Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Bali


__ADS_3

Episode #71


    Bandara Sukarno Hatta Tanggerang.


        " Buruan mil, nanti kita terlambat lagi, kita harus buru buru check in, nanti terlambat lagi!" Melinda menarik paksa tangan Camilla.


   Camilla hanya bisa memutar bola matanya malas, Antrian check in sudah begitu panjang, Melinda sedikit sedikit melirik jam tangannya, dia takut sekali ketinggalan pesawat, seharusnya mereka check in satu jam sebelum keberangkatan, tapi sekarang hanya tinggal lima belas menit lagi, semua ini karena ulah Camilla, yang live tak kenal waktu hingga lupa bersiap siap, alhasil mereka terburu buru.


    Setelah selesai check in, mereka mendengar pengumuman, bahwa pesawat mereka akan segera lepas landas dan para penumpang diharapkan langsung ke gate yang di tunjuk.


   Melinda akhirnya bisa bernafas lega, Setelah duduk di kursi bisnis, di dalam pesawat, setelah drama berkejar-kejaran dengan waktu, sambil menenteng banyak barang, akhirnya dia menang, dia dan Camilla tiba persis ketika pintu pesawatnya akan di tutup.


   Melinda memejamkan matanya sejenak, dan mengambil sebotol air mineral, untuk membasahi kerongkongannya yang sudah kering," Akh, melelahkan sekali!" pikirnya.


      Setelah menuntaskan dahaganya, Melinda melirik Camilla, namun Camilla tidak melihat Melinda, dia sedang fokus melihat kedepan, beberapa kali Melinda berusaha untuk memanggilnya, namun Camilla tetap tidak mendengarnya, karena penasaran, diapun melirik kearah tatapan Camilla, dan melihat Nona Humaira sedang berbincang hangat dengan Angga Kusuma, entah mengapa kursi mereka bisa bersebelahan.


    Pandangan Camilla begitu lekat, seperti ada amarah yang terpatri kuat didalam sana, Camilla tersenyum sinis dan mengalihkan pandangan dari pasangan tersebut, dia menatap keluar jendela.


    Saat ini, pramugari sedang memperagakan informasi keselamatan atau safety demo, pramugari tersebut kemudian menunjukkan, bagaimana cara menggunakan, sabuk pengaman, masker oksigen, mengoperasikan pintu dan jendela darurat, baju pelampung, serta kartu keselamatan, walaupun Melinda Sudah hapal dengan peragaan tersebut, dia juga tetap memperhatikan apa yang pramugari tersebut lakukan.


     Camilla masih bergeming di kursinya, nampaknya dia juga masih memperhatikan kedua penumpang yang terlihat begitu akrab di sana.


   Asyifa yang mengetahui, bahwa Camilla memperhatikannya diam diam dengan tatapan yang begitu tajam, hanya bisa tersenyum, entah kenapa, keberuntungan berpihak padanya kali ini, Angga Kusuma, tuan muda dari Kusuma group malah mendapatkan kursi di sebelahnya, hal ini sangat membakar diri Camilla, Bagaimanapun Asyifa tahu, Bagaimana Camilla yang sangat ingin dekat dengan Angga dari semasa kuliah dulu, sayangnya Camilla hanya bertepuk sebelah tangan.


   " Wah, saya sungguh tidak menyangka, bahwa Nona akan berangkat ke Bali hari ini, saya merasa beruntung sekali, bisa menemani perjalanan Nona May," ujar Angga, dengan senyum yang begitu menawan, perempuan manapun akan kesulitan menahan pesonanya.


      " Tuan muda bisa saja! seharusnya saya yang merasa tersanjung, biasanya anda akan duduk di kursi, first class dan bukan bisnis" kilah Asyifa.


    Mendengar itu, Angga hanya terkekeh, suasana akrab sudah terjalin diantara keduanya Setelah pesta ulang tahun tuan WIJAYA Kusuma, kakeknya Angga Kusuma.


   Keakraban itu hanya bisa membuat Camilla mengepalkan tangannya dan menusuk dirinya dengan kukunya yang sedikit runcing.


   Melinda, memicingkan matanya, dan melihat semua pergerakan Camilla, dalam hatinya dia merasa puas, " Iri teruuuus! terus teruslah iri! sampai terbakar itu hati! UPS, emang makhluk ini punya hati?" Cibirnya dalam benaknya.

__ADS_1


     Setelah perjalanan hampir dua jam, akhirnya pesawat mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai.


   Asyifa dan Angga keluar duluan dari pesawat, mereka sempat berpapasan dengan Camilla, tetapi mereka mengacuhkannya, mereka tetap berjalan, hingga kedalaman bandara.


    Melinda dan Camilla tidak bisa langsung keluar dari bandara, karena harus menunggu bagasi, sedangkan Angga dan Asyifa, hanya membawa barang di kabin, jadi bisa langsung menuju pintu keluar.


      " Saya akan mengantar anda ke hotel, Nona May, saya harap anda tidak menolak," tawar tuan muda Angga dengan ramah.


      Asyifa menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis, " Anda baik sekali tuan muda, tapi menejer saya sudah menjemput, itu dia!" tunjuk Asyifa pada Bastian, yang sudah menunggunya dari tiga puluh menit lalu, Bastian memang sudah satu Minggu di Bali, dia mempunyai misi khusus yang di berikan Asyifa padanya.


