Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Rumah kenangan


__ADS_3

Episode #76


   " Apa om Sudah tau, siapa Big Bos yang di maksud dalam rekaman percakapan ini? Asyifa Sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


     Amar yang ingin menanyakan hal serupa menganggukkan kepalanya, seolah mendukung pertanyaan Asyifa.


      " Untuk saat ini om Belum bisa memberikan nama yang pasti, sosok ini sangat misterius dan susah sekali untuk di lacak" pak Hamdan menggelengkan kepalanya, seolah dia memang sudah tidak berdaya.


     Asyifa nampak kecewa.


   " Apa om mengetahui siapa yang bicara ini? kita bisa telusuri dari sana, mereka mengatakan bahwa perusahaan mereka berusaha menekan Prameswari group, tetapi nihil, karena integritas dan loyalitas yang di miliki oleh karyawan Prameswari group, kita bisa mulai menyelidiki dari sana terlebih dahulu" Amar mulai memberikan saran kepada keduanya, terutama pada pak Hamdan.


    Amar meminum teh yang di sajikan oleh sekretaris pak Hamdan, sebelum melanjutkan bicaranya, " kita bisa membuat daftar tentang perusahaan yang berusaha menekan pihak Prameswari group, kita akan mencari tahu, siapa dalang atau pemilik dari perusahaan tersebut, menurut saya, berdasarkan penjelasan om, yang mengatakan bahwa kedua orang tua Syifa, memang murni di bunuh dan bukan kecelakaan, sepertinya ada dendam yang begitu lama, alangkah baiknya kita juga mulai membuat daftar teman, sahabat, bahkan musuh dari jaman kakek Asyifa hingga jaman Asyifa saat ini, bila saja salah satu pelakunya adalah pihak yang terlibat dengan kisah masa lalu" ungkapnya penuh semangat.


    Asyifa mengangguk anggukan kepalanya, tanda dia setuju dengan saran Amar.


   Mendengar saran dari Amar, pak Hamdan berusaha membongkar ingatannya tetapi nihil, dia tidak bisa mengingat apapun, dia membuang nafas besar, seolah kecewa pada dirinya sendiri.


       Melihat itu, Asyifa tidak bisa untuk tidak tertawa, untuk pertama kalinya dia melihat seorang Hamdan Hutapea kehilangan kejeniusannya sejenak.


     " Begini saja om, beberapa hari ini, saya akan pulang ke rumah, maksudku, aku akan mulai membuka berkas atau foto foto yang ada di rumah warisan mama papa dari kakek, disitu mungkin ada jawaban atau petunjuk tentang sosok yang kita cari, Big Bos yang di sebutkan itu bisa saja, salah satu sahabat dari mereka berdua, kakek atau papa" usai mengatakan itu, Asyifa pun langsung mencomot beberapa Snack yang di sajikan oleh sekretaris pak Hamdan.


    Mendengar hal itu sontak Amar dan pak Hamdan menatap Asyifa dengan tatapan tidak percaya.


    Semua orang tsu, bahwa Asyifa Sudah tak pernah menginjakkan kakinya di rumah itu, selama belasan tahun ini, perempuan itu tidak ingin mengenang kebersamaan, dengan kedua orang tua tercintanya, jadi semenjak kedua orang tuanya di kebumikan, Asyifa memutuskan untuk tidak pernah tinggal atau sekedar menapakkan kakinya di sana, walaupun seperti itu, rumah itu masih nampak sangat terawat, karena setiap hari selalu di bersihkan oleh asisten rumah tangga.


    "Syif,...!" Amar tidak melanjutkan kata-katanya, dia berusaha meyakinkan Asyifa dengan keputusannya.


    "Aku serius, Aku Sudah mulai belajar menerima kenyataan, It's ok" Asyifa berusaha menenangkan kekhawatiran Amar.


    " Baiklah, Aku akan menemanimu," ucap Amar spontan.

__ADS_1


   " Jangan! pekerjaanmu masih banyak, Aku tak mau terbengkalai hanya karena masalah ini," ucap Asyifa, berusaha menolak secara halus.


    " Ha ha ha!" Amar tertawa melihat tingkah polos Asyifa, " Tenang aja, di kantor banyak kok, yang bisa diandalkan, trus, buat apa mereka di gaji tinggi tinggi seperti wakil rakyat, kalau tidak bisa di andalkan?"


   Asyifa hanya mendengus kasar, apa yang di ucapkan oleh Amar itu sangat benar, jika tidak ada pak Hamdan, mungkin dia sudah menjitak kepala sahabatnya itu.


