
Episode #04
" Keluarga Stewart, merupakan keluarga besar di London, merekalah yang membantu bisnis Syaputra group, sehingga bisa besar seperti sekarang, Aku tidak tahu jika ibunya Amar adalah anggota keluarga Stewart!"Hamdan Hutapea sendiri bingung mau menanggapi seperti apa.
" Jadi, apa kau Beneran mau menyusul Amar ke London?" Hamdan memastikan.
" Benar Om, Kali ini Aku akan berjuang, aku akan mencari Amar di sana, walaupun menghabiskan waktu yang lama, Aku akan melanjutkan pendidikan ku di sana, jadi aku akan mencari Amar dengan visa pelajar ku, Bagaimana menurut Om!" Asyifa meminta pendapat.
" Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan syifa, Om hanya bisa berdoa dan mendukungmu, segala keputusan berada di tanganmu, kalau boleh om sarankan, kamu kesana jangan seorang diri, ajak teman yang bisa jagain kamu, apalagi kalau dia bisa beladiri," Hamdan Hutapea menyarankan, sambil menggigit apel malang yang dia ambil," Asemnya!" keluhnya, dan kemudian meletakkan potongan apel itu di atas meja.
Mendengar kata beladiri, Asyifa hanya teringat satu nama, "Ferdinand"
Ferdinand adalah juara silat Cimande, Asyifa tersenyum, membayangkan bagaimana reaksi Ferdinand ketika di ajak tinggal di London.
***
* London *
Di mansion kediaman Stewart.
" Sampai kapan seperti ini, kek? Aku bebas memilih jalan hidupku sendiri, Aku hanya ingin bahagia, dan menghabiskan waktuku dengan orang yang aku cintai, bukan orang lain!" Amar berteriak frustasi kepada kakeknya, Adam Stewart.
Adam Stewart mengabaikan teriakkan Amar, dia menyesap tehnya, dan kemudian meletakkan di atas nakas, sebelah kursi goyangnya, dia meraih kacamatanya dan membuka lembaran koran hari ini, walaupun berita sudah bisa di lihat di gawai, membaca koran memiliki sensasinya sendir.
Kemudian Amar menoleh ke kakeknya.," Kek, jaman sudah berubah, sudah bukan jamannya lagi perjodohan seperti ini! tolong buka blokiran ku, agar aku bisa mengirim pesan ke Indonesia,"
Kakek Amar, Adam Stewart, menyewa seorang ahli IT terkenal, untuk memblokir akses komunikasi Amar ke dan dari Indonesia, sehingga Amar tidak dapat menerima atau mengirim pesan ke Indonesia sama sekali.
Adam kemudian menurunkan korannya, dan menatap cucu pertamanya itu lekat, " Dengar anak muda, jangan kau balikkan fakta, seolah-olah aku adalah orang tua yang kejam, seharusnya kau berkaca pada diri kamu sendiri, kau yang tak bisa memegang kata kata, di awal aku bertanya, " Apakah kau mau aku jodohkan dengan cucu sahabat lamaku selama menjadi prajurit? tanpa berfikir panjang kau langsung mengiyakan perjodohan ini, kenapa setelah dua tahun kau kembali dari Indonesia dan tiba-tiba ingin membatalkan perjodohan ini? apakah semudah itu?"
Amar diam, semua yang di katakan kakeknya itu adalah kebenaran, awalnya kakeknya menanyakan pendapatnya terlebih dahulu, apakah dia mau menerima perjodohan tersebut atau tidak, Dia yang masih merasakan patah hati akibat di tinggal nikah oleh Asyifa,
__ADS_1
akhirnya dengan pasrah menerima, dia pulang ke Indonesia bertujuan mengabarkan hal tersebut kepada Asyifa, tetapi apa yang terjadi di luar pemikirannya, Asyifa tidak berbahagia dengan pernikahannya, dan nyaris kehilangan nyawanya, seandainya Amar terlambat ketika itu, bisa di pastikan, perempuan itu hanya tinggal nama, kini Amar benar benar dilema.
