
Episode #126
Ardi pun menuntut Camilla ke kamarnya kamar sewaktu dia masih lajang, ketika dia membuka pintu, bau apek dan debu beterbangan.
" Uhuk, Uhuk,.." Keduanya terbatuk, Ardi segera mencari saklar lampu dan segera menyalakannya, namun kamar Ardi Sekarang sudah hampir menyerupai gudang, berbagai kardus dan peralatan rumah tangga yang sudah tak terpakai di simpan di sana, ada juga buku buku bekas dan pakaian yang tidak di gunakan lagi.
"Ini,..Ini beneran kita tidur di sini?" Camilla melongo tidak percaya.
"Iya, tolong kamu bersihkan dulu, aku akan mengambil barang-barang yang ada di mobil!" Ardi segera pergi, tanpa menunggu Camilla protes.
" In,..ini,.." Camilla kehilangan kata kata, sudah lama sekali dia tidak pernah bersih bersih rumah.
Ardi pun datang dengan kemoceng dan sapu di tangannya, dia menyerahkannya kepada Camilla, setelah itu dia menuju mobilnya, untuk mengambil barang-barang mereka berdua.
Camilla tidak punya pilihan lain, dia segera memakai masker dan menyapu, gerakannya kaku sekali, hatinya tak henti hentinya menggerutu, " kalau tau begini, lebih baik aku tetap tinggal di apartemen saja, niat jadi nyonya, malah jadi babu!" gumamnya.
Tak lama kemudian, Ardi pun datang dengan membawa dua koper di tangannya.
" Bantuin dulu, angkat barang barang ini keluar, baru angkat barang yang dari luar," Camilla berkata ketus.
Ardi tidak memperdulikan perkataan Camilla, tetapi tetap melakukan kata katanya, Satu persatu barang yang ada di dalam di keluarkan.
Kenapa sih, kita gak tinggal di hotel atau apartemen saja, kita gak perlu repot-repot begini, atau kita bisa beli rumah," Camilla mengutarakan pendapatnya.
" Gak bisa, untuk sementara kita tinggal di sini, uangku sudah cukup habis kemarin waktu membayar sebagian denda korupsi Ami, Aku juga harus membeli mobil baru, gak mungkin kan seorang CEO memakai mobil kantor terus, apa kata orang-orang? sudahlah, cepat bersihkan!"Ardi melanjutkan pekerjaannya.
Camilla diam dan hanya bisa mengomel dalam hatinya.
Mendekati jam tiga malam, akhirnya Ardi dan Camilla selesai bergotong royong membersihkan kamar mereka, keduanya langsung menjatuhkan diri dan tertidur.
Sementara itu di jam yang sama, di mansion tuan Wijaya Kusuma.
Di ruang galeri, nampak Rio ayahnya Angga sedang serius melukis, Angga yang tak sengaja lewat menuju taman, merasa heran dan menghampiri ayahnya.
__ADS_1
Mendengar suara langkah kaki, Rio tetap fokus melukis, dia tidak memperdulikannya sedikit pun.
" Papa!" sapa Angga.
" Hmmp!" Rio hanya menanggapi dengan deheman.
Angga pun melihat apa yang sedang di lukis ayahnya, dia menyipitkan matanya dan seketika terkejut.
" Ini Bukankah lukisan keluarga om Umar? Bukankah lukisan ini sudah lama terbengkalai pah?" Angga menyadari, papanya mulai melukis keluarga Asyifa kembali.
Rio hanya tersenyum menanggapi," Diantara lukisan papa, ini yang paling berharga". tegasnya, matanya sedikit basah ketika melukis Asyifa.
Angga hanya tersenyum getir.
" Setelah sekian lama, papa akhirnya mengingat wujud Asyifa, apa papa bertemu Asyifa?" Angga terus menatap lukisan Asyifa yang baru beranjak remaja.
Rio tersenyum, dia tidak mengatakan yang sebenarnya, dia malah mengalihkan pembicaraan," Apakah kamu ingat, kenapa papa meninggalkan perusahaan dan memilih menjadi pelukis?"
Angga melihat papanya dengan sorot mata bingung, Rio masih asik bermain dengan Kanvas dan kuasnya.
" Aku tidak terlalu ingat, setahuku itu terjadi setelah kecelakaan yang menimpa om Umar dan tante," Angga berusaha mengingat.
