
Episode #103
Keesokan harinya di kantor PT GARUDA TV NUSANTARA.
Saat ini tidak ada kesibukan yang berarti, semua pegawai dan staff melakukan pekerjaannya masing-masing, begitu juga dengan Ardi, yang sedang mengadakan rapat bulanan dengan para kepala di setiap divisi di kantornya.
Rapat berlangsung sekitar tiga jam, tanpa kehadiran Ferdinand, biasanya Ferdinand akan memimpin rapat jika Ardi sang CEO tidak berada di tempat.
Setelah rapat selesai, Ardi langsung menuju ruangannya, dia menyandarkan kepalanya di kursi kerja, sambil memijat kepala yang masih terasa sedikit pusing akibat terlalu banyak minum alkohol kemarin malam, untung nya ini bukan rapat bersama komisaris pemegang saham.
Ferdinand kemudian masuk, untuk menyerahkan beberapa dokumen yang di titipkan para pegawai, untuk di tandatangani oleh Ardi.
Ketika sedang membaca beberapa laporan tersebut, terdengar suara ketukan pintu.
" Tok, tok, tok!"
Ferdinand yang berdiri menunggu dokumen untuk di tandatangani, segera pamit dan bergegas untuk membuka pintu.
Di depan pintu, pak Asep, kepala keamanan datang dengan membawa satu buah kotak, paket yang di tujukan kepada CEO ARDIANSYAH, tidak ada keterangan pengirimnya.
" Ini pak fer! tadi anggota Saya mendapat paket untuk pak Ardi," jelasnya, menyerahkan kotak paket tersebut.
Ferdinand merasa heran, tidak ada keterangan apapun, selain nama tujuan dan jabatan si penerima, tak ada nomor resi atau keterangan apapun untuk melacak si pengirim, bahwa tidak mencantumkan ekspedisi mana yang mengirim.
Pak Asep bisa melihat raut wajah heran dari Ferdinand, jadi sebelum ditanya lebih jauh, dia sudah memberikan penjelasan, " Tidak ada kurir yang mengantar pak fer, jadi kata anak buah saya, paket ini di antarkan oleh seorang bocah laki-laki sekitar umur sembilan sampai sepuluh tahunan gitu."
" Terima kasih pak Asep, yasudah, nanti saya akan beritahukan pak Bos," Ferdinand tersenyum.
" Kalau begitu saya kembali bertugas pak fer, permisi!" pak Asep pamit undur diri.
Setelah pak Asep agak jauh, Ferdinand berbalik dan melangkah masuk menuju meja kerja Ardi.
Ardi masih asik memeriksa dokumen dokumen tersebut sebelum membubuhi tanda tangannya.
" Pak Bos, ada paket untuk bapak, tidak tahu siapa pengirimnya, kata satpam yang menerima, pengirimnya seorang bocah laki-laki," Ferdinand langsung meletakkan paket tersebut di meja Ardi.
Ardi menatap curiga, kotak paket yang terkesan misterius itu, Dia ingin membukanya sesegera mungkin, tapi melihat Ferdinand masih berdiri di hadapannya, menunggu ia menyelesaikan urusan tanda tangan, dia mengurungkan niatnya tersebut, dia terkesan tidak tertarik dengan paket itu.
Ardi tidak menanggapi perkataan Ferdinand, dia terlihat fokus dengan dokumen di mejanya, setelah semua selesai di tandatangani dia menyerahkan pada Ferdinand.
Ferdinand berbalik pergi menuju ruangannya setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Selepas Ferdinand pergi, Ardi segera meraih paket itu, benar kata Ferdinand, tidak ada nama pengirimnya kecuali nama dan jabatan dirinya, Dengan rasa penasaran yang tinggi dia membuka paket tersebut.
Tidak ada apa apa dalam paket, hanya ada selembar kertas dan beberapa foto.
Dia mengeluarkan semua isi kotak tersebut, dan melihat foto-foto tersebut.
" DUAR!!"
Seperti petir di siang bolong, ketika Ardi melihat foto yang ada di tangannya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tangannya gemetar dan keringat dingin menyambangi tubuhnya.
" Ini,..Ini,.." Ardi tak mampu berucap, wajahnya sudah pias.
Dia membuka Email pribadinya, Sesuai dengan apa yang tertulis di kertas tersebut, " Ini Hanyalah gambar semata, untuk rekaman videonya silahkan cek email Anda!"
Secarik kertas bersama foto foto syurnya bersama Camilla, tergeletak begitu saja di atas meja, sebenarnya dia tidak begitu takut dengan foto atau video panasnya dengan Camilla tersebar, jika tidak ada keterangan waktunya, Di sana terlihat jelas foto dan video itu di ambil, ketika dia masih sah menjadi suaminya Asyifa,
" Ini tidak bisa di biarkan terjadi!"