Aku tahu, kau mengiyakan perjodohan kala itu, karena perempuan yang kau cintai telah menikah, kau mencari pelarian, dan tanpa kau sadari perempuan itu sudah sah menyandang status janda, jadi kau punya kesempatan kembali kepadanya!" Adam kembali menyesap teh nya.
Amar terdiam dan menunggu perkataan kakeknya.
" Kerajaan saja tidak memperdulikan status janda, Megan Markhel yang menikah dengan pangeran Harry, apalagi orang tua seperti aku? Aku selalu mengutamakan kebahagiaan anak dan cucuku, ingat, ketika ibumu ingin menikah dengan ayahmu? Aku bahkan tidak tahu menahu latar belakang keluarga ayahmu, dan dari negara mana dia berasal, Aku hanya tahu, putriku satu satunya jatuh cinta padanya dan bahagia bila bersamanya, mau tidak mau akupun memberikan restu, selama laki laki itu bukan tunangan atau suami orang lain," Adam Stewart meletakkan kembali cangkir teh nya di atas nakas.
Amar mengamati setiap gerak gerik kakeknya.
Adam Stewart berdiri, dia berjalan menuju balkon, Amar melangkah di belakangnya.
" Apa kau yakin jika perempuan itu mencintaimu?" Adam bertanya seraya melihat daun yang mulai berguguran di taman, Udara musim gugur sudah mulai dingin, dia merapatkan mantelnya. Tanpa menunggu jawaban Amar, Adam Stewart mengambil kesimpulan," Jika memang dia mencintaimu, tak perlu lagi kau hiraukan dia bisa menghubungimu atau tidak, Dia akan datang dengan sendirinya mencarimu, jangan habiskan waktumu untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak memperjuangkanmu, Dalam hubungan itu ada timbal balik, kau sudah berusaha sekuat mungkin, tapi jika memang kalian tidak dapat bersatu, kau harus melepaskannya," Adam Stewart masih memunggungi Amar.
Amar seketika menggelengkan kepalanya, Dia sudah pernah melepaskan Asyifa Sebelumnya, trus apa yang dia dapat? kepahitan, kekosongan dan penyesalan, sekarang kesempatan ada di depan matanya, dia tak akan menyesal untuk kedua kalinya.
" Aku tahu, kau memang keras kepala seperti ibumu, jika sudah menghendaki sesuatu tidak bisa berubah, walaupun kau tetap memilih wanita pujaan mu itu, aku tak peduli sama sekali, satu hal yang harus ku pastikan, bahwa keputusan yang kau buat tidak akan berpengaruh pada bisnis kita, ingat, ada puluhan ribu karyawan yang bernaung di bawah perusahaan kita, di berbagai negara, jangan hanya karena satu orang, kau mengorbankan puluhan ribu karyawan,"
Di ruangan lain, Elysa Stewart, ibunya Amar, sedang memapah ayahnya untuk berbaring di ranjangnya, akhir akhir ini kesehatan Adam semakin memburuk, dia tidak bisa terkena sedikitpun udara dingin, seorang pelayan mengantarkan secangkir bir pletok, walaupun namanya bir, itu adalah minuman penghangat yang penuh dengan rempah dan rimpang. Galuh Syaputra, ayahnya Amar yang mengajarkan itu pada pelayan.
" Anak sulungnya itu benar benar keras kepala, persis seperti ibunya!" Keluh Adam, ketika Elysa menyuapkan sesendok bir ke mulutnya.
Rasa panas dan sedikit getir, langsung membuat dahi Adam mengeryit, dia terpaksa meminumnya, karena tidak ingin anak perempuannya mengomelinya sepanjang hari.
" Persis seperti kakeknya juga,he he he!"Elysa terkekeh.
Adam mengerucutkan bibirnya, dia mendengus dingin.
" Kenapa lagi sih pa? Apa dia berubah pikiran?" Elysa menyuapkan sesendok lagi bir pletok.
