
Episode #133
Setelah mengambil kotak P3K, Tia ke dapur, untuk mengambil es kompres yang sudah di sediakan.
Dia pun kembali ke kamar Ardi, matanya jelalatan kemana mana, dia mengeryitkan dahinya, melihat penampakan kamar Ardi, baju berserakan, bungkusan Snack bertebaran di mana mana, sisa kapas pembersih wajah, memenuhi meja rias, pintu lemari yang terbuka, dan isinya yang acak-acakan, dan handuk basah di atas kasur, Tia hanya bisa menghela nafas, setidaknya dia bersyukur, tidak melihat pakaian dinas malam Camilla berserakan di mana-mana.
Dengan lembut, Tia mengompres wajah Camilla dengan es kompresan tersebut, tidak begitu lama, setelah itu dia mengoleskan salep lidah buaya, untuk mengurangi memar, sebelum di tutup dengan perban elastis.
Semua kegiatan itu di lakukan dengan hening, tak ada satu katapun yang terucap dari bibir keduanya, mereka memang tidak dekat, Camilla lebih dekat dengan kakaknya Tia, yaitu Ami.
Setelah Tia sudah selesai, lekas dia menutup kotak P3K, tanpa mengucapkan apapun dia keluar.
Sebelum Tia menuju pintu, untuk pertama kalinya Camilla berkata," terima kasih".
Tia hanya mengangguk dan menutup pintu dari luar.
Sementara itu, Andreas membawa Ardi keliling komplek, mereka berjalan di tepl perumahan elit, sehingga tidak bertemu dengan tetangga yang mengenal mereka.
" Bagaimana perasaan anda sekarang? Saya tidak pernah menyangka bahwa anda mempunyai pribadi yang kasar," ucap Andreas dingin, seraya memimpin jalan.
Ardi terhenyak, kali ini papanya benar benar marah, penggunaan kata saya dan anda, adalah tingkat kemarahan tertinggi dari seorang Andreas, itu berarti, Andreas dengan susah payah menahan emosinya, sebagai mantan juara atlit silat nasional, akan sangat bahaya jika dia mengeluarkan jurusnya, identitas yang seperti ini yang membuat Ami menjadi arogan, dan bertindak sewenang-wenang dengan teman sebayanya.
" Papa,...." Ardi tidak tahu harus berkata apalagi, lidahnya kelu, mulutnya serasa terkunci.
" Saya tahu, selama ini anda memperlakukan istri pertamamu dengan begitu kasar, tidak hanya menghinanya secara verbal, mengkhianati kesetiaannya, bahkan,..." Andreas terdiam, tidak sanggup meneruskan ucapannya, untuk sepersekian detik," Bahkan membunuh darah dagingnya," Mata Andreas basah, dia tidak sanggup menahan air matanya.
__ADS_1
Mata Ardi terbelalak, selama ini dia sudah berusaha untuk menyembunyikan hal ini dari papanya, jika papanya tau dia menyakiti menantu kesayangannya, bisa di pastikan, dia menginap lama di ranjang rumah sakit, seketika dia bergidik ngeri.
" Aku yang terlalu polos, atau Asyifa yang terlalu lihai menyembunyikan semuanya, dengan mudahnya, dia menipu mata semua orang, bahwa dia adalah istri yang sangat berbahagia, semua di tunjang oleh penampilan aktingmu yang bagus, sehingga seluruh masyarakat mengecap mu sebagai seorang pria yang sangat sayang dengan istrinya, bahkan banyak para gadis yang bermimpi bisa mendapatkan,, pendamping hidup seperti dirimu, seandainya mereka tau bagaimana tabiat aslimu, apakah mereka akan memimpikan seorang pendamping seperti mu?" Andreas semakin berapi api.
Ardi diam saja, apa yang di katakan Andreas semua adalah kebenaran, selama ini, dia dan Asyifa hanyalah pencitraan sebagai pasangan yang saling mencintai, walaupun itu hanyalah sebatas cinta bertepuk sebelah tangan.
