
Episode #28
" Mr. Syaputra, I hope you can talk again with Ms. Humaira about the planned hypnosis after the operation.," Min Ho yang bertugas menangani metode hipnotis, untuk menciptakan karakter baru untuk Asyifa, menelpon Amar untuk membujuk Asyifa mengurungkan niatnya.
( Tuan syaputra, saya harap anda dapat berbicara lagi dengan nona Humaira tentang hipnotis yang di rencanakan di lakukan setelah operasi)
Amar sedikit terkejut dengan pernyataan dari Min Ho , dia dan Asyifa sudah merencanakan ini jauh sebelum ke Seoul, ' kenapa bisa berubah? pikirnya.
" we have met and have talked about it, he insists on hypnosis to change all his traits, i have tried to persuade him to cancel it i am afraid he will lose his true self, and it will affect his mental state in the future," Min Ho segera mengutarakan alasannya sebelum di tanya lebih lanjut oleh Amar.
( kami sudah bertemu dan sudah membicarakannya , dia bersikeras untuk melakukan hipnotis untuk merubah semua sifat sifatnya, aku sudah berusaha membujuknya untuk membatalkannya aku takut dia akan kehilangan dirinya yang sebenarnya, dan itu akan mempengaruhi kondisi mentalnya di masa depan)
" oh, i understand, i will try to talk to him we will respect every decision he takes, thank you sir,!" Amar memutuskan untuk membicarakan ini dengan Asyifa.
( oh, aku mengerti, aku akan mencoba berbicara kepadanya kita akan menghormati setiap keputusan yang dia ambil, terima kasih pak)
" You are welcome,sir," Min Ho menutup telponnya.
( terima kasih kembali)
Tak membuang waktu, setelah menutup telepon dari Min Ho lekas Amar mencari kontak Asyifa yang dia beri nama "My May",
"Tuutt,.. Tuuut,. Tuutt,." panggilan terhubung.
Ponsel Asyifa yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya bergetar, segera dia mengambilnya dan melihat id callernya, "Teddy Bear" memanggil, dia begitu sumringah dan menggeser tombol yang bergambar gagang telepon itu.
" Halo, kapan kesini,? aku sudah bosan berbicara bahasa Inggris terus!" Asyifa menjawab sambil berteriak.
Amar benar benar kaget mendengar teriakkan Asyifa, dia berharap Asyifa menjawab dengan sapaan lembut, tapi malah sebaliknya, setelah menguasai dirinya sebentar Amar langsung terkekeh, " Aduh may, hampir saja jantungku copot, untung saja lemnya kuat kalau tidak,... hmmp," laki laki itu sengaja menggantungkan ucapannya.
" Kalau copot langsung lem aja lagi, susah amat,! ketus Asyifa.
" Kenapa baru telfon?'
" Udah gak inget aku lagi?" aku bosan tau gak!" rengek Asyifa seperti anak kecil.
Asyifa yang elegan dan anggun, sifat yang paling di kenal oleh kebanyakan orang, hanya Amar yang tau, betapa kekanak kanakannya sahabatnya tersebut, sisi lain Asyifa yang tidak pernah dia tampakkan setelah kematian tragis kedua orang tuanya.
Mengingat sisi lain Asyifa yang kekanakan tersebut, yang akan hilang jika hipnotis itu di lakukan dan akan merubah Asyifa menjadi pribadi yang tegas dan dingin, Amar sedikit tidak rela, dan memutuskan untuk menerima saran Min Ho.
" Kau benar benar bosan? ingat pulang cepat ke Indonesia, negara tercinta? bener nih? kangen sama macet ya?" kelakar Amar, lelaki itu tau betul kalau Asyifa benci kemacetan.
" Hahahaha, kangan juga sama macaet, padahal kamu tahu, aku paling sebel kalo macet," suara tawa Asyifa menggema.
Amar sedikit tersenyum mendengar suara tawa yang melengking, Asyifa memang jarang tertawa, dia hanya sekedar tersenyum jika ada yang lucu, dan ada sebuah rahasia yang hanya Amar dan kedua orang tua Asyifa yang tahu, bahwa suara tertawa Asyifa tidak elegan samasekali, persis seperti mbak kunti yang sedang konser di atas pohon, lagi lagi Amar tidak ingin kehilangan tawa yang memekikan telinga itu.
" Aku itu kangennya makan, Sate, soto rendang, durian, jengkol,sama pete, disini aku tidak nemu,.jengkol sama pete , padahal aku lagi pengen bangett, padahal kalau di Indonesia pasti lagi musimnya ini,!" Asyifa terus berceloteh seperti anak kecil yang lama tidak berjumpa dengan keluarganya.
