
Episode #19
Sementara Asyifa atau Humaira masih tertawa bahagia ketika memikirkan akibat keisengannya membuat sang ibu mertua harus di rawat di rumah sakit karena shock atas perhiasan palsunya.
Ani di sidang habis habisan oleh Andreas suaminya, sementara suami dari Ami tidak mau ikut campur karena memang di sini istrinya yang bersalah.
" Jadi, itu perhiasan dari mana?" Andreas bertanya dingin dan datar, ingin sekali dia berteriak tetapi dia ingat ini di rumah sakit dan pria paruh baya itu tidak ingin membuat keributan.
Ami yang di tatap begitu dingin tidak bisa menjawab, wajahnya begitu pias, dia masih bergeming.
" Ami,!" Andreas memanggil pelan.
Hening.
"Ami,! Andreas memanggil lagi masih dengan nada pelan.
Tidak ada jawaban.
"AMI,!" Andreas memanggil lagi dengan geram, terdengar gemelutuk giginya.
Ami masih ketakutan.
" Jawab sejujurnya yang,..jangan sampai membuat papa semakin geram," ucap suami Ami merangkul bahu istrinya seraya memberikan kekuatan.
Ami akhirnya luluh dan mendengarkan kata suaminya, dengan wajah tertunduk dan telapak tangan memeras ujung bajunya dia menjawab.
"Itu perhiasan dari kamar Mbak Asyifa, aku dan mama kemarin malam masuk ke kamarnya dan mencarinya,"
Mendengar Andreas melotot tajam, dia ingin sekali menampar Ami karena kelancangannya, namun di urungkan.
" Kenapa harus mencuri,?" tanya Andreas dengan tatapan yang sudah menusuk.
Ami tidak berani mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Jawab,!" sejak kapan papa ajarin kamu mencuri,?" tegas Andreas.
"Maaf pah,.. ini salah Ami,.. mama lagi butuh uang karena terlanjur ada janji sama bestie bestie nya, maksud aku, sama anggota gengnya, mama sudah janji akan mentraktir makan dan belanja mereka, karena mama yakin akan mendapat bagian dari aset mbak Asyifa, tapi ternyata , perhiasan yang ada di kamar itu semuanya tidak terdaftar dan imitasi juga surat keterangan nya palsu, mengetahui itu mama kaget sehingga membentak pegawai toko perhiasan tersebut dan mama jatuh pingsan, Ami minta maaf karena udah buat semua ini viral," Ami benar benar menunjukkan rasa bersalahnya.
" Lancang," pekik Ardi yang tiba tiba datang dan mendengar pengakuan Ami.
Ami semakin pias, tubuhnya bergetar, satu tangan Ardi sudah ingin mendarat di pipi mulus Ami, tetapi di tahan oleh suaminya.
" Tidak begini menyelesaikan permasalahan mas, semuanya juga sudah terjadi, sekarang kita fokus pada perkembangan kesehatan mama" jelas suami Ami menengahi.
Ardi mendengus kasar, dia memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
" Ajari istrimu," ucap Ardi dan langsung pergi dari sana meninggalkan semua.
Mereka yang ada di sana bernafas lega, karena mereka khawatir emosi Ardi akan memancing media untuk membuat berita hot esok harinya, walaupun mereka kurang yakin kalau besok tidak ada berita tentang mereka, tetapi mereka yakin bahwa Ardi akan mampu untuk menanganinya.
" Maafin Ami," cicit Ami.
sang suami semakin erat merangkul dan membawanya kedalam pelukannya.
Ami semakin menangis tergugu dan mengepalkan tangannya, " Dasar Babon keparat, sudah mati masih nyusahin juga," rutuknya dalam hati.
" Gimana keadaan mama,? tanya Andreas kepada Tia, seraya mengheaskan bokongnya di sebelah ranjang Ani.
" Mama gak apa apa pah,! dokter tadi bilang mama cuma perlu istirahat yang cukup , mama dari tadi minta ponsel terus, tapi aku gak kasih,!" lapor Tia
"Bagus," untuk saat ini Jangan kasih mama lihat ponsel, nanti dia semakin shock kalau dia tau dia viral, takutnya tekanan darahnya naik, dan kalau tidak bisa di hindari akan jadi stroke, biar berita agak dingin dulu, baru kembalikan ponselnya," ujar Andreas sambil memandang Ani yang terbaring di ranjang dengan tatapan lembut.
