Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Interogasi


__ADS_3

Episode #6


    Keadaan Tinro nyaris gila, mengurusi dua peliharaan Angga.


    Anak buah Angga yang sedang bertugas malam ini, Asep, membawa Tinro kehadapan Rio dan Asyifa, dia menolakkan badan Tinro, sehingga laki laki itu tersungkur.


    " Dudukan dia di kursi!" perintah Asyifa dingin, sedingin udara puncak.


    " Ganti bajunya, dan rapikan penampilannya, setelah itu, bawa dia kemari lagi!" perintah Asyifa kepada Asep.


    Asep sekilas melihat kepada Rio, dan Rio pun menganggukkan kepalanya.


    Asep langsung membawa Tinro, dan mendandaninya dengan rapi.


   Sepuluh menit kemudian, Tinro sudah kembali, Bajunya sudah di ganti, rambutnya tersisir rapi, dan kumisnya juga di cukur, penampilannya sekarang sudah terlihat seperti orang waras.


    Tinro kemudian, di dudukan kembali oleh Asep, posisi Asyifa dan Tinro hanya di pisahkan oleh sebatas meja, ponsel Asyifa menyorot ke wajah Tinro, Rio berdiri di belakang Asyifa.


    Asyifa kemudian berdiri dan berjalan ke belakang Tinro, kemudian dia menepuk pundak Tinro, seketika pandangan Tinro berkunang, dan dia kehilangan kesadarannya sendiri.


  Asyifa kemudian duduk di hadapan Tinro dan mulai bertanya, " Apa kau kenal dengan Umar Prameswari?"


   Tinro menjawab," Kenal, dia adalah langganan saya di bengkel!"


  "Ceritakan, bagaimana kamu menghabisinya!"Asyifa menatap Tinro dingin, ingin sekali dia, menancapkan pisau ke jantung laki laki ini, dan melakukan hal yang sama ke istrinya, agar anak-anaknya tau, Bagaimana hidup yatim piatu, tanpa kehadiran orang tua.


  Tinro terisak pilu, air matanya jatuh membasahi pipinya, bahunya terguncang.


     " Waktu itu saya membutuhkan biaya untuk persalinan, saat itu,...."


    " Ceritakan bagaimana kamu menghabisi Umar dan istrinya, bukan menceritakan alasan kenapa kamu melakukan itu, apapun alasan kamu, perbuatan kamu tak termaafkan!" gemeretuk gigi Asyifa begitu jelas, terdengar ketika dia mengatakannya, terlihat jelas bahwa dia sedang berusaha menahan emosinya.


   Rio mengelus punggung Asyifa pelan, seolah memberikan kekuatan, Asyifa pun mulai terlihat tenang.


   Tinro terdiam.


  " Ceritakan!" perintah Asyifa lagi.

__ADS_1


    " Saya, mensabotase rem mobil yang akan di gunakan oleh pak Umar dan istrinya, hingga mereka mengalami kecelakaan, untuk menghilangkan jejak mencurigakan, saya dan orang yang menyuruh saya itu, mengikutinya dari belakang, setelah kecelakaan tersebut, saya memperbaiki remnya kembali, sehingga terlihat bahwa mobil tidak mengalami masalah, dan kecelakaan itu terjadi, karena faktor human error," Tinro bercerita.


Asyifa mengepalkan erat tangannya, ingin sekali dia mencabik-cabik orang di depannya ini sekarang.


" Siapa yang menyuruh kamu?" Rio bertanya, karena dia melihat Asyifa tak kuat lagi untuk melanjutkan pertanyaannya, Asyifa meremas tisu di genggamannya, dia mencoba merasa kuat namun tidak sanggup, malah menunjukkan kerapuhannya.


" Seseorang, dia tidak menyebutkan namanya!"


" Ciri-cirinya bagaimana?" Rio menggantikan Asyifa bertanya, saat ini Asyifa berusaha menenangkan dirinya.


Asep datang membawakan segelas wedang jahe kepada Asyifa, setelah mengucapkan terima kasih dia segera meminumnya.


" Aku tidak mengingatnya dengan jelas, dia mempunyai tahi lalat di pelipis kiri dan ujung mata kiri, pergelangan tangannya memiliki bekas luka bakar," Tinro menjawab seadanya.


" Apa ada orang lain yang terlibat?"


" Tidak ada, hanya orang itu saja!"


Asyifa menepuk pundak Tinro kembali, dia kemudian tersadar, matanya mengerjap beberapa kali, dia melihat di depannya ada seorang perempuan cantik Sedang menatapnya dengan kilatan penuh amarah, dan dendam, seketika nyali Tinro menciut.


