
Episode #93
Asyifa dan Angga keluar dari mobil, para pelayan langsung berbaris menyambut mereka, melihat adegan seperti ini, Asyifa berpikir, ini persis seperti adegan dalam cerita novel yang sering dia baca jika ada waktu senggang,
Mereka berjalan bergandengan tangan, Asyifa melirik sekeliling dengan takjub, tetapi masih dengan ekspresi datar, dia tidak pernah menyangka, bahwa Wijaya Kusuma tinggal di mansion semewah ini, tetapi ketika dia memikirkan kerajaan bisnisnya lelaki tua tersebut, dia berpikir ulang, itu sangat wajar bukan?"
Asisten pelayan mengantarkan mereka ke ruang makan, dengan langkah anggun dan elegan, keduanya melangkah, keduanya begitu terlihat sangat serasi.
Di dalam ruang makan, seluruh anggota keluarga sudah hadir, ada Rio dan istrinya, Helena, orang tua Angga, Jeni dan Lusi, beserta suami dan anaknya.
Wijaya Kusuma memiliki tiga orang anak, satu laki laki bernama Rio, dan dua perempuan bernama Jeni dan Lusi, dia memiliki delapan orang cucu, empat laki laki dan empat perempuan, dua dari Rio dan tiga dari masing masing putrinya, semuanya bekerja di bawah naungan Kusuma group, kecuali Rio, yang memilih menjadi seorang seniman melukis.
Semua sudah lengkap, dan duduk di kursi masing masing, Angga menarik kursi yang ada di sebelahnya, untuk mempersilahkan Asyifa duduk, awalnya seorang pelayan ingin menarik kursi untuk Asyifa, tetapi Angga menepis dan menggantikannya.
Semua mata tertuju pada Asyifa " Bagaimana seorang pewaris, mau merendahkan dirinya, menarik kursi untuk seorang wanita? Belum menjadi istri saja Angga sudah memperlakukan seperti ratu, bagaimana jika sudah menikah?" pikir jeni dan Lusi di saat bersamaan.
Jeni dan Lusi sudah sepakat sebelumnya, untuk mengibarkan bendera perang dengan Asyifa, hal itu bukan karena tidak ada alasan, mereka ingin istri dari sang pewaris, berada pada kubu mereka, agar mudah di kendalikan, melihat watak Asyifa yang sedikit keras, dan sepertinya susah untuk di ajak kerjasama, pasti ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi mereka, Lusi dan Jeni Sedang bertatapan, seolah berdiskusi dengan tatapan mata mereka.
Angga pun segera memperkenalkan Asyifa dengan semua keluarga yang hadir, di depan Angga, tidak ada yang berani mengusik atau sekedar melontarkan ucapan yang tidak enak.
Tidak lama kemudian tuan Wijaya Kusuma beserta istrinya Arum Kusuma, di belakangnya terlihat kepala pelayan Sedang berjalan di belakang mereka.
Semua yang hadir sontak berdiri dan menundukkan kepala, tak terkecuali Asyifa.
" Silahkan duduk kembali, ini hanya acara makan malam biasa, jangan terlalu formal, dan jangan terlalu sungkan," ucap sang tuan rumah, dan langsung duduk di kursinya.
Angga pun melangkah ke arah kakek, neneknya, dia mengamit tangan Asyifa, segera dia bersalaman dan mengecup tangan keduanya, aksi ini di ikuti oleh Asyifa, akan tetapi perempuan itu hanya berjabat tangan biasa.
" Kamu cantik sekali Nona May, tidak salah Angga begitu memperhatikanmu," puji Arum Kusuma sang nenek, pujiannya terdengar sangat tulus.
" Nenek terlalu memuji, Bahkan seharusnya saya yang bertanya, resep rahasia kecantikan nenek, yang masih terlihat sangat cantik awet muda hingga sekarang," ucap Asyifa dengan sangat manis.
Asyifa tidak berbohong samasekali, dia memang melihat penampilan dari Arum Kusuma yang masih begitu terlihat cantik meskipun sudah tidak muda lagi, terlihat awet muda, tidak kalah dengan Jeni dan Lusi kedua putrinya, ataupun Helena, menantunya.
__ADS_1
" Kamu memang pintar memuji Nona May, nanti kalau kamu sudah tinggal di sini, kamu pasti akan tau apa resepnya, he, he he!" kekeh Arum Kusuma, dari kata kata nya sudah tersirat, bahwa dia sudah menyetujui hubungan Angga dengan Asyifa.
Jeni dan Lusi saling melirik, ada raut ketidak percayaan di wajah mereka, ibu mereka sendiri, yang selama ini selalu menjaga jarak dengan orang lain, bagaimana bisa begitu cepat akrab dengan orang asing, sebegitu hebat kah perempuan ini?"
Baiklah, mari kita makan saja, saya tahu, kalian sudah kelaparan, nanti kita lanjutkan ngobrolnya" tuan Wijaya Kusuma memberikan perintah.
Para pelayan bergegas menyiapkan makan malam, berbagai aneka hidangan tersaji di meja makan, ada makanan barat dan juga timur.
" Asyifa tercengang, dengan banyaknya hidangan yang di sajikan, " Pemborosan makanan," Cibirnya dalam hati.
Tidak ada pembicaraan di meja makan, semuanya menghormati tuan Wijaya Kusuma dengan sang istri, nyonya Arum Kusuma, semuanya makan dengan tertib.
" Jadi kapan pertama kali kamu bertemu dengan Angga?" tanya tuan Wijaya berbasa-basi.
