Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Rencana Asyifa untuk Ami


__ADS_3

Episode #62


Hmm, Sepertinya sudah mulai sore, Syad, Antar nona Melinda pulang dulu, baru nanti jemput kita," ucap Amar, memecahkan keheningan sesaat.



Arsyad langsung berdiri, " Baik, Tuan muda, saya antar Nona Melinda terlebih dahulu,"



Kemudian Arsyad menoleh ke arah Melinda, " Mari, Nona!"


Melinda pun beranjak, dan berpamitan kepada Amar dan Humaira.


Keduanya langsung menuju parkiran, tak ada perbincangan apapun diantara mereka sepanjang jalan.


Ketika sampai di parkiran, seperti biasa, Arsyad membukakan pintu belakang mobil untuk Melinda dan mempersilahkan perempuan itu untuk masuk.


Melinda menggeleng , " Aku tak ingin duduk di belakang, kau bukan supirku, Aku duduk di depan saja," kata Melinda, sambil menampakkan senyumnya.


Melihat Melinda yang tersenyum manis, membuat pipi Arsyad merah, entah mengapa, dia mudah sekali tersipu, di hadapan wanita itu.


Arsyad pun menutup pintu belakang, dan membuka pintu depan, lantas, Melinda duduk di samping kemudi, Arsyad langsung menutup pintu, dan berjalan ke arah kemudi dan duduk di belakang kemudi, jujur dia sedikit gugup di samping Melinda.


Mobil pun melaju, suasana canggung pun mulai terasa.



" Mau dengerin radio?" usul Arsyad memecahkan keheningan.



Melinda mengangguk dan berkata, " Boleh,"



Suara radio pun mulai memecahkan keheningan diantara mereka berdua.



Melinda melirik sekilas pada Arsyad, dia ingin menanyakan sesuatu, tetapi ada keraguan.


Arsyad yang memperhatikan gestur yang gelisah dari Melinda pun langsung bertanya," Apa ada yang membuat Nona tidak nyaman?"


" Hmm, itu" masih ada keraguan dalam hatinya.


" Katakan, apa yang mengganjal Nona, siapa tahu saya bisa sedikit meredakannya," ucap Arsyad seraya fokus menyetir.

__ADS_1



Mereka sudah sampai di persimpangan lampu merah, masih menunggu beberapa menit lagi, sampai lampu menjadi hijau.


" Gmn, baiklah," Setelah mengatakan itu, Melinda menghirup nafasnya pelan, " Aku mungkin terlihat kepo, tapi aku benar-benar penasaran dengan maksud nona May,, yang mengatakan bahwa dia sudah jujur dengan Ami, dia sudah mengatakan semuanya, jujur aku masih bingung,"


Arsyad tersenyum, apa yang dia pikirkan ternyata meleset jauh, tadinya dia berpikir kalau Melinda akan mengajaknya bertemu lagi, " Sejak kapan, aku jadi mudah GR seperti ini?" pikirnya.


" Oh, itu,." jawab Arsyad dengan tidak bersemangat, tetapi masih tetap menjawab, " Nona May, mengatakan bahwa ia sudah berkata jujur itu, terkait dengan kasus rumah tangganya, mungkin kamu belum tahu, kalau suaminya Ami, eeh, siapa ya, namanya, aku lupa,.. pokoknya suami Ami lah, kalau dia sudah mendaftarkan perceraian mereka di pengadilan agama, Ami terlibat kasus perselingkuhan dengan teman kampus adiknya, seorang keturunan Turki, ganteng sih, tapi gak modal, Nah, Nona May, mengirimkan bukti bukti perselingkuhan itu kepada suaminya Ami tersebut,"


Arsyad menjeda penjelasannya, ketika lampu sudah berganti warna hijau, kemudian dia melanjutkan, " Nah, di tambah lagi, kasus penggelapan dana yang menyeret Ami ke hotel prodeo itu akibat ulahnya, Nona May, menemukan kejanggalan tersebut di pembukuan keuangan PRAMESWARI group,"


Melinda sedikit mengerti, sebagai mantan sahabatnya Camilla, dia cukup familiar dengan perusahaan Prameswari group, perusahaan yang di wariskan kepada Asyifa Prameswari, mantan istri ARDIANSYAH, walaupun dia belum pernah kontak langsung dengan Bu Boss Syifa, begitu para karyawan PT GARUDA TV NUSANTARA, memanggilnya, dia tahu sedikit banyak tentang wanita itu dari Camilla.


" Jadi, Nona May, itu ada hubungannya dengan Prameswari group?" tanya Melinda memastikan.



" Iya, dan Nona pasti tahu apa hubungannya PRAMESWARI group, dengan keluarga ARDIANSYAH, bisa di bilang, bahwa Nona May, adalah utusan atau delegasi dari group tersebut, untuk membalas perlakuan buruk mereka, terhadap Bu Boss Asyifa Prameswari," jawab Arsyad, sambil fokus menyetir dibalik kemudi.



" Ooh, seperti itu? Apakah keberadaan Bu Boss Syifa, sudah ada titik terang? maksudku, pemberitaan memang mengatakan, bahwa beliau tidak bisa di selamatkan dari kecelakaan itu, tetapi sampai sekarang masih belum bisa menemukan keberadaan tubuhnya," ucap Melinda berpikir kritis.




