
Episode #50
Keesokan harinya di kantor, PT GARUDA TV NUSANTARA.
Fahmi, Tania dan Marni, sedang bergosip di ruang kerja mereka, mereka masih membahas tentang Audit yang di lakukan oleh pihak PRAMESWARI group, bagaimana tidak, semua mata sedang tertuju pada divisi mereka, mau tidak mau mereka merasa resah dengan keadaan ini.
" Bagaimana tentang kemajuan Auditnya? Sudah ada perkembangan belum?" tanya Fahmi dengan rekan kerja nya.
" Seharusnya, auditnya sudah selasai! tapi kita tunggu saja beritanya dari pihak kantor!" timpal Tania.
" Kira kira siapa ya dalangnya? Aku penasaran?" timpal marni.
" Dalangnya sih tidak jauh jauh dari kita, bisa saja Aku, atau kamu, ataupun Fahmi" Balas Tania, sambil menunjuk nunjuk temannya.
Yang lain melengos.
" Tapi ada satu yang tidak mungkin, yaitu Ami, yang pastinya itu," ucap Fahmi tegas.
Tania dan Marni, memandang Fahmi, seolah minta penjelasan.
" Dipikir aja, buat apa dia menggelapkan dana, secara, gajinya sebagai asisten menejer aja gede, belum lagi uang bulanan dari suaminya terbilang besar, pengeluaran tidak ada, karena masih tinggal sama orang tua, Ke ayakan ga mungkin aja gitu!' jelas Fahmi.
Mendengar penjelasan dari Fahmi, semuanya manggut manggut sepaham dan sepemikiran.
Tania menimpali perkataan Fahmi, " Kalau di pikir pikir, bener juga sih, secara, dia tidak punya masalah finansial seperti kita kita, yang gajinya habis untuk bayar cicilan,"
" He, He, He" ketiganya terkekeh, mengingat nasib mereka yang sama, gaji bagi mereka hanya numpang lewat, cicilan menunggu setiap bulan.
" Eh, omong omong, Ami akhir akhir ini rada pendiam ya? hari ini aja ga masuk?" Marni mengalihkan pembicaraan, tetapi masih bergosip seputar Ami.
" Ada masalah kali? Ama suaminya atau mertuanya, sapa tau mertuanya kaya yang di sinetron sinetron, julid, dua tahun nikah belum punya momongan,!" ucap Tania si penggila sinetron.
" Hemmp, Hemmp," Kepala divisi keuangan keluar dari ruangannya.
Mereka yang bergosip segera undur diri dan kembali ke meja kerjanya masing-masing dengan kepala tertunduk, mereka kepergok bergosip di waktu jam kerja.
****
Di ruangan CEO, ARDIANSYAH sudah memutuskan, untuk membicarakan hal ini dengan, Humaira dan Fany, selaku auditor dari pihak PRAMESWARI group, laki laki itu sudah mengutus Ferdinand asisten pribadinya, untuk memanggil Fany ke ruangannya, sebelumnya Fany sudah menghubungi Humaira untuk datang ke kantor PT GARUDA TV NUSANTARA untuk mengetahui identitas, pelaku penggelapan tersebut.
" Tok! Tok! Tok! Suara pintu di ketuk.
Tidak lama y, muncullah sosok Ferdinand dari balik pintu.
" Nona Fany Sudah di sini pak?" lapor Ferdinand.
" Biarkan masuk," ucap Ardi.
Fany pun melangkah masuk, Ardi berdiri dan menjabat tangan, setelah berbasa basi sejenak, Ardi langsung ke topik pembicaraan.
" Begini Nona Fany, saya ingin mendiskusikan tentang Audit yang tim Andy lakukan," Ardi memulai pembicaraan tersebut.
" Kita juga berencana membahas itu pak, kebetulan Nona May sedang menuju kemari,"balas Fany dengan sopan.
__ADS_1
Mendengar nama Humaira, sontak darah Ardi berdesir, entah mengapa jika mengingat atau mendengar sesuatu tentang Humaira, Dewi Yunani itu, entah mengapa jantungnya memompa dua kali lebih cepat.
