
Episode #16
ARDI gak pulang malam ini, dia menghabiskan malamnya bersama CAMILLA di hotel tersebut, sementara Ani dan Ami sedang menjalankan rencana liciknya di lantai dua rumah kediaman Asyifa dan Ardi, terlebih di kamar utama, kamar Ardi dan Asyifa.
" Syok mah,.. tutup pintunya, nanti keburu kak Ardi atau papa tahu, bisa hancur rencana kita, mumpung kak Ardi gak pulang malam ini,!" seru Ami yang sudah memasuki kamar tidur utama di rumah itu.
" Iya ,iya .. sabar," seru Ani sambil menutup pintu.
"Pastikan dulu di sini gak ada CCTV nya mi, nanti kerekam bisa di tuduh pencurian kita, mama gak mau di Kasudin," usul Ani.
( padahal emang mencuri yah, hahaha,)
" Ami mengangguk, mereka berdua memeriksa sekeliling memastikan tidak ada CCTV bentuk apapun di dalam kamar.
" Aman mah,!" ujar Ami.
" Yaudah ayo kita cari dimana Babon bulet itu menyembunyikan perhiasannya, setahu mama perhiasannya itu termasuk mahal dan langka, kalau di jual bisa dapet duit banyak,! Ani menyuruh Ami, senyum sudah tergambar di wajahnya , setelah beberapa jam lalu di gelayuti mega mendung akibat kedatangan pengacara HAMDAN, sudah bisa di bayangkan berapa banyak uang yang akan dia dapat, dan sebagian lainnya akan dia gunakan buat pamer di depan para bestie nya dan teman teman arisannya juga para tetangga , membayangkan hal itu senyumnya semakin berkembang.
Mereka bergerak cepat, menyisiri setiap laci dan lemari di ruangan itu, tapi nihil, mereka tidak menemukan apapun.
" Dimana sih si Babon itu menyembunyikan barang barang nya, masa gak ada dimana pun,!" kesal Ani, wajahnya yang putih sudah berubah sedikit kemerahan akibat kekesalannya.
" Bentar, mah,.. Calm down,!" kita harus cari lebih teliti dulu, wanita itu pintar, tidak mungkin dia menyimpannya di sembarang tempat, setidaknya semacam brankas atau apalah,!" jelas Ami seraya menghempaskan bokongnya ke tempat tidur.
" Ulangi apa yang barusan kamu bilang,! titah Ani, karena tadi kurang fokus mendengarkan celotehan Ami.
" Dia itu pintar," sahut Ami.
" Bukan yang itu,.. yang setelahnya,!" desak Ani.
" Semacam brankas atau apalah," sahut Ami, dan kemudian dia sadar.
" Ya, pasti di sembunyikan di brankas," serunya.
" Yasudah,.. ayo kita cari, dimana brankasnya,"titah Ani sudah tidak sabaran.
Sepasang anak beranak itupun mulai menyisiri lagi , segala sisi di kamar itu, setelah mencari tidak kurang dari setengah jam, akhirnya mereka menemukan sebuah brankas kecil di balik lemari, yang tertutupi dengan kotak sepatu.
Dengan semangat 45 mereka segera membuka dan meletakkan nya di atas ranjang, senyum bahagia dan mata berbinar tidak dapat di sembunyikan dari wajah mereka, setelah mencari hampir satu setengah jam akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari.
" Nah,.. coba buka mi, mama Udah ga sabar mau liat isinya,!" mata Ani tidak lepas dari kotak kecil yang sebenarnya mirip kotak perhiasan.
" Iya ah bentar,.. ini di pake kode,.. kira kira apa ya password nya,? Ami mulai mengotak ngatik kotak perhiasan tersebut.
" Hmmm," gumam Ani.
"Maaaa" sikut Ami
" Mama lagi mikir,... coba pakai tanggal ulang tahunnya," saran Ani, karena setahu dia tanggal lahir adalah password yang paling umum di gunakan oleh kebanyakan orang.
" Aku mana tau mah tanggal lahir si Babon," cebik Ami.