Melinda pun manggut-manggut tanda dia mengerti, dia tidak bisa bertanya lebih jauh lagi, dia juga tau batasan, dan itu bukan ranah dia.



Arsyad hanya menghela nafas sejenak, Melinda tidak menyadari itu, Arsyad tidak mungkin mengatakan, bahwa Bu Boss Syifa adalah Nona Humaira, saat ini itu sangatlah rentan, membawa Melinda dalam bahaya, dimana dia setiap harinya berurusan dengan si ular Camilla.



Tak ada lagi percakapan di antara keduanya, Melinda pun mengantuk, dan tertidur di mobil, Arsyad hanya memandangi nya dengan tatapan yang lembut.



\*\*\*\*


Sementara itu, di private room restoran, sejenak, Setelah Arsyad dan Melinda meninggalkan ruangan.


Amar masih memandang Asyifa lekat, dia masih tidak mengenal, sisi kejam sahabat masa remajanya ini.


" Kenapa menatapku seperti itu? kamu mau membela j@lang itu, kalau aku bersikap kejam, membiarkan dia membusuk di rumah sakit jiwa?" tanya Asyifa dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1



" Aku,.. Aku tidak tahu, mau berkomentar apalagi syif, aku merasa bukan hanya parasmu saja yang berubah tapi juga watak dan kepribadianmu,Aku,.. Aku kehilangan sosok baik hati, yang selalu memaafkan kesalahan orang," Amar menjawab dengan tatapan sendu.



Asyifa yang awalnya marah, sedikit melunak dengan apa yang Amar katakan.



" Never mind, Amar, aku hanya mencari keadilan untuk diriku sendiri, aku tidak terlalu kejam, bahkan aku sudah berbaik hati padanya, aku hanya mengambil apa yang sudah aku berikan padanya, dan membalas perlakuannya padaku!" ucap Asyifa, lalu meminum air mineral dan meletakkannya di atas meja kembali.



" Aku benar-benar tidak mengerti Syif, coba jelaskan kepadaku lebih detail, agar aku tak salah paham!" pinta Amar masih menatap lekat Asyifa.



" Begini Mr Teddy Bear? mengambil apa yang sudah aku berikan padanya, adalah harta bendanya, termasuk pekerjaannya, kamu pikir siapa yang memasukkan dia di perusahaan dan menjadikan dia asisten menejer keuangan? Ya aku! Siapa lagi! sebagai salah satu pemilik saham terbesar, dan posisi sebagai CEO, mudah sekali bagi aku, untuk menunjuknya sebagai asisten manajer bukan?' tanya Asyifa.



" Ya!" hanya itu tanggapan Amar.


Asyifa pun melanjutkan, " Membalas perlakuannya padaku, maksudnya adalah menghancurkan rumah tangganya, aku sebenarnya tidak menghancurkannya secara langsung, aku hanya menguaknya sedikit, bukankah itu juga sama seperti yang dia lakukan pada rumah tanggaku sebelumnya? trus, untuk balasan mencelakakan Aku, upaya melenyapkan aku? seharusnya dia juga aku lenyapkan bukan? tapi karena aku masih memandang papa Andreas, jadi aku tak melakukan hal seperti itu, memasukannya ke rumah sakit jiwa dengan perasaan dan pikiran normal, itu sudah jadi hukuman normal buat dia," jelas Asyifa menggebu-gebu.


" Baiklah, Aku mengerti! trus bagaimana caranya dia bisa masuk ke rumah sakit jiwa?" tanya Amar penasaran.



" Gampang, aku menghipnotis dia, jadi selama sebulan ini dia akan berhalusinasi tidak karuan, mau tidak mau, pihak kepolisian akan memasukkan dia ke rumah sakit jiwa, Setelah satu bulan kemudian, dia akan tersadar dari hipnotis itu," jelasnya, sambil mengunyah kacang atom yang ada di mejanya, dia menjelaskan, menghipnotis Ami, seperti dia sedang memasak.



" Itu bukannya sebuah kejahatan? Apalagi kau melakukannya di lapas! ya ampun syif,..!" eh omong omong kapan kamu belajar hipnotis?" Amar kaget bercampur penasaran.


" Hhmp,. itu! si psikolog Jhon, yang mengajariku! katanya bisa digunakan dalam melindungi diri, he he he" kekeh Asyifa tanpa menyembunyikan apapun.


" Hmm, baiklah, aku percaya padamu!" ucap Amar akhirnya.


Merekapun berbincang cukup lama, sambil menunggu Arsyad datang menjemputnya.


Tak lama kemudian ponsel Amar berbunyi, panggilan dari Arsyad, yang mengatakan bahwa dia sudah menunggu di parkiran.


Amar dan Asyifa pun keluar dari ruangan private room, tak mereka sangka di meja pojokan arah keluar, mereka melihat Ardi dan Camilla.


Asyifa menghela napas, dan berkata dalam hatinya, " Untung Melinda sudah diantarkan dulu oleh Arsyad, kalau tidak, Camilla akan mencurigai Melinda,"

__ADS_1


****


__ADS_2