
Episode #30
Bastian yang menunggu tidak jauh, segera menghampirinya, kemudian keduanya pun kembali ke ibukota.
Di dalam mobil, Asyifa menyeringai, Apa yang dia katakan semuanya adalah kebohongan, kakeknya, Amir, bahkan tak ingin mengenal lagi Wijaya Kusuma.
Lantas apa yang membuat Asyifa berbohong seperti itu? Sederhana, Di hukum oleh rasa penyesalan lebih menyakitkan di bandingkan di balik jeruji besi, penyesalan yang mendalam akan menggerogoti hati dan pikirannya, setiap saat, hingga ia akan mudah jatuh sakit, Bukankah melihat musuh menderita dapat memberikan kepuasan tersendiri?"
" Memaafkan? Aku bukanlah orang suci, yang memiliki hati seputih salju!" cebik Asyifa.
***
Di area pertanian keluarga Stewart, tuan Jhonson datang bertamu, menghabiskan waktu bersama sahabatnya, Adam Stewart.
Adam menuangkan teh premium terbaik di dunia kepada tuan Jhonson, seperti kebanyakan kebiasaan orang Britania, teh tidak bisa lepas dari kehidupan mereka.
" Bagaimana reaksi cucumu sekarang? Aku dengar dengar, dia menemui Rebecca di konsernya beberapa hari yang lalu," Tuan Jhonson menyesap teh yang di sajikan Adam Stewart, kakeknya Amar.
" Dia sangat keras kepala! Dia tetap bersikukuh membatalkan perjodohan! Di awal dia menerimanya karena, ingin melupakan cinta pertamanya, sekarang dia malah ingin memperjuangkan cinta pertamanya kembali, dan membatalkan perjodohan, Anak itu, benar benar tidak punya pendirian, entah siapa yang di tirunya!" Adam Stewart mendesah pelan.
" He he he!" tuan Jhonson terkekeh, " Siapa lagi yang di tirunya, kalau bukan kakeknya?"tuan Jhonson menaik turunkan alisnya.
" Sudahlah, jangan mengingat masa lalu, Aku tak ingin mengingatnya lagi, itu sangat memalukan!" pipi Adam Stewart memerah.
" Ha ha ha!" tuan Jhonson terbahak," Kau sudah tua, sebentar lagi akan menggendong cicit, tapi kau masih tersipu jika mengingatnya!"
Pipi Adam Stewart semakin memerah," Sudahlah, jangan menggodaku lagi!"
" Baik, Baik!" tuan Jhonson masih mengulum senyumnya.
" Menurutmu, Bagaimana Aku harus bersikap, terhadap Cucumu itu?"
" Terserah kau saja! Aku ingin dia bisa bersikap lebih dewasa lagi, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu! Aku tak akan ikut campur!" Adam Stewart menaikkan bahunya.
" Baiklah, Aku biarkan dia terus penasaran, dengan sosok cucuku yang aku jodohkan dengan dia! Setidaknya, antara cucuku dan cucumu mengenal satu sama lain!" tuan Jhonson menyesap kembali tehnya.
__ADS_1
Kedua sahabat lama itupun bercengkrama, menghabiskan waktu luang mereka, tak hentinya mereka tertawa, mengenang sesuatu yang lucu di masa lalu.
Di sisi lain, Belasan ribu kilometer, dari ibukota united kingdom, Asyifa sedang menyusun barang barangnya satu persatu kedalam koper, sebelum kemudian menemui Hamdan Hutapea di kilau hukum.
Dia memasukkan kembali barang barangnya yang akan di bawanya kesana, tak lama kemudian, dia menuju kamar tidur kedua orang tuanya.
Asyifa membuka lemari, dan melihat barang barang milik ibunya, dia sedang memilih, tentang, apa saja yang akan dia bawa ke London, untuk mencari keluarga ibunya.
" Selain perhiasan, apalagi barang yang dapat mengidentifikasi identitas mama?" Asyifa pun terduduk, memandangi Lemari mamanya, tangannya menopang dagunya.
" Sudah tak ada lagi petunjuk,!" Asyifa berkata dengan lesunya, di sampingnya ada paspor dan foto masa kecil ibunya, yang dia dapat dari Helena, mamanya Angga.
" Sudahlah, kalau memang tak ada lagi, kalau memang di takdir kan bertemu dengan kakek dari pihak mama, pasti akan bertemu juga!"Setelah mengatakan itu, Asyifa keluar dari kamar ibunya menuju kamarnya.
Kemudian Asyifa memasukan paspor dan foto lawas masa kecil, kedalam kotak perhiasan yang sudah di persiapkan sebelumnya, dia juga memasukkan beberapa foto pernikahan kedua orang tuanya, beserta foto foto masa kecilnya, " Siapa tahu ini berguna, Aku masih ingat terakhir kali liburan ke London, mama sempat membawaku menemui seseorang, kalau tidak salah, orang itu memberikan kartu namanya kepada mama, Seingatku, saat itu di depan istana, kita juga sempat berfoto.
