
Episode #12
Di ruang tamu kediaman Asyifa dan Ardi terlihat tiga orang yang tampak sangat frustasi, siapa lagi kalau bukan, Ani,Ami dan Ardi sementara Andreas dan Tia hanya bersikap biasa saja seolah mereka hanya pendengar dan tidak terlibat dengan perebutan atau pengalihan aset tersebut, bagaimanapun bagi mereka berdua sosok Asyifa adalah menantu dan ipar yang sempurna.
"Ardi lakukan sesuatu!" desak Ani sambil masih memijit kepalanya yang masih pening.
Ardi hanya menggeleng pasrah, " Gak ada yang bisa kita perbuat mah,.. mama dengar sendiri tadi pernyataan dari pengacara HAMDAN i,!"
" Kamu suaminya,! masa tidak mau melakukan sesuatu,? naik banding atau apa gitu ke pengadilan,!" saran Ani yang begitu tertekan karena dia tidak mau menyerah belum bisa menerima kenyataan.
" Iya kak,.. masa kamu pasrah saja di perlakukan seperti ini, nikah tiga tahun sama anak konglomerat cuma dapat status saja, anak ga ada, harta apalagi, yang ada hanya ngabisin umur dan waktu terbuang sia sia,!" sungut Ami mulai mengompori, kedua tangannya di lipat di dadanya bibirnya mengerucut.
Melihat tingkah kakak dan mamanya Tia hanya bisa menggeleng pelan, wanita itu meminum seteguk jus jeruk kesukaan nya sebelum dia berkata,
" Sudahlah harta orang jangan di bahas,.. lagian itu setimpal kok sama apa yang kak Ardi lakukan sama kak Syifa selama ini, Kaka berharap dapat harta ya,! minimal harta bersama seperti itu, Aku mau nanya sama Kaka, emangnya selama pernikahan Kaka sudah kasih apa ke mba Syifa,? memangnya selama pernikahan kaka pernah kasih sedikit saja kebahagiaan untuk mba Syifa gitu,? jangankan kebahagiaan senyum saja jarang, air mata yang sering," bantah Tia membela pihak silau hukum dan tentu saja ipar kesayangannya Asyifa.
"Diam anak kecil jangan ikut campur, kamu tuh gak tau apa apa," hardik Ami menatap tajam ke arah Tia.
Melihat perdebatan di antara putrinya Andreas hanya bersikap cuek hal itu sudah sering terjadi, pria paruh baya itu heran dengan sikap anak anaknya yang sangat bertolak belakang, dia begitu malas menengahi akhirnya dia meninggalkan anak dan istrinya di ruangan itu menuju teras, lebih baik dia mencari angin di luar pikirnya.
,. Tia sengaja mengangkat bahu dan memutar bola matanya dengan malas, akhirnya dia bangkit berdiri, sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut dia menatap lurus ketiga sosok di hadapannya dan memperingatkan.
" Saran dari anak kecil, hati hati dengan sikap yang kalian ambil saat ini, jika kalian memutuskan ke pengadilan dengan dalih naik banding atau apalah istilahnya, hati hati saja jangan ceroboh, takutnya dengan keinginan kalian yang tak tahu diri tersebut nanti akan banyak pihak yang akan mengusut kasus kecelakaan mbak Syifa, hal yang paling mengerikan yang terjadi bukan hanya terkuaknya sebab kecelakaan juga skandal skandal kalian yang akan langsung terekspos, jangan remehkan kekuatan netizen dan pihak silau hukum dan Prameswari group bukan pihak yang mudah untuk di singgung, jika mereka sudah memutuskan untuk menyelidiki kasus kecelakaan mbak Syifa secara mendalam, apakah kalian mampu untuk mempertanggungjawabkan nya?" lalu pergi berlalu diikuti oleh sang suami yang sedari tadi hanya diam menjadi penonton.
Ardi,Ani dan Ami saling menoleh dan melirik satu sama lain, tanpa mereka sadari keringat dingin mulai terasa di tengkuk mereka ketar ketir, jika PRAMESWARI group dan silau hukum turun tangan dalam penyelidikan, dapat di pastikan Dunia mereka akan berakhir, mereka hanya bisa meneguk ludah kasar, kekhawatiran terlihat jelas terpancar dari wajah ketiganya.
" Kenapa jadi seperti ini sih mah,?" Ami menoleh ke Ani dan mengerucutkan bibirnya, tangannya terlipat di dadanya.
" Jika aku tau kalau hasilnya zonk aku ga akan cape cape ikut serta dalam rencana kalian" sungut Ami dengan wajah yang sangat dongkol, alisnya mengerut dia membuang nafas kasar.
__ADS_1
Ani yang mendengar omelan Ami langsung melemparkan botol air kemasan yang ada di hadapannya, Ami yang belum siap tidak sempat menghindar dan tepat mengenai dahinya.