Saking tidak ada yang perduli dengan Asyifa baik ibu mertuanya ataupun iparnya tidak mengetahui tanggal lahir pewaris PRAMESWARI group itu, padahal setiap tahun mereka ikut merayakan ulang tahun Asyifa.
" Bentar,.. mama cari dulu dokumen tentang dia, pasti ada,!" Ani mulai menyisiri kamar itu lagi, Dan mendapatkan sebuah dokumen yang juga ada mencakup tanggal lahirnya.
" Nih,.. coba dulu, sapa tau bener,"! Ani menyodorkan dokumen tersebut kepada Ami.
Ami mencoba tanggal lahir Asyifa sebagai password, tetapi gagal, di coba lagi gagal, sudah tiga kali namun tetap gagal.
" Gak bisa mah,.. gagal terus!" keluh Ami.
"Apa ya kira kira password nya,!" Ani memikirkan apa kira kira hal yang istimewa bagi kehidupan Asyifa.
" Tanggal pernikahan," seru Ami dan Ani, bersamaan, mereka berdua sepertinya sepemikiran.
Semua keluarga mereka tau bagaimana Asyifa begitu mencintai Ardi walaupun dia sering di perlakukan tidak baik.
" Buruan coba,!" desak Ani gak sabar.
Ami mengangguk paham dan segera memasukan tanggal pernikahan Ardi dengan Asyifa sebagai password, tak lama setelah memasukkan kode tersebut, brankas kecil itupun terbuka.
melihat kotak kecil itu terbuka, alangkah bahagianya kedua anak beranak itu.
Tak mau membuang waktu mereka segera mengambil apa yang ada di dalam kotak kecil tersebut.
" Lihat mah,.. perhiasannya indah indah sekali, lihat kalungnya bagus banget,!" pekik Ami begitu bahagia.
" Yang ini buat aku ya,?" pinta Ami.
__ADS_1
" Huss,.. suaramu jangan kencang kencang, nanti papamu dan Tia curiga trus nyamperin kita kesini gimana coba,?"omel Ani.
Ami yang menyadari suaranya kekencangan refleks menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Sorry mah,.. ini kalau di jual semua dapat untung banyak banget kita,!" seru Ami bahagia.lalu memeriksa perhiasan yang lain.
" Sudah, lihat saja nanti, sekarang ambil semuanya beserta surat suratnya, dan kembalikan kamar dalam keadaan semula, Jangan sampai Ardi menyadari ada yang masuk ke sini,!" perintah Ani kepada Ami.
Mereka pun seketika merapikan kekacauan yang sudah mereka buat, setelah mengambil semua perhiasannya mereka meletakkan semua barang barang ketempat semula.
Setelah semuanya beres mereka menutup pintu dan kembali ke kamar mereka masing masing.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Tia memperhatikan semua yang mama dan saudarinya lakukan tersebut.
wanita itu menggeleng gelengkan kepalanya, dia gak habis pikir tentang bagaimana jalan pikiran keduanya, diapun kembali ke kamar tamu dan tidur, mengabaikan keduanya.
" Mereka pikir mbak Syifa sebodoh itu, biarlah biar mereka tahu bagaimana yang akan terjadi kedepannya biar mereka dapat pelajaran," pikir wanita sebelum menutup matanya.
****
Keesokan harinya setelah Ami pulang kerja dia bersama mamanya bergegas ke toko perhiasan yang ada di salah satu mall ternama, Ani sudah tidak sabar ingin mendapat uang banyak dari hasil penjualan perhiasan tersebut,
Setibanya mereka di toko perhiasan tersebut, Ani bertemu dengan djeng Rina, salah satu teman arisan di lingkungan komplek dia tinggal, dengan nada ramah yang terkesan angkuh perempuan paruh baya itu menghampirinya.
" Waah,. ada djeng Rina, sendirian aja djeng,?"
djeng Rina yang sedang asik melihat koleksi perhiasan mengalihkan perhatiannya ketika dia mendengar suara yang familiar di telinganya lalu dia mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara tersebut, ketika melihat siapa yang menyapanya dia hanya tersenyum kecut, dia memang tidak menyukai Sifat djeng Ani yang selalu merasa kaya dan sering pamer, dan terkadang merendahkan tetangga tetangga yang lain, yang keadaan ekonominya berada di bawahnya.
