Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Menolong Molly


__ADS_3

Episode #58


Ferdinand memang tak bisa lagi berkata apa apa, dia hanya bisa menerima dengan pasrah dan berlapang dada, tak pernah dia mengira sebelumnya, jika suatu hari nanti dia akan belajar, bagaimana menjadi seorang pria pemuja wanita, membayangkannya saja itu sudah mengerikan.


  " Baiklah, kita mulai latihannya sekarang!" Asyifa langsung mencetak foto Molly dengan printer, yang memang ada di kamarnya.


  foto Molly sudah di cetak, Asyifa kemudian berlalu menuju ke dapur untuk mengambil buah semangka yang sebelumnya sudah dia beli, dia menempelkan foto Molly pada buah semangka berukuran dua kilo gram tersebut.


Asyifa melangkah menuju Ferdinand dan meletakkan buah semangka yang telah di tempel foto Molly itu ke hadapan Ferdinand.


" Ayo kita latihan, ngajak Molly ngomong!" kemudian Asyifa berdiri di belakang Ferdinand.


Ferdinand melongo, dia hanya bisa mengerdipkan matanya tiga kali, tidak percaya dengan ulah Bu Boss nya kali ini.


" Ayo dong ngomong, Masa Molly di biarkan begitu saja," tegur Asyifa dari belakang.


Ferdinand tersenyum canggung, walaupun dia merasa aneh, dia tetap melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Asyifa, beberapa kali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal," Halo Molly, bagaimana kabarnya?, kamu sudah pesan makanan belum? Maaf ya, aku terlambat datang?" ucap Ferdinand pada semangka yang bertempelkan foto Molly.


"...." Hening, tidak ada jawaban.


Ferdinand melihat Asyifa kebelakang.


" Eh, kamu tidak boleh melirik cewek lain ketika sedang bersama Molly!" Asyifa menegur lagi.


Ferdinand hampir saja ingin menangis," Enyak, Aye mau pulang!" keluhnya dalam hati.


Latihan tersebut berlangsung selama dua jam, Ferdinand sudah merasa seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang mengajak sebuah buah untuk makan malam bersama, dan bahkan menyuapi sebuah semangka, untung saja Asyifa tidak menyuruhnya berdansa dengan semangka.


Setelah latihan selesai, Ferdinand langsung pamit pulang, dia kabur, bahkan dia melupakan sepapan pete yang menjadi bayarannya, jika kerjanya bagus, dia hanya ingin cepat cepat berlalu dari apartemen Asyifa, untuk pertama kalinya dia berpikir, jika Asyifa lebih menyeramkan di banding tokoh horor manapun.


Ferdinand tidak langsung pulang ke apartemennya, dia takut Asyifa memintanya untuk latihan lagi, jadi dia memutuskan untuk mencari udara segar di sekitar apartemen.


Apartemen Asyifa terletak di banyak tempat strategis, beberapa ratus meter ke arah timur, terdapat kafe, supermarket, bar dan beberapa pusat perbelanjaan tersedia, jadi Ferdinand berencana menghabiskan semangkuk mie di depan supermarket di sana.


Ferdinand juga hafal dengan rute rute perjalanan di sekitar sini, dia berjalan lurus menuju lorong gelap, " Jika lewat sini perjalanan akan lebih mudah!" pikirnya.


Dalam temaram lampu, samar samar Ferdinand melihat dua orang lelaki berbadan besar sedang menyeret seorang wanita, wanita tersebut tampak memberontak," Bajingan, lepaskan Aku!" wanita tersebut berusaha melawan.


" Diamlah Nona manis! simpan tenagamu untuk mengimbangi permainan kami!" ucap salah satu lelaki tersebut.


" Permainan kami sangat panas, kau pasti suka Nona manis, bahkan kau akan meminta kami untuk terus melakukannya!" ucap preman yang lain.


" Ha ha ha!" kedua preman itu tertawa.

__ADS_1


" Ciih!" perempuan tersebut meludahi salah satu preman yang ingin melucuti pakaiannya.


" Dasar J@l@,ng!" si lelaki itu menyeka ludah di wajahnya dan tangannya melayang ke arah wajah perempuan itu.


Perempuan itu memejamkan matanya, Setelah beberapa detik tangan itu tak mendarat di wajahnya, ada seorang laki-laki asing bertubuh mungil sedang menahan tangan laki laki yang hampir menamparnya.


Laki laki tersebut Segera menghempaskan tangan dan menendangnya ke belakang, " Buk!"


Kedua laki laki tersebut terkejut, selama in tidak ada seorangpun yang berani terhadapnya di lingkungan ini, Mereka adalah sosok yang paling di takuti oleh warga sekitar.


" Wow!" kemampuanmu boleh juga, anak kecil!"salah satu preman itu langsung melayangkan pukulan.


Ferdinand Hanya berdiri di tempat, perempuan itu sudah panik," Ayo cepat kabur, kita kabur saja!" teriaknya.


Tinju lelaki berbadan besar itu hanya sepersekian inci dari wajah Ferdinand, namun kepalan tinju itu di tahan dengan satu tangan oleh Ferdinand, di bawah lampu temaram Ferdinand tersenyum dan membelokan kepalan tinju si preman dia langsung membelakangi si preman dan langsung membanting tubuh yang besar tersebut ke tanah.


