
Episode #12
Sementara itu di kilau hukum kantor pak HAMDAN Hutapea.
" Ini,.. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi syifa!" ucap Hamdan Hutapea setelah mendengarkan rekaman suara yang di putarkan oleh Asyifa.
Hamdan Hutapea beberapa kali menggelengkan kepalanya, tanda dia tak menyangka hal seperti ini, selama ini dia memang berkeyakinan bahwa tuan besar Wijaya Kusuma ada di balik insiden kecelakaan kedua orang tua Asyifa.
" Apakah kedua rekaman ini, sudah bisa menjebloskan tuan Wijaya Kusuma ke penjara?"Asyifa bertanya serius.
Kedua rekaman itu adalah rekaman kesaksian Tinro yang membunuh Umar Prameswari dan istrinya, serta rekaman tentang rencana melenyapkan Asyifa yang di perintahkan oleh tuan Wijaya Kusuma.
" Kita tunggu saja, sampai Baskara mengungkapkan siapa dalangnya, jika sampai akhir persidangan dia tidak mengungkapkan siapa dalangnya, baru kita beraksi!" Hamdan Hutapea mengungkapkan pendapatnya.
Asyifa nampak tidak setuju, raut wajahnya sudah berubah.
" Om tahu, kamu ingin sekali menjebloskan Wijaya Kusuma kedalam jeruji besi, tapi itu tak semudah yang kamu bayangkan, Dari rekaman suara, dia tidak menyebutkan nama samasekali, baik nama kamu ataupun orang tua kamu, selain itu, rekaman Tinro juga tidak ada menyebut nama, jadi susah membuktikan, kecuali baskara membuka suara kalau dia di perintah oleh tuan Wijaya Kusuma, takutnya, dengan kecerobohan ini dia akan menuntut kita balik, dengan kasus pencemaran nama baik," Hamdan Hutapea menjelaskan lebih lanjut, dia memberikan Asyifa sudut pandang yang lain.
Asyifa terduduk lemas.
" Baskara adalah tangan kanannya, dialah yang selama ini melakukan perbuatan kotornya, menurutmu apakah dia mau mengaku, kau tahu sendiri kan, betapa bengis dan kejamnya seorang Wijaya Kusuma," Hamdan Hutapea menghela nafas.
" Syifa,.." ada jeda sesaat, sebelum Hamdan Hutapea melanjutkan," Seorang Baskara, tidak akan pernah mengungkap keterlibatan Wijaya Kusuma, seluruh keluarganya ada dalam genggaman orang tua itu, Baskara memahami itu, jika dia sedikit bertingkah, seluruh keluarganya akan hilang keesokan harinya!"
Asyifa semakin lemas mendengarnya, dia tidak bisa menyangkal, bahwa apa yang di katakan Hamdan Hutapea adalah sebuah kebenaran.
" Apa yang sekarang kita lakukan, om? apa iya, kita harus berdiam diri lagi? orang seperti Wijaya Kusuma, jika dia tidak di hukum, akan terus seperti itu?" Asyifa nampak putus asa.
" Sudah, jangan bersedih seperti itu, masih ada cara lain untuk menjebloskan dia ke penjara," Hamdan Hutapea memberikan sebuah harapan baru.
Merasa mendapat angin segar, Asyifa menegakkan kembali punggungnya, " Bagaimana caranya Om?"
" Ada dua cara!" Hamdan Hutapea membentuk huruf V dengan dua jari, telunjuk dan jari tengahnya, " Cara pertama!" dia menekuk jari tengahnya, hingga tersisa jari telunjuk," Kita harus membuat dia mengaku, bahwa dia adalah dalang pembunuh kedua orang tuamu dan ingin melenyapkan mu," kemudian Hamdan Hutapea memunculkan jari tengahnya, hingga membentuk huruf V , sedangkan yang kedua, hilangkan kekuasaan nya sebagai patriak keluarga Kusuma, mungkin Angga bisa membantu mengambil alih, jika dia bukan patriak lagi, akan sangat mudah memasukkan dia ke penjara!"
Asyifa lemas kembali, mendengar saran dari walinya tersebut, " Cara yang Om sarankan, sangat mudah di lakukan!" sindirnya sambil memejamkan matanya.
Hamdan Hutapea, hanya bisa membantu sebatas memberikan saran, dia tersenyum kecut, karena tidak memiliki kekuasaan apapun untuk membantu Asyifa.
" Syifa, bagaimana jika kamu meminta bantuan kepada papa Andreas, untuk meminta Rio bertindak! Om rasa om Rio berpihak padamu! bagaimanapun papamu sahabat terbaiknya.
Asyifa sontak menggeleng, " Aku sudah bicara dengan Om Rio sebelumnya, dia hanya akan diam, dia tidak akan menghalangi kita, untuk mengungkapkan apa yang terjadi, semua tergantung usaha kita, bagaimanapun dia tetap seorang anak!"
__ADS_1
" Om sudah tidak ada lagi ide Syif!" Hamdan Hutapea mendesah.
" Cara pertama mungkin , aku akan berusaha mendapatkan pengakuan langsung dari mulut orang tua itu!" Asyifa melengkungkan sebelah bibirnya, sepertinya dia sudah mendapatkan ide.
Asyifa semakin sumringah, ada banyak ide terlintas di kepalanya sekarang, " Aku mungkin tidak bisa menekan mu sekarang tuan Wijaya Kusuma, tapi apa kamu tahan dengan gunjingan dari warganet? Bendera perang telah ku kibarkan, tak akan aku turunkan lagi!" tekad Asyifa.
