
Episode #145
Dua jam kemudian.
Mega, sang perawat, menemui Dr Anton," Dok, ini hasilnya sudah keluar!" Mega menyerahkan sebuah amplop putih.
Setelah menerima amplop putih itu, Dr Anton segera membuka dan membacanya dengan serius, dia nampak serius sekali, seolah tidak ingin ada yang terlewatkan.
Setelah itu, Dr Anton memberikan amplop itu kepada Mega kembali, setelah Mega membacanya, matanya terbelalak.
"Dok,... Hasilnya,..!" kata kata Mega tergantung.
Hanya helaan nafas yang Dr Anton lakukan, kemudian dia menyesap teh yang Sudah mulai dingin, " Seperti yang kamu baca, Tebakanmu benar, dia memang normal, tidak mengalami gangguan mental!"
"Saya tidak menyangka, dia itu pintar sekali berakting, seandainya dia terjun ke dunia seni peran, dia akan menjadi aktris terkenal," Mega bergumam.
" Iya, Dalam situasi tersulit dan terdesak, kemampuan seseorang mungkin akan muncul begitu saja, lihatlah, dia sangat lihai memainkan perannya, dia tidak hanya menipu kepolisian, bahkan saya pun tak Lolos dari tipuannya, kalau kamu tidak menceritakan tingkah laku dia, yang sedikit aneh, mungkin selamanya kita akan tertipu dengan aktingnya," Dr Anton kemudian menyimpan hasil laboratorium itu.
" Jadi sekarang bagaimana Dok?" tanya Mega penasaran.
" Hubungi pihak kepolisian, nanti setelah mereka tiba, tolong di arahkan ke ruangan saya, tolong sekarang kamu dan yang lainnya, membereskan barang-barang Ami Andreas!" perintah Dr Anton tegas.
" Dok, itu artinya,..?"
Dia tidak mengalami gangguan mental sedikit pun, tanpa pemeriksaan jiwa medis, kita sudah tahu kalau dia normal," Ucap Dr Anton, dia terlihat kesal, karena sudah di bohongi oleh Ami.
Dua jam berlalu.
Pihak kepolisian sudah mendengarkan semua yang di ceritakan oleh Dr Anton.
" Jadi menurut Dokter, kita semua di kelabui?" polisi muda itu berkata dengan wajah yang sangat tidak enak di lihat.
" Benar pak!" ucap Dr Anton tegas.
" Petugas kami melakukan pengamatan terhadap tingkah laku pasien, yang sehabis di berikan obat, akan selalu pergi ke kamar mandi, dari hasil tes darah yang baru saja kami lakukan, tidak di temukan zat obat apapun, ini mengindikasikan, bahwa saudari tersebut hanya berpura-pura meminumnya dan membuangnya," Dr Anton kemudian menyerahkan amplop putih, hasil cek darah di laboratorium," ini hasilnya!"
__ADS_1
Pak polisi itu menerima amplop putih hasil tes laboratorium," Terima kasih Dok, kalau begitu kami akan membawanya kembali ke lapas,"
"Silahkan, pak!"
Kemudian pak polisi itu keluar dari ruangan, dan diikuti oleh dua rekannya, Mereka menuju ruang isolasi, dimana Ami di tenangkan.
Ami pun akhirnya sadar, dia mengerjakan matanya beberapa kali,, sebelum membuka matanya berkeliling " Ruang isolasi" pikirnya.
" Sebentar lagi petugas datang, kenapa sih, harus ada pemeriksaan medis kejiwaan rutin? masa Aku harus berteriak teriak menjelang pemeriksaan?" benak Ami.
Ami melihat sekeliling ruang isolasi, " Daripada aku harus hidup di sel, tidur dengan kasur tipis, makan seadanya, bersempit sempit dalam ruangan, Belum lagi bermasalah dengan penghuni lain, Di sini rasanya lebih baik!" Batin Ami.
Sesuai dengan dugaan Ami, dua orang petugas memasuki ruangan isolasi dan langsung memapahnya, Ami mulai dengan aktingnya, untuk berpura-pura gila, kali ini dia menyanyikan tembang jawa, kidung aksama.
Bagi yang belum tahu tentang kepalsuan Ami, pasti akan menduga dia mempunyai gangguan jiwa.