Tia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui usulan sang papa.
****
Ardi begitu geram pada kelakuan Ami yang begitu lancang memasuki kamarnya dan mencuri perhiasan Asyifa, Ardi tahu betul bahwa Syifa sangat menjaga perhiasan-perhiasan tersebut, lelaki itu tidak habis pikir bahwa mamanya membutuhkan uang hanya sekedar tidak kalah gengsi dan pamor dengan teman temannya.
__ADS_1
Ardi melajukan mobilnya ke arah salah satu club'malam di kota itu, dia ingin meredakan beban pikirannya.
Semenjak kepergian Asyifa, tak bisa dia pungkiri bahwa hidupnya semakin merosot.
Di dalam club malam Ardi menuju bartender dan memesan minuman yang di inginkannya, Ardi memang pengunjung tetap club ini, terutama ketika dia memiliki banyak beban pikiran, oleh karena itu bartender sudah mengenalnya.
Ketika sedang asyik menyesap whiskey favorite nya, seorang gadis yang begitu cantik dengan pakaian **** datang menghampiri dan menyapanya, lesung Pipit di kedua pipinya semakin terlihat ketika dia tersenyum.
" Sepertinya CEO kita sedang banyak beban pikiran saat ini ya,"
Mendengar suara yang begitu lembut yang samar samar menusuk pendengarannya di antara hingar bingar musik yang berdetum keras, Ardi kemudian menolehkan pandangannya, dia begitu terpukau dengan penampilan Melinda yang begitu berani menurutnya, padahal terbilang lumrah di tempat seperti ini.
" Melinda,..oh dewiku," ucap Ardi sedikit meracau, wajahnya sudah merah akibat alkohol yang begitu tinggi.
Mendengar pujian Dewiku, ada getar halus yang merambat begitu saja, dalam hatinya, Melinda senang, karena ucapan itu terdengar begitu tulus.
"Sepertinya anda benar benar butuh teman cerita tuan CEO," ucap Melinda seraya menambahkan whiskey kedalam gelas lelaki tersebut, menggantikan peran bartender.
Ardi benar benar sudah kehilangan separuh kesadarannya, kadar alkohol yang diminumnya memang sedikit tinggi, tetapi kali ini dia minum terlalu banyak, sehingga dia sudah benar benar tak dapat mengendalikan dirinya.
Setelah meneguk segelas whiskey lagi hingga tandas, Ardi mulai meracau.
" Hidupku benar benar sial,! ini karena Asyifa si Babon istri tidak tahu diri itu,"
"Istri Babon,? berarti Luh Babon jantannya dong," cemooh Melinda dalam hatinya, dan membiarkan Ardi melanjutkan uneg-uneg nya.
" Gua udah berusaha nyingkirin dia, rencana sudah sangat matang, di susun oleh Camilla, mama dan adik gua Ami untuk melenyapkan dia, jadi kalau dia sudah tidak ada otomatis semua aset Prameswari group akan jatuh ke tangan gua, tapi apa yang terjadi,? si Babon itu bahkan tidak meninggalkan apapun termasuk Harta Gono gini karena semua aset masih atas nama bokapnya UMAR PRAMESWARI dan akan berpindah ketika usianya 35 tahun, jadi semua asetnya akan di sumbangkan ke yayasan amal dan gua gak dapet apa apa, seandainya kita masih ada anak aset'itu bisa di kelola sendiri, tapi selama ini gua selalu kasih pil KB diam diam agar dia tidak hamil, entah apa yang terjadi jika Camilla tau rencananya gagal, belum lagi si Babon bulet itu memanipulasi semua perhiasan yang ada di kamar sehingga mama dan Ami tertipu dan sekarang jadi viral dimana mana," Gua stres," ungkap Ardi dan langsung menjatuhkan diri di sofa tidak sadarkan diri.
Melinda yang awalnya hanya iseng menemani Ardi begitu terkesiap, dia tidak menyangka Ardi akan membongkar aib dan kejahatan dia sendiri, dia merasakan ketakutan pada komplotan itu, terutama Camilla yang tak lain adalah sahabat yang sangat ia percaya.
Dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa apa, Melinda melangkah dengan anggunnya keluar club, awalnya dia ingin membantu Ardi, akan tetapi setelah dia tau bagaimana sadis dan liciknya seorang Ardi dia urungkan niatnya, dan meninggalkan Ardi yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
\*\*\*\*