
Episode #91
Kedekatan Asyifa dengan Angga Kusuma, seorang pewaris Kusuma group, yang tersohor di negri ini, Sudah bukan rahasia lagi, terutama untuk kru, aktris dan aktor, yang ada di lokasi syuting, Angga sering mengirimi Asyifa sesuatu ke lokasi syuting, entah itu makanan atau pun buket bunga, orang orang yang ada di studio hanya bisa tersenyum saja, mereka tidak memberi komentar apapun, mereka yang sudah lama berada di dunia hiburan, sudah mengetahui watak tuan muda Angga Kusuma ini, komentar yang tidak dia sukai, entah itu komentar positif ataupun negatif, akan langsung mempengaruhi suasana hatinya, jika suasana hatinya sedang buruk, alamat nasib orang tersebut berada di genggaman tangannya, tidak sedikit orang yang di paksa berhenti bekerja, karena menyinggung sang tuan muda, alhasil tidak ada orang yang akan berkomentar apapun, termasuk media.
Selesai syuting, para kru di kejutkan oleh kedatangan Angga Kusuma, ke lokasi syuting, dengan buket bunga mawar merah di tangannya, dia melangkah, memangkas jarak dengan Asyifa.
Asyifa tersenyum malu-malu, terlihat sekali perempuan itu tersipu dan tidak bisa menahan perasaannya.
Melihat reaksi seperti itu, Angga tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, Dia berbahagia bukan karena perasaannya terbalas, akan tetapi, dia meyakini bahwa perempuan yang di hadapannya, kini sudah sepenuhnya takluk pada pesonanya.
" Tumben sekali kamu kesini, ada angin apa ini?" tanya Asyifa, sambil menerima buket bunga dan mencium wanginya, rasa harum dari aroma bunga mawar, langsung membuat hatinya senang.
" Kakek mengundangmu makan malam, Aku akan mengantarkan mu ke butik, kita akan melihat gaun dulu sebelum makan malamnya di mulai, mau kan?" Tatapan penuh cinta dari Angga, seakan bisa menghujam, bagian terdalam hati Asyifa.
Asyifa sedikit goyah dengan tatapan itu, tatapan seperti itu tidak begitu asing, dia sering melihatnya, ratusan kali, dari mantan suaminya, ARDIANSYAH. tatapan yang sangat terkesan tulus, tetapi ada kebohongan di dalamnya, hal ini dapat dia ketahui, Setelah dia belajar membaca gestur tubuh dari psikolognya selama di Seoul, pantas saja, dia mudah di tipu selama ini, terlebih lagi, Angga Kusuma adalah seorang playboy tingkat tinggi, pastinya dia sudah pandai berakting senatural ini.
" Ma,.. Makan malam? Asyifa memastikan pendengarannya, " Aku di undang makan malam?" ulangnya lagi, ada kegugupan di nada suaranya.
" Iya, May!" Angga mengiyakan sambil mencubit gemas pipi Asyifa.
Orang orang yang ada di lokasi syuting, berpura pura jadi patung, tidak berkomentar, atau bereaksi sama sekali, apalagi untuk melakukan live streaming atau merekam, mereka berpikir dua kali, untuk melakukannya, karena mereka tidak ingin karir mereka hancur.
"Aaauch! Sakit tau!" Asyifa merajuk, dia memukul bahunya Angga manja, Setelah itu dia membuang wajahnya, bibirnya mengerucut dan tangannya di silang di depan dadanya.
" Ha, ha, ha!" Angga tertawa lepas, dia tidak menyangka, seorang Humaira yang terkesan kaku dan dingin, bisa mengeluarkan sisi imut seperti ini, karena yang Angga tahu, sisi seperti ini, Akan hadir jika seorang wanita sedang dimabuk asmara, Angga semakin yakin, bahwa seorang Humaira Pramesti sudah terpikat oleh pesonanya.
__ADS_1
" Ya sudah, yuk jalan! Aku jelasin di mobil!" Angga langsung menggandeng tangan Asyifa.
Asyifa menurut, wajahnya semakin memerah, sedangkan yang lain menatap kepergian mereka dengan bernafas lega.
" Tumben, tuan Wijaya Kusuma mengajak makan malam? Aku,.. Aku belum siap!"Asyifa belum bisa melepas rasa gugupnya.
