
Episode #88
Dua Minggu berlalu dalam sekejap mata.
Camilla sekarang sedang memulihkan diri, dia memutuskan untuk melakukan operasi penghilang luka, akan tetapi, dia harus menunggu sampai luka lukanya benar benar sembuh dulu, sekarang dia sudah tidak syuting, dia sudah mengundurkan diri, sesuai dengan pilihan yang di tawarkan oleh pak Aliansyah, untungnya dia tidak membayar denda.
Dengan keadaan sekarang, Camilla Sudah tidak ada pemasukan samasekali, tidak ada job yang dia terima, bisa di katakan, sekarang Camilla pengangguran, dia hanya mengandalkan sisa tabungannya.
Hilangnya Camilla di layar kaca dan di sosial media, membuat para penggemarnya bertanya tanya tentang keberadaan dirinya, Ada yang mengatakan dia di tangkap polisi, ada yang mengatakan dia sedang berlibur keluar negeri, ada juga yang beranggapan perempuan itu sedang sakit parah, bahkan di berbagai platform sosial media, banyak sekali konspirasi tentang hilangnya Camilla.
Tentang luka di wajah Camilla, tidak ada yang mengetahui, kecuali Ardi dan Melinda, Ardi dengan tegas, menekan segala berita tentang hancurnya wajah Camilla.
Melinda juga sudah tidak bekerja lagi dengan Camilla, perempuan itu sudah kembali ke butik, dia sekarang berpura-pura menjabat sebagai penanggung jawab butik, sesuai permintaan sang owner yang baru, tentu saja para pegawai butik Lady's palace bahagia, mendengar berita ini.
Para pegawai sangat mengharapkan Melinda kembali, bahkan mereka menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut perempuan yang mereka panggil "Cici" tersebut.
\*\*\*\*
Saat ini, Ardi sedang berada di tower milik Kusuma group, tower itu terdiri dari, perkantoran, apartemen dan juga mall, saat ini dia sedang berada di ruangan CEO dari tower tersebut, yang terletak di lantai paling atas, dari sini pemandangan di ibukota sangat terlihat jelas, Gedung pencakar langit nampak seperti tongkat yang di tancapkan kedalam tanah, dan kendaraan di bawah sana terlihat seperti, sekumpulan semut yang berlalu lalang, sayangnya, langit ibukota sudah sangat jarang terlihat berwarna biru, hanya Mega mendung yang selalu terlihat, akibat polusi yang terperangkap.
Ardi duduk di salah satu sofa di sana, dia sedang menunggu sang kepala keluarga Kusuma group, yaitu tuan Wijaya Kusuma.
__ADS_1
Secangkir kopi panas hitam yang sedari tadi setia menunggu pun sudah berubah menjadi dingin, sesekali Ardi melirik jam tangan rolex di pergelangan tangannya, Sudah hampir satu jam dia menunggu, dia menghela nafas pelan, Ardi memang paling benci menunggu, dan sebagian orang pun memang seperti itu.
" Kreet!" pintu berderit.
Mendengar itu Ardi berdiri, dan menghadap ke pintu, di sana terlihat sang tuan rumah Wijaya Kusuma, yang di dampingi oleh sang pewaris, tuan Angga Kusuma, beserta beberapa orang yang di duga adalah asisten pribadi, sekaligus bodyguard dari keduanya.
" Silahkan duduk pak Ardi!" ujar tuan Wijaya Kusuma, mempersilahkan Ardi duduk kembali setelah berjabatan tangan.
Ardi pun menurut, ini pertemuan kedua mereka, pasca kecelakaan Asyifa, Setelah pesta ulang tahun tuan WIJAYA Kusuma tempo hari.
" Langsung saja pak Ardi! Saya mengundang pak Ardi kemari, ingin mengetahui, isi surat wasiat yang di tinggalkan oleh mendiang istri anda Asyifa Prameswari, saya pikir, sudah seharusnya di bacakan oleh pihak mereka bukan? karena ini sudah berlangsung selama enam bulan, Setelah istri anda di nyatakan hilang dan tewas," tuan WIJAYA Kusuma berbicara langsung, tanpa berbasa-basi, dan langsung menyilang kan kedua kakinya di sofa.
