Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Persiapan lamaran


__ADS_3

Episode #21


   Malam ini, seluruh anggota keluarga Kusuma berkumpul, ada tuan besar Wijaya Kusuma beserta Nyonya Arum, serta ketiga anak dan menantunya serta cucu cucunya., mansion yang awalnya sepi kini mendadak ramai karena pertemuan dadakan ini.


    Semua anggota inti keluarga Kusuma saling berbisik bisik tentang kenapa mereka di kumpulkan malam ini, Rasanya sudah hampir belasan tahun tak pernah ada pertemuan dadakan seperti ini.


   " Jeni, kira kira ada apa ya, kita di kumpulkan dadakan seperti ini?"tanya Lusi kepada adiknya.


  "Entahlah kak, Aku tidak tahu, Aku tanya sama mama juga tidak tahu!" jawab Jeny sambil mengendikan bahunya,.


  "Aku merasa ini ada kaitannya dengan yang sedang trending topik beberapa hari ini?" Charlie berceletuk.


" Trending? Maksudnya?" Lusi bertanya, dia heran sejak kapan keluarga Kusuma bisa menjadi perhatian warganet.


" Mama tidak tahu? Sang pewaris kerajaan Kusuma Sedang di gosipkan dengan salah satu Dosen," Tamara berceletuk, setelah itu dia meninggalkan


yang terdiri dari, Lusi, Jeny dan Charlie.


  " Kalau itu benar, kita harus bagaimana ini, char? Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kita!" Raut wajah jeni terlihat sangat khawatir.


 Charlie tidak menjawab apapun, dia masih ingat peringatan dari Angga, walaupun begitu dia tidak kekurangan ide.


   "Sudahlah mah, saat ini kita memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Hal terpenting saat ini kita tidak perlu berulah lagi, cukup Tamara saja yang sudah menjadi korban," Charlie mengajak Keduanya untuk duduk di meja makan.


    Anggota keluarga Kusuma yang lainnya sudah berkumpul di sana.


  Makan malam pun di adakan, semua anggota keluarga Kusuma menikmati makanannya, hingga saat ini tak ada obrolan yang serius, kebanyakan dari mereka membahas tentang, bisnis, hobi atau liburan.


  Makan malam sudah di sajikan, seluruh keluarga Kusuma makan dengan sangat anggun.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Angga segera berdiri, dan sontak hal itu menarik perhatian, suara yang begitu berisik, tiba tiba hilang begitu saja, Aura kepemimpinan Angga sudah sangat terasa.


   " Baiklah, mohon waktunya sebentar!" Angga meminta perhatiannya.


  Semua orang, kecuali tuan Wijaya Kusuma saling melirik, nyonya Arum pun tidak ketinggalan, dia menyikut lengan suaminya, seolah minta penjelasan, tuan besar Wijaya Kusuma hanya mengendikan bahunya tanda dia tidak tahu, padahal dia tahu.


    " Maaf sebelumnya, karena sudah mengumpulkan kalian secara dadakan!" Angga memperhatikan ekspresi satu persatu, anggota keluarganya, sebelum dia melanjutkan, " Saya hanya ingin memberikan informasi yang sedikit mengejutkan," Ada jeda sejenak, " Minggu depan saya Angga Kusuma akan melamar Carrey Ramos sebagai istri saya, jadi semuanya saya harapkan untuk datang, bahkan kakek sangat menyetujui perihal lamaran ini, Benarkan kakek?" Angga melirik kakeknya yang duduk di samping neneknya , Angga tersenyum dengan sangat hangat.


    Tuan besar Wijaya Kusuma hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, walaupun dia tidak setuju, apa yang bisa dia perbuat? sekarang yang memegang kekuasaan adalah Angga, cucunya sendiri, masih bagus Angga tidak mendepaknya turun sebagai patriak keluarga Kusuma di depan keluarga lainnya, saat ini hal yang tuan besar Wijaya Kusuma lakukan adalah berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan Angga dan dirinya.


  " Wah, selamat sayang! Akhirnya kau mau menikah juga, mama senang sekali! Setelah menunggu terlalu lama, akhirnya mama akan punya menantu!" Helena langsung bangkit dan mencium pipi kiri dan kanan Angga secara bergantian, nampak sekali kebahagiaannya tidak dapat dia tutupi, matanya sedikit basah.


