
Episode #143
Beberapa menit kemudian, setelah mengirimkan pesan, Asyifa merasa pusing dan lemas, ketika dia berdiri, tubuhnya terjatuh.
Gedebug!"
Suara itu mengagetkan Tia dan Bastian yang sedang berada di depan komputer, memeriksa laporan keuangan.
" Nona May!"
" Nona Boss!"
Keduanya berteriak serentak, mereka langsung bangkit dari kursi dan bergegas menghampiri Asyifa yang tergeletak di lantai.
Bertepatan saat itu Amar datang, dia membuka pintu, dan , pemandangan itu tersaji di hadapannya, Asyifa sedang pingsan.
Tubuhnya tergeletak di atas karpet, Bastian dan Tia, berusaha untuk mengangkat tubuh Asyifa, walaupun Amar sedikit heran, melihat adik bungsunya Ardi berada di sini, dia segera mengabaikan keberadaan gadis itu, segera Amar bergegas menghampiri tubuh Asyifa dan menggendongnya.
" Minggir, biar aku saja!" Amar menggendong tubuh Asyifa dan membawanya keluar ruangan, langkahnya tergesa-gesa.
Bastian dan Tia saling memandang.
Bastian hanya menghela nafas, dan memandang punggung Amar yang semakin menjauh.
" May,..May,.." Amar memanggil manggil namanya lirih.
Bastian mematung di tempatnya berdiri, ingin sekali rasanya dia menolong Nona Boss nya itu.
Tia menepuk pundaknya dan berkata," Sudah ada Amar, Nona May pasti baik baik saja, mas Bagong lebih baik kita selesaikan semua pekerjaan dulu, baru nanti kita bisa membesuk dia,"
Bastian menghela nafasnya, dan menganggukkan kepalanya, " Kamu benar!" ucapnya, dan langsung kembali ke meja kerjanya, dia harus bersikap profesional.
Tia pun melakukan hal yang sama, dia berkutat lagi dengan komputer dan berkasnya.
Semua orang yang berada di koridor segera menyingkir, ketika melihat Amar jalan tergesa-gesa, mereka bisa melihat Humaira berada di gendonan Amar.
" Nona May!"
" Sepertinya Nona May pingsan!"
__ADS_1
Beberapa staff kantor melihat adegan itu.
Amar segera berlari menuju parkiran, Arsyad yang melihat siluet tuan mudanya sedang menggendong Asyifa, segera menghidupkan mesin mobil dan menghampiri keduanya.
" Ke rumah sakit terdekat!" perintah Amar pada Arsyad.
Arsyad melajukan mobilnya, bahkan dia mencari jalan pintas, masuk gang, demi menghindari kemacetan, wajah Asyifa sudah memucat, Amar terlihat sangat khawatir, Arsyad terus menyetir tanpa bertanya apapun.
Sesampainya di rumah sakit, Amar langsung menuju IGD, petugas rumah sakit segera meletakkan Asyifa ke brankar dorong dan langsung membawanya masuk, Dokter pun segera datang dan memeriksa.
Amar sekalipun tak ingin beranjak dari sisi Asyifa, awalnya dia ingin mengajaknya makan siang, dan memberi kejutan, tiket liburan ke Bali, akan tetapi, malah dia yang di berikan kejutan.
" Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Amar, dia bisa mempertahankan sikapnya agar tidak terlihat panik, tetapi susah untuk menyembunyikan kekhawatirannya.
" Untuk sementara, tidak perlu di khawatirkan, kami sudah mengambil sampel darahnya, kira kira dua jam sudah dapat di ketahui hasilnya, lebih baik biarkan Nona May istirahat dulu," jelas dokter.
Amar menghembuskan nafas lega, dia segera mengatur ruang perawatan VVIP, untuk Asyifa.
Setelah mengatur ruangan, Asyifa pun di pindahkan, infus telah terpasang, Amar terlihat memegang tangan Asyifa.
Arsyad pun masuk kedalam ruangan, sekarang waktunya sudah lewat jam makan siang, dia meletakkan beberapa kotak makanan di meja, dan meletakkan beberapa buah-buahan kedalam kulkas.
Amar menggeleng lemah" Aku tak nafsu makan!"
" Kalau tuan muda tidak makan, tuan muda tidak punya tenaga untuk menjaga Nona May," Arsyad memaksa.
Amar terpaksa menerimanya, dia makan dengan suasana hati yang tidak baik, makanan tersebut terasa hambar di lidahnya.
Tak lama kemudian, Melinda datang, dia berlari dengan wajah yang panik," Sayang, bagaimana keadaan Nona May?"tanyanya pada Arsyad.
" Keadaannya baik baik saja, kamu tidak perlu khawatir, dia hanya lemas," jelas Arsyad.