Melihat tingkah Asyifa yang semakin menggemaskan, Angga terkikik geli, " Jangan panggil tuan Wijaya Kusuma, kamu harus memanggilnya kakek, mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan panggilan itu, OK?" Angga mengucapkan itu, dengan mata berbinar penuh cinta, dia seolah memberikan angin segar kepada Asyifa, bahwa dia akan menjadi nyonya muda Kusuma, yang selama ini sangat di idam idamkan oleh kaum hawa, terutama dari kalangan sekelas sultan.
" Ka,.. Ka,.. Kek!" Lidah Asyifa kaku sekali, harus memanggil si tua Bangka serakah itu dengan sebutan dan sehormat itu, dia mencibir dalam hati, dia lebih suka memanggil dengan berbagai nama jenis binatang, memanggil laki laki tua itu, tetapi itu akan melukai harga diri, binatang tersebut.
" Kamu tenang saja, kakek baik kok, dia gak makan orang, he he he,!" Angga tertawa renyah, dia berharap candaannya bisa mengikis rasa gugup pada Asyifa.
Asyifa mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Angga, dalam hati dia mencibir, " Kakek yang kamu bangga banggakan itu memang tidak makan orang, tetapi makan rejeki orang, dan membunuh orang, terutama kedua orang tuaku! secara tidak langsung dia makan orang, Felguso!"
Angga menghela nafas, dia menggenggam tangan Asyifa, " Kamu kenapa jadi kecil hati? Sungguh, kakek bukan orang yang seperti itu! kakek juga merintis usahanya mulai dari nol,"
Rasa hangat genggaman tangan Angga itu begitu terasa, efek menenangkan itu, bisa menjadikan suasana hati yang buruk menjadi lebih baik, tidak heran jika Angga sukses menjadi Playboy, entah sudah berapa banyak, wanita tertipu dengan kelembutannya yang seperti itu.
Asyifa pun mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil kepada Angga, diapun membalas genggaman tangan Angga, dan mengucapkan terima kasih.
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka, mobil melaju semakin cepat, supir yang ada di balik kemudi, hanya tersenyum, melihat tingkah Angga seperti itu, dia sudah sangat memahami, watak tuan mudanya tersebut.
Tak berselang lama, mereka pun sampai di depan butik, Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Asyifa, mereka berdua masuk ke dalam butik sambil bergandengan tangan, pengunjung yang berada di sana, begitu takjub, melihat pasangan yang serasi ini.
Sang desainer, pemilik butik pun langsung menyambut mereka, sebelumnya Rosa, sekretaris Angga, sudah menghubungi Leni, sang desainer, bahwa tuan muda Angga Kusuma akan berkunjung.
__ADS_1
" Waah, selamat datang tuan muda Angga, dan Nona,. .."
"Humaira, panggil saja may!" sela Asyifa, mendengar kalimat menggantung dari Leni.
" Iya, Nona May, Mari, silahkan masuk!" Leni mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Leni juga langsung mengintruksikan bawahannya, untuk membawakan minuman dan makanan ringan yang ber kualitas tinggi, yang hanya di siapkan untuk tamu dari kasta tinggi.
Carikan Nona May, gaun yang cocok untuk makan malam, gaun yang tidak terlalu terbuka, tetapi elegan dan berkelas" ucap Angga, sambil duduk di sofa yang sudah di sediakan.
" Baik tuan muda!" Leni mematuhi perintah tuan muda Angga " Mari Nona, coba lihat, gaun mana yang cocok!" ajak Leni membawa Asyifa ke ruang ganti.
Beberapa pegawai butik Sudah berbaris, memegangi gaun yang akan di coba Asyifa.
Asyifa merasa berada di novel novel atau film, dimana dia sedang di dandani dengan beberapa dayang dayang, karena ingin bersama dengan seorang pangeran, adegan seperti ini seharusnya adalah adegan romantis, bukan adegan saling mengelabui seperti sekarang, Asyifa hanya bisa tersenyum pahit.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan Asyifa telah mendapatkan gaun tersebut, Angga dan Asyifa pun segera keluar dari butik.
Angga pun mengantar Asyifa pulang ke apartemennya, Setelah membukakan pintu mobil, Angga berpesan, " Aku jemput jam tujuh malam, Oke?"
" Baiklah aku tunggu!" ucap Asyifa sambil tersenyum.
Setelah berpamitan, Angga pun kembali ke kantornya.
Asyifa hanya memandang sekilas, ke arah mobil yang sudah menjauh, dia mengepalkan tangannya.
****
\# Terima kasih untuk dukungannya 🙏
__ADS_1
@ Terima kasih juga untuk like dan komentar nya ya❤️