" Aaauch,.." erang Ami sambil mengusap dahinya, seketika matanya melotot mengarah kepada yang melemparkan botol air tersebut, melihat pelakunya adalah mamanya dia tak berniat memperpanjang.
Ardi masih diam, belum bisa memberikan respon apapun, lelaki tersebut seakan tertampar dengan perkataan Tia yang sangat benar sekali, "Emang selama pernikahan Kaka sudah kasih apa sama mbak Syifa?
" Memang selama menikah sama kaka apa kaka sudah pernah kasih sedikit kebahagiaan gitu?" tiba tiba Ardi merasakan sesak di dadanya, dia benci sekali mengakui bahwa apa yang di katakan adik bungsunya adalah kebenaran yang tak pernah bisa dia bantah, kenyataannya memang seperti itu.
Ada sedikit terselip rasa penyesalan, ya,.. hanya sedikit karena ketika dia bersama Camilla semua perasaan tak enak dan rasa bersalah tersebut akan lenyap seketika dan tidak tahu mengapa seperti itu.
"Ardi!" panggil Ani.
Tidak ada jawaban.
"ARDI,.!"
Tidak ada sahutan.
"ARDI, !!! teriak Ani kencang seraya menumpuk dengan kotak tisu yang ada di hadapannya.
Setelah melihat Ardi kembali dengan kesadarannya Ani bertanya kembali.
" Bagaimana sekarang Ardi,? kita sudah tidak punya apa apa lagi,! bagaimana mama bisa bertemu dengan bestie- bestie geng kesayangan mama kalau begini,? lama lama nanti mereka gak mau berteman lagi sama mama!" nada khawatir tidak bisa Ani sembunyikan, bagaimanapun wanita paruh baya itu tidak mau kehilangan pamornya di hadapan geng sosialita nya.
Ardi membisu tidak menanggapi keluhan mamanya.
mengetahui Ardi tidak memberikan tanggapan apapun Ani menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Tidak lama kemudian Ardi bangkit dari tempat duduknya.
" Mau kemana?" Ani langsung bertanya.
" Emang ga ada jalan lain lagi,? kasih respon atau tanggapan gitu kek,.. dari tadi kamu cuma diem aja, jangan cuma diem aja, kamu itu yah,.. seperti piring kotor yang minta di cuci saja,!" Ani begitu geram.
__ADS_1
Mendengar sindiran tentang piring kotor minta di bersihkan, Tia langsung menuju dapur untuk membersihkan semua peralatan dapur yang mereka gunakan, kalau di biarkan pembahasan mama tercintanya akan semakin melebar kemana-mana, sementara Ami pura pura tidak mengerti dengan sindiran mamanya tersebut, baginya mencuci piring bisa merusak perawatan kuku mahalnya yang rutin ketika masih memegang kartu gold start, sekarangpun masih memegang namun sudah tak bisa di gunakan lagi hanya sebagai hiasan dan kenangan terindah. *wkwkwkwkw*
Ardi menatap mata mamanya datar.
"Sudah lah mah,.. Tia benar,.. lebih baik kita terima dan lupakan saja, jika mereka,.. maksudku silau hukum dan PRAMESWARI group menyelidiki lebih jauh, hotel prodeo menanti kita mah,?"
"Sudahlah,.. aku mau keluar dan menenangkan pikiran, rumah ini juga lambat laun akan aku tinggalkan," desisnya pasrah dan pergi keluar menaiki mobil sport nya membelah jalanan Jakarta.
Seketika hening, ARDI dan Andreas sudah pergi Ani semakin memijit keningnya, Ami kemudian mendekat.
" Ma,!" sapanya sambil duduk di samping Ani.
Ani menoleh.
" Aku ada ide lain mah" gumam Ami takut ada yang lain mendengar nya.
Ani langsung menunjukkan antusias nya.
" Sini aku bisikkan,!"
Ani kemudian mendekati telinganya.
Mereka berdua akhirnya tersenyum licik seolah sudah menemukan cara.
****
Ardi memasuki mobil sport terbarunya dan pergi melaju membelah jalanan ibukota,. gerimis sudah mulai turun ketika dia sampai di persimpangan lampu merah, pikirannya benar benar kacau, rencana yang sudah dia susun dengan sangat matang memiliki akhir yang tidak terduga, tak pernah terbesit di pikirkan nya bahwa ketidak beradaan Asyifa malah memperburuk situasi.
Seandainya Asyifa masih ada, pasti dia dan keluarganya tidak pusing pusing memikirkan biaya untuk mendukung gaya hidup hedonisme mereka, sekarang Asyifa sudah tidak ada dan dalam hitungan waktu segala sesuatunya akan berubah.
__ADS_1
Tiba tiba dia merasa takut akan hal yang akan terjadi di masa depan.
****