" Pertama kali kita bertemu ketika pesta ulang tahun tuan, kita juga ada berdansa sedikit" jawab Asyifa anggun.
" Jangan panggil tuan, panggil kakek saja seperti Angga, jangan terlalu sungkan, kita nantinya adalah keluarga, he he he!" tuan Wijaya terkekeh, kemudian dia melanjutkan, " Ternyata secara tidak langsung, aku yang mempertemukan kalian," serunya bersemangat.
Yang lain juga tergelak, atau lebih tepatnya berpura-pura tertawa.
" Jadi, kamu lulusan mana? kenapa sekarang tiba tiba jadi selebritis?" Lusi bertanya kritis.
" Saya lulusan dari UK, United Kingdom, saya dapat beasiswa untuk kuliah di sana, sebenarnya pekerjaan saya itu hanya Auditor lepas di Prameswari group, karena pekerjaan saya tidak terlalu berat, dan bisa di lakukan pada waktu luang, ketika ada tawaran syuting atau pemotretan, ya, saya ambil, rejeki kan tidak bisa di tolak," jawab Asyifa dengan percaya diri.
Mendengar jawaban seperti itu, sedikit tatapan cemoohan terlihat di mata Jeni, perempuan itu tidak berkomentar apapun.
" Bagaimana dengan keluargamu?" Lusi bertanya lagi.
Sebenarnya Lusi dan Jeni sudah tau, latar belakang Humaira Pramesti, mereka sudah menyelidikinya terlebih dahulu, mereka tahu, kalau perempuan itu di besarkan di panti asuhan dan sekolah hanya mengandalkan beasiswa saja.
Asyifa terdiam dia melirik Angga, dia sedikit keberatan dengan pertanyaan itu.
" Sudahlah, jangan di tanya lagi, itu mungkin menyinggung privasi May" protes Helena, ibunya Angga, kepada Lusi, kemudian perempuan itu menolak ke Asyifa, " Sudahlah, kalau kamu merasa tidak nyaman, tidak usah di jawab, yah!" ucapnya lembut.
__ADS_1
Lusi hanya bisa mencibir dalam hatinya melihat respon kakak iparnya seperti itu, Dia dan Jeni, memang kurang akrab dengan Helena.
Tatapan lembut Helena menggetarkan hati Asyifa, bagaimanapun Helena adalah sahabat mamanya, sebagai sahabat, mereka sering sekali bertemu, membawa Angga dan Asyifa kecil, Angga dan Asyifa tidak pernah akur bermain, sehingga sering mengadu pada keduanya, Angga mengadu kepada mamanya Asyifa, kalau anak itu nakal, Asyifa mengadu kepada Helena, betapa jahilnya Angga, mengingat memori tersebut, ada sedikit rasa sakit di hatinya, " Apakah, Tante juga ikut berkontribusi dalam kecelakaan mama dan papa?" benaknya.
Makan malam pun berlangsung dengan ceria, tidak ada pembahasan tentang Humaira lagi, mereka hanya membicarakan beberapa proyek yang sedang berjalan, pembahasan yang membosankan.
Selesai makan malam, tuan Wijaya Kusuma dan nyonya Arum Kusuma, undur diri untuk segera beristirahat.
Sebelum pergi, nyonya Arum berpesan kepada Angga, " Ajak Nona May, berkeliling mansion,"
Angga pun mengangguk mengiyakan, apa yang di perintahkan sang nenek.
" Aku mau ke toilet dulu" pamit Asyifa, kepada orang yang masih duduk di meja makan.
Seorang pelayan, langsung menuntut Asyifa ke toilet tamu yang sudah di sediakan, toilet tersebut, persis seperti toilet umum yang ada dalam gedung atau mall mall.
Setelah menbuang air kecil, Asyifa keluar menuju wastafel, dia bersikap wajar, agar tidak menimbulkan kecurigaan sedikitpun, pelayan masih berjaga di luar.
" Sepertinya gadis itu, sosok yang lembut dan pintar, Dia cocok sekali dengan Angga, dan posisi nyonya muda Kusuma bukan? Aku akan menjadi orang munafik, jika aku berkata bahwa aku tak menyukainya!" suara seorang wanita, memenuhi pendengarannya.
" Kamu benar, tetapi sayangnya Angga Sudah aku jodohkan dengan anak perempuannya Gu Yan, seorang Taipan dari Hongkong, Gu Yue, akan menjadi nyonya Kusuma selanjutnya," Suara laki laki itu mendominasi, dan tidak menerima pertentangan.
" Kamu memang sudah gila dengan ambisimu itu! Hidup Angga juga kamu pertaruhkan? Sudah sinting kamu!" hardik perempuan itu.
" Kamu diam saja, dan duduk manis, ikuti saja alur ceritanya!" bentak laki laki itu.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu, hanya terdengar derit pintu dan langkah kaki.
" Nona, apakah ada masalah?" pelayan yang di luar bertanya.karena Angga menelponnya, perihal Asyifa yang lama di kamar mandi.
" Tidak ada, ini sudah selesai" teriak Asyifa dari dalam kamar mandi.
Suara air mengalir dari wastafel pun terdengar,
Asyifa memasukan kembali earphone tanpa kabel kedalam tasnya.
Tanpa ada yang menyadari, diam diam Asyifa menyelipkan masing masing Mikro recorder kedalam jam tangan tuan Wijaya Kusuma dan nyonya Arum Kusuma, ketika berjabat tangan tadi.
****
__ADS_1