" Eh, ada djeng Ani,.. mau beli perhiasan lagi nih djeng,?" sapa djeng Rina ramah, walaupun sebenarnya dia malas berbasa-basi.
"Saya mau jual perhiasan djeng, terus mau beli yang lebih bagus, saya bosan dengan model dan desain nya,!" balas Ani dengan senyum angkuhnya, kemudian dia melanjutkan.
" Djeng Rina mau beli perhiasan,? memang sudah ada duit djeng,? bukannya belum narik arisan yah,?"
Di sindir seperti itu djeng Rina hanya bisa menelan ludahnya dongkol, bagaimanapun anak djeng Ani seorang CEO di PT GARUDA TV NUSANTARA dimana suaminya mencari nafkah, jadi dia harus pintar pintar mengelola emosinya, agar suaminya tidak kena imbas dari tingkahnya.
" Djeng Ani bisa saja,.. benar kata djeng, saya kalau mau beli perhiasan seperti ini harus nunggu narik arisan dulu, mana sanggup saya djeng, bisa puasa orang orang di rumah, saya disini menemani djeng Ayu , dia sedang ke toilet,!" papar djeng Rina menyuguhkan senyum manisnya.
Mendengar nama djeng Ayu di sebutkan oleh djeng Rina, Ani tersenyum, djeng Ayu adalah salah satu rivalnya di kompleks , dimana dia tinggal, perempuan itu termasuk kaum berada, mungkin satu tingkat di atas Ani , selain suaminya juga seorang pengusaha dia juga memiliki beberapa usaha Bakrie dan catering di mana sebagian besar pekerjanya adalah warga sekitar mereka, sehingga banyak sekali orang yang memihak beliau, Ani tersenyum senang ini adalah satu momen dimana dia akan menunjukkan kepada djeng Ayu bahwa dia memiliki banyak perhiasan dan bisa selevel dengannya.
" Kirain datang sendiri, ternyata sama djeng Ayu,!" Ani berbasa-basi.
" Haai djeng Ayu,?" Sapa Ami lebih dulu ketika djeng Ayu sudah mendekat kearah mereka.
" Dasar penjilat,.. dengan orang yang berada di sapa tapi dengan orang yang gak setara dianggap gak ada, padahal semua juga tau kemewahan yang mereka dapat juga dari hasil meras menantu dan ipar,!" cibir djeng Rina di dalam hati.
" Waah,. Ami, djeng Ani, ada di sini toh,. ?" sapa djeng Ayu dengan senyum ramahnya.
" Iya djeng, saya mau menjual perhiasan saya , bosan dengan motif dan desain nya, mau beli yang baru," Sombong Ani.
Ami yang ada di sana menganggukkan kepalanya menegaskan kembali pernyataan mamanya.
" Djeng Ayu kesini mau beli apa? djeng Ani berbasa-basi.
Djeng Ayu yang di tanya menampilkan senyum ramahnya sebelum menjawab.
" Saya lagi pilih hadiah ulang tahun buat menantu saya djeng Ani, tapi saya bingung nih ,.. kira kira yang mana, kebetulan djeng Ani dan Ami disini, jadi bisa bantu saya pilihkan, hehe,"
" Hadiah ulang tahun buat mantu djeng,? apa gak berlebihan djeng, hadiahnya perhiasan, lagian juga mantu hanya orang lain yang kebetulan di nikahin sama anak kita dan setahu saya mantu ibu juga sudah nikah empat tahun belum kasih cucu juga,!" kata kata djeng Ani meluncur dengan bebas tanpa di saring lebih dulu.
Raut wajah djeng Ayu sudah mulai berubah mendengar ocehan dari djeng Ani yang tanpa di filter, dari dulu djeng Ayu memang jarang berinteraksi dengan salah satu tetangganya tersebut, walaupun dia sering mendengar desas desus tentang abstrak nya tingkah djeng Ani dari para pekerjanya, dia tak pernah menyangka bahwa aslinya djeng Ani seperti ini.
