Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Tuan Wijaya Kusuma


__ADS_3

Episode #80


Setelah mengantarkan Asyifa ke apartemennya, Angga segera pulang ke mansion milik keluarga Kusuma, kakeknya, tuan Wijaya Kusuma sudah memberikan perintah langsung menemuinya, Setelah makan malam dengan Asyifa selesai.


Kurang dari setengah jam berkendara dengan arus lalulintas yang lancar, akhirnya Angga tiba juga di gerbang mewah milik keluarga Kusuma, Setelah seorang sekuriti yang siap dua puluh empat jam berjaga membuka pintu gerbang tersebut, Angga keluar dari dalam mobil, terlihat para asisten rumah tangga menunduk hormat ketika melihat kedatangan sang pewaris yang berkunjung ke rumah kakeknya.



" Kakek ada di mana pak Candra?" tanya Angga, ketika seorang kepala pelayan menghampiri Setelah di beritahu tentang kedatangannya.


" Tuan Besar Wijaya telah menunggu Anda di ruang kerjanya, tuan muda! beliau berpesan agar anda segera kesana untuk menemuinya" ucap kepala pelayan itu dengan sopan, " Tuan muda mau minum apa? biar nanti sekalian saya antarkan ke sana!" tanyanya memastikan.


" Kopi hitam kental saja ya pak? gulanya sedikit saja" Setelah mengatakan itu, Angga berlalu menuju ruang kerja sang kakek, meninggalkan kepala pelayan yang segera menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk tuan mudanya tersebut.


Angga masuk kedalam lift dan segera menuju ruang kerja tuan WIJAYA Kusuma, di lantai tiga, Setelah berjalan beberapa langkah diapun berhenti di depan pintu ruangan, lalu mengetuk pintunya.


" Tok, Tok, Tok," suara ketukan pintu terdengar nyaring.


" Masuk" perintah suara dari dalam ruang kerja.

__ADS_1


Angga pun langsung membuka pintu.


" Krek!" suara gerendel pintu.


" Tap,. Tap,..Tap,. " suara langkah kaki terdengar.


Tuan Wijaya Kusuma sedang berdiri di balkon ruang kerjanya, tangannya memegang secangkir teh hijau hangat, tanpa membalikkan badannya diapun bertanya, " Bagaimana?".


Angga pun berjalan mendekati ke sisi sang Kakek, Setelah memangkas jarak, Angga pun menjawab," Benar sekali kek! Saya sudah mengkonfirmasi langsung dengan wanita itu! sebelumnya dia memang seorang Auditor lepas di Prameswari group, katanya, dia mendapatkan beasiswa dari perusahaan, untuk melanjutkan pendidikannya, sejauh ini hanya itu yang saya tanyakan, saya tidak ingin menimbulkan kecurigaannya.


Tuan Wijaya diam, dia mengangkat tangannya untuk menyesap teh hijaunya yang mulai dingin, rasa pahit di lidahnya begitu terasa menenangkannya.


Angga hanya mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di bicarakan dengan sang Kakek.


" Bagaimana latar belakang gadis itu?" setelah menanyakan hal itu, tuan Wijaya Kusuma berbalik arah, berjalan melewati Angga ke tempat duduk, kemudian dia meletakkan gelas tehnya di atas meja.


Ketika Angga ingin menjawab, suara ketukan pintu terdengar, Candra sang kepala pelayan segera masuk, dan meletakkan secangkir kopi kental di meja yang sama dengan teh hijau milik sang kepala keluarga, Setelah itu dia undur diri.


Angga pun segera mengambil kopi kental itu dan segera menyesapnya, sebelum dia berkata," Berdasarkan informasi yang di kumpulkan oleh tim IT kita, perempuan itu bernama, Humaira Pramesti, dia besar dan tinggal di bawah naungan panti asuhan, yang di kelola oleh Prameswari group, kedua orang tuanya adalah mantan karyawan di salah satu perusahaan di bawah payung group itu, ketika dia berumur sepuluh tahun, kedua orang tuanya meninggal, dalam sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol, ketika arus mudik ke Surabaya, kebetulan dia masih berlibur di rumah neneknya, sehingga selamat dari insiden maut tersebut, Dua tahun kemudian, sang nenek yang merawatnya juga meninggal, karena usia yang sudah sepuh, tidak ada keluarga lagi dari kedua belah pihak yang mau merawatnya, akhirnya dia mendatangi tempat kerja orang tuanya sebelumnya, dan akhirnya, karena iba, pihak perusahaan membawanya ke panti asuhan, yang ada di bawah naungan group itu," jelas Angga, tanpa menampilkan emosi sedikitpun, wajahnya sangat datar, ketika mengatakan itu.