" Eh, sebentar,. tumben nelfon? ini kan masih jam kantor di sana? disini sekarang sudah jam 6 sore, berarti disana sudah jam 4 , mentang mentang boss, korupsi waktu, itu gak boleh loh,!" Asyifa sewot.
Amar hanya tersenyum mendengar celotehan Asyifa, rasanya sudah sangat lama dia tidak mendengar Asyifa bertingkah seperti ini, dia senang, akhirnya Asyifa kembali ke masa remaja dan melakukan hal jahil bersama.
__ADS_1
" Gini syif, aku berpikir bahwa, sebaiknya kita batalkan saja terapi hipnotis itu, bagaimana,?" Amar berterus terang mengutarakan pendapatnya.
Senyum yang mengembang di wajahnya langsung memudar, " Apa si Jhon menghubungi dan menyuruhmu membicarakan hal ini,?"
" Siapa Jhon,? Aku tidak mengenal nya,?" Amar bertanya penasaran.
" Oowh, maaf, maksudku Min Ho, aku memanggilnya Jhon, lidahku belum terbiasa memanggil nama mereka, jadi aku panggil saja Jhon, hehehe," kekeh Asyifa dari seberang telepon.
" Iya, Jhon alias Min Ho, baru saja menelponku," belum selesai Amar meneruskan kalimatnya sudah di sela Asyifa dengan teriakannya.
" Jadi kalau oppa oppa itu gak telpon kamu gak menghubungi aku,.. Haissh,!" seru Asyifa lalu meneguk air mineral.
Amar mati kutu, tidak bisa membalas ucapan Asyifa.
" Sudah lah, kembali ke topik," ada hembusan nafas panjang sebelum Amar melanjutkan, " Aku ingin kamu menjadi diri sendiri syif, " Apakah pantas, mereka, orang orang itu, merubah dirimu,.. aku tak ingin kehilangan kamu lagi, kehilangan sosokku, walaupun nanti kamu sudah berubah raga, tetapi jiwamu tetap sama, aku tak ingin kehilangan sisimu yang lain, apakah pantas mereka menghilangkan jiwamu juga,? Maaf syif, sebagai seorang sahabat yang sudah mengenalmu dari jaman putih biru, aku tak ingin kamu berubah, tetapi, apapun keputusan kamu, aku hargai itu, kamu yang menjalani, kamu yang merasakan, tangis, air mata , cacian, hinaan, penyesalan, dan apapun itu, kamu yang faham, aku hargai semua keputusanmu syif, apapun keputusan yang kamu ambil, aku adalah orang pertama yang jadi perisaimu, tetapi tolong, pertimbangkan semuanya, Jhon pasti sudah memberitahu kamu tentang Side effect dari hipnotis itu," Amar berusaha untuk meyakinkan Asyifa untuk membatalkan keputusannya itu.
(Side effect\= efek samping)
" Aku terharu Teddy bear,! aku bukan terharu dengan atas semua yang kamu katakan, aku terharu akhirnya kamu bisa juga bicara panjang lebar, Hahahahah," Asyifa tertawa lebar, suara cekikikan mbak kunti terdengar di telpon.
Amar menarik nafasnya sebelum dia berteriak " Jangan panggil aku Teddy bear,!"
"Teddy bear,! Teddy bear,! Teddy bear,! siapa yang dulu tidak bisa tidur, kalau tidak ada Teddy bear,! weeek,!" ejek Asyifa, di telpon sambil menjulurkan lidahnya.
"Ck, dasar si putri tidur ngorok, itu si Mr Bean kalau tidur juga meluk Teddy bear,! Sudah, aku mau makan rendang sama pete dulu,.. hmmp, nikmaat,!" Amar mematikan telepon nya.
" Dasar Teddy bear sinting," umpat Asyifa, sambil bersungut-sungut, tetapi ada senyum kecil menghiasi wajahnya.
Arsyad sang asisten merasa aneh, tiba tiba bulu kuduknya sedikit berdiri, dia merasa tuan muda AMAR kerasukan, " Bagaimana mungkin, orang seelegan, sedingin, dan setegas itu, bisa mengumpat dan marah marah tidak jelas begitu,"
Amar menoleh ke arah Arsyad dan memerintah, " Dinner nanti aku mau makan rendang sama pete, trus kamu foto dan kirimkan ke aku,"
Arsyad mengangguk dan mengerutkan keningnya, "Entah sejak kapan tuan mudanya itu suka foto makanan sebelum di makan,?"
Dua jam telah berlalu
Di Seoul , masih di rumah sakit.