" Ga apa apa dong djeng,.. anak mantu juga kan anak kita sendiri kan dia sudah berbuat baik dengan melayani anak kita, hormat pada kita, jadi perhiasan tidaklah sebanding dengan pengabdiannya, kalau masalah anak itu mutlak hak tuhan, mau kapan di kasih yang penting kehidupan anak dan menantu harmonis," jelas djeng Ayu menyembunyikan rasa kesalnya kepada djeng Ani.
Djeng Ani hanya mencebikan mulutnya, sementara Ami tidak peduli omongan orang tua, dia sibuk melihat perhiasan yang di tampilkan dalam etalase.
" Ada yang bisa kita bantu Bu,?" Sapa seseorang dengan berseragam dengan senyum khasnya, dapat di pastikan bahwa perempuan itu adalah pegawai di toko perhiasan tersebut,.
" Saya mau jual semua perhiasan ini, kira kira berapa yah,?" Ani menyodorkan semua perhiasan yang sudah di tata dalam satu kotak perhiasan lengkap dengan surat suratnya.
" Bentar,.. saya lihat dulu Bu,!" ucap pegawai toko seraya memeriksa sekilas perhiasan.
" Kalau kasarnya perhiasan ini bisa senilai satu miliar Bu,"
Mendengar penjelasan dari pegawai toko perhiasan tersebut membuat senyum di wajahnya semakin berbinar, begitu juga dengan Ami yang langsung tersenyum senang.
" Tapi, kita periksa keasliannya dulu ya Bu,! silahkan di tunggu," pegawai itu membawa seluruh perhiasan kedalam ruangan pemeriksaan.
Sementara itu djeng Rina dan djeng Ayu masih sibuk memilih berbagai perhiasan dengan pegawai toko lainnya, sedangkan Ani dan Ami sibuk melihat lihat etalase tempat perhiasan di pajang.
__ADS_1
Selang lima belas menit kemudian djeng Ayu sudah mendapatkan perhiasan yang dia pilih, yaitu satu buah gelang emas dengan berlian di tengahnya,
Pegawai toko yang memeriksa perhiasan milik Ani pun sudah keluar dari ruang pemeriksaan dengan membawa semua perhiasan milik Ani.
" Bagaimana mbak,?" Ani begitu bersemangat begitu juga dengan Ami.
Pegawai itu menyerahkan kotak perhiasan dan memasang senyum ramah sebelum dia berkata.
" Maaf ibu setelah di periksa semua perhiasan ini imitasi dan surat suratnya juga palsu,"
Mendengar penjelasan pegawai toko itu membuat senyum di wajah keduanya seketika lenyap dahinya berkerut, mereka seolah menyiratkan pertanyaan " Bagaimana bisa,..palsu,?
" Imitasi bagaimana maksudnya, jelas jelas ini asli ada nomor serinya dan ada juga surat keterangan nya," jelas Ami menunjukkan nomor seri perhiasan dan surat keterangan tentang perhiasan itu.
" Mbak, jangan nipu kita dong,.. jelas jelas itu asli!" ngotot Ani.
Djeng Ayu yang tidak tahu apa apa langsung menghampiri Ani dan Ami setelah mendengar keributan, kamera ponselnya langsung aktif untuk mengabadikan kejadian, " kapan lagi ada pembalasan untuk sikap sombong nenek nenek satu ini," pikirnya.
"Sudah saya bilang perhiasan ini asli, kamu mau nipu saya yah,?" bentak Ani kepada pegawai toko, suaranya begitu menggelegar sehingga menarik perhatian sejumlah pengunjung toko.
"Mah, jangan kencang kencang suaranya, malu tuh,.. di liatin orang" Ami mengusap lengan Ani untuk menenangkan.
Ani langsung menepis tangan Ami," Minggir," ucapnya ketus.