Tak lama kemudian, May pun tiba, Fany sebelumnya telah mengirimkan pesan untuk langsung ke ruangan CEO, karena ada yang ingin Ardi bicarakan, jadi dia langsung menuju ruangan yang dulu adalah ruang kerjanya dan sekarang menjadi ruang kerja mantan suaminya, namun sebelumnya itu dia menyuruh kepada Ferdinand, untuk membuat kopi racikannya.
Ferdinand tentu saja sangat senang melakukan itu, dia merasa seperti mengulang momen pada boss tercintanya, Asyifa Prameswari.
Humaira, yang tak lain adalah Asyifa, dia segera menuju ruangan tersebut, dan menyapa pada Fany dan Ardi, yang sedang duduk di sofa," Maaf, aku sedikit terlambat, ada demo di jalan, Biasalah, para ibu ibu yang protes ada artis yang mencabut laporan KDRT, dan Aku juga tidak bisa lama yah, Ada meeting dengan pak Aliansyah di perusahaan ini, jadi kita bisa langsung ke intinya aja,"
" Pak Aliansyah? " Apakah dia merekrut Nona sebagai Bintangnya? trus bagaimana dengan Camilla? setelah ini aku akan berbincang dengan beliau," pikir Ardi, ketika dia mengatakan ada meeting dengan pak Aliansyah, penanggung jawab program yang dia usulkan.
" Pak, Ardi? Bisa kita mulai? ucap Fany membuyarkan lamunan Ardi.
"Oh iya," Ardi kembali ke kesadarannya.
" Sebelumnya saya minta maaf, jika ada ketidak nyamanan, selama Anda melakukan Audit di sini, sebenarnya saya sudah tahu, siapa dalang dari penggelapan dana tersebut, dan berapa banyak jumlah dana yang di gelapkan," lanjut Ardi.
Ardi memperhatikan raut wajah kedua wanita itu, tidak ada keterkejutan samasekali atau sekedar pujian, mereka hanya menatap seperti biasa, tiba tiba hati Ardi mencelos.
Humaira menangkap perubahan hati Ardi, bagaimanapun, ketika dia sebagai Asyifa, dia sangat memahami karakternya tersebut, yang haus akan pujian dan pencapaian, kemudian dia menimpali, " Bukankah hal yang wajar jika anda tahu, mengingat posisi anda seorang seorang CEO, yang pasti akan mengusut tuntas masalah ini, Bukan begitu pak?"
Ardi gelagapan, " I, itu benar sekali Nona May, oleh karena itulah saya sangat terkejut, ketika saya mengetahui siapa dalang dan jumlah Dana yang di gelapkan, seluruh Dana yang di gelapkan sebesar, tiga milyar rupiah, dan pelakunya adalah adik saya sendiri, Ami, yang menjabat sebagai asisten manajer keuangan," ucap Ardi akhirnya, walaupun harus menahan rasa malu.
Fany terkejut luar biasa, dia sama sekali tidak menyangka, bahwa adik seorang CEO, berani menggelapkan dana sebesar itu, "Apakah dia berniat menghancurkan karir sang kakak? Bukankah jika karir sang kakak hancur, otomatis karirnya juga akan di ujung tanduk!" Ah, bodoh sekali perempuan itu!" pikir Fany sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Ardi mengerti apa yang di pikirkan Fany, semua orang pasti juga akan bereaksi sama seperti itu, hanya Humaira saja yang tidak bereaksi seperti itu, tidak menunjukkan ekspresi apapun, seolah dia sudah tahu, bahwa dalang dari semuanya adalah adiknya sang CEO, ARDIANSYAH.
" Terima kasih atas kejujuran anda, telah mengusut kasus ini, sebenarnya kami juga sudah selesai melakukan audit, dan tinggal melakukan pelacakan IP address, untuk mencari dalangnya, akan tetapi, anda telah menemukannya dan mempermudah pekerjaan kami, jadi apa yang ingin anda lakukan, sekarang? tanya May, langsung ke intinya, dia sudah tahu bahwa Ardi menginginkan sesuatu.