Tak lama kemudian Asyifa pamit undur diri, mobilnya membelah jalanan, kemudian dia mampir di sebuah mini market Indomaret, dengan memakai masker dia berjalan melewati gang gang sempit ke arah rumah hacker idolanya, Ferdinand.
Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu, semenjak identitas Asyifa terungkap, dia begitu sibuk dengan semua urusannya.
Menjelang magrib sudah tidak ada perkumpulan ibu ibu di rumah Ferdinand, yang biasa menjadi pemandangan sehari-hari ke rumah Ferdinand, pemandangan yang ada sekarang adalah, anak anak yang memakai baju koko, peci dan sarung, dengan buku iqro di tangan mereka, mereka berjalan menuju masjid.
Asyifa sudah sampai di depan pintu rumah Ferdinand, ketika dia hendak membuka pagar, Ferdinand sudah di depan pintu, hendak membeli garam, di suruh oleh Enyak.
Melihat itu, Ferdinand segera berlari menghampirinya, " Ibu Bos!" serunya.
Asyifa langsung mengangkat wajahnya, Ferdinand sudah berada di hadapannya, dan membukakan pagar, dia mempersilakan Asyifa untuk masuk.
" Nyak,... Enyak!" teriak Ferdinand.
Enyak yang sedang memasak semur jengkol keluar, dia berpikir terjadi apa apa dengan anak bungsunya tersebut, celemek dan sutil masih di tangannya.
" Kenapa, lu teriak teriak? Ada rampok?" Enyak keluar dari rumahnya.
" Ini,...Ini,..!" dia kehilangan kata-kata.
" Ini, Bu Boss Aye nyak, ibu Asyifa!" Ferdinand memperkenalkan sosok yang di hormatinya itu kepada mamanya.
Asyifa dengan penuh sopan santun menjabat tangan Enyak.
" Jangan neng, tangan Aye bau terasi, habis ngulek sambel, salamannye tar aje ye?" Enyak membaui tangannya, " Bener neng, Bau terasi!"
Asyifa hanya tersenyum, walaupun begitu dia tetap menjabat tangan Enyak, " Nggak apa apa Bu!"
Enyak pun membalas, ada perasaan hangat dalam hatinya.
" Dah, sono elu masuk, jangan lupa buatin minuman buat si Eneng, biar Aye aja nyang beli garem!" Enyak merampas uang pecahan lima ribu dari tangan Ferdinand, dia juga memberikan untilnya kepada anak lajangnya tersebut.
" Masuk, Bu Boss!" Ferdinand mengajak Asyifa masuk dan duduk.
Segera dia menuju dapur, dan membuatkan kopi untuk ibu bos kesayangannya itu.
__ADS_1
Di ruang tamu, Asyifa menyeruput kopi yang baru saja di sajikan oleh Ferdinand. "Sluurp! Sluurp!"
" Ferdinand?"
" Ya!"
" Kopi buatan mu Numero uno!" Asyifa mencontoh sebuah iklan kopi.
" Ha ha ha!" Gelak tawa kemudian terdengar memenuhi ruangan tamu.
Mendengar gelak tawa di ruang tamu, Enyak pun tersenyum, " Baguslah kalau Ferdinand bisa membuat anak itu tertawa," gumam Enyak dalam hatinya, matanya sedikit basah, mengingat sepak terjang Asyifa.
Enyak masuk lewat pintu samping, dan tidak ingin mengganggu keduanya.
Setelah ketiganya selesai melaksanakan sholat Maghrib, Enyak mengajak Asyifa untuk makan malam.
Di sana Ferdinand hanya tinggal berdua dengan ibunya, sedangkan semua keluarga Ferdinand sudah pada menikah, rumah kakak kakaknya Ferdinand hanya selemparan batu dari rumah mereka.
" Neng, ayo makan dulu, Aye sudah siapin,!"Enyak menuntun Asyifa ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, mata Asyifa berbinar, ada semur jengkol dan sambal goreng petai kesukaannya, tanpa malu malu lagi dia segera mengambil piring.
Enyak dan Ferdinand pun bergabung di meja makan, tanpa malu malu lagi Asyifa langsung makan dengan menu kesukaannya tersebut, Asyifa makan lahap sekali, bahkan tanpa merasa sungkan dia menghabiskan tiga piring nasi, , Ferdinand dan ibunya hanya bisa menelan ludah, Asyifa terlihat seperti orang yang tidak makan seminggu.
Tak berapa lama Asyifa bersendawa.
Enyak dan Ferdinand tertawa, Asyifa merasa malu.
" Maaf, Bu, masakan ibu emang nikmat sekali!"
Enyak tertawa senang, siapa yang tidak senang, jika masakannya di puji.
Setelah semuanya selesai makan, Asyifa kemudian mengatakan maksud kedatangannya.
" Ibu, saya kesini, ingin meminta ijin dan restu ibu!" Asyifa membuka pembicaraan.
Sepasang anak dan ibu itu mengerutkan kening.
" Saya ingin meminta ijin, untuk Ferdinand, agar melanjutkan sekolah lagi ke London, ke Inggris," nada bicara Asyifa sangat serius.
"Hah!" Ferdinand dan Enyak tidak mempercayai pendengarannya.
__ADS_1
****
.