" Saya akan selamanya buta Jika bukan karena seseorang yang memberitahukan tentang tingkah laku anda, semua tingkah laku anda bisa di jerat dengan undang-undang perkawinan, dan bahkan tindak pidana, sayangnya saya terlambat mengetahuinya, istrimu menghilang karena kecelakaan, apakah anda terlibat atau tidak, saya tidak tahu," Andreas mulai mengungkit masa lalu Ardi dengan Asyifa, Sosok tubuh yang gemuk terlintas di kepalanya, Dia bahkan masih bisa merasakan brownis buatan Asyifa, beberapa hari sebelum kecelakaan.
" DEG!" Serasa petir menyambar di kepala Ardi, Apakah ayahnya mencurigainya?"
" Ya,.. Saya memang menaruh curiga pada anda, selama ini saya diam, bukan karena saya tidak memperhatikan apapun, sikap sedih yang anda tampilkan pada khalayak begitu berbanding terbalik, dengan apa yang anda lakukan, anda langsung menemui kuasa hukum, dan bertanya soal hak waris, mudah mudahan, dugaan saya ini salah, jika memang anda terlibat dalam insiden Asyifa, saya adalah orang pertama, yang akan menyeret anda kedalam jeruji besi, setelah tulang belulang anda retak," nada suara dingin begitu mendominasi.
" Besok, anda dan istri, bisa keluar dari rumah saya, semenjak kehadiran kalian berdua, kedamaian di sana cukup terganggu, terlebih lagi, saya tidak ingin mencoreng wajah saya lagi, jika anda di bekuk polisi di rumah saya, cukup Ami saja yang melakukan itu, saya tidak tahu, mau di taruh di mana lagi muka saya, jika anda terciduk polisi, apalagi dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga, cukup sudah kami di gosipkan oleh para tetangga dan rekan kerja," Andreas mengusir Ardi.
Seketika wajah Ardi berubah warna.
" Ini bukan soal mengusir anda atau tidak, anda sendiri mengetahui dengan pasti, jika istri anda dan istri saya tidak akur, membiarkan mereka dalam satu rumah, hanya akan menambah bara dalam api, istri anda akan terus menghindar, dan istri saya akan selalu mencari alasan untuk memojokkannya". Andreas mengutarakan pendapatnya.
Ardi pun mengerti hal itu, entah mengapa sekarang mamanya dan Camilla seperti musuh bebuyutan, padahal sebelumnya mereka sangat akrab, seperti ibu dan anak saja.
__ADS_1
Ardi hanya bisa menghela nafasnya.
Keduanya berjalan hingga memasuki komplek perumahan mereka.
Pak Andreas kemudian berhenti, dan berkata," Pulanglah duluan, minta maaf pada istrimu,"
Ardi berjalan menuju rumah, sedangkan pak Andreas menuju warung kopi di pinggir jalan, dia perlu menyegarkan otaknya.
Sebelum sampai di rumah, Ardi menelpon Ferdinand.
Ferdinand yang sedang asik mencuci piring bekas makan malam, terpaksa berhenti, dia mengangkat telpon dari pak bosnya.
" Selamat malam pak bos!"
"Tolong kamu cari apartemen yang kosong, dekat kantor, segera beri tahu saya, kalau bisa, yang besok bisa langsung di tinggali".
" Baik pak Bos, malam ini saya kirimkan fotonya!" jawab Ferdinand.
Ardi segera memutuskan panggilan.
Semua orang di kantor tau, bahwa Ferdinand mempunyai kerjaan sampingan, yaitu, agen apartemen, biasanya dia selalu membuat story apartemen kosong, bahkan beberapa teman kantornya juga menyewa apartemen melalui dirinya.
Tak berapa lama, Ferdinand mengirim semua foto tentang apartemen yang kosong, pada Ardi, dari yang termurah sampai yang harganya termahal, tak luput dari pantauan nya.
Ardi pun menerima beberapa foto dengan keterangannya, ardi berjalan kedalam rumahnya.
__ADS_1
Ani, duduk di ruang keluarga, dia hanya melirik Ardi yang terus berjalan memasuki kamarnya.
****