" Begini, Saya berharap kasus ini tidak dibawa ke jalur hukum, dan memilih untuk berdamai, untuk sementara, kami hanya bisa menyediakan ganti rugi sebesar satu milyar rupiah, untuk sisanya kami akan usahakan secepatnya," usul Ardi, laki laki tersebut merasa sangat malu untuk mengatakan itu, tetapi dia sudah tidak ada pilihan, kecuali bermuka tembok di depan mereka.
Ardi sebenarnya serba salah dengan keadaan ini.
Melihat reaksi Ardi seperti itu, Humaira sedikit meringis, kemudian dia melanjutkan, " Saya mengerti posisi anda sebagai keluarga, tapi anda juga harus melihat dari sudut pandang lain, jika kami tidak mengasuskan adik anda, apa yang akan perusahaan lain nilai tentang kami? mereka akan menganggap sepele dan mempermainkan kami, dan lagi, apa anda tidak takut, jika karena kasus ini pihak PRAMESWARI group akan menarik sahamnya? jika itu terjadi, apa anda pikir pemegang saham lain akan bertahan, jika mereka tau bahwa ada penggelapan Dividen yang merupakan hak mereka, sebagai pemegang saham? coba anda pikirkan lebih jernih,"
Ardi hanya menghela nafas, apa yang di katakan Humaira memang benar, di satu sisi, sang adik terancam, dan di sisi lain, karirnya juga terancam.
" Baiklah pak Ardi, jika tidak ada yang di bicarakan lagi, saya mohon pamit, saya masih ada pekerjaan dengan pak Aliansyah," ucap Humaira, beranjak ingin pergi.
Ketika dia meraih tasnya, Ferdinand datang dengan membawa tiga cangkir kopi, pesanan Humaira, otomatis Humaira berhenti dan menyeruput kopinya, dia memang sangat menyukai kopi racikan dari Ferdinand, baginya bartender kalah dengan Ferdinand.
Diam diam Ferdinand melirik ke arah Humaira, " Lihat itu, bukan hanya kesukaannya saja yang sama, cara meminumnya pun sangat mirip dengan Bu Boss!" teriak Ferdinand dalam hati.
***
malam harinya, Ardi berkunjung ke rumah orang tuanya, di sana semua sudah lengkap berkumpul hanya suami Ami saja yang tak hadir.
" Mana suamimu? tanya Ardi kepada Ami.
" Balik kerja ke luar kota, karena pekerjaannya tidak bisa di gantikan dengan yang lain," Elak Ami mencari alasan, dia tidak ingin keluarganya tau tentang masalah rumah tangganya.
" Jadi bagaimana keputusannya Di? Kamu sudah bicara, dengan pihak PRAMESWARI group?" tanya Andreas, sang ayah, laki laki paruh baya itu berusaha untuk tetap tenang, walaupun dalam hatinya ada kekhawatiran pada putrinya tersebut.
Ardi menghela nafas berat, sebenarnya dia tidak ingin menceritakan hal yang tidak ingin di dengar.
__ADS_1
Melihat tingkah Ardi, Andreas sudah menyimpulkan, jika anak perempuannya akan tetap menjalani proses hukum.
" Bagaimana Di? Mereka pasti Setuju kan? secara, kamu masih menantu di keluarga itu? pasti mereka mendengarkan apa kata kamu
," cerocos Ani, mamanya Ardi, dengan pdnya, bagaimanapun dia menyangka Prameswari group itu milik besannya.
Ardi menatap Ami lekat, dengan rasa iba dia berucap, "persiapkan mental dan fisik, kamu dalam menghadapi persidangan, mereka tetap menempuh jalur hukum, Aku sudah berbicara dengan mereka, sebentar lagi surat penangkapan akan tiba, mereka juga sudah tahu, bahwa kamu adalah dalangnya, dan mereka juga sudah mengumpulkan bukti, tinggal memberikan kepada pihak kepolisian, beri tahu suamimu.
Mendengar itu Ami menjerit, "TIDAK! TIDAK! aku gak mau di penjara! aku masih ingat berkarir, tolong ka, bantu aku!"
Suara tangisan Ami begitu menggelegar, rasanya dia sudah tidak kuat, sudah di tinggalkan suami dan kini harus masuk penjara, mengingat itu tangisnya semakin kencang.
