Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Rio mengetahui identitas Asyifa


__ADS_3

Episode #138


  Asyifa mengeluarkan nafasnya lembut, dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sambil memijat keningnya pelan.


  " Saya benar-benar tidak mengerti om, ternyata om sudah tahu kalau saya adalah Asyifa, om juga paham, kenapa saya mendekati keluarga om, om juga tahu tujuan saya, Dan,..Dan,.." ada hening sejenak dan hembusan nafas kasar, " Dan om tidak menghentikan saya, malah om meminta saya untuk menyelamatkan Angga! Saya benar-benar tidak mengerti, apakah om tulus atau punya niat tertentu!" suara Asyifa pelan, dingin, tapi masih sangat jelas terdengar.


   Rio masih tidak bergerak dari posisinya, kopinya sudah dingin, tapi tak sedingin hatinya.


   " Saya berhutang nyawa dengan ayahmu, Belum sempat hutang nyawa itu saya bayar, malah ayah saya merenggut nyawa ayahmu dan istrinya!"


  Asyifa tidak terkejut dengan fakta itu, dia juga tau bahwa tuan besar, Wijaya Kusuma adalah dalang dari semuanya.


    " Ayahmu menyelamatkan aku, ketika Aku hampir tergelincir di jurang, ketika kami masih aktif di organisasi mahasiswa pencinta alam, tapi apa balasan yang aku berikan!? Demi menghadiri acara kelulusan Angga, keduanya meregang nyawa, seumur hidup aku selalu hidup dalam rasa bersalah terhadap orang tuamu, entah penjelasan apa yang akan aku berikan ketika bertemu dengannya di hari akhir nanti," Rio masih berdiri, menatap potret lukisan sahabatnya itu.


  " Untuk menebus rasa bersalahku dan keinginan untuk melindungi mu, aku menyelidiki keadaan rumah tanggamu dengan Ardi, karena aku mendengar desas-desus, jika suamimu selingkuh, ketika mengetahui bahwa selama ini kamu berpura-pura hidup bahagia, aku langsung mendatangi kantor Andreas dan membentaknya habis habisan, agar dia mendidik anaknya, sayangnya Andreas tidak memiliki kesempatan, karena dua hari kemudian, kamu di beritakan tewas dalam insiden kecelakaan!" setelah itu, Rio menyeruput kopinya yang sudah dingin.


   Asyifa mengangkat wajahnya, dia baru mengetahui fakta ini, Andreas akhirnya tahu, bahwa keharmonisan yang selalu dia tampakkan hanyalah kepalsuan semata, tiba tiba hatinya terasa sakit.


  " Saya mengadakan pameran ini sebenarnya hanyalah sebuah kedok belaka, di hari pertama pembukaan, hanya orang yang saya undang yang bisa masuk ke acara ini, sehingga kita bisa berbicara dengan jelas, jika kita bicara di luar, pasti seseorang akan melaporkannya pada yang di atas," Rio sudah berbalik kearah Asyifa, dia juga sudah duduk di sebelah Asyifa.


  Asyifa mengerti, siapa sosok di atas yang di maksud om Rio, tidak lain tidak bukan dia adalah Wijaya Kusuma, ayah kandungnya sendiri.


Asyifa masih terdiam dan tidak menanggapi apapun.


" Aku sudah memberitahu Angga perihal kecelakaan orang tuamu,


Mendengar itu tatapan Asyifa menjadi tajam.


" Tenang saja, identitasmu aman," Rio langsung mengklarifikasi pernyataannya.


__ADS_1


" Angga sudah menemukan orang yang terlibat dalam kecelakaan orang tuamu, untuk sementara, dia bisa di jadikan saksi, akan tetapi dia hanyalah sebagai kacung, dia di perintahkan oleh seseorang, walaupun kita tahu, siapa dalang di balik semua ini, kita harus mengumpulkan bukti, terlebih itu sudah belasan tahun berlalu, dan kasusnya sudah di tutup".



Asyifa tercengang dengan informasi ini, " Maksud om,.." Asyifa tidak mampu melanjutkan pertanyaannya.



"Angga akan membantu menguak kasus kecelakaan orang tuamu, dan mengumpulkan barang bukti, aku sudah mengungkapkan padanya, bagaimana rupa asli kakeknya, jadi kamu bisa fokus pada kasus kecelakaan dirimu, dan menemukan pihak di belakangnya," Rio menatap Asyifa dengan tatapan lembut.


