Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Penculikan Asyifa


__ADS_3

Episode #8


    Asyifa mengabaikannya, dia sibuk dengan gelasnya, Dia memutar gelasnya sebentar, dan membauinya, kemudian Asyifa berpura-pura sedang minum, bibirnya hanya menyentuh permukaan gelas.


  " Aku pikir tadi ini alkohol, ternyata hanya sirup, sayang terlalu manis, buat aku!" Asyifa berkomentar.


    Zoya semakin tersenyum lebar, sekarang dia yakin, jika Asyifa sudah benar benar meminumnya.


  " Aku tidak tahu, kalau kamu tidak suka minuman manis, aku minta maaf!" Zoya terlihat merasa bersalah.


  Asyifa hanya mencibir dalam hatinya," Dasar Walang sangit!"


  " Aku akan mengambilkan sedikit makanan, tunggu aku ya?" pinta Asyifa, tak lama kemudian dia mengucapkan, "Titip!" seraya menyerahkan gelasnya kepada Zoya.


    Asyifa membawa beberapa cemilan dalam nampan, cemilan itu cukup untuk mereka berdua.


  Beberapa langkah mendekati Zoya, Asyifa kehilangan keseimbangan, tersandung, tubuhnya menghambur menabrak Zoya, seketika minuman yang berada di tangan Zoya tumpah dan membasahi bajunya.


    " Aaah!" Zoya sedikit menjerit, gaun barunya sudah basah, ada kilatan kebencian dan kemarahan di mata Zoya, gaun baru yang dia beli mahal, malah ketumpahan minuman, dia sangat geram sekali, walaupun begitu, dia berusaha bersikap tenang, tadi dia sudah melihat sendiri, Asyifa telah meminum minuman yang dia tawarkan. seketika dia melupakan perkara gaunnya.


    " Maaf ya Zoya, Aku kurang berhati-hati!" Raut wajah penyesalan tergambar jelas di wajah Asyifa.


    " Ini kartu namaku, Aku akan mengganti gaunmu, datang saja ke butik Lady's palace, dan pilih gaun penggantinya, maaf sekali ya! Aku benar-benar tidak sengaja!" Asyifa merogoh tas kecil di tangannya, wajahnya benar-benar menunjukkan rasa gak enak hati.


  Zoya bukanlah orang munafik, dia sangat tahu kualitas gaun di butik Lady's palace, Butik terkenal milik Melinda, langganan para artis dan selegram juga istri istri pejabat, dia merasa dapat durian runtuh malam ini, dapat gaun gratis dan bonus juga, matanya berbinar, bibirnya melengkung, segera dia meraih kartu nama itu, dan menaruhnya kedalam tas kecil tempat dia menyimpan ponselnya,. tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih.


   Asyifa hanya menyunggingkan senyum, dalam hati dia mengutuk manusia jenis ini, sikap Zoya mengingatkannya pada Camilla, si ulat bulu betina, mereka benar-benar mirip, seperti adik kakak sungguhan.


    " Aku akan mengganti gaunku sebentar, kamu tunggu sini ya, aku masih ingin berbincang denganmu lebih jauh, Syifa!" Zoya bersikap sangat hangat, seolah mereka adalah teman lama, yang baru saja bertemu dalam reuni.


    Asyifa tersenyum," Silahkan Zoya!"


  Setelah punggung Zoya menghilang, senyum Asyifa langsung padam.


  Entah kenapa dia teringat lagi dengan ulat bulu betina, Camilla, awal perkenalan mereka persis seperti kejadian tidak sengaja seperti ini, entah beneran tidak sengaja atau di sengaja, , entahlah, Asyifa tidak ingin memikirkannya.


    Beberapa menit kemudian, Zoya sudah datang kembali, kali ini dia memakai gaun yang lebih kasual, dia segera menghampiri Asyifa.


    " Maaf ya, Syifa, kamu menunggu lama!"Zoya bersikap tidak enak hati.


    Asyifa hanya menanggapinya dengan senyuman saja, dia tidak mengatakan apa apa, Zoya pun mengambil tempat duduk di sebelah Asyifa, ,dia melirik kearah mana pandangan Asyifa, dan ternyata Asyifa Sedang memandang Helena dan Rio yang terlihat sangat mesra,

__ADS_1


  Beruntung sekali ya, Tante Helena dan Om Rio, mereka bisa mempertahankan rumah tangga mereka tetap harmonis hingga saat ini, mereka sudah seperti Habibi dan Ainun saja,!" Zoya berceletuk mencari bahan pembicaraan.


    Asyifa hanya tersenyum kecut, " Benar sekali, jaman sekarang, susah sekali mempertahankan rumah tangga harmonis seperti itu, jangankan mempertahankan, menemukan orang yang tulus mencintai, juga Susah," Asyifa akhirnya berkomentar, setelah diam cukup lama.


    " Deg!'


  " Bodoh!" umpat Zoya dalam hatinya,pada dirinya sendiri, dia mengutuk kebodohannya sendiri, " Kenapa aku baru ingat, bahwa rumah tangga Asyifa hancur, dan dia di perdaya oleh mantan suami dan mantan sahabatnya sendiri.