      " Wah, sayang sekali, saya harap kita bisa makan malam Nona! ucap tuan muda Angga, sambil melangkah pergi ke arah seorang pegawainya yang sudah menjemputnya.


   Asyifa hanya mengangguk, dan melambaikan tangan kearah tuan muda Angga.


   Bastian pun langsung meraih barang bawaan Asyifa dan segera menuju mobil yang mereka sewa selama ada di Bali.


    " Bagaimana? Apakah ada kendala?" tanya Asyifa ketika sudah berada di dalam mobil.


Bastian menggelengkan kepalanya, " Semuanya aman terkendali Nona Boss, tidak akan ada yang merasa curiga, apalagi ini hanya melibatkan satu model, tidak akan menarik perhatian," setelah mengatakan itu, Bastian menyalakan mesin mobil.


   " Kalau begitu, saya kembali dulu, ingin mempersiapkan acara untuk nanti malam" ucap Bastian, setelah mengantarkan Asyifa kedepan pintu kamar hotel.


     " Thanks ian" setelah mengatakan itu Asyifa membuka pintu kamar hotel dan segera beristirahat.


    Tak lama terlelap, ponselnya berdering,


Kriiing,.. ! Kriiing,..! Kriiing,..!


  Tanpa melihat id caller si pemanggil, Asyifa langsung mengangkat telpon.


  " Halo!" ucapnya sambil memejamkan mata.


   "Hy MAY, I am in Bali" seru suara di seberang, suara yang sudah lama tidak di dengar oleh Asyifa, suaranya song chai mi, atau yang lebih akrab di panggil Rose, sang perawat ketika di Seoul.

__ADS_1


( Hay, May aku di Bali)


Mata Asyifa langsung terbelalak, dia terkejut, mengetahui bahwa perawatnya sekarang ada di Bali, sebelum melanjutkan perkataannya, Song Chai Mi , sudah berujar, " Aku cuti satu bulan, dan aku memutuskan untuk datang ke negaramu, jadi aku memutuskan untuk berlibur dulu ke Bali, apakah kamu punya waktu untuk datang ke Bali?"


Bukannya menjawab pertanyaan Song Chai Mi, malah Asyifa menanyakan hal lain, I don't know, now you can speak Indonesian"


(aku tidak tahu, sekarang kamu bisa berbahasa Indonesia)


" Ha, ha, ha ha" Song Chai Mi tertawa lepas, " Sejak kamu pulang, aku dapat teman sekamar, dia orang Indonesia, setiap hari dia mengajariku berbahasa Indonesia, jadi sekarang aku sudah bisa bicara bahasa Indonesia, walaupun masih belum terlalu lancar dan masih kaku" jelasnya, " Eh, aku sekarang liburan di Bali, kamu kesini dong, aku bosan nih!" lanjut Song Chai Mi dengan logat koreanya.


Di telinganya Asyifa, cara berbicaranya Song Chai Mi Sangat lucu, apalagi ketika dia mengucapkan kata 'tahu' yang di baca sebagai ' tahu' olahan kacang kedelai, bukan ' tau" akan tetapi, Humaira tidak mentertawakan nya, tetapi malah mengapresiasi nya.


" Baguslah kalau kamu sudah bisa berbahasa Indonesia, jadi aku gak akan jadi translator buat kamu, he he he!" kekeh Humaira sebelum dia melanjutkan, " Aku sekarang juga di Bali, lebih tepatnya di Nusa Dua, nanti malam aku tampil di fashion show,"Bali internasional fashion show" kamu harus datang!"


" Iya, aku ada dengar, malam ini ada acara fashion show, aku akan kesana, aku ingin lihat kamu tampil, kalau begitu kamu istirahat dulu, aku mau main ke pantai, sampai jumpa nanti malam, Bye!" telepon pun terputus, ketika Song Chai Mi mematikan panggilan.


Asyifa menarik nafas, dia kemudian bangkit dari tempat tidur, dan bersiap untuk berendam di bath up, dia sudah tidak sabar, dengan apa yang akan terjadi malam ini.


\*\*\*


Kembali ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar.


Setelah menunggu kedatangan bagasi yang memakan waktu kurang lebih satu jam, akhirnya Melinda dan Camilla menuju pintu keluar.



Sebelum menuju hotel di Nusa Dua, Camilla Sudah merasa lapar, jadi dia meminta makan terlebih dahulu, di salah satu gerai makanan terdekat, Melinda hanya bisa mendesah, dan menuruti permintaan Camilla, dia juga merasa sedikit lapar.



Ketika mereka sedang asyik berbincang, Melinda melihat sosok laki laki yang begitu familiar, sosok yang membuat, beberapa kali hatinya berdegup tak karuan, sosok itu membawa satu karangan bunga yang sangat cantik di tangannya, Melinda terus mengamati kemana laki laki tersebut melangkah, hingga semua makanan yang dia lahap rasanya berubah menjadi hambar, ketika seorang perempuan berlari, menghampiri sosok tersebut dan langsung memeluknya, karangan bunga itupun langsung di berikan padanya.


Mata Melinda sudah mengembun, " Arsyad?"lirihnya

__ADS_1


****


__ADS_2