__ADS_1


" Baiklah, kalau seperti itu, bisa di katakan, dia kekurangan kasih sayang orang tua dan keluarga, itu adalah kata kunci kelemahannya, tugasmu sekarang, membuatnya lengah, dengan merasakan hangatnya sebuah keluarga, sesekali undang dia kesini, dan tunjukkan keramah tamahan keluarga kita, buat dia terperdaya dengan cinta kasih yang kita tampilkan, kita sudah susah payah mengeluarkan tenaga kita untuk menghasut Ami, adiknya ARDIANSYAH, agar menggelapkan Dividen perusahaan itu, kalau tidak, wanita ini tidak akan menampakkan wujudnya, dan hingga sekarang, kita masih meraba-raba, siapa sebenarnya pihak yang harus di dekati, begitu sulit untuk memancingnya keluar, jadi, jaga itu, buat perempuan itu nyaman dengan kamu, dan jangan membuatnya ilfeel sama kamu, atau semua rencana kita hancur berantakan!" tuan Wijaya Kusuma memperingatkan dengan tegas.


" Baik kakek, semua perintah kakek akan saya turuti, saya berjanji, tidak akan membuat Kakek kecewa sesuai dengan harapan kakek!" Angga membalas ucapan kakeknya dengan sangat lembut.


" Jadi apa rencanamu sekarang dan kedepannya?" tuan Wijaya Kusuma menanyakan hal tersebut, dan langsung mengangkat gelasnya, lalu menyesap teh hijaunya sampai tandas.


Sang tuan muda, kemudian menjelaskan rencananya.


" jadi, Begini , kek,. "


Sekitar tiga puluh menit, Angga menjelaskan rencananya satu persatu dengan sangat detail, dia meminta kakeknya untuk mengkoreksi, jika ada rencananya yang kurang cocok dan bagus, sang kakek mendengarkan cucunya dengan seksama, dia tersenyum puas, karena cucunya sangat pintar dan bisa di harapkan, hal ini sangat berbeda dengan anak laki-laki satu satunya, Rio, ayahnya Angga, yang memilih dunia seni, sebagai jalan hidupnya, Rio merupakan seorang pelukis terkenal, yang karyanya sering di pamerkan, sayangnya tuan Wijaya Kusuma tidak pernah melirik bakat anaknya itu.


"Baiklah kalau seperti itu, kamu lakukan yang terbaik, ingat ya, lakukan dengan senatural mungkin, kamu harus selalu ingat, untuk jangan terbawa perasaan, ingat, perasaan akan menghancurkan segalanya," komentar yang di berikan tuan Wijaya Kusuma untuk selalu di ingat oleh cucunya Angga Kusuma, itu adalah prinsipnya, sehingga dia bisa sukses, seperti sekarang, kalau tidak, dia tidak akan bisa menghancurkan perusahaan yang dia rintis Sebelumnya bersama Amir Prameswari, kakeknya Asyifa Prameswari.


" Baiklah, sekarang kamu boleh pergi dan beristirahat, aku masih ada beberapa urusan yang perlu aku tinjau" dengan halus tuan Wijaya Kusuma memerintahkan cucunya untuk segera keluar dan beristirahat.


" Baiklah, kek, aku permisi dulu" Angga berpamitan, keluar dari ruang kerja kakeknya.


Setelah melangkahkan kaki keluar ruangan, Angga menghela nafas panjangnya, Dia akui, dia memang dekat dengan kakeknya sedari kecil, dan entah mengapa, kedekatannya dengan sang Kakek hanya seperti hubungan kerja, bukan sebuah hubungan layaknya kakek dan cucunya.

__ADS_1


****


__ADS_2