
Episode #131
Ketika Asyifa Sudah mengabaikan dan menganggap hal itu sudah tidak penting, Melinda justru membuka obrolan.
" Eh, itu bukannya Camilla? Sama siapa dia itu? Bentar deh, sepertinya wajah cowok itu familiar?" Melinda menunjuk ke arah Camilla.
Asyifa juga mengalihkan pandangannya ke arah Camilla sekali lagi, dia memastikan bahwa wajah laki laki itu memang pernah dia lihat sebelumnya, tapi entah di mana.
Melinda segera membuka ponselnya, dan menelusuri Instagram pribadinya.
" Benerkan!" pekiknya.
Alis Asyifa mengeryit.
Melinda seketika menyerahkan ponselnya kepada Asyifa, dan berkata," Dia itu Glenn Yaw, keluarganya termasuk tajir di Singapore, dia juga seorang influencer, nih lihat, akun Instagramnya saja sudah centang biru".
Mendengar nama Glenn Yaw, Asyifa teringat sosok yang di pilih Amar, untuk membuat Camilla jatuh cinta.
Asyifa pun melihat akun dari Glenn Yaw, postingannya banyak menampilkan liburannya di berbagai negara di belahan dunia.
Asyifa tidak mengomentari apapun.
" Camilla itu, nge-fans banget dengan Glenn Yaw ini, setiap dia siaran langsung, Camilla pasti nonton," Melinda menambahkan.
" Glenn Yaw memang ganteng banget, banyak banget, selebriti, selegram, atau wanita sukses lainnya yang mendekati dia, tapi menurutku walaupun dia ganteng, masih jauh lebih ganteng yayang Arsyad, he he he!" Melinda jadi tersenyum sendiri.
" Dasar bucin!" Asyifa menyeringai.
Melinda hanya cengar cengir menanggapinya.
Asyifa paham, Camilla pasti punya rencana untuk berjumpa dengan Glenn Yaw, Asyifa tersenyum senang, Rencananya berjalan dengan mudah, entah kenapa semester selalu mendukungnya.
***
Di meja Glenn Yaw dan Camilla.
Terlihat sekali binar bahagia di mata Camilla.
"Saya nge-fans banget Sama anda, saya selalu mengikuti siaran langsung dan setiap postingan anda, saya tidak menyangka, sekarang anda ada di hadapan saya, Saya benar benar senang!" seru Camilla.
"Wah, saya merasa tersanjung, bahwa seorang artis bisa menjadi penggemar saya, Di sini saya benar-benar merasa kesepian, untuk sementara waktu, saya akan tinggal di Jakarta, karena saya harus menangani sebuah proyek, saya senang, jika anda mau jadi teman saya," Glenn dengan gaya coolnya, berbicara pada Camilla, terlihat sekali jika dia merasa nyaman bersama Camilla.
Keduanya berbicara dengan hangat, memakai bahasa Inggris.
__ADS_1
Asyifa lalu mengambil gambar keduanya, dan mencari kontak mr Teddy Bear, dia mengirim foto tersebut.
" Ting!" suara tanda pesan masuk, mr Teddy bear langsung menjawab.
(Ya, itu Glenn Yaw, aku sudah cerita semua rencana kita, dia langsung datang dan beraksi!")
(OK!") Asyifa hanya membalas dua huruf tersebut.
Yang di seberang sana hanya bisa tersenyum masam, " setidaknya di balas" gumamnya, seraya memeriksa laporan.
Asyifa pun semakin tersenyum, dia meminta Melinda untuk mengabaikan keduanya.
Sementara itu, Ardi baru saja tersadar, setelah kepergian Wisesa, dan Ferdinand hanya bisa melongo di tempat duduknya.
Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa, dia bingung harus memberi penjelasan seperti apa pada saat rapat dengan para pemegang saham, niat hati mendapatkan untung malah buntung.
" Bos! Bos!" Ferdinand mencoba menyadarkan Ardi dari rasa tak percayanya, dia menggoyang goyangkan badan bosnya tersebut.
Baru kali ini Ferdinand melihat orang shock yang sebenarnya." Mudah mudahan gak struk lah kamu bis!" gumam Ferdinand.
Sekitar lima menit tidak ada pergerakan dari Ardi, Ferdinand pun nekat menusukan peniti ke jempol tangan Ardi, seketika Ardi tersadar dan berteriak.
" Untung saja ada peniti ini!" pikir Ferdinand, seraya memasang kembali peniti di belakang dasinya, peniti itu berfungsi untuk meyakinkan supaya dasi Ferdinand tidak miring.