     Melihat tingkah konyol dan keakraban di antara keduanya, pak HAMDAN hanya bisa berdoa, semoga berduanya dapat berjodoh, dia senang, bisa melihat senyum Asyifa seperti dulu lagi, lepas tanpa beban, tidak seperti, Waktu dia menjadi nyonya ARDIANSYAH, senyumnya penuh dengan kepalsuan.


      Setelah berbincang sejenak, keduanya pamit undur diri, pak Hamdan tak ada pilihan lain selain mempersilahkan mereka berdua.


    Mereka sudah tidak menggunakan taksi online lagi, pak HAMDAN meminjamkan salah satu mobil kantornya.


     Tak berapa lama, mobil itupun meluncur ke rumah penuh kenangan milik kedua orang tua Asyifa, perempuan itu duduk di samping kemudi, dan pandangannya menatap jalanan dari kaca jendela mobil, nampaknya dia sedang menguatkan hatinya.


  Mobil pun mulai memasuki komplek perumahan elit di kota itu, Asyifa masih larur dalam lamunannya, beberapa kali Amar memanggil namanya dengan lu lembut, dia tidak merespon, " Sepertinya dia tenggelam dalam lamunannya!" pikir Amar.


Tak berselang lama, mereka sudah sampai di depan rumah, security yang awalnya hanya bersantai terkejut, karena tidak seperti biasanya, kali ini ada mobil yang datang berkunjung ke rumah ini.


Amar pun membuka kaca jendela mobil itu, pak Jaka, nama security tersebut, nampak kaget melihat Amar, walaupun sudah lama tidak bertemu, pak jaka sangat mengenali raut wajah tersebut, dulu laki laki tersebut, sering memanjat pagar bersama Asyifa, ketika tidak mendapatkan ijin keluar.


Sudut bibir Amar melengkung, awalnya dia ingin membukakan pintu Asyifa, eh, perempuan itu maen turun sendiri, gagal lagi deh dia bersikap romantis untuk Asyifa, pria itu hanya tersenyum masam.



Keduanya langsung memasuki rumah penuh kenangan itu, baik Amar ataupun Asyifa, langsung mengingat banyak kenangan di rumah itu.



" Ayo, kita langsung aja ke ruang kerja, disana banyak sekali dokumen dan foto dari jaman kakek,!' Asyifa langsung melangkahkan kakinya, matanya sudah mulai. Mengembun, genangan air di pelupuk matanya bisa tumpah kapan saja.


Amar menurut, dan melangkahkan kakinya ke ruangan kerja, laki laki itu membuntuti Asyifa dari belakang perempuan itu.

__ADS_1


Merekapun tiba di lantai dua, di ruangan kerja dua generasi itu, penampakannya begitu bersih, tidak ada debu yang menempel, semuanya begitu terawat, meski belasan tahun tidak di huni lagi.


Amar dan Asyifa mulai membongkar album foto yang masih tersimpan dengan sangat rapi bersama dengan negatif film nya.


Belasan menit kemudian, terlihat tumpukan album foto itu sudah menggunung.



" Syif, sini lihat" ajak Amar, yang sedang melihat album foto kenangan jamannya papa Asyifa kuliah dulu.


Asyifa langsung beranjak menghampiri, " Nemu apa?" tanyanya bersemangat.


" Ini!" Amar menyerahkan album foto itu ke tangan Asyifa.


Asyifa menerimanya, dia mulai melihat foto yang ada di album foto itu, dia sangat terkejut melihat foto papanya bersama pak Andreas, mantan ayah mertuanya, ayah dari Ardi, mantan suaminya,.


"Aku nggak nyangka, kalau papa itu ternyata berteman baik dengan papa Andreas semasa kuliah, tidak heran dia memperlakukan aku dengan begitu baik selama menjadi menantunya," Asyifa berspekulasi sendiri.


Amar pun mengangguk setuju, dengan apa yang Asyifa pikirkan, itulah sebabnya kenapa Andreas terlihat tulus kepada Asyifa.



Pencarian pun terus berlanjut, sekarang Mereka meninggalkan album foto, mereka tidak banyak menemukan barang bukti di sana, kini mereka beralih memeriksa arsip dari empat puluh lima tahun yang lalu.


Satu persatu arsip itu mereka periksa dengan sangat teliti, hingga tiba pada sebuah dokumen yang membuat Asyifa menjerit kecil.


Amar pun bergegas menghampiri Asyifa dan merebut dokumen itu, diapun Sangat terkejut, " Ini,..."


Belum sempat Amar melanjutkan perkataannya, Asyifa Sudah merebut kembali dokumen tersebut dari tangannya.


" Ayok, kita segera kembali ke kantor om HAMDAN, dan segera menunjukkan ini!"

__ADS_1


Amar mengangguk dan merekapun berlalu, menuju kantor pengacara kondang HAMDAN HUTAPEA.


***


__ADS_2