" Apa kamu setuju jika anak Anakmu merasakan apa yang aku rasakan? Ditinggal mati kedua orang tua, ketika masih usia belia?" ucapannya tajam dan menggetarkan hati.


Asyifa melihat, ada guratan penyesalan di wajah lelaki itu, matanya tampak basah, entah karena mengingat dosanya, mengingat anaknya, atau mengingat penderitaan yang akan dia lalui, semuanya berkumpul menjadi satu.


Asep kemudian menarik kerah Tinro, dan memaksanya berjalan kembali ke kamarnya, ruang pengap persis seperti penjara.


Rio dan Asyifa bergegas untuk pulang, kembali ke villa.


Asyifa langsung beristirahat.


***


Malam anniversary pernikahan Helena dengan Rio.


anniversary pernikahan kali ini, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, mereka hanya merayakannya dengan keluarga besar Rio dan Helena, tidak ada tamu undangan yang lain, kecuali Carrey dan Asyifa, yang di undang langsung oleh Helena, malam ini mereka merayakannya dengan barbekyu, beberapa pemanggang sudah di siapkan, keluargapun sudah mulai berdatangan.


" Aku menunggu di taman!" Rio pamit ketika Helena berada di depan kamar Asyifa.

__ADS_1


Helena menganggukkan kepalanya" Aku akan menyusul setelah ini!"


Kemudian Helena mengetuk pintu.


" Tok! Tok! Tok!"


" Syifa, Tante boleh masuk?" setelah mengucapkan itu, Helena langsung membuka pintu, suara deritan pintu pun terdengar.


Asyifa yang baru keluar dari kamar mandi, langsung menyambutnya, " Maaf Tante, tadi Aku di kamar mandi!"


" No, problem, honey!" Helena tidak mempermasalahkan, " Duduklah!" dia menepuk sisi ranjang, agar di duduki oleh Asyifa.


Asyifa pun duduk.


" Sebenarnya, ada hal penting apa yang ingin Tante bicarakan?"Asyifa sudah bisa menebak, kenapa Helena meluangkan waktu untuk menemuinya.


Helena menyerahkan sebuah foto dan paspor ke tangan Asyifa.


Asyifa mengeryit heran, dia memperhatikan foto tersebut, foto sebuah keluarga bule, sang suami seorang pria berkulit putih, dan istrinya memiliki ciri khas wanita latin, ada juga dua anak mereka, laki laki dan seorang perempuan.


Asyifa menatap lekat foto itu, dia kemudian membelalakkan matanya, perempuan kecil itu ternyata mamanya sendiri.


" Ini,...Ini,.." ucap Asyifa kebingungan.


" Aku menemukannya terselip di dalam koper ku, koper yang aku gunakan, ketika pulang dari London, sehabis kuliah di sana!" jelas Helena, " Sepertinya, mamamu lupa mengambilnya kembali!"


Mata Asyifa berkaca kaca, ini adalah pertama kalinya dia melihat foto keluarga mamanya, dia mengusap foto itu beberapa kali.


" Aku dan mamamu adalah teman sekamar di asrama kampus, tidak ada yang tahu nama belakang mamamu dan latar belakang keluarganya, dia sangat menutup rapat informasi terkait keluarganya, kami hanya memanggilnya dengan nama depannya saja," Lady" kemudian Helena menyerahkan paspor milik mamanya.


Asyifa membuka paspor tersebut, dan terkejut, ternyata mamanya sudah pernah berkeliling dunia, di usianya yang masih begitu muda, Asyifa kembali ke halaman depan paspor, di sana tertulis jelas, nama belakang ibunya dan nomor polisi paspornya.


" Mamamu begitu tertutup dengan kehidupannya, dia tidak pernah mengatakan, kenapa dia memilih meninggalkan bangku kuliah, dan ikut aku pulang ke Indonesia, hingga saat ini pun, aku belum bisa memahami pemikirannya, kenapa dia meninggalkan semua di negara asalnya" Helena hanya bisa mendesah pelan.


" Dan kamu pasti sudah bisa menebaknya sendiri, aku mengenalkannya pada Rio, yang kebetulan di hari itu mengajak serta ayahmu, Umar, kemudian binar cinta hadir diantara keduanya. mereka memutuskan untuk menikah dan menetap di Indonesia, bahkan Mamamu mengganti namanya, Dari Lady menjadi, Flora!"


" Ya, sudah, hanya itu yang bisa tante sampaikan, tante pamit dulu, ommu sudah menunggu!" Helena pun pamit undur diri.

__ADS_1


Asyifa masih menggenggam kedua barang berharga tersebut, tekadnya ke London sudah semakin bulat, selain mencari Amar, dia juga ingin mencari tahu tentang keluarga mamanya yang bernama asli "Lady".


****


__ADS_2