" Aku tidak terlalu ingat, Pa, Setahuku saat itu mereka menuju puncak ingin menghadiri pesta keluarga kita, kalau tidak salah ingat, pesta kelulusan aku tamat SMP,!" Angga menjawab dengan raut wajah bingung.
Rio menarik nafas besar, Dia berniat memberitahukan kepada Angga tentang kejadian sebenarnya, kali ini kuasnya mempertegas rambut mama Asyifa.
" Angga, Sebenarnya itu bukanlah kecelakaan biasa, itu adalah pembunuhan berencana!"
" Prang!" Gelas kopi yang di pegang Angga sedari tadi terjatuh seketika, dia terhenyak mendapatkan fakta tersebut.
" Mak,.. Maksud papa?" raut wajah Angga memucat.
Rio melepaskan kuasnya, dia mengajak Angga berkeliling taman, mereka memasuki labirin.
Udara dini hari terasa begitu menusuk kulit, Rio mempererat pakaiannya.
__ADS_1
" Kakekmu yang merencanakan semuanya, Rasa iri dan dengki, telah membutakan mata hatinya, hingga sekarangpun dia tidak pernah puas dengan pencapaiannya sendiri, apa kakekmu menyuruhmu mendekati Nona Humaira, hanya untuk bisa mengakses internal Prameswari group?" Rio melirik Angga dan kemudian tersenyum.
" Bagaimana papa bisa tau?" Angga tak menyembunyikan apapun.
" Aku telah mengenal kakekmu terlebih dahulu daripada kamu!" Rio pun menceritakan tentang persahabatan kakeknya dengan kakek Asyifa, dia juga menguak semua kejahatan yang telah kakeknya Angga perbuat pada keluarga itu, bahkan tentang Ardi, yang di peralat kakeknya untuk membuat Asyifa hidup sengsara tak luput dia ceritakan.
" Ini! ini! tidak mungkin!" Angga tidak dapat menyembunyikan rasa shock nya, jiwanya begitu terguncang, sosok yang selama ini di kagumi dan menjadi panutannya, ternyata sangat jauh dari bayangannya.
" Apa kamu menyayangi kakekmu dengan tulus?"Rio bertanya serius.
Angga mengangguk perlahan.
" Sayangnya, kakek mu tidak menyayangimu dengan tulus, sadarlah, selama ini kamu hanya jadi bonekanya saja!" Rio kemudian memutar ke belokan labirin dan menemukan jalan buntu, kemudian dia berbalik ke arah jalan tadi, Angga dengan setia mengikuti langkah papanya, dia ingin mendengarkan kejelasan lebih lanjut.
" Apa kamu mencintai Carrey?" sekali lagi pertanyaan Rio mengejutkan Angga.
" Itu,.. Itu,. " Angga kehabisan kata-kata.
" Kau bisa mengatakan, bahwa kau tidak memiliki perasaan apapun padanya, tetapi sayangnya kedua matamu terlalu jujur untuk mengatakan, ya,.. binar dan sorot matamu tak bisa di sembunyikan, Mamamu mengakui bahwa ia menyukai pribadi wanita itu, dan dia beranggapan kalau Nona Ramos itu sangat cocok sebagai Nyonya muda Kusuma".
Angga tersenyum, bayangan Carrey terlintas di kepalanya.
" Tapi kali ini, kau harus berjuang untuk mendapatkan cintamu, kakekmu berencana untuk menjodohkan kamu Dey Gu Yue, anak perempuan dari Gu Yan, seorang Taipan asal Macau, yang memiliki kasino terbesar di sana, kakekmu menurunkannya sebagai basis perlindungannya di sini, kau tau sendiri, sebanyak apa musuh kakekmu!" lanjut Rio.
Senyum Angga seketika menghilang, rona wajahnya sudah berubah, ada kesedihan, kekesalan dan kekecewaan di sana.
" Semua keputusan tergantung padamu, Oh ya, kamu harus ingat, satu hal penting lagi, seseorang sedang menargetkan keluarga kita, kamu harus berhati-hati untuk tidak terlibat, gunakan hati nuranimu untuk memilih sikap!" Rio memperingati Angga.
Rio pun segera mencari jalan keluar dari labirin, sementara Angga masih mematung di sana, berbagai pertanyaan membuat otaknya seketika berhenti bekerja.
Rio kembali ke kamarnya, dia lega, karena sudah memenuhi janjinya pada Helena, perihal kelakuan ayahnya sendiri, dia berharap, kali ini Angga bisa mengambil sikap.
__ADS_1
****