Tampak pelayan sedang menuangkan teh ke cangkir tuan Wijaya Kusuma, tuan muda Angga Kusuma dan Ardi, Setelah itu pelayan tersebut undur diri.
Ardi yang duduk semeja dengan tuan Wijaya Kusuma dan tuan muda Angga Kusuma, nampak mengeluarkan keringat , padahal ruangan tersebut serasa sangat sejuk karena pengaruh Air conditioner.
Tuan WIJAYA Kusuma memang ingin membuat hidup Asyifa menderita, sebuah kompensasi atas keberuntungannya yang lolos dari maut dalam kecelakaan kedua orang tuanya.
" Begini pak,..eh ,..Tuan Wijaya, tentang ini,.." Ardi tergagap, dia belum menyusun kata-kata sebelumnya tentang hal ini.
" Kenapa? Apa kamu tidak rela menyerahkan warisannya kepada kami? ingat, kamu menikahinya hanya untuk merebut hak waris dari perempuan itu, apa kamu ingin menguasai sendiri dan menghilang dari kami?" tegas tuan Wijaya Kusuma, matanya mendelik kearah Ardi, tangannya di silangkan di kedua dadanya.
" Kakek, kita dengarkan penjelasan pak Ardi dulu, dia belum menyelesaikan bicaranya, kita tunggu dia selesai bicara, baru menyimpulkan, Nanti darah tinggi kakek kambuh loh!" Angga yang duduk di sebelah tuan Wijaya Kusuma menenangkan sang kakek dengan lembut.
__ADS_1
" Nah, sekarang tolong di lanjut pak Ardi!" lanjut Angga segera, Setelah memastikan sang kakek sudah bisa mengendalikan diri.
" Baiklah, terima kasih tuan muda" Ardi menganggukkan kepalanya dua kali, sebelum dia melanjutkan, " Pembacaan surat wasiat memang telah di bacakan oleh kuasa hukum mereka, yaitu pak HAMDAN HUTAPEA, dari kilau hukum, itu bertepatan Sekitar dua bulan, pasca di tetapkannya istri saya hilang dan tewas" .
" Sudah, langsung saja, apa aset yang kamu dapat?" tuan WIJAYA Kusuma tidak sabar.
" Kek!" seru Angga, " Biarkan dia menyelesaikan dulu! ayok pak Ardi, silahkan di lanjutkan!" ucap Angga lembut.
" Saya tidak mendapatkan apapun, semuanya di kembalikan kepada pengelola Prameswari group, Semua aset akan jatuh ke tangan Asyifa Prameswari, saat dia berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi, karena dia meninggal sebelum usia itu, dan tanpa meninggalkan keturunan sebagai ahli waris, jadi semua aset Prameswari group di kelola oleh Prameswari dan keuntungannya digunakan untuk amal, bahkan saya tidak mendapatkan harta gono-gini sepersen pun, karena semua aset masih memakai nama ayah mertua, Umar Prameswari," Ardi menjelaskan dengan detail.
Mendengar itu, sorot mata kekejaman dan amarah tersirat di wajah tuan WIJAYA Kusuma.
" Saya juga membawa salinannya," ucap Ardi kemudian, tanpa memperdulikan kilatan amarah dari tuan Wijaya Kusuma, Dia segera merogoh tasnya, dan menyerahkan salinannya, bodyguard yang berdiri di belakang, langsung mengambil dan menyerahkannya kepada tuan Wijaya Kusuma, bodyguard yang lain segera menyerahkan kotak kacamata milik tuan Wijaya, segera beliau membaca salinan surat wasiat tersebut.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan, tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
" Sialan! Umar sialan!" pekik tuan Wijaya Kusuma, dia segera meremas salinan surat tersebut, dan melemparkannya ke wajah Ardi.
" Dasar tidak berguna!" hardiknya kepada Ardi.
Ardi hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak berani mengangkat wajahnya.
" Tua Bangka sialan itu pasti sudah menebak hal ini akan terjadi! Aku terlalu meremehkannya," geram tuan Wijaya, tangannya mengepal.
" Kakek, tenangkan dirimu, ingat, darah tinggimu nanti kambuh lagi," Angga mencoba menenangkan kakeknya.
__ADS_1
****