
EPISODE #27
Asyifa mendapatkan rekaman itu ketika Tia meminta dia untuk mengunjungi kakaknya ARDIANSYAH, waktu itu ardi bersimpuh di kakinya untuk memohon maaf atas segala kesalahannya yang telah dia perbuat selama ini, Dengan berderai air mata penyesalan, Ardi menuliskan sebuah email dan password, di sana Ardi sudah menyimpan semua bukti yang terkait antara dia dan tuan besar Wijaya Kusuma.
Semua orang tercengang, Helena melihat Rio, seakan dia tidak percaya, jika ayah mertuanya adalah sosok seperti itu.
Nyonya Arum pun kehabisan kata-kata, dia tidak tahu harus berkomentar apa lagi.
" Ha ha!" Tuan besar Wijaya Kusuma tertawa," ya, aku memang menyuruh Ardi untuk menyiksamu pelan pelan! itu semua kesalahanmu sendiri! Kenapa kau tidak ikut kedua orang tuamu Waktu itu? seandainya kau ikut keturunan Amir akan habis, Sayang sekali, kau selamat dari insiden kecelakaan itu!"
Kali ini, tuan Wijaya Kusuma tidak membantah apapun.
" Mungkin Tuhan mempunyai rencananya sendiri kakek, salah satu rencananya adalah meluruskan kesalahpahaman antara kakek Amir dan kakek Wijaya sendiri, ini terkait dengan sosok perempuan bernama indah, ya kan?"Asyifa bertanya, nadanya masih tetap tenang.
Kemudian Asyifa meng-klik sesuatu di komputernya, dan muncullah sebuah foto, dimana ada foto Amir kakeknya Asyifa dan Wijaya Kusuma serta seorang wanita bernama indah.
" Indah?" nyonya Arum mengeryit, dia kenal betul perempuan itu.
" Kakek Amir tidak pernah melecehkan indah kek, semua itu salah paham, justru kakek Amir yang telah menyelamatkan indah dari orang yang telah melecehkan dia, walaupun di akhir cerita, indah pergi dengan sangat tragis, menggantung dirinya sendiri, karena merasa malu dan tidak berharga, dia sempat mengirimkan surat kepada kakek Amir!" Asyifa kemudian menyerahkan sebuah surat, yang dia temukan di selipan foto di album keluarganya, dia meletakkan nya di atas meja.
Wijaya Kusuma tak membuang waktu, dia segera mengambilnya dan membacanya.
Tuan Wijaya Kusuma menatap Asyifa begitu dalam, sebelum dia membuka kertas yang sudah menguning di makan usia, dengan perasaan campur aduk dia membukanya, " Srek! Srek!"
" Ini adalah tulisan tangan indah!" tuan Wijaya Kusuma masih mengenal baik tulisan tangan itu.
Salam kak Amir
Jika surat ini sampai ke tangan kakak, berarti aku sudah tak ada lagi di Dunia ini, terima kasih kakak sudah menyelamatkan Aku dari para pemabuk itu, terima kasih atas dukungan yang kakak beri tak henti hentinya padaku, Aku sangat bersyukur, kakak begitu baik padaku dan pada saudaraku Wijaya Kusuma.
Kakak, ada hal yang selama ini aku pendam sendiri, Aku tak bisa membohongi perasaanku, jika perasaanku muncul begitu saja pada kakak, sama seperti perasaanku pada mas Wijaya Kusuma, karena kita sudah bersama saat masih kecil, tapi kemudian aku sadar jika aku sangat mencintai kakak, Aku sungguh tak bisa melihat kedekatan kakak dengan perempuan bernama Neha itu, Aku merasa sakit kak!"
__ADS_1
" Kak, seharusnya kakak tidak menyelamatkan aku dari para pemabuk yang sudah melecehkan aku!, untuk apa kak? semua sudah terlambat, Aku merasa kotor sekali, akupun sudah merasa tak punya kesempatan bersama kakak, Aku merasa sudah tidak layak dengan siapapun lagi.
Maafkan Aku
indah.
Sudut mata tuan Wijaya Kusuma basah, dia meremas surat itu dan terduduk lemas," Indah,....," Gumamnya begitu lirih.
Tuan Wijaya Kusuma seperti kehilangan kekuatannya, hanya gumaman itu yang bisa dia sebutkan, isak tangis pun terdengar dari tuan Wijaya Kusuma.