Ami di papah karena tubuhnya masih lemas, akibat suntikan obat penenang,, tembang jawa yang dia lantunkan sangat bagus dan menjiwai.
Ami memperhatikan sekitar, dia bingung, ini bukan kan bukan arah ke bangsal, mau di bawa kemana aku?"pikirnya, walaupun sedikit panik dia harus tetap berakting.
Hanya senyuman yang bisa Dr Anton berikan, dia tidak berkomentar apapun.
Petugas itu semakin lama semakin jauh membawa Ami, perasaan Ami sudah mulai tidak enak, " Ini, bukannya ke arah parkiran? pikirnya, " Jangan jangan,.."
" Terima kasih ya mas!" Suara tersebut seketika membuyarkan lamunan Ami, dia memberanikan diri mendongak, dan melihat tiga pria gagah dengan seragamnya.
Kidung aksama yang di nyanyikan Ami, kemudian berhenti," Gawat! Semua ini telah terbongkar, Bagaimana bisa?"Ami langsung jatuh tak sadarkan diri.
Sementara itu, Ferdinand Sedang menyelidiki perihal tentang selingkuhan Ami Sebelumnya, Ovan seorang mahasiswa keturunan turki yang baru aktif kembali, setelah cuti satu semester, semenjak Ami masuk penjara, selama ini dia tidak berani muncul karena kata kata Tia, yang mengatakan, bahwa dia kemungkinan terlibat dalam pencucian uang Dividen yang di lakukan oleh Ami, dia takut terlibat dan masuk penjara.
__ADS_1
" Oh, jadi sekarang targetnya adalah Dosennya sendiri, Carrey Ramos," Ferdinand bergumam.
Di kampus yang memiliki nama di ibukota, tempat Tia menimba ilmu sebelumnya.
" Bu, boleh tidak saya konsultasi skripsi saya di luar jam kampus? mungkin di tempat ibu, atau kemana gitu, Bu?" Ovan mencoba merayu Carrey, agar bisa keluar jalan sama dia, nada suaranya memelas, dia juga menampilkan wajah yang sangat mengiba.
carrey menggelengkan kepalanya dengan tegas," Saya tidak bisa! di luar tempat, dan jam konsultasi, tidak ada konsultasi di luar!"
"Ayolah, ibu, sesekali konsul dan ngopi bersamaan, pasti nikmat, Bu," Ovan masih mencoba merayu, matanya mengerjap beberapa kali, Dia tidak menerima penolakan, Biasanya para wanita akan luluh dengan sendirinya.
carrey menatap mahasiswa bimbingannya dengan raut wajah bingung, dia hanya bisa menghela nafas.
" Dengar!" Raut wajah Carrey mulai serius, " Saya dan kamu memiliki dunia sendiri di luar kampus atau pekerjaan, bagi saya hidup itu harus stabil, waktunya kerja, ya kerja sepenuh hati, waktunya istirahat ya istirahat, Saya bukan tipikal orang yang bekerja di waktu istirahat, dan istirahat di waktu kerja, jadi saya tidak bisa menerima tawaran kamu!"
"Yaaaah!" kekecewaan terlihat di wajah Ovan.
" Sebaiknya kamu fokus mengerjakan tugas akhir kamu, ini masih bab pertama, perjalananmu masih panjang, hingga daftar pusaka," Carrey langsung mengoreksi dengan pulpen tinta merah keramatnya.
Ovan hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
" Kamu perbaiki semuanya, Minggu depan kamu temui saya lagi, dengan koreksian yang benar, semuanya sudah saya tulis, apa yang perlu di perbaiki, setelah itu, kamu langsung serahkan bab dua," Carrey langsung memberikan Ovan tugas baru.
" Banyak sekali Bu? apa tidak bisa di kurangi tugasnya? Ovan mencoba menawar.
" Boleh, tidak masalah sama sekali bagi saya, tidak masalah juga kalau kamu di keluarkan dari kampus karena terlalu tua!"ucap Carrey acuh tak acuh.
Ovan terkesiap, baru kali ini ada perempuan yang tidak tertarik dengan pesonanya.
***
" Hello teman teman semuanya? Terima kasih sudah setia selama ini. sebentar lagi novel ini akan tamat, cerita ini hanya mencapai 150 episode saja, kelanjutan kisahnya akan ada di sekuel kedua, Maaf jika author belum bisa membalas komentar kalian ya? 🙏
__ADS_1