" Benar Bu,.. kita tidak menipu, nomor seri yang ada di perhiasan ini tidak terdaftar," jelas si pegawai toko dengan wajah yang pias karena bentakan dari Ani.
" Gak mungkin ini palsu! jangan coba coba menipu saya ya,? saya bisa melaporkan ke manager kamu biar kamu di pecat," ancam Ani yang masih mengotot bahwa perhiasan yang di bawahnya itu asli.
Beberapa pengunjung yang merasa terganggu langsung melakukan live streaming di berbagai platform sosial media mereka.
Djeng Ayu yang sudah paham duduk permasalahannya segera menghampiri ketiganya, dengan lembut dia berkata kepada pegawai toko tersebut.
" Mbak, sebaiknya panggil manager dan petugas dari ruang pemeriksaan biar di jelaskan lebih detail kepada pelanggan, biar tidak terjadi salah paham,!
Mendengar saran dari djeng Ayu wajah pegawai itu seketika menjadi cerah, diapun segera berlari ke ruang manager untuk memberikan penjelasan . dan si manager mengerti permasalahannya.
Manager itu langsung keluar dan menuju arah Ani dan Ami berada.
" Selamat sore mbak, ibu,..apa ada permasalahan,? tanya si manager ramah kepada pelanggannya.
" ini, toko ini bagaimana sih,..masa di bilang perhiasan saya imitasi dan surat keterangannya palsu,! jelas jelas ini ada nomor serinya!" Ani menjelaskan menggebu gebu.
" Sebentar ya bu,.. saya periksa dulu!" ucap si manager lembut.
Ani pun segera menyodorkan kotak perhiasan tersebut beserta surat keterangannya, si manager langsung menerima apa yang Ani berikan dan langsung mengeluarkan ponselnya.
Lelaki tersebut mencari situs tentang perhiasan yang memang sudah di daftarkan beserta nomor serinya di hadapan Ani, Ami dan djeng Ayu, si manager langsung memasukkan nomor seri dari perhiasan Ani tersebut dan menunggu hasilnya beberapa saat.
Tak lupa djeng Rina masih merekam momen ini dan sebagian pengunjung juga masih melakukan live streaming.
"Hasil tidak di temukan" begitulah hasil yang muncul dari ponsel si manager terkait tentang perhiasan.
" Memang tidak terdaftar ya Bu,?" ucap si manager lembut.
" Saya tidak percaya, dari semua perhiasan ini masa tidak ada yang terdaftar,!" Ani masih mengotot.
Si manager masih tersenyum, dia sudah terbiasa menghadapi customer seperti djeng Ani.
" Kalau ibu tidak percaya, silahkan cek dengan ponsel ibu dan mbak sendiri, ini alamat website nya!" si manager menyerahkan ponselnya ke Ani dan Ami.
Ani dan Ami. gegas mengambil ponsel mereka dan mengecek langsung setiap nomor seri yang tercantum dalam perhiasan mereka, alangkah terkejutnya mereka bahwa tidak ada satupun nomor seri yang benar, kemungkinan besar ini memang bukan asli tapi tiruan.
" perhiasan yang ibu bawa juga bukan merupakan emas asli ya bu, itu juga imitasi dan surat keterangan nya juga palsu, kemungkinan besar ibu dan mbak di tipu," jelas si manager masih menunjukkan wajah ramah.
" What,? Di tipu,? Bagaimana mungkin!" Ani mengerang sedih, Habis sudah angan angan nya untuk mendapatkan uang banyak, lututnya serasa lemas dan dia sudah tidak kuat lagi menopang berat badannya.
" BRUUK,"
Ani tiba tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri, Ami begitu panik.
" Mama, mama, bangun mah,.. jangan pingsan dulu!" Ami histeris.
Djeng ayu segera menenangkan Ami dan berinisiatif mengantarkan nya ke klinik terdekat,.biar dibawa ke rumah sakit!" pinta djeng Ayu ke beberapa pengunjung dan pegawai toko.
Ani pun di bawa ke rumah sakit oleh Ami, djeng Ayu dan djeng Rina.
"******
" Tolong di papah, di bawa kedalam mobil
__ADS_1