Tak berapa lama, email pun terbuka, tak ada email masuk di kotak masuk, tetapi ada pesan di kotak spam, Ardi pun membukanya.
Benar, itu adalah rekaman video dari gambar yang ada di atas meja.
Untung saja ruangannya kedap suara, jadi tidak sampai terdengar keluar, dan menarik perhatian.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
" Ting!" Suara notifikasi dari aplikasi berbentuk gagang telepon berwarna hijau.
Pesan dari nomor baru, Ardi tidak membukanya, dia membaca dari tampilan pesan pop up WhatsApp yang muncul di screen ponselnya. { Saya tahu anda sudah menerima paketnya, selamat menikmati dan bersenang-senang, nikmati waktu bebas anda sekarang, sebelum menginap di balik jeruji besi! Pssst! performa anda cukup hebat di atas ranjang, saya akan menyisihkan sedikit keuntungan kepada anda, setelah saya upload video tersebut ke website, video dewasa, Salam kenal,"}
Membaca pesan tersebut, Ardi langsung meng klik nomor dan segera menelpon si pengirim.
Tetapi sayangnya panggilannya tidak terhubung, dan ketika dia mengetik pesan, hanya ada centang satu abu abu, ketika dia ingin menelpon lagi, nomor tersebut sudah tidak bisa di hubungi, nomor tersebut sudah menghapus akun WhatsApp nya , sehingga muncul kata, " undang" di kontak tersebut.
" SIAL!!! BEDEBAH!!! KEPARAT!!!" teriak Ardi, sambil memukul meja kembali, nafasnya ngos-ngosan menahan amarahnya, tangannya betul betul terkepal.
Ardi segera berbaring di sofa ruangannya, dia memejamkan matanya, mencoba untuk tenang, dia mulai berpikir, kira kira siapa pelakunya, siapa yang mengetahui rahasianya dan bisa menyimpan bukti video tersebut, orang tersebut pastilah bukan orang jauh, dia pasti salah satu kenalanku, yang berusaha menusukku dari belakang, hanya sedikit orang yang tau kalau aku berhubungan dengan Camilla, ketika masih menjadi suaminya Asyifa, walaupun beberapa orang di kantor tau, tapi mereka samasekali tidak tau alamat email dan nomor pribadiku, trus kira kira dia siapa?" pikirnya.
__ADS_1
Ardi memang memiliki dua nomor WhatsApp, satu untuk kepentingan pribadi, satu lagi untuk kepentingan kantor, hanya segelintir orang yang tau nomor pribadi Ardi, sedangkan untuk nomor kantor, hampir semua orang mengetahuinya.
Ardi pun mulai menebak nebak orang di sekitarnya, matanya memang nampak terpejam, tapi otaknya menerawang kesana Kemari, namun dia belum bisa menyimpulkan apapun.
" Hufft!" Ardi menghela nafas panjang, kemudian dia duduk dan membuka WhatsApp pribadinya kembali.
Di sana dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Camilla, kemarin malam, ketika dia sedang minum di klub.
" Camilla!" gumamnya, Apakah dia?" pikirnya, " Tidak, tidak mungkin, walaupun dia sedikit ceroboh, dia tidak mungkin mengupload video panas seperti itu ke website dewasa, ini malah akan menghancurkan dirinya,"tepisnya kemudian.
Ardi pun keluar, dia berniat membicarakan hal ini dengan Camilla,
Ketika menghampiri Ferdinand, Ardi sedikit curiga dengan sikapnya yang senyum senyum sambil menatap ponselnya.
" Ekhem!" Suara Ardi mengagetkan Ferdinand.
" Iya, pak bos!" Ferdinand buru buru meletakkan ponselnya keatas meja.
" Kenapa kamu senyum senyum, seperti happy banget!" sambil menatap curiga.
" Iya pak bos, ibu saya baru dapat undian, satu set panci, katanya dia mau memasak makanan kesukaan saya dengan panci itu, jadi dia menyuruh saya segera pulang, kalau jam kantor selesai!" Jawab Ferdinand polos.
Ardi pun mengangguk paham, seluruh staff di kantor juga tau, betapa Ferdinand begitu sayang dengan ibunya.
" Baiklah kalau begitu, kamu urus pekerjaan di kantor dulu ya? saya keluar sebentar!" setelah mengatakan itu, Ardi langsung keluar, tanpa menunggu persetujuan Ferdinand.
Ferdinand pun kembali duduk, setelah punggung Ardi menjauh, dia merogoh ponselnya dan membuka email nya, Disana dia tersenyum kembali, melihat makian dari Ardi atas video cabulnya bersama Camilla.
****
__ADS_1