" Ha ha ha!" Gelak tawa Asyifa terdengar,"apa Om Sedang melucu? membiarkan Angga menguak sendiri tanpa Aku terlibat di dalamnya? apa om pikir aku percaya seperti itu? cara om memberitahu persis seperti om sedang memberitahu anak kecil, apa Om Sedang melindungi yang di atas? bagaimanapun kalian terikat hubungan darah!" senyum penuh sarkasme di tunjukkan Asyifa.


Rio tak berpengaruh apapun," "Syifa, semuanya terserah denganmu, jika kamu tetap dengan rencanamu semula, tidak apa apa, om dukung semua tindakanmu, sekarang apapun informasi yang kami dapatkan, kami akan beritahukan padamu, jujur om memang ingin melindungi yang di atas, tapi bukan dengan cara seperti ini, sebagai seorang anak, om hanya ingin yang di atas bisa kembali dalam ketenangan, sudah saatnya dia menikmati hidupnya, dan menebus setiap dosa yang di perbuat, sehingga, ketika ia kembali, dia tidak membawa penyesalan apapun!" Rio tidak menyembunyikan apapun.



Asyifa menelisik gestur Rio, dan tidak menemukan kebohongan apapun, Rio benar benar menginginkan sang ayah kembali ke jalan yang benar.




" Benar, Angga sudah menangkapnya, dan sekarang di hukum di salah satu villa di puncak, apa kamu berniat menemuinya?" Rio bertanya.


Asyifa mengangguk, " Benar om!"


" Baiklah, om akan atur, kebetulan sebentar lagi ulang tahun pernikahan om dan Tante, kita akan rayakan di sana, untuk mengurangi kecurigaan yang di atas," Rio memberikan solusi.


" Baiklah Om, silahkan om atur bagaimana baiknya saja, terima kasih jika niat om tulus membantu Syifa,.. hmmp," Asyifa menggantungkan ucapannya.


"Tenang saja, rahasiamu aman Syifa, bahkan tante Helena tidak mengetahui identitasmu, hanya kamu dan Angga yang mempunyai tato biosensor, yang akan berubah menjadi warna hijau jika terkena air laut," Rio mengetahui apa yang ada di benak Asyifa.

__ADS_1


" Om!" Asyifa agak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya, pandangannya tertuju pada lukisan dia dan kedua orang tuanya.


Rio kemudian mengangguk paham," Syifa, maukah kau menerima lukisan itu?" tunjuknya pada lukisan yang sudah belasan tahun terbengkalai.


wajah Asyifa langsung sumringah," Beneran om?" matanya berbinar.


Rio hanya tersenyum dan mengangguk," Beneran!"


"Terima kasih om!" Asyifa mengucapkan kata itu dengan begitu tulus.


" Biar nanti panitia yang mengirimkan lukisan itu ke apartemen mu," Rio segera memanggil panitia dan menyuruhnya membungkus lukisan tersebut.


" Ayuk, om temani berkeliling pameran!" ajak Rio seraya keluar dari ruangan.


Dalam pameran, beberapa wartawan segera mewawancarai Rio, ketika melihatnya, Asyifa menghindar dan memberi ruang.



Tak lama kemudian, Asyifa pergi ke kamar mandi, di sana dia memperhatikan tengkuknya, tengkuknya polos dan putih, tidak ada bekas tato apapun, " Tadi kata om Rio, tato ku memakai biosensor yang aktif, ketika terkena air laut, kalau di taruh air garam, bisa muncul tidak ya?" dia memperhatikan tengkuknya dari cermin yang dibelakangnya, dia memegang cermin bedak di depannya dan berusaha melihat tengkuknya melalui cermin wastafel.


Kemudian ponselnya berdering, Amar menelpon, hatinya berbunga-bunga, dia langsung menjawabnya.


Belum sempat dia menyapa, suara Amar Sudah terdengar, " Cantik, aku dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kamu mau di bawain apa?"


Asyifa langsung menjawab," Air laut!"


"Ha!" Amar tidak tahu harus merespon apa, jelas jelas Asyifa tau dia dari gunung salak.


Amar tak bisa berkata apa-apa lagi, dia segera memerintahkan supirnya untuk ke arah pelabuhan ratu, untuk mengambil air laut, pesanan sang pujaan hati.


*****

__ADS_1


__ADS_2