Adam menghela nafas panjang," awalnya aku mengira jika anak sulungmu itu seorang gay, karena selama tinggal di sini, tak pernah sekalipun dia berhubungan dekat dengan lawan jenisnya, sampai aku menyewa seseorang, untuk mengetahui apa dia penyuka sesama jenis atau tidak, dari laporan yang aku terima, dia tidak dekat dengan laki laki maupun perempuan, sehingga aku memutuskan, menyambung kembali perjodohan yang pernah batal,"
__ADS_1
" Ha ha ha!" Elysa tak bisa menahan tawanya," Apa papa beneran mengira kalau Amar itu suka dengan sesama jenisnya? ini benar-benar lelucon!"
Adam melemparkan bantal kesamping, persis mengenai kepala putri semata wayangnya," Bisa bisanya kau meledek papamu, nanti aku akan mengutukmu menjadi aset muda, mau?,"
" Mau dong!" seru Elysa.
" Haissh! kelakuanmu tidak pernah berubah!" Adam menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
" Kau tahu bukan, tuan Jhonson menyelamatkan aku dari Medan perang, aku bahkan tidak tahu bahwa dia adalah seorang bangsawan, berkat dia juga, setelah perang dia membantu bisnis kita, sehingga bisa pesat seperti sekarang ini, selain menanamkan modalnya dia juga mengandalkan koneksinya," Adam melanjutkan.
" Ya, Aku Ingat itu, papa selalu menceritakan pengalaman di Medan perang, pengalaman yang begitu manis dan indah di hadapan mendiang mama, setelah mama tiada, baru papa menceritakan ketakutan dan kegetiran di Medan perang! papa curang!"Elysa mengerucutkan bibirnya.
Mendengar nama istrinya di sebut, wajah cantik yang tak pernah lekang di makan usia, segera muncul di benaknya," Karla"
" Sebenarnya perjodohan ini untukmu, namun sayangnya anak laki laki nya sudah menikah, dan dia tidak punya anak laki-laki lagi, hanya tinggal anak perempuan, dan sekarang, dia punya beberapa cucu perempuan, dan Anakmu keduanya laki laki, jadi dia setuju dengan perjodohan yang dulu sempat tertunda," Adam menolak suapan dari Elysa, dia menggelengkan kepalanya.
" Trus, bagaimana dengan Amar, apa yang papa sarankan padanya?"Elysa bertanya sambil memperbaiki selimut Adam.
" Papa hanya menyarankan, agar dia bertemu dengan cucu tuan Jhonson, yang di jodohkan dan berbicara empat mata dari hati ke hati, mungkin hal itu lebih mudah jika mereka sepakat membatalkan perjodohan, di bandingkan jika Amar saja yang berusaha, bagaimanapun kita harus tetap menjaga harga diri tuan Jhonson!" Adam mengingat kembali percakapannya dengan Amar.
" Kali ini aku sependapat dengan papa, Tapi,.. Tapi apakah Amar tahu siapa sosok yang di jodohkan dengannya, anak pertama tuan Jhonson saja memiliki tiga orang anak perempuan, belum lagi dari anak perempuannya? omong omong, tentang anak perempuannya, apa papa tahu, dimana dia tinggal sekarang?" Elysa teringat sesuatu.
Adam mengangkat bahunya," Kau harus bertanya pada tuan Jhonson tentang itu! kau tahu sendiri aku tak suka bergosip apalagi mencampuri urusan keluarga orang lain!"
" Papa!" Elysa berseru," Aku tak menuduh papa bergosip, aku hanya bertanya saja, jika papa tidak tahu dimana anak tuan Jhonson tinggal, itu akan lebih mudah menemukan siapa saja anaknya, sehingga Amar tidak perlu mengeluarkan banyak energi, untuk mencari semua cucu perempuan tuan Jhonson!"
"Sepertinya cucu pertamaku itu harus lebih banyak berjuang!" Adam meluruskan pinggangnya di atas ranjang.
Elysa hanya bisa mendesah panjang, mendengar hal itu.
****
__ADS_1