Gedebug!" si preman tersebut jatuh," Aaargh!" terdengar pekikan dari si preman yang terjatuh tersebut.


Si perempuan merasa aksi Ferdinand sangat keren.


Teman si preman satu lagi tidak tinggal diam, dia segera datang menghajar Ferdinand.


" Awas!" si perempuan berteriak.


Tendangan Ferdinand membuat teman preman mundur beberapa langkah, keduanya mulai memandang Ferdinand dengan ketakutan di matanya, baru kali ini mereka menghadapi orang Asia yang tubuhnya kecil tetapi tenaganya besar, keduanya langsung lari terbirit-birit.


Setelah melihat kedua preman itu lari terbirit-birit, Ferdinand meraih tas perempuan itu yang tadi terlempar, dia melangkah ke perempuan itu dan menyerahkan tasnya," Ini tas anda Nona!"ucap Ferdinand.


Wajah perempuan itu tersipu, untung saja lorong ini temaram, jadi dia bisa menyembunyikan rona di wajahnya," Te,.. Terima kasih tuan!"


" Tolong jangan panggil saya tuan, Nona, itu terlalu formal, dan membuat saya seolah sudah tua,He he he!" Ferdinand mencoba mencairkan suasana.


Kalau begitu aku harus memanggil apa?" jawab si perempuan itu.


" Kau bisa memanggilku Ferdinand!" ucap Ferdinand memperkenalkan dirinya,"


Mari saya antar Nona ketempat yang lebih terang," Ferdinand melangkah di depan perempuan itu.


Perempuan itu mengangguk," Terima kasih Ferdinand, entah apa yang terjadi padaku jika kau tak datang, oh ya, perkenalkan namaku Molly jones, panggil saja Molly!"


Ferdinand sedikit tercengang, ketika perempuan itu mengenakan dirinya." Sepertinya nama itu tidak asing!" pikirnya.


Keduanya pun berjalan hingga tiba di jalan besar.

__ADS_1


Ferdinand merasa terkejut, melihat siapa perempuan yang di tolongnya, " Bukankah perempuan itu yang fotonya di pajang Bu Boss di semangka? foto yang beberapa menit lalu dia ajak ngobrol selama dua jam?"


Molly merasa heran, kenapa Ferdinand merasa terkejut melihatnya, " Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyanya heran.


" Pipimu sedikit memar, Aku Hanya takut jika keluargamu tahu mereka akan merasa khawatir dengan keadaanmu, aku sarankan, kau pergi ke klinik dulu sebelum pulang ke rumah!"Ferdinand mencari alasan, dia tidak mungkin mengatakan jika dia sudah bicara dengan fotonya sebelumnya, kan?"


Molly menyentuh pipinya," Aaauch!" desisnya kesakitan.


" Kau benar, aku akan pergi ke klinik lebih dulu!" hati Molly menghangat, selama ini Meghan dan mendiang Philips tidak pernah mengkhawatirkan nya sejauh ini.


" Terima kasih banyak Ferdinand, atas pertolongan mu, oh ya, apa bisa aku meminta kontak mu, aku akan mentraktirmu sebagai ungkapan rasa terima kasih suatu hari nanti!"


" Tentu saja!" Ferdinand pun memberikan nomor WhatsApp nya.


" Aku tak menyangka kau berasal dari Indonesia +62!" Molly berseru.


" Kenapa? Apa kau pernah kesana?" Ferdinand bertanya antusias.


" Tidak,.. Lebih tepatnya belum, aku sering mendengar teman teman ku menghabiskan liburan musim panas Mereka di Bali," Molly menjelaskan.


Ferdinand mengangguk," Kau benar Molly, pulau Bali memang terkenal, tapi masih banyak surga yang tersembunyi di sana,"


" Oh ya? Aku ingin sekali kesana!"Molly berseru.


Ferdinand hanya tersenyum.


Keduanya berjalan kearah pemberhentian bus.


" Aku akan segera pulang Ferdinand, terima kasih atas bantuanmu kali ini!" molly mengucapkan dengan tulus.


" Tidak apa-apa Molly, Saranku padamu, kemanapun kamu pergi, kamu harus menyiapkan alat pelindung diri, seperti, semprotan, merica atau yang lainnya!" saran Ferdinand.


Molly mengangguk," Baiklah aku mengerti!" setelah itu Molly langsung masuk kedalam bus dan melambaikan tangannya ke arah Ferdinand.


Ferdinand juga melakukan hal yang sama, dia membalas lambaian tangan Molly.


Dari bahasa bibir yang bisa di tangkap Molly, Ferdinand berkata " Hati hati,"


Setelah busnya pergi, Ferdinand melanjutkan perjalanannya.


Di tengah jalan dia melihat sosok yang tidak asing, dia melihat Cut Sari sedang berjalan mengendap-endap, Ferdinand menajamkan penglihatannya, dan melihat kedepan sana, Rashid sedang menggandeng seorang perempuan menuju bar, perempuan berbeda dengan yang pernah dia lihat terakhir kali.


Ferdinand hanya menghela nafas, mengingat pesan Asyifa kepadanya, Jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain, dia memutuskan untuk berjalan di arah berlawanan.

__ADS_1


****


__ADS_2