Helena dan Rio saling menatap, mereka penasaran dengan isi surat itu.
Nyonya Arum pun penasaran, dia mengambil remasan kertas yang sudah menguning itu, dia pun segera membacanya.
Setelah membaca itu, nyonya Arum terbelalak sebentar, dan menggeleng gelengkan kepalanya.
Nyonya Arum menghela nafas panjang sebelum berkata," Ini memang sebuah kesalahpahaman!" Dia melihat ke suaminya dengan tatapan yang begitu rumit.
" Setahu Aku, Indah mengaku, bahwa pelaku pelecehan itu adalah kakekmu, Amir, bahkan setelah dia tewas gantung diri, kakekmu beranggapan bahwa kakekmu adalah pelaku pelecehan tersebut, yang secara tidak langsung adalah pembunuh saudara satu satunya yang masih tersisa," nyonya Arum menggeleng gelengkan kepalanya.
Tuan Wijaya Kusuma masih terduduk, dia terlihat masih syok dan terkejut.
" Jadi semua ini adalah kesalahpahaman!" Rio mengambil kesimpulan.
" Kesalahpahaman atau bukan, tapi semua ini telah terjadi, apa yang di perbuat oleh tuan Wijaya Kusuma harus di pertanggung jawabkan! sudah dua nyawa melayang karena masalah ini, bagaimanapun juga orang tuaku tidak bersalah dan juga tidak akan bisa kembali, dan juga, tuan yang terhormat ini sudah berulang kali berusaha melenyapkan nyawaku, semua itu harus di pertanggung jawabkan!" Setelah mengatakan itu Asyifa beranjak pergi.
Ketika sampai di depan pintu Asyifa menoleh," Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk meluruskan semua kesalah pahaman ini, semoga setelah ini, arwah kakek Amir, papa Umar day juga mama flora bisa tenang,"
__ADS_1
Asyifa pun melangkah pergi, meninggalkan pesta pertunangan Angga dan Carrey Ramos.
Di parkiran, Bastian sudah menunggu Asyifa, Nona Boss nya memerintahkannya untuk menunggu di sana, Bastian hanya bisa menurut.
Asyifa segera masuk kedalam mobil.
" Kita mau kemana lagi, Nona Boss?" tanya Bastian.
" Kita ke Karawang, ke sandiego hills! Asyifa langsung duduk di belakang dan memejamkan matanya, itu artinya dia tidak ingin di ganggu dan memilih untuk tidur.
Bastian mengerutkan keningnya," untuk apa malam malam begini Nona Boss ke pemakaman?"pertanyaan itu hanya ada dalam benaknya saja, melihat suasana hati Nona Boss nya yang tidak begitu baik, Bastian hanya bisa mengemudikan mobilnya ke arah pemakaman terkenal itu.
Sementara itu di private room yang di pesan Asyifa.
" Ma, pa, kita keluar dulu!" Rio pamit undur diri, dia menyikut lengan Helena
Helena langsung mengerti, dia mengikuti suaminya keluar dari ruangan itu.
" Pa,.." Helena ingin mengucapkan sesuatu.
" Sudahlah ma! Apapun yang terjadi, biarkan saja, siapapun tak akan pernah lolos dari perbuatan buruknya, jika tidak di dunia ini, ya, di hari pembalasan!" Rio menggandeng lengan istrinya, mereka kembali ke acara pertunangan Angga dan Carrey Ramos, bagaimanapun mereka harus menyapa para tamu undangan.
Helena hanya mengangguk dan mengerti apa yang di inginkan suaminya.
Di private room, Arum mendatangi Wijaya dan memeluknya, isakan dari tuan Wijaya Kusuma keluar begitu saja dalam pelukan sang istri.
" Kenapa,.. Kenapa indah berlaku begitu kejam mah? mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya? mengapa dia memfitnah Amir?"suaranya tertahan, sebuah penyesalan yang begitu dalam segera menghujani perasaannya
. " Aku sudah melakukan segalanya untuk indah, dia adalah satu satunya keluargaku, setelah orang tua kami mati di tembak penjajah, kenapa dia tega memfitnah Amir, yang sudah menolong kami berdua, ketika orang tua kami tiada? Kenapa Rum?" Isak tangis pun semakin membahana.
****
__ADS_1