" Huaa, Huaa, Huaa," Aku gak mau di penjara! papa, bantu Ami, mama bantu Ami, kaj Ardi bantu Ami! KaK!" jeritannya semakin menggema.
Jeritan tersebut langsung membuat Mira asisten rumah tangga kepo, dia langsung keluar kamarnya dan mengendap endap, seperti kucing yang melihat tikus, ketika sudah sampai di ruang tamu, dia sembunyi di balik kursi, merogoh handphone nya dan merekam kejadiannya.
Andreas sang ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia mendekatkan diri pada putrinya itu, memapah Ami yang terduduk di lantai dan mengajaknya duduk di sofa, kemudian membelai rambut anak perempuan nya itu dan berkata," Semua sudah terjadi nak, jangan di sesali lagi, sudah tak ada gunanya, sekarang kamu harus berlapang dada, menerima segala konsekuensi dan resiko, dari apa yang kamu perbuat, ketika kamu melakukan semuanya, kamu dalam keadaan sadar, sekarang semoga ini menyadarkanmu dari kekeliruanmu selama ini, kami sudah membantu semampu kami, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa," Andreas dengan bijak menasehati putrinya.
Tangis Ami bukannya berhenti malah semakin kencang.
" Hiks, Hiks, Hiks,"
" Aku tidak mau di penjara!
" Aku gak mau di penjara,..!"Ami menangis sambil menepuk dadanya, untuk meredakan sesak dalam hatinya.
Ani, ingin sekali membantu Ami, tetapi ketika Ingat perhiasannya yang akan di jual untuk menebus sebagian ganti rugi, dia mengurungkan niatnya, dan memaksakan diri untuk kuat melihat kondisi Ami.
Sementara itu, Tia, sang adik bungsu hanya diam, tak memberikan komentar apapun, dia cuma berharap, semoga dengan kejadian seperti ini membuat kakak perempuannya itu sadar.
Di sudut ruangan, tepatnya di belakang kursi, terlihat Mira, sedang men- zoom wajah Ami, yang terlihat begitu kacau setelah menangis, Rambutnya acak acakan, hidungnya merah, dan ada sedikit lendir yang keluar dari lubang hidungnya, bibirnya sedikit bengkak.
Setelah mendapatkan hasil yang bagus, Mira kemudian pergi dengan mengendap endap kembali, seperti ketika dia datang ke tempat itu, kemudian masuk ke kamarnya, tanpa di ketahui oleh siapapun.
Sesampainya di kamar, dia segera mengirimkan video tersebut, ke salah satu nomor baru, yang dia dapat dari seorang perempuan yang tidak dia kenal, perempuan tersebut memberikan sejumlah uang cukup besar pada Mira, dengan catatan, perempuan itu akan memberikan info atau apapun yang terjadi di rumah itu, dengan kata lain, Mira adalah seorang mata mata, walaupun tidak di sadari oleh dirinya sendiri.
\*\*\*\*
" TING!, suara notifikasi pesan Asyifa berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Lekas perempuan itu meraih ponselnya, dan melihat ada pesan baru masuk, ketika dia buka terpampang lah, sebuah video yang sangat lucu, dalam video tersebut, nampak penampilan Ami sangat kacau, karena habis menangis dan akan di penjara, senyum pun terukir di wajah ayu Asyifa, " Satu persatu akan menemui karma, satu pion sudah selesai, masih ada tiga lagi, aku akan bermain-main sebentar dengan kalian, aku suka menikmati rasa cemas, rasa takut dan rasa khawatir kalian, tunggu saja waktu selanjutnya, ASYIFA PRAMESWARI, yang kalian sayangi sudah keluar dari kerak neraka," Batin Asyifa.
Asyifa menutup video itu, dan menelpon seseorang, " Tuuut! Tuutt! Tuutt! panggilan terhubung.
"Apa ada yang bisa di bantu Boss?" seorang pria di seberang telepon dengan suara yang di samarkan.
" Kirim semua bukti perselingkuhan Ami kepada suaminya," Balas Asyifa datar.
" Baik Boss, sesuai pesanan anda!" telepon pun di matikan.
__ADS_1
Asyifa langsung merebahkan badannya di kasur empuk apartemen nya, malam ini dia akan tidur nyenyak dan bermimpi indah.
****