    Rio yang menyaksikan, bagaimana sang ayah hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sudah bisa menebak apa yang terjadi, dia sedikit tidak percaya jika macan keluarga Kusuma itu sudah kehilangan taringnya, ," Angga benar benar hebat, entah bagaimana dia melakukannya!" Rio begitu bangga pada anaknya tersebut.


  Pandangan Rio pun beralih ke tuan besar Wijaya Kusuma yang sudah kehilangan kekuasaannya, kini sang ayah Hanyalah kepala keluarga yang bersifat seperti pajangan, pasti papa sekarang merasa terguncang!" terdengar suara puh pelan Terdengar darinya.


    Rio pun bangkit dari duduknya, dia menyusul Helena dan berdiri di samping anaknya, sekuat apapun dia menahannya, air matanya jatuh juga, air mata itu bukan sekedar karena Angga ingin melepas masa lajangnya, tetapi karena Angga yang akhirnya tersadar dan bangkit untuk melawan kakeknya, Rio bangga, Angga tak jadi boneka kakeknya lagi.


   Anggota keluarga lainnya juga mengucapkan selamat, walaupun sebagian terpaksa, Mereka harus memberikan muka


    " Selamat ya Angga!"


  " Selamat, ya, kak!"


  Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk Angga, karena dia bisa melawan rasa takutnya sendiri.


    Charlie terlihat sedang mengetik sesuatu sebelum dia maju dan mengucapkan selamat.


    Malam itu, Helena memimpin, pembahasan dengan anggota keluarga Kusuma lainnya, perihal Bagaimana lamaran untuk Minggu depan.

__ADS_1


    Setelah itu, semuanya pamit ke ruangannya masing-masing.


    Setelah semuanya selesai, Angga kembali ke ruangannya, Dia langsung merogoh ponsel dan mencari kontak Carrey..


   Angga dan Carrey pun menghabiskan malam dengan menelpon, persis seperti remaja yang sedang di landa Asmara.


***


  Sementara itu, Asyifa sedang berada di rumahnya sendiri, Rumah di mana dia pernah tinggal bersama, Mama, papa, dan kakeknya, Rumah yang penuh kenangan indah masa kecilnya.


  Walaupun rumah itu tidak di huni, rumah tersebut selalu di bersihkan setiap hari, Bibi Emi kepala pelayan di rumah itu, sudah mempersiapkan keperluan Asyifa, semenjak dia di hubungi, bahwa sang tuan rumah akan menginap di sana malam ini.


  Bibi Emi, memang tinggal di paviliun belakang bersama para pelayan lainnya.


  Asyifa datang membawa koper, Dia memutuskan, mulai saat ini dia akan tinggal di rumah penuh kenangan itu.


  Sebelum keberangkatannya ke London, dia akan menghabiskan waktu di rumah itu, terlebih lagi dia membutuhkan banyak kekuatan, untuk melawan Wijaya Kusuma.


  " Neng Syifa, akhirnya neng pulang juga ke rumah ini! Bibi senang sekali!" Bi Emi mengambil koper Asyifa dan membawanya ke kamar masa kecil Asyifa.


    " Terima kasih, Bi,..." terima kasih sudah merawat rumah ini!" Asyifa berkata tulus.


  " Si Eneng jangan bicara begitu, bagaimanapun ini amanah dari nyonya flora, kepada bibi, untuk menjaga Eneng dan rumah ini!" Bibi Emi mengusap matanya yang sedikit basah, bagaimanapun dia sangat merindukan majikannya.


" Ya sudah, bibi istirahat dulu ya? Besok kan bibi sudah mulai bekerja seperti dulu lagi, menyiapkan sarapan pagi!" ucap Asyifa, seraya mengusap lembut bahu bibi Emi.


Senyum pun terbit di pipi keriput bibi Emi. " Siap neng! Besok bibi akan memasak menu kesukaan Eneng! Bibi Emi kemudian pamit undur diri dia melangkah ke paviliun belakang.


Asyifa memasuki kamarnya, semuanya masih sama, tidak ada yang berubah, bahkan tata letak bendanya pun masih sama.

__ADS_1


****


__ADS_2