" Oh, God,.. Syukurlah!" Setelah mengatakan itu, Melinda ingin masuk dan melihat Asyifa, tapi di cegah oleh Arsyad.
Arsyad menggelengkan kepalanya. " Nona May Sedang istirahat, ada tuan muda yang menunggunya, lebih baik kita tunggu di kantin saja, kamu pasti belum makan siang kan?" ajak Arsyad seraya menarik tangan Melinda.
Beberapa menit setelah kepergian mereka, Dokter datang berkunjung, Amar segera berdiri dan menyambut kedatangan dokter tersebut.
Setelah memeriksa keadaan pasien, dokter wanita itu mengajak Amar berbicara, di kursi tunggu pasien yang ada di sana.
__ADS_1
" Hasil lab sudah keluar!" Dokter tersebut menyerahkan selembar amplop kepada Amar.
Amar langsung membukanya, dan membacanya sekilas, banyak istilah yang dia tidak bisa pahami, " Bagaimana keadaan Humaira Sebenarnya Dok?"
Dokter tersebut menghela nafas," Pasien lebih membutuhkan psikolog, dalam darahnya terdapat jenis obat penenang yang berlebihan, lemas dan pusing adalah gejala overdosis dari obat penenang, fisiknya akan pulih selama beberapa hari, tapi kondisi mentalnya harus tetap di periksa!" Dokter tersebut kemudian memberikan beberapa rekomendasi psikolog yang dia kenal.
Hati Amar terasa di remas, dia tidak menyangka jika selama ini Asyifa hanya berlagak sok kuat, dia selalu menyembunyikan wajah terlukanya dengan senyum dan keceriaan, serta tingkah konyolnya," Apakah ini semua hanya topeng? apakah denganku sendiri kau tetap memakai topeng? Bahkan pada seorang psikolog pun kamu tidak percaya! sebegitu dalamkah lukamu?"
Setelah menjelaskan beberapa hal, dokter tersebut pun pergi meninggalkan ruangan Asyifa di rawat.
Amar kemudian meninju dinding, dia terisak, dia sudah banyak melakukan hal, untuk kesembuhan Asyifa, baik secara fisik ataupun mental, bahkan selama di Seoul, Asyifa juga memiliki psikolog sendiri.
" Ardi, Camilla, kalian harus membayar mahal semua ini!" lirih Amar, tangannya mengepal.
Setelah menenangkan diri, Amar pergi ke toilet, dia membasuh wajahnya dan memperbaiki penampilannya, dia tidak ingin terlihat kacau di depan Asyifa.
Amar pun duduk di samping ranjang Asyifa, dia mengupas beberapa buah buahan dari dalam kulkas yang sudah di siapkan oleh Arsyad.
Asyifa mulai mengerjap, matanya silau oleh cahaya, setelah menguatkan pandangannya dia melihat Amar Sedang mengupas buah apel, setelah melihat sekeliling, dia sadar jika dia sedang berada di rumah sakit.
Pandangan Asyifa kemudian tertuju pada amplop putih di atas meja.
Dia paham, bahwa Amar sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap dirinya, yang mengkonsumsi obat penenang secara berlebihan, dia hanya menghela nafas panjang.
Suara helaan napas itu tak luput dari perhatian Amar," Oh my sweetie pie, kamu sudah bangun? Kamu pasti haus ya?" Amar langsung mengambil air di botol mineral dengan sebuah sedotan dan menyerahkannya kepada Asyifa.
Asyifa memang merasa haus, dia menghabiskan setengah botol air minum itu, " Terima kasih!" ucapnya.
" Sweetie pie!" panggil Amar.
Asyifa mengeryitkan dahinya, sejak kapan ada panggilan baru? pikirnya, dia memandang Amar," Iya, Mr Teddy!"
" Janji harus di tepati ya! Kamu janji akan menemani aku makan siang, dan hingga sekarang aku belum makan, kamu harus tanggung jawab, kita tetap makan siang bareng!" ucap Amar, seraya memindahkan isi kotak makan ke dalam piring.
Amar membawa dua piring, untuk dia dan Asyifa, kemudian dia duduk kembali," Ayo makan, aku suapin! Gak boleh nolak, kamu sudah janji!" satu suapan pun kemudian meluncur, kedalam mulut Asyifa.
Amar menyuapi Asyifa seperti menyuapi balita, ada pesawat terbangnya.
Melihat sikap Amar, hati Asyifa menghangat, Amar tau jika ia salah, tapi Amar tak akan pernah menyalahkannya, ada debar yang tidak di mengerti ketika melihat Amar, debar yang sama,, yang sempat hilang.
__ADS_1
***