membayangkan, bahwa saat ini AMI pasti sedang panik, satu Minggu adalah waktu yang cukup lama, membuat mantan adik iparnya itu, hidup tak tenang dalam kegelisahan dan ketakutan.
__ADS_1
\*\*\*\*