Sebelum Asyifa melangkahkan kakinya ke ruang arsip dan dokumen di ruang kerja ayah, ponselnya di atas nakas berdering, Asyifa langsung meraih ponselnya dan menjawab telponnya.
" Ayo cepat kesini, jangan lupa bawa semua bukti bukti yang kamu miliki, biar secepatnya masalah ini selesai, dan secepatnya kamu berangkat ke London dan mencari Amar, bibimu sudah tidak sabar ingin menimang cucu!"
Belum sempat Asyifa menjawab, Hamdan Hutapea saudara angkat ayahnya dan juga pamannya, segera menutup telponnya.
Asyifa hanya menggeleng gelengkan kepalanya, " Dasar, si om om senang!" umpatnya.
Tak menunggu lama, Asyifa segera berangkat menuju kilau hukum kantor om angkatnya, Hamdan Hutapea.
Perjalanan satu jam cukup lancar, Asyifa sudah berada di tempat parkir, dan segera menuju ruangan Hamdan Hutapea, beberapa staff sudah banyak yang mengenal Asyifa, baik sebagai Humaira Pramesti atau sebagai Asyifa Prameswari.
" Aku sangat kagum dengan Bu Asyifa, dia perempuan yang sangat kuat, jika aku di posisinya, mungkin aku sudah masuk rumah sakit jiwa atau sudah mati overdosis narkoba!" Salah satu staff berbisik ketika Asyifa lewat.
Temannya menyikut lengannya, " Huusst! jaga bicaramu, tak ada orang yang ingin berada di posisi itu, wajar kalau permasalahan hidupnya melingkar di sana, beda dengan kita, yang permasalahan hidupnya berkutat di bidang ekonomi, cicilan, listrik, jajan anak, beda dengan orang orang yang masalah hidupnya bukan bidang ekonomi seperti kita, Mereka itu hidupnya lebih ribet, penuh konflik, intrik dan konspirasi!"
" Sok tahu!" staff itu mencebik, dan meninggalkan temannya itu ke belakang.
__ADS_1
" Hey,.. Aku tahu itu dari novel novel online dan film!" temannya itu berteriak.
Asyifa sudah masuk kedalam ruangan Hamdan Hutapea.
" Halo om!" Sapa Asyifa, ketika melihat Hamdan Hutapea sibuk berkutat dengan dokumen di atas meja.
Hamdan Hutapea menatap Asyifa dan menutup dokumennya, Dia berjalan ke sofa, dimana Asyifa langsung duduk.
" Mana buktinya?" Hamdan Hutapea meminta bukti pada Asyifa.
Asyifa mengeluarkan flash disk dari dalam tasnya, " Ini adalah rekaman di ruangan hotel, ketika pesta pertunangan Angga dan Carrey Ramos!"
Hamdan Hutapea langsung mengambil flashdisk tersebut dan langsung mengkopinya kedalam komputer, Dia menonton apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut.
" Aku tidak tahu, Bagaimana caramu membujuk Rio dan Angga untuk menjebak orang tua itu, pengaruh tuan Wijaya Kusuma tidak semudah itu bisa kau singkirkan dari mereka!"Hamdan Hutapea menggeleng gelengkan kepalanya, dia tak percaya, Asyifa bisa berhasil secepat ini.
Sebelumnya Hamdan Hutapea memang bisa menebak hasil akhirnya, namun tidak secepat ini bukan?"
Asyifa langsung beranjak mendekati lemari pendingin dan dia mengambil segelas jus apel, yang sudah di persiapkan oleh bibi Arimbi, istri Hamdan Hutapea, dan langsung meneguknya.
Dengan langkah anggun, Asyifa melangkah ke sofa kembali," Itu gampang om, kelemahan laki laki adalah air mata seorang wanita, karena Laki laki cenderung untuk melindungi perempuan, dan itu hanya kodratnya, Aku hanya memanfaatkan sisi itu, dan menjual nasib sial dan kesedihanku, makanya, ketika di labuan Bajo aku terlihat sangat rapuh dan lemah, jadi mau tidak mau, naluri melindungi mereka pun tergugah!"
" Jangan bilang, ketika jatuh dari kapal, kau pura pura tenggelam!" Hamdan Hutapea menaikkan alisnya.
Asyifa hanya tersenyum, dan tidak berkomentar apa apa.
" Apa mereka Bodoh sekali, jelas jelas kau adalah salah satu atlet renang nasional!" cibir Hamdan Hutapea, " Dan bisa bisanya Amar berakting menyelamatkan mu!"
Mendengar nama Amar, hati Asyifa langsung tersentak, " Kalau bukan karena itu, Aku tidak akan menyadari perasaan Amar yang sebenarnya!"
" Sudahlah, setelah ini, Aku akan melaporkan Wijaya Kusuma, untuk kasus pembunuhan kedua orang tuamu!" Hamdan Hutapea membuatkan dokumen baru.
Asyifa hanya mengangguk.
__ADS_1
****