  " Bodoh! Bodoh! Bodoh!" ingin sekali Zoya menjitak kepalanya.


  " Aku balik ke kamar dulu ya! kepalaku sedikit pusing, mungkin karena sedari siang tidak enak badan!"tanpa menunggu persetujuan Zoya, Asyifa langsung meninggalkan perempuan itu.


    Asyifa nampak memijat kepalanya, agar nampak meyakinkan, sesekali jalannya terhuyung.


  Zoya tersenyum melihatnya, dia segera merogoh ponselnya, dan terlihat sedang mengetik pesan.


    Asyifa masuk ke kamarnya, dia hanya menutup pintu tanpa menguncinya, dia berbaring di ranjang dan tertidur pulas.


    Zoya berpura pura kembali ke kamarnya, dia melewati kamar Asyifa, dia mengetuk ngetuk pintu kamar seraya memanggil, " Syif,..Syifa!"


  Tidak ada jawaban, dia memanggil lagi seraya mengetuk pintu, " Syifa!"


  Asyifa mendengarnya, namun dia langsung menutup rapat matanya.


  Pintu pun seketika tertutup pelan.


 Acara pun terus berlanjut, Helena sempat menanyakan keberadaan Asyifa pada Zoya, karena dia melihat mereka mengobrol, zoya pun mengatakan yang sebenarnya, jika Asyifa merasa tidak enak badan.


Helena pun mengangguk paham.


Pelayan wanita tetap memantau perkembangan Asyifa, dia dan tim-nya tetap berjaga jaga.


Acara berakhir menjelang jam dua belas malam, semuanya kembali ke kamar masing-masing, untuk beristirahat, hanya pelayan dan petugas kebersihan yang membereskan semua kekacauan.


Dua jam berlalu begitu saja, mata Asyifa sudah sangat mengantuk, beberapa kali dia mencubit pahanya agar tetap terjaga, tak lama kemudian, derap langkah Terdengar, walaupun begitu pelan namun Asyifa masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tap! Tap!Tap!"


Langkah kaki semakin mendekat, Asyifa berpura-pura tidur, jantungnya memompa dua kali lebih cepat, bohong jika ia tidak tegang dalam situasi seperti ini.


Asyifa memicingkan kepalanya setelah mendengar pintu berderit, Ada dua orang laki-laki memakai masker dan topi, memasuki kamar Asyifa.

__ADS_1


Salah satunya mendorong ke tubuh Asyifa agar mendekat, " Cepat angkat!"bisiknya pelan.


Lelaki yang di dorong melangkah ke depan dan mengayunkan tangannya ke depan, untuk memastikan apakah perempuan itu sudah tertidur lelap.


" Ngapain kau pakai tanganmu begitu gituan! sudah jelas dia tertidur, gak nampak sama biji mata kau itu!" temannya mengomel, "Cepat angkat!" perintahnya lagi.


" Galak amat sih! Bos aja gak galak!" kata temanya, dia berkecumik menirukan kata kata temannya.


Asyifa nyaris tertawa, mendengar obrolan keduanya, " Bisa bisanya mereka berantem," Asyifa mencubit kembali pahanya sekuat tenaga, agar suaranya tawanya tidak meledak.


Keduanya pun berhenti bertengkar, salah satu dari mereka, memeriksa kolong tempat tidur di sana dan menarik tandu,


" Cepat angkat!"


Keduanya pun mengangkat Asyifa ke tandu, mereka membopongnya ke arah mobil.


Asyifa tidak habis pikir, sebegitu niatnya pihak yang di atas, sampai menyiapkan tandu di kamar Asyifa, jika tidak sedang berpura-pura, pasti Asyifa sudah menggeleng kepala atau berdecak.


" Cepat jalannya, nanti keburu ada yang keluar!" laki laki di belakangnya protes.


" Berisik!" jawab laki laki yang di depan.


Keriang, keriut! Suara pohon bambu tertiup angin.


Mereka telah sampai di mobil yang terparkir di depan villa, Asyifa di dudukan di tengah, di apit oleh kedua orang itu.


" Bagaimana, aman?" seseorang yang duduk di samping kemudi bertanya kepada kedua orang itu.


" Aman bos!" Jawab laki laki yang duduk di sebelah kiri Asyifa.


"Pokoknya bos tenang saja, semua aman, tanpa kendala!" jawab laki laki yang di sebelah kanan Asyifa.


Mobil pun kemudian melaju sepanjang jalan.


Tanpa mereka sadari, tim Amar dan polisi sudah mengikuti mereka dari arah belakang.


" Sekarang bagaimana bos?"tanya laki laki di sebelah kanan Asyifa.


" Kita harus melaksanakan tugas dengan benar! Setelah sampai di hutan bambu, kalian habisi dia, dan buang mayatnya ke jurang, pastikan dia benar-benar mati, perempuan ini sudah berulang kali selamat dari gerbang kematian!" laki laki di samping kemudi memberikan perintah.


****

__ADS_1


__ADS_2