Ardi masih sedikit linglung," Bagaimana mempertanggung jawabkan kerugian satu koma empat puluh lima triliun?" kalimat itu selalu terngiang di benaknya.
Jarak yang tidak terlalu jauh dari kantor, membuat mereka tiba lebih cepat, Ferdinand meminta supir kantor untuk mengantarkan Ardi ke rumah orang tuanya, setelah mengatakan itu, Ferdinand bergegas naik ke ruangan CEO dan merapikan barang Ardi, setelah itu dia memberikannya pada pak Karim, supir kantor, mobil pun kemudian melesat meninggalkan gedung kantor PT GARUDA TV NUSANTARA.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ardi sudah mulai sadar kembali, tetapi entah kenapa kepalanya tiba tiba merasa pusing, dia ingin sekali merebahkan diri di atas ranjang.
Satu jam berlalu, Ardi sudah tiba di rumahnya, tepatnya rumah orang tuanya.
Mira segera membukakan pintu, pak Karim menyerahkan tas kerja Ardi kepadanya, setelah itu dia pamit undur diri, untuk kembali ke kantor, Ardi langsung masuk meninggalkan Mira yang masih terkesima dengan penampilan pak Karim, " Ganteng!" benak Mira.
Ardi pun masuk ke dalam rumah, langkahnya sedikit lemas.
Ani, mamanya yang sedang asyik menonton sinetron di televisi yang logonya ikan terbang, segera mengalihkan pandangan, setelah melihat Ardi berjalan agak lemah, dengan remot di tangan, Ani bertanya, " Kamu kenapa Di? Wajahmu pucat!"
" Aku gak enak badan mah, Aku ke kamar dulu!" Ardi berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
" Mira,..Mira,. !" seru Ani dari kursinya.
Mira segera tersadar, setelah itu dia menutup pintunya sebelum dia memenuhi panggilan majikannya.
" Ada apa Bu?" tanya Mira.
" Buatin teh manis panas buat Ardi, ingat ya, panas, bukan hangat, trus jangan lupa, geprekan jahe, masukkan kedalam teh!" Ani memberikan perintah, dan kembali menonton sinetron di televisi yang berlogo Ikan terbang.
Sepeninggal Mira, Ani ngedumel, " Ini, istrinya kemana sih? kelayapan gak jelas dari pagi, kelayapan terus, seolah rumah ini kos kosan saja".
Malam berlalu dengan cepat, waktu makan malam telah tiba, di meja makan , Andreas, Ani dan Tia, sudah menunggu.
Ardi dengan koyo di tempel di kedua sisi pelipisnya datang menghampiri, kondisi badannya sudah sedikit lebih baik, tetapi kondisi pikirannya makin kacau.
" Kamu sakit , Di?" Andreas bertanya, ketika melihat koyo yang menempel itu.
" Cuma masuk angin saja pah, Besok juga sudah sembuh," Ardi berkata demikian.
" Istrimu mana? Kenapa tidak ikut makan?" Andreas bertanya lagi.
Belum sempat Ardi mengeluarkan suara, Ani menyeletuk, " Dari pagi sudah pergi kelayapan! Tidak bilang mau ke mana! masa seorang istri tingkahnya seperti itu!" Ani kesal.
" Itu kan menantu idaman mama, Gimana mah, enak jaman menantu dulu, apa enak jaman menantu sekarang?" sindir Tia.
Ani terkesiap dengan pertanyaan anak bungsunya tersebut, sekarang dia baru'paham jika Asyifa adalah sosok menantu idaman, dia selalu membuat suaminya prioritas nomor satu, semua kebutuhan Ardi di penuhi, dia juga hormat dan sayang pada mertua, tak pernah sekalipun dia membantah, hal ini sangat berbeda dengan Camilla, perempuan itu hanya manis di awal, sifatnya sangat menjengkelkan, suami tidak di urus, tiap hari kelayapan, bahkan dia tak pernah ke dapur, Ani hanya bisa mendesah," Habiskan saja makananmu!" Ani melotot pada anak bungsunya tersebut.
Ketika sedang asik makan malam, Camilla pun pulang.
***
Waduh sudah mau tamat nih bestie 😬
Mampir lagi ya nanti ke cerita baru author lagi dengan judul " Istri cacat di atas kertas"
terima kasih untuk like and komentarnya, maaf author belum bisa balas komentar kalian 🙏
I love you all❤️❤️
__ADS_1