Asyifa menerima pesan gambar dari Amar, di mana ia makan rendang dan pete dengan lahap, tidak bisa di pungkiri, oleh Asyifa, air liurnya sedikit menetes, tapi dia tak membalas apapun, dia hanya mengirimkan emot dengan lidah menjulur sebagai ejekan.
Song chai mi alias Rose segera mengecek keadaan Asyifa, setelah mencatat kondisinya wanita itu segera pergi, tetapi syifa menahannya.
" Are you bussy,?" tanya syifa menahan lengan Rose, sehingga langkahnya tertahan.
( Kamu sibuk?)
Rose segera menggelengkan kepalanya dan duduk di samping tempat tidur Asyifa.
__ADS_1
" I need to talk, and want to hear from you, can I ? Asyifa melihat dengan penuh harapan.
( aku butuh bicara, dan ingin mendengar pendapatmu, boleh?)
" Sure,!" Song chai mi mengangguk dan membawa Asyifa ke atap gedung rumah sakit, dia juga membawa dua cangkir minuman hangat dari sana, gemerlap kota Seoul bisa terlihat, sangat indah.
( Tentu )
Di sana Asyifa menceritakan kejadian yang menimpanya, semua tentang kehidupan rumah tangganya dia ceritakan, sikap keluarga suaminya dan penghianatan suami dan sahabatnya, rencana dia dan Amar, juga perbincangan nya dengan Min Ho alias Jhon, dan juga permintaan Amar tadi di telpon, tidak ada yang dia sembunyikan, semuanya dia ceritakan, tidak kurang tidak lebih.
Asyifa menatap ekspresi Rose yang tetap tenang, setelah dia bercerita, Gadis itu tidak menyela apalagi membandingkan nasib ketika ada yang curhat, dia fokus mendengarkan cerita.
" what should I do now, I'm confused,!" Asyifa meminta pendapat setelah bercerita.
( apa yang harus aku lakukan sekarang, aku bingung,)
Rose mendesah pelan, dia mengalihkan pandangannya dari Asyifa, dari atap gedung dia bisa melihat, betapa gemerlap nya kota Seoul dan kemudian dia mengarahkan wajahnya ke langit melihat bintang bintang di sana.
Asyifa hanya memperhatikan tingkah Song chai mi, dia menunggu pendapat gadis itu.
" the first time i saw you, i saw your eyes full of sadness, tears, hatred, disappointment, revenge and relief" Rose melangkahkan kakinya kembali ke sisi Asyifa.
( pertama kali aku melihatmu, aku melihat matamu banyak sekali kesedihan , air mata, kebencian, kekecewaan, pembalasan dendam dan rasa lega,)
" I know you are a strong person, without hypnosis you are still strong," mata Rose menghujam hati terdalam Asyifa, "Benar" selama ini dia bisa bertahan, artinya memang dia kuat.!
( aku tahu kamu adalah orang yang kuat, tanpa hipnotis kamu tetap kuat,)
" see, how beautiful the night city of Seoul,!"Song chai mi, menurunkan pandangannya kebawah, menatap lampu neon dan gemerlap kota Seoul.
( lihat, betapa indahnya malam kota Seoul,)
" but it's fake, if the voltage is off, you can imagine, how dark the night! it can be said to live with hypnosis," Song chai mi, mulai membuat sebuah perumpamaan.
( tetapi itu palsu, jika tegangan listriknya mati, bisa kamu bayangkan, betapa gelapnya malam ! itu dapat di katakan hidup dengan hipnotis,)
" now look, the stars and the moon, no matter what happens they still shine, this is because, they have their own light, they are not dependent on any other power,"
( sekarang lihatlah, bintang bintang dan bulan, apapun yang terjadi mereka tetap bersinar, ini di sebabkan, mereka memiliki cahaya sendiri, mereka tidak bergantung pada kekuatan lainnya.)
Asyifa mengangguk mengerti, dia faham sekali apa maknanya, 'kita memiliki kekuatan tersendiri'.
" I know you are sick, however, you have to accept it, don't take revenge, yes, it will give you satisfaction at the beginning and reward you with regrets at the end, it's better to seek justice for yourself," Song chai mi, menatap lembut Asyifa.
( aku tahu kamu sakit, namun, kamu harus menerimanya, jangan balas dendam, ya, itu akan memberikan kamu kepuasan hati di awal dan menghadiahi kamu dengan penyesalan di akhir, lebih baik mencari keadilan untuk dirimu sendiri.)
" Thanks Rose," Asyifa berterima kasih, lalu mengajak song chai mi kembali, karena udara sudah mulai terasa dingin.
Di sepanjang koridor rumah sakit, Asyifa masih suka dengan istilah ' Mencari keadilan di bandingkan dengan Balas dendam'
__ADS_1
\*\*\*